
Hari telah berganti minggu dan bulan. Tepatnya tiga bulan sudah waktu berlalu. Saat ini usia kandungan Misela sudah menginjak dua puluh minggu, yang artinya sudah harus kontrol dan sudah bisa melihat jenis kelamin anaknya.
Sebenarnya Misela harus kontrol dari sebulan yang lalu tapi Dzakir terlalu sibuk dengan pekerjaannya bahkan weekend. Dan lagi, Misela juga tidak punya keluhan sama sekali, hanya kadang sakit pinggang. Rasa mual muntah Dzakir juga sudah berkurang seiring bertambahnya usia kehamilan Misela.
Pagi ini Dzakir sudah mengatur jadwal dengan dokter Rani untuk melakukan usg.
"Sayang, udah siap belum?" Tanya Dzakir sembari menikmati teh hangat dan roti biskuit.
"Sebentar ya Mas, aku ganti baju tidur aja deh biar enak nanti buka bagian perutnya. Kalau gamis gini susah deh kayaknya." Jawab Misela sambil memilah baju tidur di lemari.
"Iya sayang. Pakai baju yang menurut mu nyaman ya." Dzakir masih menikmati teh hangat dan roti biskuit.
Beberapa menit kemudian.
"Mas, ayo berangkat. Aku sudah siap."
Dzakir menghampiri Misela lalu berjongkok dan mencium perutnya.
"Anak Daddy, ugh... Udah gak sabar nih pengen lihat kamu. Sehat-sehat ya anak Daddy kita berangkat sekarang."
Sekali lagi Dzakir mengecup perut Misela.Mereka pun bersiap berangkat menuju klinik dokter Rani.
Seperti biasa suasana di sana selalu ramai dan harus mengantri. Namun karna Dzakir sudah membuat janji, Dzakir dan Misela langsung masuk ke ruang pemeriksaan.
"Pagi Dok! Assalamu'alaikum" Sapa Dzakir dan Misela kompak.
"Hai, Wa'alaikumsalam, selamat pagi juga Pak Dzakir dan Bu Misela. Bagaimana kabarnya? Silahkan duduk." Kata dokter Rani.
"Alhamdulillah kami semua sehat." Jawab Misela.
"Apa Pak Dzakir masih mual muntah?" Tanya dokter Rani kembali.
"Alhamdulillah udah berkurang dok, hanya bau tertentu saja sekarang yang bikin mual." Jawab Dzakir.
"Syukurlah, mari ikuti saya."
Dzakir dan Misela pun mengekor pada dokter Rani.
Pemeriksaan di mulai. Misela menimbang berat badannya dan melakukan tensi darah terlebih dahulu barulah Misela membuka baju bagian perutnya. Dokter Rani pun memberikan jel di sebuah alat yang terhubung dengan monitor lalu memutar-mutar di bagian perut Misela hingga jel itu terasa dingin.
"Bisa di lihat ya Pak Bu itu calon anaknya." Dokter Rani memberhentikan sesaat alat itu dan menunjuk gambar yang tertera di monitor kepada Dzakir dan Misela.
__ADS_1
"Yang mana dok?" Dzakir sangat antusias melihat nya.
"Anaknya kembar tiga ya Pak. Ini kepala, ini kaki dan tangannya. Baby nya masih kecil dan posisinya meringkuk."
"Masyaallah tiga dok?" Tanya Dzakir.
"Mas... Kita di kasih tiga langsung?" Misela menutupi bibirnya dengan satu tangan.
Terkejut? Bahagia? Senang? Entahlah apa yang mereka rasakan saat ini. Perjuangan yang mereka lalui tidak berbuah sia-sia. Bukan hanya satu anak yang mereka dambakan, tapi tiga sekaligus.
"Alhamdulillah ya Bu program hamil nya berhasil. Untuk jenis kelamin belum bisa di lihat. Semuanya tertutup kaki." Kata dokter Rani.
"Semuanya sehat kan dok?" Tanya Dzakir.
Dokter Rani masih mengusapkan alat itu di bagian perut Misela dan melihat dengan sangat teliti.
"Prediksi saya semuanya sehat, tapi anak yang ini terlihat sangat kecil Pak." Dokter Rani menunjukkan salah satu dari ketiga bayi Dzakir. "Tapi sebaiknya kita lihat perkembangan nya setiap bulan ya."
