Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
PECAH 2 EXTRA PART Beda Sifat


__ADS_3

"Mommy.... Kaka berisik telus. Aku jadi gak itu gak pokus."


Mikka berlari ke arah Misela yang baru saja menuruni anak tangga.


"Duhh Mikka sayang lagi belajar ya? Nanti mommy bilang sama Kakak-kakak dulu ya. Sini Mommy gendong."


Misela menggendong Mikka di sebelah tangan kirinya dan berjalan menuju kedua anak yang sedang bertengkar sejak tadi.


"Iihh kamu yang itu Mecca. Aku yang ini." Ucap Malik sambil menunjuk barang yang direbutkan.


"Gak mau ka, Aku maunya yang warna merah. Aku suka warna merah karna menandakan warna untuk seorang yang pemberani." Jawab Mecca.


"Aku kan cowok, masak harus pakai yang warna pink. Kamu pikir aku cowok gampangan?" Kata Malik lagi dengan nada tinggi.


Mecca tertawa terbahak-bahak menatap kakaknya Malik.


"Kamu itu cowok dengan ego tinggi Ka. Bagaimana bisa kamu gak mau mengalah demi adik mu yang cantik ini?" Sahut Mecca dengan kedua tangan di pinggang.


Misela pun menggelengkan kepalanya melihat Malik dan Mecca yang selalu bertengkar memperebutkan benda atau hal apapun itu. Bahkan perkataan Malik dan Mecca sudah seperti orang dewasa. Kedua pengasuh nya terkadang selalu mendapat kan teguran dari Malik dan Mecca karna tak mau urusan pertengkaran mereka di campuri siapapun kecuali Dzakir dan Misela tentunya.


Beda halnya dengan Mikka yang selalu kalem dan banyak belajar hal baru. Walau belum bisa bicara dengan jelas tapi Mikka sangatlah lembut dan bermain layaknya anak perempuan lainnya. Bahkan Mikka tak pernah membuat pengasuh nya kewalahan sejak dirinya masih bayi.


Malik, Mecca dan Mikka mempunyai pengasuh masing-masing. Malik dengan pengasuh bernama Bik Diah. Mecca dengan pengasuh bernama Bik Sumi. Sedangkan Mikka dengan pengasuh bernama Bik Wati.


"Bik Diah, Bik Sumi kenapa gak di pisah?" Tanya Misela menghampiri Bik Diah dan Bik Sumi yang duduk lemas di lantai dan bersandar di kursi.


Melihat majikannya datang keduanya langsung berdiri dan sedikit membungkuk. Sedang Malik dan Mecca yang mengetahui kalau Mommy nya dan langsung melepaskan barang yang mereka perebutkan tadi dan menghampiri Misela lalu memeluk kakinya bersebelahan.


"Mommy....!" Kata Malik dan Mecca bersama.


"Maaf kan kami Nyonya, kami..." Belum Bik Sumi menyelesaikan ucapannya, Malik sudah memotong.


"Sudahlah My, kan Mommy tau kami tidak suka ada orang lain yang ikut campur dengan urusan kami. Iya kan Dek?" Kata Malik dan mengedipkan sebelah matanya memberikan isyarat pada Mecca supaya kedua pengasuh nya tak kenak marah.


Malik dan Mecca walaupun sering bertengkar tapi mereka sangat kompak untuk hal berbohong atau berkongsi masalah pengasuhnya. Mereka tak pernah sedikitpun menyalakan pengasuh nya dalam hal apapun. Bahkan mereka selalu membela pengasuhnya itu.


"Iya Mommy. Bener kata Ka Malik." Sahut Mecca.


Misela pun berjongkok dan menurunkan Mikka untuk berjejer berdiri bersama dengan kedua Kaka nya.


"Anak Mommy jangan sering bertengkar atau memperebutkan hal apapun. Kalian harus saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Kalian anak-anak Mommy yang cerdas kan? Sini peluk Mommy dulu!"

__ADS_1


Misela membentang kedua tangannya bersiap untuk menyambut ketiga tubuh anaknya itu. Mereka saling berpelukan.


"Wah wah kenapa itu kok pada pelukan tapi melupakan Daddy?" Kata Dzakir yang baru saja turun dari kamarnya di lantai dua.


Suara Dzakir membuat ketiga anaknya melepaskan pelukan Misela dan menghampiri dirinya.


"Daddy.....!" Ucap serempak.


Dzakir pun berjongkok dan membentangkan tangannya untuk memeluk anak-anaknya.


"Dad Ka Malik sama Ka Mecca berisik telus ih. Atu jadi gak sokentasi belajalnya." Adu Mikka pada Dzakir lalu melepaskan pelukannya.


