Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 16 Perdebatan


__ADS_3

Obrolan yang kian jam kian asik itu harus di akhiri setelah adzan ashar berkumandang. Dzakir pamit untuk sholat di mushola dekat rumah Misela. Sedangkan Misela dan Adelia menyiapkan makanan.


"Dzakir terlihat gak asing ya?"


"Masak sih Bun"


"Iya Bunda kayak pernah lihat gitu tapi dimana ya?"


"Bunda tau gubernur kita?"


"Ya tau lah kamu ini apa hubungannya sama Dzakir?"


"Pak Dzakir adalah anak dari gubernur kita Pak Surya Alfaruq Bun."


"Apa?"


"Biasa aja Bun jangan kaget."


"Bisa-bisanya kamu di anter sama anak gubenur?"


"Sudahlah Bun ayo cepet keburu Pak Dzakir selesai sholat nya."


"Oh iya ya."


Misela dan Adelia selalu kompak dalam hal menyiapkan makanan. Jadi semuanya selesai dengan cepat. Sebuah menu ayam goreng, sayur asem, sambel terasi lalu lalapan timun dan kol sudah di gelar di meja makan. Tak lupa Misela menyiapkan piring, sendok dan gelas.


"Alhamdulillah. Sudah beres coba kamu lihat Pak Dzakir udah selesai belum sholat nya. Kalau udah langsung aja kesini ya."


"Iya Bun."


Misela pun kembali ke ruang tamu dan mendapati tawa terbahak-bahak disana.


"Seru amat sih Pih sampe ketawanya gitu amat." Kata Misela yang penasaran dengan obrolan mereka bertiga.


"Iya Pak Dzakir ini orangnya asik." Jawab Hanan sambil berusaha menahan tawanya.


"Ayo makan dulu Pih semuanya udah siap. Pak Dzakir mari makan dulu sebelum pulang." Ajak Misela dengan sangat sopan.


"Ah jadi merepotkan ini. Tapi saya memang lapar." Ujar Dzakir sambil mengelus perutnya.


"Hahaha ayo mari kita makan dulu." Ajak Hanan.


Keluarga itu pun menikmati makanan mereka.


Setelah selesai makan Dzakir berpamitan. Hari semakin sore sedangkan dia harus menempuh perjalanan sedikit jauh.


Kepulangan Dzakir amat terasa untuk Misela. Entah perasaan saat ini seperti apa tapi yang paling jelas Misela rasakan adalah kesepian lagi.

__ADS_1


"Kok aneh sih rasanya gak rela aja lihat dia pergi." Gunam Misela.


Suasana yang tadinya ramai sudah hilang. Kini Hanan dan Adelia akan bicara serius dengan Misela. Sedangkan Aldian hanya diam mendengarkan. Setelah mendapat penjelasan dari Misela Adelia menangis sejadinya. Hatinya sangat sakit mendapati anak perempuan nya itu menjadi janda di usia pernikahan yang sangat singkat.


Namun bukan Misela namanya jika dia tak bisa menenangkan keluarga nya. Misela ahirnya memutuskan untuk mengajak orang tuanya menemui keluarga Rangga.


_________


Selepas magrib Hanan menyewa sebuah mobil untuk perjalanan ke rumah Rangga. Hanan ingin masalah Misela cepat selesai.


Sampai disana rumah Rangga sedang ada tamu yaitu orang tua Nindi.


"Assalamu'alaikum." Salam Hanan di ambang pintu.


"Wa'alaikumsalam." Jawab serentak orang yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak tanpa menyadari kalau mobil Hanan sudah terparkir di depan rumah Rangga.


"Pak Hanan? Misela?" Kata Pak Karjo terkejut.


"Kenapa terkejut Pak?" Jawab Hanan.


"Silahkan masuk Pak." Pak Karjo berjalan menghampiri.


Hanan, Adelia dan Misela masuk namun sudah tak ada tempat duduk disana. Hanan melihat sekeliling. Rangga sedang duduk di sisi Nindi dan tangan mereka bergandengan.


"Wah luar biasa kamu Rangga. Baru satu minggu kau nikahi anak ku sekarang kamu sudah berani memegang tangan wanita lain. Laki-laki macam apa kamu Rangga?" Bentak Hanan pada Rangga. Tapi Rangga tak berani menjawab.


"Dan Pak Karjo anda ini seorang bapak seperti apa yang mendukung perbuatan salah putra anda?" Sambung Hanan masih dengan nada tinggi.


"Pak Hanan anda sadar tidak anda sudah membohongi keluarga kami." Kata Bu Wardah yang meluap-luap emosinya.


"Maksudnya bohong?" Hanan penasaran.


"Misela bukan anak Pak Hanan kan? Misela itu anak haram kan? Dan Misela pasti mengikuti jejak Ibunya itu. Dia pasti bukan wanita baik-baik dan dia pasti sudah tidak perawan."


