Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 74 Sehati Sepemikiran


__ADS_3

Pernikahan itu sekali seumur hidup. Untuk itu, sebelum memutuskan menikah, kamu harus memiliki komitmen yang sama dengan pasangan untuk mau menua bersama.


Namun, memang tak bisa dipungkiri, kehidupan pernikahan tak semudah keliatannya. Kamu yang tadinya serba seorang diri, sekarang memiliki pasangan yang butuh waktu dan perhatian darimu.


Dan tak bisa dihindari pula bahwa dalam pernikahan pasti ada masalah-masalah yang bermunculan. Bisa dari hal yang sepele sampai hal yang besar.


Memang setelah menikah, kamu jadi memiliki teman untuk menghadapi masalah hidup bersama. Tapi, baiknya kamu tidak melimpahkan tanggung jawab untuk menyelesaikan berbagai masalah yang jadi beban pribadi kepada pasangan.


...❤️...


Sore ini seperti biasa Dzakir mencari jajan terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah. Namun sudah berkeliling cukup lama Dzakir tak menemukan menu yang menggoda lidahnya. Tertiba Dzakir ingat kalau istrinya suka sekali dengan bakso Sony mang Ujang.


Tiba di tempat tujuan, ternyata antriannya begitu panjang, tapi karna air liur Dzakir sudah berkumpul jadi satu, dia rela mengantri hingga lebih dari lima belas menit.


Makan bakso sony mang Ujang tak lengkap jika tidak dengan es jeruk khas toko tersebut. Jadi Dzakir memutuskan untuk membeli tiga bungkus karna siapa tau dirinya pengen nambah.


Dalam perjalanan pulang Dzakir melihat tukang rujak bebeg. Melihat proses pembuatan nya air liur Dzakir kembali berkumpul di mulutnya. Sungguh lucu memang, tak pernah sekali pun Dzakir seperti itu saat melihat makanan. Mungkin ini memang bawaan bayi.


Dzakir pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan dan menghampiri sang tukang rujak. Dzakir berjongkok di sisi tukang rujak itu dan memesan.


"Mang, aku bungkus satu aja ya."


"Wah, iya pak tunggu sebentar saya siapkan. Ini mau campur apa ada buah yang gak di suka Pak?"


"Campur aja mang pasti lebih enak. Udah gak sabar ini pengen makan."


"Seperti orang lagi nyidam aja Pak hehe."


"Saya emang lagi nyidam Pak, rasanya udah bener-bener pengen makan tu rujak. Yang pedes ya Pak pasti seger banget itu."


"Istri Bapak hamil berapa bulan?"


"Belum genap dua bulan Pak."


"Selamat ya Pak. Yang sabar aja kalau ngadepin istri hamil. Kadang suka aneh-aneh mintanya, belum lagi ya kalau marah serem banget."


"Yang bener mang? Untung saja istri saya gak begitu, hehe."


"Iya istri saya begitu soalnya, hehe."


"Anaknya berapa mang?"


"Cuma empat."


"Hah? Empat? Cuma? Yang bener mang?"


"Ya Alhamdulillah itu kan rejeki dari Allah, gak bisa di tolak hehe."


"Dari jualan ini cukup buat biaya hidup mang?"


"Alhamdulillah cukup kalau kita bersyukur, hehe."


"Wah luar biasa. Saya juga mau ah anak empat hehe."

__ADS_1


"Ini Pak sudah siap."


Mamang rujak itu memberi bungkusan pesanan Dzakir.


"Berapa Mang?"


"Sepuluh ribu saja Pak."


"Ini mang ambil aja kembaliannya."


Dzakir memberikan uang satu lembar merah pada mamang rujak itu.


"Terima Pak, semoga Bapak dan istri selalu di beri kesehatan dan proses melahirkan nya lancar jadi anak sholeh sholehah Pak Aamiin."


"Saya cuma kasih uang yang tak seberapa, tapi doa mamang luar biasa. Terima kasih doanya mang saya permisi dulu."


Dzakir bergegas masuk mobil karna waktu sudah makin sore. Sepanjang perjalanan Dzakir menyetir dengan santai karna dia memang tipe orang yang tak mau terburu-buru karna keselamatan lebih penting, kecuali darurat.


Dinikmati waktu sore yang sedikit ramai itu sambil mendengarkan radio kesayangan nya.


Tiba di rumah Dzakir sudah mendapati istrinya duduk santai di teras. Misela sengaja menunggu Dzakir pulang.