"Konsentrasi Mikka. Kamu udah besar tapi bicara masih salah terus." Ucap Mecca mengolok-olok adiknya dan tersenyum mengejek.


"Sayang, jangan begitu sama adiknya. Kalau Mikka salah, kasih tau dengan cara baik ya. Jangan dengan mengolok, mengejek apalagi sambil marah." Dzakir menasehati Mecca sambil mengelus ujung kepalanya.


"Iya Daddy maafin Mecca." Kata Mecca lirih sambil menggigit jari telunjuknya.


"Minta maaf juga sama Mikka dong." Sahut Dzakir.


"Maafin Kaka ya Dek. Sini peluk Kaka." Mecca langsung memeluk Mikka.


"Iya Ka." Jawab Mikka dan membalas pelukan Kakaknya.


"Malik, sebagai Kakak laki-laki kamu harus bisa menjadi penengah di antara adik-adik mu. Jangan memikirkan kehendak Malik sendiri ya karna Malik adalah laki-laki hebat jadi Malik juga harus bisa mengambil keputusan yang tepat."


Malik mengangguk.


Dzakir pun melepaskan pelukannya.


"Nah sekarang kita makan malam dulu yuk. Daddy udah laper. Main sama belajar nya dilanjutkan lagi nanti ya."


Ketiganya mengangguk dan saling bergandengan berjalan menuju meja makan. Satu persatu naik ke kursi di bantu oleh pengasuh nya masing-masing.


Malik, Mecca dan Mikka adalah saudara kembar. Mereka memang anak yang lahir di hari yang sama namun di menit yang berbeda. Kelahiran dengan hari yang sama tak membuat mereka tumbuh dan berwajah sama persis, apalagi sifat satu dengan yang lain.


Malik dan Mecca mempunyai wajah mirip dengan Dzakir. Dari mata yang berwarna coklat, hidung yang mancung, rambut yang hitam dan wajah oval. Mecca berambut lurus dan panjang yang melebihi bahunya. Tentu saja keduanya sangat imut dan menggemaskan, apalagi saat bertengkar.


Sedangkan Mikka memiliki wajah persis seperti Misela. Rambut sedikit coklat, hidung yang pesek, pipi yang tembem dan kepala bulan sempurna dengan panjang rambut di atas bahu dan bergelombang. Mikka juga belum bisa bicara dengan lancar. Bisa di bilang Mikka anak yang cadel/cedal.


"Mommy ambilkan nasi ya." Misela berdiri di sisi Malik dan mengambilkan secentong nasi. Kemudian Mecca lalu Mikka. Porsi yang sama untuk ketiga anaknya itu. Namun selera makan mereka juga tak sama tentunya.

__ADS_1


Malik dengan ayam goreng kremes.


Mecca dengan ayam goreng mentega.


Mikka dengan sayur mayur dan lauk ikan goreng.


Berbeda jika di ruang bermain dan belajar saling bertengkar dan merajuk. Di meja makan mereka duduk dengan tenang dan menikmati makanan yang sudah di siapkan oleh pengasuhnya.


"Mas, besok aku mau cari sekolah buat mereka." Kata Misela sambil menyantap makan malam nya.


"Perlu di temani?" Jawab Dzakir.


"Gak perlu Mas. Aku akan ajak anak-anak buat minta pendapat mereka nanti suka atau engganya." Kata Misela.


"Aciiikkkk.... Mikka mau cekolah. Nanti pati banyak buku dan eman di cekolah." Ucap Mikka sambil mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang sendok dan garpu.


"Mikka suka ya bakal punya banyak teman?" Tanya Dzakir.


"Iya Dad." Jawab Mikka.


"Terus Malik dan Mecca kok diem aja?" Tanya Dzakir sambil menoleh pada Malik dan Mecca.


"Aku sih suka aja Dad, pasti aku yang paling pintar dan yang selalu jadi juara kelas nanti." Sombong Malik.


"Sombong amat sih Ka Malik ini. Yang rajin belajar kan Mikka bukan Ka Malik." Pungkas Mecca.


"Ya Kaka juara pertama, Mikka juara kedua dan kamu juara terahir." Sahut Malik.


"Aku gak sebodoh itu tau. Daddy Kaka tuh jahat banget." Rajuk Mecca.


Dzakir dan Misela hanya tersenyum menanggapi mereka dan melakukan makan malam.


...#################...


GIMANA GAES?


SERU GAK?


...JANGAN LUPA MAMPIR DI NOVEL TERBARU KU YA ...


..."Berbagi Cinta "Istri-istri CEO Reyfan"...

__ADS_1


...SAMBIL NUNGGU INI UP 😊...


__ADS_2