Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 58 Kista Ovarium


__ADS_3

Sesuai permintaan Umi, Dzakir dan Misela hari ini akan ke dokter kandungan untuk cek up.


Setelah mengambil nomor antrian mereka duduk di depan ruangan sang dokter bersama dengan pasien lainnya. Disana ada banyak Ibu-ibu, mulai dari yang perutnya masih kempes hingga yang sudah buncit sesungguhnya.


Dzakir tersenyum melihat seorang pria yang sedang mengelus-elus perut istrinya sambil sesekali tersenyum dan sesekali mulutnya di tempelkan perut dan entah berkata apa.


"Sayang lihat deh, romantis banget ya. Kamu kalau nanti hamil perut mu bakal sebesar itu dan jadi lebih gendut dari sekarang, hihihi." Dzakir bicara sambil berbisik dan cengengesan.


"Mas, jangan jail disini." Misela memutar bola matanya karena kesal dengan tingkah suaminya.


"Gitu aja ngambek, dasar cewek gampang banget ngambeknya padahal kan cuma bercanda."


"Udah ssstttt diem Mas suara mu itu ganggu ketenangan. Tuh lihat tulisan segede itu 'HARAP TENANG' jadi jangan berisik."


"Iya iya sekarang diem."


Beberapa menit kemudian.


"Sayang aku tu gak bisa diem aja, gimana dong? Aku pengen ngobrol. Kita ngobrol lirih aja ya. Malah ngantuk nih."


Sebelum Misela menjawab ocehan Dzakir seorang perawat memanggil namanya.


"Nyonya Misela Metina, silahkan masuk."


"Iya Sus, ayo Mas masuk."


"Iya sayang."


Di ruangan dokter.


"Selamat siang Tuan dan Nyonya, Kenalkan saya dokter Rani, ada yang bisa saya bantu?." Tanya dokter wanita yang memakai hijab segiempat hitam dan jas putih khas dokter.


"Siang dok, kami mau cek kesehatan dok." Jawab Dzakir.


"Sudah berapa lama Tuan dan Nyonya menikah?" Tanya dokter Rani.


"Belum ada tiga bulan dok." Jawab Dzakir lagi.


"Baiklah Tuan dulu ya yang ikut saya setelah itu baru Nyonya." dokter Rani berjalan ke ruang pemeriksaan di ikuti Dzakir dan dua orang perawat.


Setelah beberapa menit Dzakir pun selesai di periksa dan duduk di sebelah Misela lagi.


"Em namanya Tuan Mudzakir Alfaruq ya. Alhamdulillah semuanya sehat ya Pak. Sekarang giliran Nyonya em Nyonya Misela ya? Mari ikut saya."


"Iya Dok."


Misela memakan waktu paling lama dalam periksa, entah kenapa dokter itu seolah mengulang lagi mengulang lagi apa yang sudah di periksa nya. Hasil ronsen kesehatan rahim Misela pun keluar. Setelah merapikan pakaian nya Misela duduk di kembali di sisi suami, sedangkan dokter Rani belum menghampiri mereka.


"Maaf sebelumnya, sepertinya saya harus menyampaikan kabar buruk." Dokter Rani terlihat sedih.


Misela semakin deg-degan dan memegang tangan Dzakir untuk menenangkan dirinya.


"Insyaallah kami siap mendengarkannya Dok." Jawab Dzakir yang ikut tak sabar dengan hasil pemeriksaan medis Misela.


"Nyonya Misela terkena kista Bartholin." Kata dokter Rini dengan lirih


"Innalilahi."


Seketika itu Misela langsung menangis mendengar nya.


"Apa itu kista Bartholin dok? Apa bisa di sembuhkan?" Tanya Dzakir yang kini merangkul bahu istrinya.


"Kista Bartholin adalah pembengkakan yang terjadi akibat bukaan pada kelenjar Bartholin terhambat, sehingga cairan kembali ke dalam kelenjar. Kelenjar bartholin adalah kelenjar yang terletak di kedua sisi pada bukaan ****** yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan lubrikasi. Jika cairan dalam kista ini terinfeksi, maka nanah akan diproduksi yang menyebabkan abses bartholin." Jelas dokter Rini.

__ADS_1


"Apa gejalanya dok?" Tanya Dzakir lagi.


"Sebagian besar kista ini tidak menimbulkan gejala. Pada beberapa kasus, gejala berupa menstruasi tidak teratur, nyeri saat berhubungan seksual, atau buang air besar tidak teratur. Pada umumnya keluhan pasien yang mengalami gangguan ini antara lain adanya benjolan dan nyeri. Penyakit ini bisa saja berulang terjadi bila tak menghindari penyebabnya.


Ada beberapa ciri-ciri dan gejala dan tanda diantaranya, seperti:


- Bengkaknya bibir ****** dan memerah


- Nyeri hebat


- Demam dan menggigil


- Adanya rasa tidak nyaman saat duduk maupun berjalan


- Nyeri saat berhubungan seksual


- Adanya keputihan yang gatal dan sakit buang air kecil


- Adanya abses di dareah kelamin


Mengeluarkan cairan (nanah atau darah)


"Apakah saya masih bisa hamil dok?" Tanya Misela dengan suara berat.


"Memang akibat dari penyakit ini adalah kemandulan, tapi kita sebagai manusia harus terus berusaha, dan usahanya adalah berobat. Akan saya rujuk jika nyonya Misela mau berobat dan melakukan kemoterapi. Hanya saja memang biayanya tak sedikit."


"Kami mau berobat dok."


"Baiklah kalau begitu saya buat rujukan nya supaya segera di tindak lanjuti."


Setelah semua urusan selesai Dzakir dan Misela pulang.


Sepanjang perjalanan di mobil tanpa bicara sepatah kata pun Misela terus menatap ke luar jendela hingga tiba di rumah.