"Assalamu'alaikum sayang ku, istri ku, i love you."


"Wa'alaikumsalam, Mas bawa apa?"


"Ih bukannya di jawab malah tanya bawa apa."


"Kan udah di jawab salam nya Mas."


"Astaghfirullah. I love you too hubby. Emuah."


Misela berjinjit mencium sebelah pipi Dzakir dan membuat Dzakir merona.


"Masyaallah istri ku sudah pandai sekali merayu suaminya. Jadi gak sabar nunggu malem."


"Gak sabar apa hayoo..."


"Gak sabar makan rujak sayang. Ini Mas beli rujak loh."


"Alhamdulillah. Padahal aku tu ya mas sejak siang tadi pengen banget makan rujak yang pedes gitu.


"Ini pasti sesuai dengan selera mu sayang."


"Kok Mas tau sih kalau anakmu ini pengen rujak masyaallah baunya seger banget. Ayo masuk Mas."


"Iya sayang."


Dzakir melingkar kan sebelah tangan nya di pinggang Misela dan masuk ke dalam rumah. Misela membuka satu demi satu bungkusan yang di bawa Dzakir.


"Em ini bakso Sony mang Ujang Mas? Masyaallah udah lama sekali gak makan bakso ini. Mas kok kamu bisa tau sih apa mau anak kita?"


"Gimana sih kan Mas ini Daddy nya. Pasti taulah selera calon anaknya."

__ADS_1


Dzakir berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke perut Misela. Mengecup singkat perut itu dan membacakan doa.


"Anak Daddy yang baik."


"Mas, kita kan ikut program hamil anak kembar kemarin, nah kira-kira anak kita kembar gak ya?"


"Kemungkinan besar sayang karna keturunan Umi ada juga yang kembar tapi di luar negri."


"Wah seru dong Mas rumah ini nanti."


"Seru lagi makan rujak sayang, hehe."


"Oiya sampe lupa Mas, aku ambil piring dulu ya."


Misela berjalan menuju dapur untuk mengambil piring dan mangkok untuk rujak dan baksonya. Satu persatu Misela tuangkan menu makanan yang di bawa suaminya itu.


"Loh es jeruknya nya kok tiga gelas Mas? Satunya buat siapa?"


"Buat jaga-jaga aja kalau kamu kurang sayang."


"Perhatian amat sih kamu mas."


Dzakir tersenyum kecil. Dalam hati bergunam kalau sebenarnya es itu untuk dirinya sendiri.


Setelah selesai di siapkan Dzakir dan Misela menyantap bakso sony terlebih dahulu. Setelah habis barulah makan rujak dan minum es jeruk nya.


"Bik Sum, tolong bereskan mejanya ya." Perintah Dzakir.


"Iya Den."


"Sayang ayo kita ke kamar."


Dzakir menggendong tubuh Misela dan membawanya ke kamar.


"Gak perlu di gendong juga Mas."


"Ya mumpung masih kuat sayang, sebentar lagi tubuh mu pasti jadi gendut hehe "


Misela mengerutkan bibirnya dan mengeratkan tangan yang melingkar di tengkuk Dzakir hingga kepalanya menyandar di dada Dzakir.


"Kamu pasti gak suka lagi sama aku Mas kalau aku jadi gendut."


"Tenang saja sayang gendutnya juga cuma sementara. Mas juga udah bilang kan, bagaimana pun keadaan mu Mas akan menerima nya."


Misela makin menyusupkan kepalanya di sela tangan Dzakir. Kehangatan dan bau tubuh Dzakir selalu berhasil membuat Misela tenang dan damai.


Begitu sederhana cara Misela berbahagia. Tak perlu sesuatu yang mewah atau belanja barang mahal karna dengan hadirnya Dzakir di sisinya sudah sangat cukup membuat Misela nyaman.


..."Semahal apa pun harga sebuah bantal, tak akan mampu menggantikan nyaman dan tenangnya bahu seorang suami untuk bersandar."...


...############...


Hai Reader 😍

__ADS_1


Minggu ini give away pulsa 10k bakal aku kasih buat kamu yang kasih dukungan berada di rate 1-3 ya buat syukuran atas naik nya level author dari bronze ke silver 🥳


Terima kasih banyak atas dukungannya. Tanpa kalian aku mah apa atuh, cuma remahan rengginang 🥺


__ADS_2