
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki Umi Dzakir mendekati kamar.
"Huh mereka itu kenapa sih bilang begitu. Emangnya salah aku apa. Kan mereka tau aku gimana orangnya." Ucap Umi Dzakir lirih dan masuk ke kamar.
"Assalamu'alaikum Misela. Masih tidur ya. Duhh enak banget deh jam segini masih tidur." Sapa Umi yang perlahan membuka pintu kamar.
"Wa-wa'alaikumsalam. Umi?" Misela terkejut karna mertuanya masuk kamar dan dia masih tidur terbalut selimut tanpa jilbab.
"Ini Umi bawakan teh hangat untuk mu. Kamu capek ya melayani suami mu semaleman? udah kayak baru pertama kali aja sih." Tanya Umi sok lembut.
"Maaf ya Umi saya malah kecapekan gak bisa bantuin Umi beberes. Kaki Misela juga pegel banget kemaren sepatunya terlalu tinggi." Kata Misela menunduk sambil meremas selimut.
"Misela Umi mau tanya sesuatu bolehkan?"
"Boleh Umi kenapa tidak. Apa yang mau Umi tanyakan?"
"Kenapa kamu mau menerima Dzakir padahal status kamu begitu tak patut untuk di banggakan?"
Deg.
Misela langsung mengangkat kepalanya dan menatap Ibu mertuanya itu. Bagaimana bisa Ibu mertuanya itu mengatakan hal yang demikian menyakitkan.
"Maksud Umi gak patut dibanggakan bagaimana?" Misela balik bertanya.
"Andai aja Selyn yang jadi mantu Umi pasti Umi akan sangat bahagia. Selyn sudah jelas asal usulnya bahkan dia juga masih perawan tingting dari keluarga terpandang dan gadis yang lembut juga baik hati." Umi Dzakir pun membuang muka.
"Ja-jadi Umi tidak suka dengan Misela?" Jawab Misela tergugup dan hampir meneteskan air matanya.
"Bagaimana bisa anak Umi harus menikahi janda Misela? Apa yang harus Umi bangga kan pada temen-temen Umi nanti?"
"Astaghfirullah maafkan Misela Umi."
"Kamu sebenarnya cantik Misela Umi suka hanya saja Umi gak suka kamu janda."
"Apa yang salah dengan status janda Umi? Nabi Muhammad Saw saja menikahi Sayidina Khadijah dengan status janda."
"Ya jangan samakan dengan hal itu Misela ini bukan jaman nabi lagi. Umi gak tau ya akan suka sama kamu atau engga dan Umi ini bukan orang yang senang berpura-pura Misela kalau gak suka ya bilang gak suka."
"Iya Umi Misela mengerti."
Umi Dzakir pun berdiri dari duduknya dan menatap selimut tebal yang menutupi tubuh Misela yang masih tertunduk tak berani menatap Ibu mertuanya itu.
"Biar Umi kasih kamu paham Misela kalau saja ada bercak merah di...." Umi Dzakir pun terkejut saat membuka selimut yang Misela kenakan tadi.
Selimut berwarna putih bersih yang masih ada beberapa kuntup mawar merah ternyata ada noda darah segar disana. Itu tanda bahwa Misela adalah janda rasa gadis.
"Ka-kamu masih perawan Misela?" Tanya Umi.
__ADS_1
Tapi Misela tidak menjawab. Dia hanya *******-***** tangannya karna malu sekaligus bingung mau bicara apa.
Dan tibalah Dzakir membuka pintu kamar dengan tatapan sedih dan terkejut.
"Umi? Apa yang Umi lakukan?" Dzakir menghampiri Misela dan Umi nya lalu berdiri di sebelah Umi nya.
"Umi? Kenapa Umi harus seperti ini. Kenapa Umi gak menjaga perasaan menantu Umi. Apa sebenarnya yang Umi inginkan?" Tanya Dzakir tanpa nada tinggi sedikit pun.
Tapi Umi nya langsung pergi dari kamar itu tanpa berkata sepatah kata pun.
Brak.
Suara pintu yang di tutup secara kasar.
"Sayang maaf ya Mas gak tau kalau Umi bakal seperti itu. Maafin Umi ya sayang? Biar seprei ini di ganti dulu sama Bik Sum." Kata Dzakir sambil memeluk Misela dan membelai rambutnya.
"Mas?"
"Iya sayang."
"Maafkan aku Mas."
"Untuk apa?"
"Karna aku bukanlah menantu yang Umi inginkan."
"Sudahlah jangan di pikirkan."
"Tapi Umi ingin Selyn yang jadi menantu nya Mas bukan janda seperti aku ini."
"Tapi Mas...!"
"Sudahlah ayo ikut Mas biar badan mu merasa enakan."
