
Tiba di kamarnya Misela menatap jendela kaca kamar itu dengan mata berkaca-kaca. Rasa ingin menjerit dengan sangat kuat adalah yang sedang dia pikirkan.
Sebenarnya dia tak begitu peduli dengan ucapan orang-orang selama ini, namun ucapan Selyn tadi begitu terniang di telingannya.
"Loh Mas Dzakir gimana sih satu kampus lagi gosipin dia kok Mas gak tau. Katanya nih ya Misela ini anak haram. Anak yang lahir di luar pernikahan. Terus nih katanya juga Misela itu cerai dari suaminya gara-gara suaminya miskin. Iihhh amit-amit deh punya temen kayak dia. Pasti bawa sial kan Mas? Sifat buruk begitu pasti nurun dari ibunya tuh."
Bagaimana bisa Selyn membawa-bawa orang tua Misela dan mengutuknya padahal Selyn sendiri tak tau masa lalu yang sebenarnya terjadi. Orang berpendidikan memang tak selamanya berakhlak baik. Mungkin itu julukan yang tepat untuk menggambarkan sifat Selyn saat ini.
Kali ini Misela tak bisa menahan air mata yang sejak tadi ingin keluar. Misela menutup wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan. Misela pun menangis tanpa suara. Misela menahan rasa sakit di bhatinnya hingga membuat nyeri di bagian kerongkongan. Misela tak mau Erlina tau dia sedang menangis.
"Ya Allah apa benar hamba Mu ini adalah anak haram. Anak yang tak pantas untuk lahir dan melihat keindahan ciptaan Mu. Ya Allah apa benar hamba Mu ini sangat hina hingga membawa kesialan pada orang-orang yang hamba sayangi. Ya Allah tak pantaskah hamba bahagia? Hamba berusaha sekuat mungkin dan sesabar mungkin menerima semua cobaan Mu selama ini. Ya Allah jangan jadikan hamba Mu ini hamba yang ingkar dan lalai. Lapangan kan lah kesabaran hamba hingga tak tau ujungnya. Jangan pernah jauh dari hamba yang rapuh ini ya Allah. Bukankah kesalahan bunda Adelia dengan Papa Zaki itu bukan kemauannya. Tolong jaga dan lindungilah hamba ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Aamiin."
Misela pun mengusap air matanya hingga kering dan mengatur nafasnya yang mendadak sedikit sesak. Misela menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.
Sungguh masih adakah wanita setegar Misela saat ini?
tok
tok
Suara ketukan pintu kamarnya terdengar. Misela pun buru-buru bangkit dari duduknya dan berpura-pura tak terjadi apa-apa.
Erlina membuka pintu kamar.
"Sel lu mau kuliah jam berapa sih?"
"Eh iya aku lupa jam satu ada kuliah Bu Wati ya."
"Nah itu gue tungguin di luar dari tadi lu gak nongol-nongol. Belum ganti baju lagi buruan gue tunggu di depan ya."
"Iya sorry aku ganti baju dulu ya."
"Em buruan gak pake lama ya telat bisa-bisa kita gak boleh masuk kelasnya."
"Siap bos."
Erlina menutup pintu dan duduk di ruang tamu. Misela pun bersiap untuk berangkat ke kampus. Sebelum berangkat Misela menatap dirinya sendiri di kaca besar yang ada di kamarnya.
"Bismillah aku bisa melakukan aktivitas ku seperti biasa tanpa mengeluh dan mengabaikan gosip yang beredar di kampus. Ayo Misela kamu BISA."
Setelah memasang senyum manis di bibirnya Misela pun keluar kamar dan berjalan menuju kampus bersama Erlina sahabatnya.
"Sel lu masih punya muka masuk kuliah?" Sapa seseorang dari segerombolan teman di kampus itu.
"Ape lu sibuk amat ngurusin hidup orang?" Jawab Erlina.