Pemeriksaan usg selesai. Dokter Rani membersihkan bagian perut Misela.
"Kalau bangun tidur miring ke kiri dulu ya Bu baru bangun. Jangan terlalu lama tidur secara terlentang ya. Kalau tidur sebaiknya miring kanan atau lebih bagus miring ke sebelah kiri." Misela mengangguk.
Dzakir dan Misela kembali duduk di kursi lalu berkonsultasi dengan Dokter Rani.
"Saya masih belum bisa pastikan Bu, karna ini kembar tiga jadi harus lebih di perhatikan. Setiap bulan harus rutin melakukan pemeriksaan usg ya Bu. Kemudian kalau bayi kembar memang jarang sekali yang melahirkan secara normal karna melihat dari posisi di anak. Jika tidak memungkinkan akan dilakukan tindakan sesar. Bu Misela ada keluhan apa sebelum kontrol?"
"Saya cuma sakit pinggang aja dok. Selebihnya baik-baik saja."
"Minum susu ibu hamil dan minum kalsium ya Bu. Jangan minum yang terlalu manis juga ya karna takutnya berat badannya terlalu besar. Banyak makan buah yang segar dan sayur hijau. Semua itu sangat bagus untuk kesehatan ibu dan bayi."
"Iya Dok."
"Jangan capek-capek juga apalagi mengangkat barang berat. Kalau pagi sebaiknya jalan-jalan ya. Setelah usia tujuh bulan Bu Misela akan di ajarkan senam hamil ya."
"Em dok kalau melakukan itu gak bahaya kan?" Tanya Dzakir.
"Mas!" Misela mencubit pinggang Dzakir.
"Tentu tidak Pak. Melakukan hubungan suami istri juga bagus untuk jalan lahir sang anak. Tapi harus di perhatian ya posisi sang ibu apakah nyaman atau tidak." Jawab dokter Rani.
"Apa tidak ada pantangan apapun dok? Misalnya makanan, atau apa gitu?" Tanya Dzakir kembali.
__ADS_1
"Tentu tidak Pak. Saya rasa Pak Dzakir dan Bu Misela orang yang sehat, tak mabuk dan merokok. Sebaiknya di baca yang buku KIA nya. Saya tuliskan resep vitamin nya."
Setelah semuanya selesai mereka pun pulang.
____________
Tiba di kamar, Misela langsung menjatuhkan badannya di atas kasur. Tangan yang di bentang lebar dan kaki yang menggantung di tempat tidur membuat Dzakir sigap dan langsung membaringkan tubuh Misela dengan posisi yang di sarankan dokter.
"Sayang... Aduh kamu kan gak boleh tidur begitu, kasian anak-anak kita."
"Ah iya maaf Mas, aku lupa. Pinggang ku Mas rasanya gak enak banget, sakit begini. Kaki ku juga rasanya pegel banget padahal pake sendal biasa." Misela mengeluh sambil memegang pinggang nya.
"Sabar ya sayang. Insyaallah akan jadi ladang pahala buat kamu. Mas pijitin ya kakinya."
"Mas juga pasti capek udah kerja keras masih harus ngurus aku."
"Engga kok sayang, lebih capek kamu yang kemanapun harus bawa tiga anak di dalam perut mu. Pokoknya kamu harus inget saran dokter ya. Nanti Mas belanja ke supermarket buat beli kebutuhan kamu. Dan kamu jangan ikut."
"Makasih ya Mas kamu suami yang sangat pengertian. Makasi juga selama ini sudah sabar dengan segala tingkah laku yang aku buat."
"Engga sayang, Mas yang makasi karna udah mau capek-capek hamil. Pasti rasanya berat sekali."
"Gak papa toh yang nyidam juga kamu Mas hehe."
"Kerja sama yang bagus kan hehe."
"Udah Mas pijitnya, udah gak papa kok."
"Sudah kamu diem aja. Mas bakal pijitin kamu sampe lama."
"Tapi Mas kamu juga cape."
"Gak papa sayang, ini udah tanggung jawab ku sebaik suami dan Daddy yang baik hehe."
Misela mendekati pipi Dzakir dan memberi nya sebuah ciuman singkat tanda terima kasih.
...############...
Haii......
saran dong, novelnya mau tamat sampe Misela melahirkan atau sampe mereka ngurus anak nih?
__ADS_1
aku tunggu ya komentar nya 😊