"Kemana Mas?"
"Ikut saja."
"Engga ah Mas. Hari ini pokoknya aku gak mau keluar kamar. Jangankan untuk berjalan turun ke kamar untuk bergerak saja rasanya malas."
"Mas gendong ya?"
"Iihh apa sih Mas kayak kita di rumah cuma berdua aja. Kamu gak malu di lihat sama Abi dan Umi?"
"Memang kenapa mereka kan pernah jadi pengantin baru juga sayang."
"Jangan ngadi-ngadi deh Mas. Sudahlah aku mau tidur aja."
"Biar seprei nya di ganti dulu sama Bik Sum ya kamu duduk dulu di sofa Mas mau panggil Bik Sum. Yuk sini Mas gendong ke sofa."
Misela mengangguk Dzakir pun langsung membopong Misela dan di baringkan di sofa.
"Kalau kayak gini Mas jadi inget saat bawa kamu pas malam-malam itu deh. Itu adalah moment yang membuat Mas gak pernah bisa melupakan mu sayang."
__ADS_1
"Iihh Mas jangan ingetin aku sama kejadian itu dong."
"Hehe ya udah Mas panggil Bik Sum dulu ya. Tunggu sini."
"Iya Mas."
Dzakir pun kembali keluar dari kamar untuk memanggil Bik Sum art nya. Tapi Dzakir tak langsung memanggil Bik Sum melainkan duduk di meja makan.
"Abi Umi besok Dzakir mau pindah ke rumah Dzakir. Rumahnya sudah selesai di renovasi." Kata Dzakir pada kedua orang tua nya.
"Loh kenapa buru-buru sekali Nak? Apa Misela yang minta buru-buru pindah?" Jawab Umi Dzakir.
"Tidak Umi, Misela bahkan gak tau Dzakir punya rumah sendiri. Dzakir hanya ingin mandiri. Dzakir gak mau terlalu lama merepotkan Abi dan Umi disini." Kata Dzakir lagi.
"Kenapa kamu bilang begitu Dzakir, Umi gak merasa di repotkan sama sekali." Jawab Umi Dzakir yang terlihat sedih.
"Umi biarkan saja. Dzakir anak kita sudah punya keluarga sendiri. Dia sudah punya tanggung jawab sendiri Umi. Biarkan Dzakir dengan keputusan nya itu. Toh memang baiknya seperti itu kan? Setelah menikah memang harusnya tidak satu atap dengan orang tua atau pun mertua." Sahut Pak Surya Abi Dzakir.
"Abi kok malah biarin anaknya pergi sih. Pasti kamu di pengaruhi kan sama istri mu itu?" Kata Umi mulai kesal.
"Umi sudah Dzakir bilang ini gak ada hubungan nya dengan Misela. Ini murni keputusan Dzakir sendiri. Dan juga Dzakir menghindari hal seperti yang Umi lakukan tadi." Ucap Dzakir datar.
"Memang Umi mu kenapa tadi?" Tanya Pak Surya.
"Sudahlah Bi Dzakir gak akan memperpanjang masalah sepele. Dzakir mau kembali ke kamar dulu ya. Bik Sum tolong ke kamar saya sebentar ya." Dzakir pun kembali ke kamar tidur di ikuti art nya.
"Umi sebenarnya ada apa kenapa Dzakir bicara seperti itu tadi?" Tanya Pak Surya pada istrinya.
"Engga tau." Jawabannya singkat.
"Berarti secara gak langsung Umi yang mengusir anak Umi sendiri."
"Kok Abi malah bilang begitu sih. Umi tuh cuma..."
"Cuma apa Umi?"
"Cuma buka selimut terus memastikan ada darah atau gak nya."
"Kenapa Umi berbuat hal yang memalukan menantu kita Umi? Umi kan tau dia janda."
"Tapi Umi liat ada darah Abi."
"Ada darah atau tidak itu bukan urusan kita Umi. Abi gak tau bagaimana perasaan menantu kita sekarang. Pasti Umi juga menyebut nama Selyn tadi?"
"Kok Abi tau?"
"Umi, kita menikah sudah berapa lama sih? Abi sangat tau persis sifat Umi. Ya sudah Abi berangkat dulu sudah telat ini gara-gara Umi."
Pak Surya pun beranjak dari tempat sarapan nya dan berjalan menuju mobil yang sudah siap dengan supirnya.
"Abi berangkat dulu ya. Abi sarankan Umi minta maaf sama menantu Umi supaya kedepannya Umi..."
"Sudahlah Abi cepet berangkat sana."
__ADS_1
Mereka pun saling bersalaman dan tak lupa Pak Surya juga mengecup kening istrinya itu.
...####################...