"Udah biarin aja ayok masuk kelas." Kata Misela menahan amarah Erlina.
"Sel lu kok diem aja sih di fitnah begitu. Bertindak dong Sel gue gak suka lu di gituin terus sama mereka."
"Er kalau aku menjawab apa yang mereka katakan semua ini gak akan ada ujungnya. Biarkan saja mereka berpikir atas pemikiran mereka. Nanti juga capek mati sendiri. Eh maksudnya capek sendiri hehe."
"Gue heran sama lu Sel bisa gitu cuek dengan omongan orang padahal yang mereka omongin gak bener."
"Udah ah jangan di bahas lagi bisa masuk ghibah nanti. Aku mau bener-bener fokus sama skripsi aku."
"Ah lu bilang skripsi gue jadi pening nih. Dosen pembimbing skripsi gue agak ribet. Lu sih enak pembimbing satunya sama Pak Dzakir."
"Semua proses gak ada yang enak kalau kita gak menyukai proses itu. Jadi coba kamu nikmati masa-masa ini pasti setelah lulus kamu bakal kangen banget sama proses yang kita lalui sekarang."
"Iya juga sih. Ah bodo amat deh gue tetep pusing kalau masalah skripsi hehe."
_____________
Jam kuliah selesai lebih cepat dari biasanya. Misela dan Erlina tak pergi ke kantin kampus sama sekali. Dan saat jam kuliah selesai mereka langsung buru-buru pulang karna tak mau mendengarkan hal yang aneh-aneh lagi. Tapi lagi-lagi Dzakir menghentikan perjalanan mereka.
"Assalamu'alaikum Misela." Sapa Dzakir.
"Misela mau pulang?" Tiba-tiba Hilman pun nongol dan berdiri di samping Dzakir.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam Pak Dzakir, Hai Iya Ka Hilman."
"Sel gue duluan ya?" Erlina jelas tak mau terlibat di antara mereka.
"Jangan Er." Misela menarik lengan Erlina.
"Tapi....!" Erlina pun mengalah.
"Ada apa Pak Dzakir dan Ka Hilman?" Tanya Misela.
"Aku...." Suara itu terdengar bersama antara Dzakir dan Hilman.
"Silahkan Pak Dzakir dulu." Hilman sedikit sinis.
"Em saya permisi aja kalian silahkan kalau ada yang mau di bicarakan. Assalamu'alaikum" Dzakir pun pergi.
"Wa'alaikumsalam." Jawab mereka kompak.
"Ada apa Ka?" Misela kembali bertanya.
"Aku cuma mau bilang tolong jaga diri baik-baik ya Sel. Kabar buruk sedang beredar di kota Metro ini. Aku tau tangan kanan mu masih belum pulih apalagi kamu sudah gak latihan bela diri lagi sekarang." Lagi-lagi perkara itu yang Hilman katakan. Karna memang benar sedang marak terjadi kejahatan di kota Metro saat ini.
"Iya Ka jangan khawatir. Kami pamit dulu udah sore Ka assalamu'alaikum."
"Iya wa'alaikumsalam."
Mereka pun berpisah.
Hingga waktu magrib pun tiba. Selesai rutinitas ibadah Misela teringat akan tugasnya besok.
"Er kamu sibuk ya?"
Erlina terlihat sangat serius dengan laptop nya di meja ruang tamu.
"Iya nih lagi revisi dan besok harus ngadep lagi. Kenapa Sel?"
"Aku lupa nih harus poto kopi refrensi buku ini dan besok pagi-pagi aku juga harus ngadep dosen pembimbing ke dua Pak Ilham. Pasti besok pagi percetakan belum buka."
"Jam 7 am katanya."
"Gila tu dosen emang gak sarapan jam segitu suruh ngadep."
"Kamu lupa dosen selalu benar?"
"Iya sih tapi kamu berani kan ke depan sendiri?"
