
Adzan Magrib sudah berkumandang. Dzakir dan Misela menjalankan ibadah sholat berjamaah lalu berdzikir dan membaca Alquran bersama.
Setelah selesai menjalankan ibadah Dzakir mengajak Misela untuk makan malam di luar.
"Sayang kita makan malamnya di luar aja yuk kamu pengen makan sama apa sekarang?" Tanya Dzakir sambil berganti pakaian.
"Emang Abi sama Umi ngajak makan di luar ya Mas?" Jawab Misela sembari melipat mukenanya.
"Ya engga kita berdua aja biar romantis dong."
"Kok gitu sih Mas gimana kata Abi dan Umi."
"Nah itu dia sekarang kamu tau juga kan kenapa kita harus tinggal di rumah sendiri? Lagian nih ya mereka juga pernah muda masak gak ngerti urusan orang muda hehe."
"Iya Mas cuma jangan cepet-cepet pindah Mas coba diskusi dulu sama Abi dan Umi."
"Mas udah bilang kok sama mereka."
"Beneran?"
"Serius."
Dan suara ketukan pintu kamar terdengar.
Tok
Tok
Kleekk
Pintu di buka. Ternyata Umi Dzakir yang masuk.
"Jangan mentang-mentang pengantin baru ngurung diri di kamar terus. Buruan makan malam Abi udah nungguin menantunya turun." Kata Umi nya dengan nada sedikit sinis.
"Hehe iya Umi kita udah mau turun kok." Jawab Dzakir sambil cengengesan.
"Istri kamu udah sehat kan? Kalau belum bisa jalan di gendong aja Abi mu nanyain melulu." Umi langsung membuang muka dan pergi.
"Tuh kan Mas gitu kok ngajak makan di luar. Hayuk ah jangan buat Abi menunggu lama." Kata Misela dengan santainya.
Dzakir sangat bangga pada istrinya itu. Tidak ada sedikit pun rasa sakit hati yang terlihat padahal Umi nya sejak pagi berbuat hal yang tak pantas pada dirinya.
"Mas ayok dong kok malah ngelamun." Misela lalu menggenggam tangan Dzakir dan memaksanya untuk segera turun.
"Makasih ya sayang." Suara Dzakir lembut.
"Kok malah makasi Mas?" Misela keheranan.
"Ya makasih aja hehe. Yuk ah!"
Dzakir dan Misela ahirnya turun dan berjalan bersama menuju meja makan. Kehadiran mereka tentu saja di sambut hangat oleh Pak Surya.
"Assalamu'alaikum Abi maaf ya Misela baru keluar dari kamar." Misela mencium punggung tangan Pak Surya.
"Wa'alaikumsalam Nak. Ayo duduk kita makan bersama." Jawab Pak Surya dengan sangat ramah.
__ADS_1
Misela hendak duduk di kursi tapi suara Umi Dzakir membatalkan dirinya untuk duduk.
"Oh jadi Umi gak di anggap ya disini? Cium tangan kok cuma sama Abi aja. Memang Umi disini itu sebagai patung pajangan doang?" Ujar Umi Dzakir dengan mata yang melirik sana sini karna merasa tak di anggap oleh Misela.
"Astaghfirullah iya Umi maaf kirain Umi gak mau Misela ajak bersalaman katanya tadi yang nyariin Misela kan Abi. Hehe maaf ya Umi assalamu'alaikum Umi." Sahut Misela sambil mencium punggung tangan Ibu mertuanya itu.
"Wa'alaikumsalam." Ketus Umi Dzakir.
Sedangkan Dzakir dan Pak Surya hanya senyum-senyum melihat tingkah nyonya di rumah itu.
"Sudah ayo makan Nak. Kamu suka makan apa bilang aja sama Bik Sum atau art lainnya yang kusus memasak ya." Kata Pak Surya tetap sambil tersenyum.
"Misela suka apa aja kok Abi. Misela gak pernah pilih-pilih makanan. Semuanya Misela makan." Jawab Misela dengan sopan.
"Inget ya Misela Dzakir itu alergi udang harus inget jangan sampai suami mu sakit gara-gara kamu jadi istri yang lalai." Ucap Umi Dzakir masih dengan nada ketus.
"Umi Dzakir kan bukan anak kecil jadi Dzakir bisa pilih makanan Dzakir sendiri." Sahut Dzakir.
"Alhamdulillah makasih ya Umi udah kasih tau Misela. Umi perhatian banget mau ingetin Misela. Tuh Mas makanya jangan cepet-cepet pindah rumah biar aku bisa banyak belajar dari Umi. Sekali lagi makasih ya Umi." Kata Misela masih dengan kesopanan yang hakiki.
"Ya Allah istri hamba memang berhati baik. Terima kasih ya Allah Engkau berikan hamba istri yang sangat Sholehah." Bathin Dzakir dengan tersenyum manis menatap Misela.
"Sudah Umi jangan bicara terus kasian menantu kita nanti kelaparan lagi. Hahaha ayo Nak makan ambil apa aja yang kamu mau jangan sungkan-sungkan karna sekarang ini jadi rumah mu." Ucap Pak Surya yang mulai mengambil dua centong nasi di piringnya.
"Terima kasih Abi ini Misela juga udah laper banget hehehe. Mas mau nasi nya berapa centong? Satu dua apa tiga?" Misela berdiri hendak mengambil kan nasi suaminya namun di rebut oleh Ibu mertuanya.
"Sini Umi yang ambilin kamu liatin porsi suami mu segimana biar gak banyak tanya." Kata Umi Dzakir sambil mengambil kan Dzakir nasi dan beberapa lauk kesukaan Dzakir.
