
Mobil terus melaju dengan pelan karna jalanan belum mulus maklum masih termasuk kampung. Dzakir terlalu bosan dengan suasana yang sunyi. Tak ada yang mau buka suara di dalam mobil.
Dzakir melirik Hilman dan kembali menggelengkan kepalanya. Hilman terlihat pewe dengan posisinya yang sedikit tiduran di kursi dan menatap lurus ke depan. Sedangkan Misela sedang menatap kosong ke jendela sebelah kanan.
"Kalian pada belum sarapan ya kok lemes-lemes banget sih pagi-pagi. Pagi itu harus semangat biar aktivitas lancar." Ucap Dzakir sembari mengepalkan sebelah tangannya.
"Saya kalau banyak omong suka mabok Pak. Apalagi mobil pribadi begini bau AC eneg. Bapak gak mau kan mobil Bapak saya muntahin." Jawab Hilman dengan nada lemas.
"Apa? Kamu cowok tukang mabok kendaraan? Hahaha terus kenapa kamu maksa ikut mobil saya?" Dzakir mengejek Hilman.
"Karna saya mau jagain Misela." Ketus Hilman.
"Memang kamu pikir saya laki-laki apaan sampe kamu harus belain nahan mabok demi jagain Misela?" Jawab Dzakir sinis dan sengaja menyetir melewati lubang supaya mobil lebih bergoyang.
"Wihh... Selow pak sengaja ya biar saya makin pusing?" Hilman menegakkan badannya karna kepalanya terganggu dengan guncangan yang di buat Dzakir.
"Jalannya kan emang begini." Dzakir menyunggingkan sebelah bibirnya dan lagi-lagi sengaja mencari jalan berlubang agar mobil berguncang lagi.
"Pak cari jalan yang bagus dong bisa-bisa saya mabok beneran ini." Hilman terlihat sangat kesal.
"Memangnya saya supir kamu apa? Saya ini dosen kamu?" Dzakir tersenyum licik.
"Sabar ya Ka Hilman kan jalannya emang banyak lubang disini. Sebentar lagi jalannya mulus kok." Ucap Misela menghentikan adu mulut mereka.
"Tuh Misela aja paham. Kok kamu ribet tinggal duduk manis doang." Dzakir semakin membanggakan dirinya karna pembelaan dari Misela.
Hilman diam dan memposisikan duduknya kembali bersandar di kursi dan sedikit condong ke belakang lalu membuang muka ke arah jendela.
"Kamu gak mabok kayak cowok ini kan?" Tanya Dzakir sembari menatap Misela dari kaca.
"Engga lah Pak kalau saya mabok sudah sejak awal saya protes ke bapak. Mobil Bapak ada berapa sih kayaknya ini bukan mobil yang kemaren itu?" Misela melihat sekeliling ruangan dalam mobil karna Misela tak begitu paham merk mobil.
"Jadi kalian pernah satu mobil berdua?" Hilman kembali duduk tegak karna kaget dengan ucapan Misela dan duduk berbalik mengarah pada Misela.
"Masalah buat loe?" Jawab Dzakir.
"Jadi kemaren yang nganter aku pulang dari rumah sakit itu Pak Dzakir Ka Hilman. Bahkan yang nungguin selama lima hari aku di rumah sakit ya Pak Dzakir ini." Misela menjelaskan situasi yang terjadi sebelum nya.
"Apa? Kalian sedekat itu selama ini? Kenapa kamu gak ngabarin aku Sel?" Hilman makin terkejut bahkan pusing di kepalanya hilang begitu saja.
"Semuanya berlalu begitu saja Ka." Jawab Misela santai dan tersenyum manis.
"Kamu kenapa sih dari tadi dikit-dikit kaget? Apa... Apa terus. Emang salah kalau saya dekat dengan Misela? Sekarang kan dia bukan milik siapa pun dan juga dia itu asisten saya." Dzakir sedikit kesal dengan Hilman yang sok dekat dengan Misela. Sejatinya Dzakir belum tau kalau Hilman dan Misela pernah menjalin hubungan.
"Engga Pak. Aduh saya pusing mau tidur aja deh." Hilman kembali dengan duduknya semula dan memejamkan matanya.
"Udah diem aja lu tidur jangan banyak omong lagi." Lirih Dzakir.
Merasa bosan Dzakir pun memutar siaran radio.
"....... Nah kali ini lagi jadulnya cukup populer loh di kalangan remaja dulu. Bahkan ni ya aku tu pernah di nyanyiin lagu ini hehehe mari kita dengarkan lagunya......"
Penyiar radio itupun memutarkan sebuah lagu.
__ADS_1
"Asik nih lagunya." Kata Dzakir sambil senyum-senyum.
Kau gadis ku yang cantik
Coba lihat aku disini
Disini ada aku yang cinta padamu
Deg
Misela melebarkan matanya mendengarkan lagu Puspa yang di nyanyikan oleh ST 12 di radio yang di putar Dzakir.