"Iya terpaksa lah. HP ku lagi di cars ya batrei nya lowbet."
"Emang banyak ya?"
"Lumayan lah."
"Gue tanggung soalnya ini ntar lupa lagi. Gak papa kan sendiri?"
"Oke deh aku jalan dulu ya."
"Oke hati-hati sayang."
Saat Misela akan berbalik entah bagaimana gelas yang di meja jatuh tersenggol tangannya Misela.
"Innalilahi kok bisa jatuh sih." Misela hendak memunguti pecahan gelas tersebut tapi di tahan oleh Erlina.
"Udah biar gue aja lu cepetan jalan keburu larut malam. Iya kalau disana gak ngantri kan?"
"Maaf ya Er jadi ngerepotin. Udah gak papa."
"Ya udah aku jalan ya assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
__ADS_1
Misela lalu berjalan sekitar 100 meter menuju tempat percetakan. Suasana sedikit gelap karna memang daerah sekitar kampus belum padat penduduknya.
Tibalah Misela di sebuah percetakan yang dituju dan menyodorkan tiga buah buku untuk di poto kopi.
"Bang lama gak?"
"Sabar ya mbak ngantri sedikit. Silahkan duduk dulu."
"Oke."
Misela pun duduk bersama beberapa orang disana. Belum lima menit Misela duduk tiba-tiba ada pemadaman listrik masal.
"Waduh. Mati listrik." Ujar Abang percetakan.
Misela sedikit takut karna dia memang trauma dengan kegelapan.
"Bang gak ada jenset? Tumben banget sih mati listrik." Tanya Misela sambil menggenggam bajunya karna ketakutan.
"Ada mbak tunggu sebentar ya. Ini pasti karna hujan tadi sore kayaknya ada yang rusak jadi pemadam listrik gini."
Misela tak berani beranjak dari tempat duduknya. Orang-orang di sebelah Misela sibuk dengan ponsel mereka. Misela kebingungan harus bagaimana karna dia benar-benar takut saat ini.
"Bang masih lama?" Tanya Misela lagi.
"Aduh ini neng bensinnya abis lagi beli itu."
Misela sedikit panik.
"Bang punya center buat penerangan jalan gak?"
"Ada neng tapi kecil nih."
"Gak papa bang. Bisa tolong besok buka lebih awal bang. Aku tinggal aja bukunya."
"Oiya neng kalau belum buka ke pintu belakang aja ya neng."
"Makasi bang ini berapa centernya?"
"Itu harga lima belas ribu."
"Ini bang. Jangan lupa bukunya ya."
"Siap."
Misela pun memberanikan diri untuk pulang dalam kegelapan malam dengan pencahayaan ala kadarnya.
Ditengah perjalanan Misela di hadang oleh dua orang preman yang sedikit mabuk.
"Hai cantik mau kita anterin gak?"
"Maaf terima kasih udah deket kok."
Misela hendak mempercepat langkah kaki nya namun lagi-lagi di hadang kedua preman itu.
"Sombong amat sih. Mumpung sepi nih ayolah kita main-main dulu yuk."
Tangan sang preman hendak mencolek pipi Misela tapi dengan cepat Misela meraih tangan preman itu lalu di pelintirnya tangan tersebut.
"Aaacckk sial*n..." Gerutu preman itu.
Dengan cepat satu preman lainnya meraih lengan Misela. Tapi kaki Misela berhasil sampai duluan ke wajah preman itu hingga terjatuh.
"Lu mau main-main ya sama kita?"
Misela lengah karna salah fokus ahirnya tangan kanan Misela di raih si preman dan di putar ke belakang lalu mulut Misela di bungkam.
...######################...
...Jangan emosi tolong jangan emosi ya 🤭✌️...
__ADS_1
...Hayo hayooo jejak bacanya jangan lupa ya. Silahkan Jempol, komentar, bunga dan vote di tinggalin 😁✌️...