Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 23 Curahan Hati


__ADS_3

Setelah menjalankan rutinitas ibadah solat magrib dan mengaji Misela dan Erlina kembali duduk di ruang tamu. Mereka akan berdiskusi tentang menu makan malam apa yang akan mereka beli karna belum sempat membeli bahan baku untuk di masak.


Tapi saat Erlina melihat baju gamis branded yang di pakai Misela mata Erlina langsung melotot karna dia ingin sekali beli merk baju yang di kenakan Misela itu.


"Sel lu kapan beli baju ini astaga so simple and beautiful Sel. Baju ini kan mahal. Kalau gak salah harganya empat ratusan."


"Hah? Baju begini aja empat ratus ribu Er?


"Iyalah ini kan branded gue aja belum kebeli."


"Ini di beliin Pak Dzakir waktu pulang dari rumah sakit."


"Serius lu?"


"Iya waktu mau pulang aku gak punya baju ganti terus dia bawain baju ini sama jilbabnya eh aku di ajak mampir pasar Cendrawasih lagi beli baju banyak banget abis tiga juta lebih tau."


"Gila lu Sel!."


"Aku gak minta dia yang maksa aku buat ambil beberapa baju yang aku suka. Kan waktu itu aku di suruh tinggal di rumahnya yang di Punggur karna bunda masih di Jakarta sedangkan kondisi ku gak memungkinkan untuk tinggal sendiri dirumah."


"Sel lu gimana sih laki-laki baik seperti itu lu tolak Sel?"


"Ahh kamu dulu juga bilang gitu waktu aku masih deket sama Ka Hilman. Nyatanya Ka Hilman juga bikin kecewa kan?. Padahal Ka Hilman udah tau semua tentang aku."


"Iya ya kenapa sih dulu lu putusin dia. Gue belum tau. Lu suka banget main rahasia. Padahal sih dia oke banget di mata cewek-cewek. Bisa apa aja. Jago bela diri jago main basket lu tau tuh kalau dia lagi main basket gila satu kampus bisa teriak-teriak tuh buat support Hilman."


"Yakin kamu mau tau?"


Erlina mengangguk kan kepalanya beberapa kali.


"Jadi waktu itu Ka Hilman tiba-tiba cium bibir aku."


"What?"


"Saat aku dan dia selesai berlatih bela diri kami saling mengobrol dan obrolan itu tentang masa depan kita. Ka Hilman bilang akan menikahi ku setelah kami lulus kuliah dan menjalani kehidupan dengan ku mulai dari nol. Aku pun mengiyakan dengan senang hati rencananya itu karna dia adalah pria satu-satunya yang selalu ada buat ku. Namun tiba-tiba Ka Hilman terbawa suasana dan mencium bibir ku. Saat itu tubuh ku langsung gemetar karna teringat akan kejadian saat aku akan di per*ko*sa oleh tiga bapak-bapak malam itu."


"Terus?"


"Aku syok dan marah padanya."


"Hilman gak minta maaf?"


"Dia minta maaf bahkan berlutut di depan ku."


"Kamu gak terima maaf dia?"


"Erlina... Mungkin untuk sebagian wanita hal itu wajar tapi bagi ku tidak. Aku belum jadi mahramnya. Dan harusnya dia bisa kontrol perbuatan haram itu."


"Iya sih lu kan anak pesantren dia kok gak hargain lu sih."

__ADS_1


"Detik itu juga aku minta untuknya menjauh dari ku."


"Terus lu terima Rangga?"


"Disaat yang tepat Mas Rangga datang. Dia memang begitu sederhana tapi entah kenapa aku mau menerima lamaran nya dengan senang hati."


"Tapi ternyata busuk kan dia? Lu terlalu buru-buru sih gak diskusi dulu sama gue. Gitu katanya kita sahabatan huh."


Erlina melipat kedua tangannya dan membuang muka.


"Maaf ya. Kamu tau aku dari dulu memang selalu menyimpan hal yang memang sebenarnya gak pantas untuk di ceritain. Bagi ku itu aib ku."