Kau gadisku yang manis
Coba lihat aku disini
Disini ada aku yang sayang pada mu
Hooo oooooo
Dzakir pun ikut menyanyikan lagu tersenyum dengan lirih tapi Misela sangat jelas mendengar nya.
"Pak tolong ganti siarannya." Pinta Misela pada Dzakir.
"Loh kenapa bagus ini lagunya cocok buat kamu." Jawab Dzakir.
walau ku tau bahwa dirimu
Sudah ada yang punya
Wo hoo
Dzakir malah meneruskan liriknya dan menghayati lagu tersebut.
"Pak please." Misela kembali memohon.
"Kamu kan suka banget lagu ini Sel kenapa harus di ganti apalagi ada yang semangat banget nyanyiin lagu ini. Coba aku gak mabok gini pasti aku akan lebih semangat nyanyinya seperti dulu." Hilman bicara tapi tak membuka matanya sama sekali.
Dzakir pun menatap Hilman beberapa detik lalu mematikan radio nya. Hilman membuka mata dan melirik Dzakir.
"Kok dimatikan Pak kan tadi semangat banget nyanyinya." Hilman melihat wajah Dzakir berubah kesal.
"Jadi kamu pernah nyanyiin ini buat Misela?" Tanya Dzakir dengan nada jengkel.
"Iyalah Misela dulu suka banget sama lagu ini." Jawab Hilman santai dan melipat kedua tangannya. "Saya sangat tau apa yang disukai dan tidaknya Misela. Kami..." Hilman belum selesai bicara lalu di potong oleh Misela.
"Cukup Ka jangan diteruskan lagi. Itu masalah pribadi tak seharusnya di umbar pada orang lain." Misela pun duduk menyandar dan kembali menatap jendela.
Hilman pun diam dan menoleh pada Dzakir lalu mengangkat kedua bahunya kemudian kembali memejamkan matanya.
Dzakir makin penasaran dengan hubungan keduanya. Dzakir juga ingin tau apa yang Misela sukai dan tidaknya. Namun sepertinya Dzakir harus lebih bersabar untuk semua itu.
Dzakir pun memutuskan untuk fokus menyetir mobilnya dan melajukan dengan kecepatan agak tinggi supaya cepat sampai tujuan.
__ADS_1
_____________
Mobil pun terparkir di depan gerbang rumah Pak Cipto. Dzakir menyalahkan klakson nya supaya satpam membukakan pintu gerbang.
Setelah mobil terparkir semuanya pun turun dan di sambut oleh Bik Inah.
"Assalamu'alaikum Pak." Sapa Bik Inah.
"Wa'alaikumsalam Bik ini mahasiswi yang akan tinggal disini selama Pak Cipto ke Yogyakarta." Jawab Dzakir sambil melirik Misela.
"Oh iya Pak mari saya antar ke kamar non."
"Terima kasih banyak Bik. Ka Hilman masih pusing?" Saat Misela di ambang pintu Misela membalikkan badan dan melihat Hilman yang kurang semangat.
"Engga kok kamu gak perlu khawatir." Jawab Hilman sambil melirik Dzakir yang masih terlihat kesal padanya.
Rumah Pak Cipto gak begitu besar hanya ada ruang tamu dengan satu sofa panjang dan meja, dua kamar tidur ukuran sedang, dapur yang kecil dan kamar mandi simpel. Bik Inah tugasnya hanya bersih-bersih dan masak selebihnya dikerjakan sendiri oleh Bu Cipto.
Hilman duduk bersandar di kursi sambil menunggu Misela keluar. Sedangkan Dzakir menuju toilet.
Setelah cukup Misela menerima penjelasan dari Bik Inah Misela pun berjalan ke ruang tamu.
"Kamu yakin tinggal disini?" Tanya Hilman.
"Lumayan ka disini gratis loh." Jawab Misela diiringi senyuman.
"Sama Pak Dzakir berdua?" Hilman menekan kan pertanyaan nya.
"Astaghfirullah ya engga lah Ka Hilman aneh-aneh aja."
"Terus?"
"Aku mau ajak Erlina tinggal disini biar dia juga gx capek naik motor bulak-balik."
"Oh."
"Lu pikir saya sama Misela mau kumpul kebo?"
Dzakir tiba-tiba muncul.
Hilman hanya memberikan senyuman tak mengenakan.
"Bisa-bisanya gak sopan sama dosen. Untung kamu bukan anak didik saya."
"Kalau iya pasti bapak kasih nilai saya C kan?"
"Bukan tapi E itu jg terlalu bagus. Atau bisa saja Z sepertinya lebih baik."
"Saya beruntung sekali pak dosen saya bukan bapak haha saya permisi duluan ya pak terima kasih tumpangannya assalamu'alaikum."
Hilman pun pergi dengan gelagat mengejek. Seperti bukan seorang yang sedang mabuk kendaraan.
Misela hanya tersenyum menanggapi mereka.
__ADS_1
...######################...