
Tiga hari telah berlalu. Hari ini Misela sudah boleh pulang dari rumah sakit karna kondisinya sudah sangat baik.
Sesuai saran dari Dokter Dion Dzakir pun tak menemui Misela selama tiga hari itu. Padahal menurut pemeriksaan Dokter Dion tak ada cedera di bagian kepala Misela tapi mereka masih bertanya-tanya kenapa Misela hanya lupa dengan nama Dzakir.
Tiba di rumah Misela dan keluarganya di kejutkan dengan kehadiran Dzakir yang ternyata sudah menunggu cukup lama di depan rumah. Karna Dzakir tak tahan menahan rasa rindu pada Misela akhir nya dia memutuskan untuk menemui nya langsung bersama kedua orang tua Misela.
Namun masih sama seperti hari sebelumnya Misela tak mengingat apapun tentang Dzakir. Misela lebih cuek dan selalu memalingkan wajah dari Dzakir.
"Assalamu'alaikum Pak sudah lama menunggu kami? Kenapa gak di rumah sakit aja Pak kok jauh-jauh kemari?" Sapa Adelia sambil menurunkan beberapa barang bersama Aldian dan Dzakir pun ikut membantu.
"Wa'alaikumsalam Bu, gak papa saya kebetulan ada urusan di dekat sini jadi saya mampir." Jawab Dzakir.
"Mari masuk Pak. Kita ngobrol-ngobrol di dalam." Ajak Hanan.
"Terima kasih." Jawab Dzakir.
Sementara Misela lebih memilih diam pada Dzakir yang sejak tadi mencuri pandang pandangnya.
"Bunda aku mau langsung istirahat di kamar ya." Kata Misela dan langsung masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan satu kata pun pada Dzakir.
Dzakir sangat bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Loh Nak temani dulu Pak Dzakir sebentar beliau pasti ingin tau keadaan mu?" Kata Adelia.
"Bunda bukankah gak baik Misela mengobrol dengan orang asing apalagi dia lawan jenis. Bagaimana tanggapan para tetangga Bun kan Misela janda nanti di kira Misela godain orang kaya lagi tuh mobilnya aja Alphard. Udah ah bunda sama Papi aja yang temenin Misela ngantuk banget nih."
"Mis...."
"Sudah Bu gak apa-apa. Saya maklum." Dzakir menahan Adelia untuk memanggil Misela.
"Tapi aneh saja kenapa dia jadi bersikap begitu. Sebelumnya dia selalu suka kalau ngomongin Pak Dzakir." Kata Adelia.
"Benarkah?" Dzakir kegeeran sejenak.
"Iya Pak saya pikir kalian memang sedang menjalani kedekatan tapi kenapa jadi seperti itu." Ucap Adelia dan menggeleng kan kepalanya.
"Alhamdulillah." Dzakir mengucap syukur dengan wajah sumringah.
__ADS_1
"Kenapa Alhamdulillah Pak?" Tanya Adelia heran.
"Ah bukan apa-apa Bu. Begini Bu Pak maaf sebelumnya langsung saja saya minta ijin apa saya boleh mendekati Misela? Saya memang sangat mengagumi Misela sejak Misela masih tinggal di pesantren." Kata Dzakir sedikit gugup.
"Masyaallah Pak. Apa saya gak salah denger Pak Dzakir?" Adelia terkejut dengan ucapan Dzakir.
"Tentu tidak Bu." Jawab Dzakir.
Adelia dan Hanan saling menatap dan saling tersenyum.
"Kalau kami tidak masalah siapa pun yang akan bersama Misela nantinya asalkan dia bisa membuat anak kami bahagia bukan seperti Rangga yang malah menduakan dirinya." Kata Hanan.
"Insyaallah saya berbeda dengan Rangga Bu." Jawab Dzakir dengan penuh keyakinan.
"Tapi Pak Dzakir apakah belum punya calon? Bukankah wanita yang di rumah sakit kemarin itu calon istri Pak Dzakir?" Tanya Adelia yang masih penasaran dengan sosok Selyn.
"Ah iya maaf sebelumnya Bu saya sama Selyn memang di jodohkan oleh kedua orang tua kami. Tapi hati saya sebenarnya sudah sangat yakin dengan Misela."