"Sayang."


Panggilan itu tak di dengar oleh Misela. Dzakir pun memarkirkan mobilnya dan segera menyusul Misela namun di hentikan oleh Umi.


"Dzakir, Misela kenapa Nak?" Tanya Umi Dzakir yang keheranan melihat Misela terburu-buru.


Tapi Dzakir tak langsung menjadi pertanyaan Umi nya itu.


"Dzakir, apa yang terjadi? Apa istri mu mandul?" Umi menekankan suaranya.


"Dzakir jelaskan nanti saja Umi, Dzakir mau menyusul istri Dzakir dulu." Jawab Dzakir dan berlalu meninggalkan Umi nya.


Dengan pelan-pelan Dzakir membuka pintu kamarnya dan menghampiri sang istri yang sedang duduk menangis. Dzakir pun duduk di sisi Misela lalu membelai pelan kepalanya.


"Sayang, jangan sedih ya. Kita bisa berobat kok."


Dengan sangat lembut Dzakir bicara.


"Mas, kamu gak denger tadi biayanya mahal."


"Sayang, aku punya cukup uang untuk biaya operasi mu. Kamu jangan sedih lagi ya."


"Mas....hiks hiks aku begitu menyusahkan mu Mas."


Misela melingkar kan tangannya di pinggang Dzakir dan menyandarkan kepalanya di dada Dzakir.


"Sayang, kamu itu istri ku. Uang ku itu uang mu juga. Insyaallah kamu akan sembuh dan kita punya banyak anak."


"Tapi Mas, kemungkinan untuk hamil itu kecil."

__ADS_1


"Kan masih ada kemungkinan. Bukankah dokter bilang kita sebagai manusia setidaknya berusaha yang terbaik. Urusan hasilnya itu urusan Allah sayang. Allah tidak mungkin membuat suatu penyakit tanpa adanya obat sayang."


"Mas, aku takut. Aku beneran takut kalau aku gak bisa hamil dan kamu bakal ninggalin aku Mas."


"Itu gak akan terjadi sayang. Sekarang istirahat ya. Kamu tenang dulu. Saat adzan Dzuhur nanti Mas bangunin."


Misela menurut apa perkataan Dzakir. Dengan sabar Dzakir membelai Misela hingga tertidur dan keluar dari kamarnya dan turun.


Di bawah Umi nya siap untuk mendengarkan penjelasan Dzakir.


"Dzakir, tolong jelaskan pada Umi apa yang terjadi?"


"Umi, Misela terkena kista."


"Apa? Kista? Jadi istri mu gak bisa hamil?"


"Bisa Umi, tapi Misela harus berobat dulu dan menjalani kemoterapi."


"Setelah itu apa Misela benar-benar akan bisa hamil? Kamu yakin itu?"


"Umi sabar ya, jangan bahas kehamilan dulu pada Misela."


"Nak, betapa lama Umi mu ini harus sabar menunggu Misela hamil? Sedangkan umur Umi sudah tak lama lagi."


"Umi jangan bilang seperti itu. Kita masih harus tetap berusaha. Umi bantu doa ya. Dzakir mau telpon Bunda Adelia dulu supaya bantu doa juga."


"Tapi Nak, kamu yakin Misela bisa mengandung anak mu dan meneruskan keturunan kita?"


"Umi, tidak baik mendahului takdir Allah. Setiap penyakit itu ada obatnya. Dan Dzakir yakin jika istri Dzakir akan sembuh. Dzakir hanya akan fokus untuk kesembuhan Misela dulu Umi. Selebihnya biar Allah yang putuskan."


"Dzakir."


"Iya Umi."


"Menikahlah lagi."


"Astaghfirullah Umi. Menikah itu bukan hal yang main-main. Dzakir baru tiga bulan menikah dengan Misela dan sekarang Umi meminta Dzakir untuk menikah lagi?"


"Lalu haruskah Umi meninggal terlebih dahulu? Apa kamu gak mau Umi mu ini bahagia menggendong cucunya?"


Umi Dzakir berteriak lalu ambruk dan menangis di lantai.


"Umi cuma pengen gendong cucu sebelum Umi meninggal."


Dzakir menuntun Umi nya untuk duduk di sofa.


"Umi, Dzakir sangat mencintai Misela. Bukan berani Dzakir gak menyayangi Umi. Saat ini Misela juga merasakan kesedihan yang Umi rasakan. Bahkan Dzakir yakin perasaan nya jauh lebih sakit jika dirinya tak bisa menjadi seorang Ibu."


Dzakir menarik nafas dan melanjutkan bicaranya lagi.


"Umi, bukankah Umi pernah kehilangan Kaka Dzakir saat mengandung nya? Dan saat itu untuk hamil lagi Umi butuh waktu tiga tahun lamanya. Coba Umi bayangin saat baru satu tahun saja penantian Umi dan Abi terus tiba-tiba mertua Umi meminta Abi untuk menikah lagi, bagaimana perasaan Umi?"


Umi Dzakir mendongak dan menatap wajah anak satu-satunya itu. Di sentuhnya pipi Dzakir dan kembali menangis.


"Umi, dalam keadaan apapun Dzakir tidak akan pernah memperistri seorang wanita selain Misela. Dzakir sangat menyayangi nya Umi."


Umi tak menjawab apapun. Umi masih terus menangis dan menunduk.


"Dzakir mohon Umi mengerti keadaan Misela saat ini dan beri dia dukungan supaya Misela punya semangat untuk sembuh ya. Dzakir mau keluar dulu, Dzakir mau telpon Bunda Adelia."


Dzakir pun meninggalkan Umi nya yang masih dengan posisi sama di sofa itu.


...##############...

__ADS_1


__ADS_2