
Happy reading!
Jangan lupa like komen fav dan bungannya ya Reader 😍
Maaf jika ada typo 😁
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Terik matahari kini telah berganti cahaya bulan yang bersinar terang di hiasi ribuan bintang yang berkedip. Misela menatap tajam ke arah jendela kamar rawatnya itu. Sesekali dia pun menatap pintu yang sedikit terbuka. Ada sosok yang ingin dia lihat disana.
Sementara Dzakir yang baru saja menyelesaikan sholat Isya nya kembali duduk di depan pintu dan sibuk memainkan ponselnya.
Jam makan malam tiba dan seorang perawat hendak memberikan jatah makan malam milik Misela namun di hadang oleh Dzakir.
"Biar saya saja sus." Dzakir meminta nampan yang berisi bubur, sayur bening bayam dan sepotong goreng tempe.
"Ini silahkan Pak." Perawat itu pun pergi.
Dzakir pun masuk menghampiri Misela.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Misela menjawab nya dengan sedikit senyuman tipis. Dzakir membalas nya.
"Ini waktunya makan malam."
Dzakir membantu Misela duduk dan menyiapkan meja makannya. Namun bibir Misela tiba-tiba manyun karna menu makanan nya tak sesuai harapan.
"Kenapa kok cemberut?" Tanya Dzakir yang duduk di samping nya dengan tatapan aneh.
"Gak suka menunya." Jawab Misela masih dengan muka masam.
"Kan emang begitu menu di rumah sakit." Dzakir meledek Misela.
"Saya pengen nasi goreng ati ampela Pak, emm bisa tolong beliin gak Pak? Uangnya di tas saya itu." Misela sedikit malu mengatakannya.
"Memang kamu siapa nyuruh saya?" Jawab Dzakir yang tiba-tiba memasang wajah galak dan sok jual mahal padahal dia senang sekali Misela tak sungkan padanya.
"Tapi kan saya sakit Pak." Misela kembali bicara dengan nada manja.
"Katanya tadi gak mau di temenin. Bisa sendiri. Baik-baik aja sendiri. Kok sekarang malah nyuruh saya beliin nasi goreng. Apa tadi? Nasi goreng ati ampela? Ada-ada aja." Dzakir menyilang kan kedua tangan nya di dada dan sok menatap sinis pada Misela.
"Ya udah Pak kalau gak mau saya makan ini saja. Terima kasih sudah menemani saya sampai sekarang."
Terlihat kekecewaan di wajah Misela. Sayang Misela pun tak bisa makan sendiri. Tangan kanannya yang patah tulang dan di bungkus dengan penyangga membuat nya harus melakukan apa-apa dengan tangan kiri yang dimana infus pun terpasang disana. Tapi tak mungkin untuknya juga makan dengan tangan kiri. Misela pun kebingungan.
Dzakir merasa puas dengan gelagat Misela.
"Saya mau ke toilet." Dzakir langsung mempercepat langkah nya keluar dari ruang itu.
"Eh Pak tung...gu....!"
Misela mencoba mencegah namun langkah Dzakir terlalu cepat. Sekarang Misela sendiri dengan kebingungan nya. Selera makan pun hilang belum lagi dia tak bisa apa-apa tanpa bantuan seseorang karna kakinya juga terkilir.
"Aduh gimana ini aku gak bisa makan sendiri aku juga pengen pipis lagi."
Misela mencoba memanggil perawatan tapi tak ada siapa pun disana. Kamar Misela paling ujung jadi jarang ada perawatan yang lewat disana. Belum lagi Misela bukan di kamar VIP jadi tak bisa memanggil perawatan lewat tombol atau pun telfon.
"Pak Dzakir lama amat sih ke toilet nya."
Misela mencoba menahan semuanya hingga lima belas menit kemudian Dzakir datang.
"Pak ke toilet lama amat sih."
"Suka-suka saya dong memang kenapa?"
"Pak saya pengen pipis."
"Terus?"
Dzakir mengangkat satu alisnya.
"Tolong bantu saya Pak."
"Kenapa gak minta bantuan perawat aja?"
__ADS_1
"Gak ada perawatan yang lewat sini dari tadi. Kaki saya juga terkilir jadi gak bisa jalan sendiri."
Misela menundukkan kepalanya.
"Bukannya tinggal pipis aja kan udah di pasang alat."
"Alat apa Pak?"
"Ya alat ke saluran kantong k**ih kamu. Kamu kan cerdas masak gak tau?"
"Saya kan belum pernah di rawat begini Pak?"
"Saya panggilkan perawatan dulu."
Dzakir kembali keluar ruangan.
Seorang perawat pun masuk dan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan buang hajat. Setelah selesai perawat pun pergi.
"Gimana?"
"Alhamdulillah udah enakan Pak saya tahan dari tadi sore."
"Kenapa baru bilang?"
"Bapak gak mau masuk ruangan."
"Kan kamu yang gak mau di tungguin."
"Iya Maaf."
"Ya sudah ini makan malam mu. Yang itu biar saya saja yang makan mubazir."
"Hah?"
Dzakir membuka bungkusan yang berisi nasi goreng ati ampela sesuai keinginan Misela. Bau nasi goreng yang khas membuat senyum sangat lebar di bibir Misela. Dia tak menyangka sama sekali kalau Dzakir sangat pengertian.