Dzakir dan Pak Surya saling menatap khawatir tapi berbeda dengan tanggapan Misela.
"Oo segitu ya Umi. Wah Misela memang harus banyak belajar dari Umi. Tolong ya Umi nanti kasih tau semuanya yang Mas Dzakir suka sama engga supaya Misela bisa jadi istri Sholehah." Masih dengan nada santai dan sopan Misela mengangguk-angguk seolah mengerti dan menerima apa yang Ibu mertuanya katakan.
"Ya gak papa kan Bi biasanya kan Umi yang ambilin makan Dzakir. Lagian Dzakir ini kan masih anak Umi apa yang salah?" Jawab Umi Dzakir dengan nada sedikit marah.
"Iya Umi bener kata Abi kan Dzakir sekarang udah punya istri masak Umi gak kasih istri Dzakir kesempatan untuk mencari pahala?" Sahut Dzakir membenarkan kata Abinya.
"Kalian ini kenapa sih kok Umi di salahin terus. Dia orang baru di rumah ini tapi terus-menerus dibela dan di sanjung. Terus Umi ini apa? Patungkah?" Kata Umi Dzakir kini dengan amarah.
"Umi? Dia ini anak Umi juga kenapa Umi berkata Misela orang baru seolah-olah Misela orang asing untuk Umi?" Jawab Pak Surya dengan nada tinggi.
"Sudahlah terserah Umi jadi gak selera makan." Umi Dzakir pun pergi dan masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan kasar.
"Massss....!" Misela ketakutan. Tangannya sangat gemetar, Misela memang tidak bisa mendengar gaya bicara dengan nada tinggi karna jika itu terjadi Misela akan mengingat hal-hal yang membuat dirinya trauma.
"Sayang kamu kenapa?" Dzakir bangkit dari tempat duduknya dan menggenggam erat tangan Misela.
"Maaf ya Nak kamu pasti kecewa. Kalian makan saja berdua Abi mau makan di kamar ya. Mau nyuapin Umi." Pak Surya pun membawa piring makanya ke ke kamar.
"Sayang kamu gak papa kan?" Genggaman tangan Dzakir membuat Misela sedikit tenang.
"Mas maafin aku Mas gara-gara aku Abi dan Umi jadi bertengkar." Ucap Misela lirih.
"Bukan bertengkar sayang Umi hanya cemburu saja, Umi belum mengiklaskan anaknya jadi seorang suami. Kamu mengerti kan sayang?"
"Iya Mas Umi bener aku cuma orang baru di kehidupan mu sedangkan Umi sudah merawat dan membesarkan mu mana mungkin secepat itu Umi mau di tinggalin anak Sholeh satu-satunya ini."
__ADS_1
"Masyaallah istri ku memang baik sekali. Terima kasih ya udah ngerti keadaan Umi. Pasti Umi akan luluh hatinya kalau tau."
"Kamu bisa aja Mas. Aku anterin minum ke kamar Umi dulu ya Mas."
Dzakir mengangguk.
Sementara itu beberapa saat yang lalu di dalam kamar.
"Umi sini Abi suapin kan Umi gak bisa tidur kalau perutnya laper." Rayu Pak Surya.
"Umi udah bilang gak laper." Jawab Umi dengan ketus dan melipat kedua tangannya.
"Umi inget gak waktu Umi menikah dengan Abi untuk pertama kalinya? Umi hanya bertahan satu malam di rumah mertua Umi kan? Umi pengen cepet-cepet ke rumah kita ini. Lihatlah Misela Umi dia malah gak mau ninggalin rumah ini karna mau belajar banyak hal sama Umi."
Tak ada suara.
"Bayangin deh Umi kalau kejadian ini tadi adalah kejadian yang Umi alami saat jadi pengantin baru. Bayangin kalau posisi Misela itu Umi. Abi yakin Umi pasti bakal nangis sehari semalem." Ledek Pak Surya sambil tersenyum.
"Umi gak cengeng."
"Yakin nih? Mau Abi ingetin apa yang buat Umi nangis tiada henti?"
"Engga Abi gak perlu." Umi menunduk malu dan terdengar lah suara aneh dari perutnya.
"Tuh kan ayo sini aaakkk?"
Dengan telaten Pak Surya menyuapi istrinya itu. Dan terdengar lah ketukan pintu dari luar.
"Abi Umi Misela boleh masuk?" Tanya Misela membuka pintu.
"Boleh sini Nak." Jawab Pak Surya.
"Ini Misela bawa air minum tadi Abi lupakan?"
Misela pun meletakkan air minum itu di meja.
"Makasih ya Nak." Kata Pak Surya.
"Besok temenin Umi ke pasar. Jadi jangan turun siang-siang." Kata Umi datar tanpa menatap Misela.
"Wah ke pasar Umi, siap siap Misela bakal turun pagi-pagi. Misela keluar dulu ya Umi." Dengan hati bahagia Misela keluar dari kamar itu.
"Lihatlah menantu mu Umi baik kan? Tak terlihat dendam di hatinya malah di terlihat senang mau di ajak ke pasar besok."
"Entahlah."
"Umi cuma butuh lebih dekat dan lebih mengenal saja kok."
"Iya makanya besok Umi ajak ke pasar."
"Terima kasih ya Umi."
"Iya Abi. Masih mau nyuapin Umi gak?"
"Iya sayang."
__ADS_1
Suasana di kamar itu pun jadi romantis karna buah dari kesabaran.
...###########...