"Apa tidak akan terjadi sesuatu pada Misela nantinya kalau Pak Dzakir menolak Selyn?"
"Apa? Misela gak pernah cerita apa-apa Pak."
"Saat itu saya mengajak Misela ta'aruf di dampingi dengan ustadz dan ustadzah di pondok pesantren Bu. Tapi detik itu juga saya di tolak oleh Misela."
"Astaghfirullah. Maafkan anak kami Pak."
"Tidak Bu dia berhak menolak saya. Saya pun melarikan diri ke luar kota maksudnya supaya saya bisa move on. Satu tahun sejak saat itu saya dengar kabar Misela menikah. Untuk pertama kalinya saya merasakan patah hati. Entah kenapa tapi saya menyesal karna tidak memperjuangkan Misela. Tapi saya sangat senang saat tau kabar Misela berpisah dari suaminya. Maafkan saya Pak Bu karna saya sudah sangat yakin dengan Misela makanya saya senang dengan hal itu."
"Iya Pak Dzakir kami sendiri gak menyangka kalau Rangga bakal setega itu. Bahkan Misela menutupi semua rasa sakitnya dari kami. Misela sangat menjaga perasaan kami hiks..."
"Maaf sekali apa saya boleh bertanya tentang hal yang sedikit sensitif."
"Boleh Pak silakan."
"Sebenarnya di kampus sedang ada gosip yang gak mengenakan. Jadi saya akan tanya langsung pada yang bersangkutan."
"Kalau boleh tau gosip apa itu Pak?"
__ADS_1
"Apa benar Misela itu anak di luar pernikahan? Mereka menyebut Misela anak haram."
"Astaghfirullah Misela hikss..."
"Maaf ya Bu jika ini menyakiti hati kalian. Tapi begitulah gosip yang beredar. Tapi saya rasa Misela tak mempedulikan hal tersebut."
"Terima kasih sudah memberi tau kami Pak. Jadi sebenarnya Misela memang bukan anak kandung saya. Saya menikahi bunda Misela setelah Misela berusia dua tahun. Misela tidak salah sama sekali. Semua anak yang lahir itu suci dan mulia. Saya sendiri menikahi Bunda Misela karna saya juga sangat menyayangi Misela layaknya anak saya sendiri." Hanan pun menceritakan hal yang sebenarnya terjadi.
"Maafkan saya jika kata-kata saya menyinggung Pak Bu."
"Kami tidak tersinggung sama sekali. Jika Pak Dzakir memang bersedia menjadi menantu kami dengan senang hati kami menerima Pak Dzakir. Tapi beginilah kehidupan kami hanya sederhana dan lagi semua keputusan ada pada Misela. Kami tak berhak ikut campur. Kami berharap Pak Dzakir mau menerima Misela apa adanya. Kami mohon jangan sakiti lagi hatinya." Ucap Adelia.
"Insyaallah Pak saya tak memandang seseorang dari latar belakang dan harta. Saya melihat Misela dari agamanya. Saya selalu terkesan dengan ibadah yang Misela lakukan."
"Terima kasih banyak atas perhatian Pak Dzakir."
"Saya yang berterima kasih atas ijin dari Bapak dan Ibu. Saya janji saya akan menjaga Misela."
"Tapi keadaan Misela sekarang bagaimana Pak. Dia bahkan gak inget sama sekali dengan Pak Dzakir."
"Saya akan menunggu nya seperti hari sebelumnya saya siap menunggu nya menerima kehadiran saya."
"Masyaallah Mas calon mantu kita ini?" Adelia begitu bahagia mendengar penuturan Dzakir.
"Jangan begitu Bunda, kita belum tau keputusan Misela. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak kita." Ujar Hanan yang memang tak mau melihat Misela kembali terpuruk.
"Bismillah Pak Bu hal ini akan saya bicarakan dengan orang tua saya juga. Semoga niat baik ini berjalan lancar." Tutur Dzakir kembali membuat mata Adelia berkaca-kaca.
"Aamiin."
"Kalau begitu saya permisi pamit dulu Pak Bu. Semoga Misela segera pulih. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sebelum pergi tak lupa Dzakir mencium punggung tangan Adelia dan Hanan.
...##################...
__ADS_1