"Tapi kan gue ini sahabat lu sejak SMA. Gue aja selalu ceritain apapun sama lu tapi bisa-bisanya lu nyimpen banyak rahasia."


"Hehe iya maaf. Insyaallah mulai sekarang aku akan terbuka sama kamu."


"Janji?"


"Insyaallah."


"Oke sekarang kita mau makan apa?"


"Seperti nya makan nasi padang pakai rendang enak."


"Boleh juga ayo kita beli ke depan. Eh tunggu itu paper bag dari Pak Dzakir isinya apaan?"


"Entahlah aku juga belum tau. Tadi lupa mau buka."


"Astaga Sel Pak Dzakir dukun kali ya. Kok bisa tau apa yang kita mau."


"Apa sih kamu astaga terus dari tadi. Masyaallah atau subhanallah."


"Hehe iya maaf ustazah. Kan gue bukan anak pesantren kayak lu."


"Kenapa sih? Emang isinya apa?"


"Liat nih dua bungkus nasi padang dan dua botol pocari."


"Hah? Jangan-jangan isinya rendang juga?"


Misela dan Erlina pun membuka bungkus nasi padang itu. Dan benar saja rendang lah lauk dari bungkusan itu. Bagaimana mungkin Dzakir bisa membaca pikiran mereka.


Misela dan Erlina saling menatap lalu tertawa. Dan ahirnya menyantap dengan lahap apa yang ada di hadapan mereka.


__________


Suara merdu adzan Dzuhur telah berkumandang di masjid kampus hijau milik Misela yang kebetulan hanya bersebelahan dengan rumah Pak Cipto yang sekarang dia tempati dengan Erlina.


Tapi suara adzan itu tak asing di telingannya. Misela pun bergegas mengambil mukena hendak sholat berjamaah di masjid tersebut.

__ADS_1


"Lu mau kemana?"


"Ke mesjid kampus lah. Pak Dzakir yang adzan tuh gak denger?"


"Iya terus kenapa kalau Pak Dzakir yang adzan?"


"Biasanya abis ngimamin sholat beliau pasti kultum. Aku suka dengerin beliau kultum."


"Dasar lu. Tunggu gue juga ikut deh."


Misela dan Erlina pun berjalan menuju masjid di kampus itu. Dengan sesekali tersenyum dan tertawa mereka menikmati perjalanan singkat dari rumah ke masjid.


Tapi hanya tinggal beberapa langkah saja mereka tiba di masjid seorang wanita cantik bergamis abu-abu polos dengan balutan jilbab square motif bunga menghadang mereka.


"Hai Misela. Apa kabar mu?"


"Selyn?"


"Inget juga sama gue? Sorry ya gak bisa dateng di acara pernikahan mu eh tunggu tapi kan lu sekarang udah janda ya haha oiya lu suka gak sama hadiah dari gue? Gue siapin dengan sepenuh hati loh."


"Maksudnya hadiah yang mana?"


Selyn mendekati Misela dan sedikit berbisik padanya.


"Eh anak haram yang sekarang jadi janda kembang emang lu belum denger gosip hot di kampus ini?"


"Apa?"


"Ahahaha lu tu ya emang polos banget jadi cewek."


"Astaghfirullah Selyn jadi kamu yang nyebar gosip di kampus?"


"Emm ya udah ya gue buru-buru mau ketemu calon suami. Daaahhh....!"


"Dasar wanita...."


"Hust jangan mengumpat. Ayo jalan buruan sebelum iqomah."


"Lu kok diem aja sih. Pengen gue jadiin peyek tu cewek."


"Kasih kacang sama daun jeruk ya?"


"Lu malah bercanda sih."


"Hehe udah ah ayo masuk."


"Iya Bu ustazah."


Erlina pun melupakan sejenak tentang Selyn yang mengganggu mereka.

__ADS_1


...##################...


...Hai.... jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 😘...


__ADS_2