Deg.


Hati Adelia hancur mendengar perkataan Bu Wardah. Adelia pun berdiri berhadapan dengan Bu Wardah.


"Bu perbuatan saya dulu memang salah. Dan semua itu bukan unsur kesengajaan. Tidak ada yang namanya anak haram. Semua anak itu terlahir suci. Bagaimana bisa anda seorang ibu tega berkata demikian." Ujar Adelia begitu geram.


"Ora usah membela Bu Adel. Yang jelas kalian sudah ngapusi alias membohongi kami semua. Saya emoh punya mantu yang bibitnya dari hasil hubungan di luar nikah. Ora Sudi saya." Bu Wardah dengan santai mengelak sambil melipat kedua tangannya.


"Astaghfirullah. Bu..." Belum Adelia berucap tubuhnya ditahan oleh Misela.


"Bunda sudah jangan diteruskan. Perdebatan itu tidak baik. Sayidina Ali pernah berkata diam itu emas. Jadi hindari perdebatan walaupun kita benar Bunda." Kata Misela menenangkan Adelia.


"Sebentar Nak. Bunda mau tanya apa benar kamu sudah gak perawan?" Adelia pun menatap Misela.

__ADS_1


"Nauzubillah Bunda. Misela dan Mas Rangga bahkan belum melakukan hubungan suami istri karna Misela masih haid sejak malam pertama." Jawab Misela dengan penuh keyakinan.


"Dengar kan Bu kata anak saya? Kalian akan menyesal telah membuang berlian demi batu bata seperti dia." Kata Misela sambil menunjuk Nindi.


"Apa maksudnya Bu?" Ujar Ayah Nindi yang tak terima anaknya di sama kan dengan batu bata.


"Lihatlah penampilan nya tak jauh lebih baik dari anak saya yang kalian hina ini. Bu Wardah apakah anda yakin jika calon mantu kedua anda masih perawan?" Adelia semakin emosi.


"Bunda. Sudah cukup jangan di terus kan. Misela sudah bilang jangan berdebat walaupun kita benar." Misela menurunkan tangan Adelia yang masih menunjuk Nindi.


"Iya Bun sebaiknya kita pulang saja. Kita sudah tau bagaimana keluarga ini sebenarnya. Biarlah Allah yang membalas perbuatan mereka-mereka ini. Cepat ambil barang-barang mu yang tertinggal nak." Kata Hanan masih menatap sinis Rangga.


Misela pun ke kamar dan membereskan beberapa baju dan barang-barang nya. Untung saja Misela tak membawa banyak barang saat ke rumah mertuanya itu.


Ruang tamu itu jadi sunyi beberapa saat hingga Misela keluar dari kamar yang pernah dia tiduri selama delapan hari.


"Saya tunggu surat cerai mu Mas. Dan saya harap Mas Rangga bahagia bersama Nindi. Semoga Nindi adalah wanita yang selama ini kamu idam-idamkan." Kata Misela menatap Rangga yang salah tingkah karna bingungnya.


"Sudahlah jangan banyak bicara kalau sudah selesai cepat pergi dari rumah saya. Kami masih ada urusan yang harus di bahas." Kata Bu Wardah dengan kasar mendorong Misela.


"Aw...!"


Misela sedikit kesakitan karna tangan Bu Wardah mendorong tangan Misela yang patah tulang.


Adelia ingin membalas perbuatan Bu Wardah namun Misela menggelengkan kepalanya.


"Kami pamit assalamu'alaikum." Ucap Misela masih dengan sopan santun nya.


Misela dan kedua orang tuanya pulang. Dengan cucuran air mata Adelia menyesali semua yang telah terjadi. Tapi Misela selalu bisa membuat kedua orang tuanya itu tenang.


Sementara itu di ruang tamu yang sama orang-orang disana jadi beraut wajah masam.


"Nindi kamu masih perawan kan?" Tanya Bu Wardah karna tak terima ucapan Adelia.


"Bu kok tanya begitu sih." Jawab Rangga mencoba membela Nindi.


"Pak e Bu e Nindi pulang dulu. Kita bahas penikahan ini besok lagi aja ya. Suasana nya jadi canggung begini." Kata Nindi sambil bangkit dari duduknya.


"Kenapa kamu gak jawab pertanyaan Bu e Nindi?" Bentak Bu Wardah.


...#####################...


...Mohon maaf ya reader kalau pertengkarannya kurang greget karna sesungguhnya author memang gak suka berdebat 😁✌️...


...mohon dimaafkan juga jika ada typo. 🤭...


...Nah untuk pemenang pulsa seperti sudah ketahuan ya. Tapi masih aku tunggu sampai jam 10 pm....

__ADS_1


...Jangan lupa selalu dukung ...


..."CINTA SEORANG ANAK HARAM"...


__ADS_2