"Bapak serius ini belikan saya nasi goreng?"
"Cepat makan dan habiskan."
"Terima kasih Pak. Bismillahirrahmanirrahim Allah Huma bariqlana fii ma razaktana waqina adzabannar. Aamiin."
"Sini biar saya suapin."
"Saya makan dengan tangan kiri saja Pak."
"Kalau ada tangan kanan kenapa harus tangan kiri. Bukan mulutnya aaakkk....?"
Misela pun makan dengan lahap nasi goreng ati ampela itu. Suap demi suap Dzakir menyuapi nya dengan sabar hingga nasi goreng itu pun habis. Dzakir begitu puas menatap wajah Misela yang sangat bahagia.
"Alhamdulillahhiladzi at ama wasaqona waj'alana minal muslimin. Aamiin. Sekali lagi terima kasih ya Pak. hehehe."
Melihat hanya tinggal bungkus dan sendoknya saja Dzakir menggelengkan kepalanya.
"Kamu lapar apa busung lapar?"
"Hehehe yang penting kenyang saya Pak. Saya suka banget kalau menu makan malamnya nasi goreng ati ampela Pak."
"Saya gak tanya."
Misela cemberut.
"Aneh deh orang ini. Tadi manis banget sekarang jutek lagi." Bathinya.
Tapi Misela tak lupa mengucapkan terima kasih.
Dzakir pun membereskan meja makan Misela dan memberikan obat untuk di minum lalu kembali duduk di luar.
_____
Malam kian larut Dzakir masih duduk manis di luar sedang Misela kembali menatap sinar rembulan karna belum mengantuk.
Misela bingung apa yang harus dia lakukan karna ponselnya mati.
"Emm Pak bisa bantu saya."
Misela sedikit mengeraskan suaranya untuk memanggil Dzakir di luar ruangan. Dzakir pun dengan senang hati masuk.
__ADS_1
"Ada apa? Pengen pipis lagi?"
"Jangan ngeledek Pak."
"Terus?"
"Maaf Pak saya haus bisa tolong ambilkan saya minum?"
"Em."
Dan lagi-lagi Dzakir melakukan nya dengan senang hati mengambil kan air untuk Misela.
"Kenapa belum tidur?"
"Saya belum ngantuk Pak."
"Ini udah jam sepuluh malam."
"Benarkah?"
Karna di ruangan itu tidak ada jam dinding Misela tak tau pukul berapa-berapanya.
"Istirahat lah. Saya akan tidur di luar."
Dzakir nyaris pergi keluar tapi di tahan oleh Misela.
"Pak tunggu."
"Ada apa lagi?"
"Bisa Bapak tidur di tempat tidur yang kosong itu?"
Misela melirik tempat tidur pasien di sebelah nya yang kosong.
"Bagaimana bisa saya tidur satu ruangan dengan seorang wanita?"
"Pak kita kan gak seranjang. Lagian bisa di tutup pakai gorden. Saya takut sendirian. Dan juga jika saya mengigau nanti tolong tenangkan saya."
"Mengigau? Jadi benar kata anak-anak kalau kamu suka mengigau?"
"Anak-anak siapa maksudnya Pak?"
"Anak-anak di pesantren selalu membicarakan kamu. Katanya kamu tiap malam mengigau ketakutan hingga mereka jarang bisa tidur nyenyak."
Misela terdiam. Memang selama ini itulah yang terjadi hingga ahirnya Misela memutuskan untuk tak meneruskan kelasnya di pesantren dan memilih untuk kost dekat kampusnya.
"Baiklah saya akan tidur disana. Sekarang tidurlah. Kamu harus istirahat yang cukup supaya segera pulang."
"Terima kasih banyak Pak."
Tak ada jawaban dari Dzakir. Dia langsung membaringkan badannya di tempat tidur pasien tepat di sebelah Misela. Namun sebelum itu Dzakir menutup gorden pembatas yang berada di tengah-tengah tempat tidur itu.
Misela tersenyum bahagia. Entah kenapa dia bisa sebagai itu. Tapi hatinya benar-benar merasakan kenyamanan saat ini.
Dengan bibirnya yang masih tersenyum lebar Misela pun membaringkan tubuh dan memejamkan mata.
Waktu terus berjalan. Tak ada suara apapun di ruangan itu. Hingga lewat tengah malam kesunyian itu pecah karna teriakan Misela.
"Tidaaaakkkk........"
Dzakir sangat terkejut lalu membuka gorden dan berdiri di samping Misela. Dahi Misela sudah penuh dengan keringat bahkan jilbabnya terlihat basah. Tangan kiri pun gemetar.
Dzakir kebingungan. Dzakir mengambil sapu tangan miliknya di saku celana. Mengusap keringat Misela.
"Jangan... Tolong jangan sakiti saya...!"
Misela menangis tanpa air mata.
"Tolong....!"
Dzakir pun melebarkan sapu tangannya untuk menutupi telapak tangan Misela dan menggenggam erat tangan Misela yang gemetar lalu melantunkan surat Al-Mulk dengan lirih dan merdu di dekat telinga Misela. Perlahan Misela tenang dan kembali tidur.
Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain hingga fajar menyingsing.
...#########################...
...Jangan lupa lo ya tinggal kan jejak supaya author semangat buat up 😀...
__ADS_1
......Yang mau berteman bisa follow ig aku ya @deliss_aa1......