
Seperti biasanya pagi-pagi sebelum melakukan sholat malam Dzakir dan Misela melakukan ritual suami istri terlebih dahulu. Namun saat selesai mandi handphone Dzakir terus berdering sejak mereka masuk kamar mandi.
Sayangnya Dzakir tak mengetahui hal tersebut dan tetap khusyuk beribadah dengan Misela hingga selesai sholat subuh.
"Sayang hari ini aku mau ngajak kamu ke puncak Bogor. Disana pemandangannya bagus banget. Hijau gunungannya buat mata seger. Apalagi suhunya buat enak-enak makin enak loh. Jadi kita packing bajunya ya terus nanti kita cari hotel lagi disana."
"Iya Mas. Katanya di Bogor itu dingin banget ya Mas. Erlina dulu pernah liburan ke Bogor tiga hari di sana dan selama tiga hari juga Erlina gak mandi tau Mas. Segitu dinginnya ya air disana?"
"Oiya? Jorok banget sih sahabat kamu itu."
"Hehe katanya sih airnya persis sama kayak air es jadi gak beranilah dia mandi. Bisa-bisa terbujur kaku dan membeku, gitu katanya."
"Kalau tinggalnya di hotel ya ada air panasnya kalau mandi. Tapi rata-rata walaupun bukan di hotel pasti ada air panasnya disana. Dia aja yang males mandi saking joroknya."
"Nanti aku gak mau mandi juga ah kalau emang sama seperti yang di ceritain Erlina. Pokoknya kamu harus jaga jarak sama aku Mas."
"Itu hal yang mustahil sayang. Kamu kan candu ku forever dan penambahan imunitas tercanggih di dunia ini. Mana bisa Mas mu ini jaga jarak."
"Ah kamu gitu Mas , nanti kalau aku beneran membeku gimana coba."
"Suami mu ini dengan senang hati akan mencairkannya."
"Duh bisa aja deh gombalnya. Ya udah aku buatin kopi dulu ya Mas."
Dzakir lalu duduk santai di balkon dan memeriksa handphone nya sambil menikmati kopi buatan Misela dan menunggu hangatnya cahaya matahari.
Dzakir sangat terkejut melihat handphone nya dengan tiga puluh panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari ajudan yang menjaga Abi nya.
"Astaghfirullah. Sayang ayo kita packing sekarang juga. Kita ke Bogor nya kapan-kapan aja."
"Loh! Ada apa Mas?"
"Umi masuk rumah sakit sayang. Kamu packing dulu ya Mas mau pesan tiket pesawat dulu."
"Astaghfirullah iya Mas. Sekarang keadaan Umi gimana Mas?"
"Mas belum tau, tapi semoga semuanya baik-baik saja."
Misela pun buru-buru membereskan semua pakaian nya. Setelah selesai Misela juga hendak membereskan tempat tidur dan kamar hotelnya itu.
"Sayang biarin aja yang itu nanti juga ada yang beresin. Kita gak punya banyak waktu. Bajunya udah semua?"
"Insyaallah udah Mas."
"Kamu udah cek kamar mandi?"
"Udah Mas insyaallah barang kita gak ada yang ketinggalan."
__ADS_1
"Bagus kalau gitu. Ya udah ayo kita cek out dan pergi ke Bandara."
Misela menggenggam tangan suaminya. Terlihat wajah cemas dan khawatir pada Dzakir. Pasalnya Umi nya jarang sekali sakit walau dia memang punya riwayat lemah jantung. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja kabar buruk itu muncul di saat seperti ini.
___________
"Umi... Assalamu'alaikum. Dzakir dan Misela udah dateng Umi. Kenapa Umi belum membuka mata juga. Umi gak mau lihat menantu kesayangan Umi ini." Kata Dzakir sambil memeluk Umi nya yang masih memejamkan mata.
"Abi, Umi kenapa? Bukankah Umi sehat-sehat aja selama ini?" Dzakir berdiri berhadapan dengan Abi nya.
"Dokter bilang usia Umi gak akan lama lagi Nak. Perkiraan dokter Umi hanya akan bertahan gak kurang dari dua tahun." Jelas Pak Surya sembari memijat kedua pelipisnya.
"Innalilahi. Bagaimana mungkin bisa seperti itu Abi. Umi gak pernah mengeluh sakit kan selama ini?" Mata Dzakir mulai berkaca-kaca mendengar kabar yang mengejutkan itu.
"Sudahlah. Di sesali juga percuma karna Umi mu tak pernah menceritakan rasa sakitnya selama ini. Kamu jaga dulu Umi. Abi masih harus kembali ke kantor. Kalau ada apa-apa segera telfon Abi. Assalamu'alaikum."
"Iya Abi. Wa'alaikumsalam."
Misela memeluk suaminya dari belakang mencoba membuat nya tenang. Dzakir berbalik dan memeluk Misela erat seerat mungkin dan menangis.
"Ada apa Mas? Apa keadaan Umi sangat menghawatirkan?" Tanya Misela sambil mengelus punggung Dzakir.
"Kata dokter usia Umi hanya bisa bertahan dua tahun aja mengingat keadaan nya yang buruk sayang."
"Innalilahi. Mas kamu harus kuat Mas. Kita doakan Umi sehat terus ya karna ajal itu hanya Allah yang tau."
"Menangis lah semau mu Mas. Bahu ku ini siap untuk jadi sandaran atas kesedihan mu."
Dzakir semakin kuat memeluk Misela. Dzakir juga belum mengehentikan aliran air matanya. Dia sungguh sangat sedih melihat keadaan Umi nya sekarang.
__________
Waktu pun terus berjalan. Hari demi hari keadaan Umi semakin membaik dan hari ini dokter membolehkan Umi Dzakir pulang ke rumah.
"Ahirnya Umi bisa mencium aroma enak di rumah Umi ini." Kata Umi dan duduk di sofa ruang tamu.
"Umi mau makan apa? Biar Misela masakin. Pokoknya hari ini Misela bakal merawat Umi dengan sepenuh hati." Misela duduk di sebelah Umi dan menjatuhkan kepalanya di bahu Ibu mertua nya itu.
"Menantu Umi memang pengertian. Umi mau makan apa aja yang kamu masak sayang."
"Oke deh. Misela ambilin air putih dulu ya Umi. Umi haus kan?"
"Kamu tau aja kalau Umi haus."
"Karna Misela juga haus Umi hehe."
Gaya bicara Misela membuat mertuanya itu tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Ini Umi airnya."
"Terima kasih ya."
"Mas, Kamu mau minum juga?"
Dzakir menggeleng sambil tetap menatap layar ponselnya.
"Misela." Umi Dzakir menggenggam tangan Misela.
"Apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil sayang?"
Deg.
Jantung Misela tiba-tiba memompa lebih kuat dari sebelumnya. Dzakir yang tadinya fokus pun tiba-tiba melihat ke arah Misela. Misela juga menatap wajah Dzakir.
"Be-belum Umi." Misela yang tadinya tersenyum bahagia kini raut wajahnya berubah seketika.
"Besok Umi minta kamu sama Dzakir cek kesehatan ya. Umi harus melihat cucu Umi sebelum Umi pergi jauh."
"Umi, kenapa bicara begitu?" Dzakir mendekati Umi nya dan duduk bersebelahan.
"Umi sudah tau umur Umi gak akan lama lagi Nak. Jadi Umi harap Umi bisa melihat cucu Umi sebelum Umi pergi menghadap Allah."
"Astaghfirullah, Umi jangan bilang begitu."
Dzakir dan Misela memeluk Umi.
"Iya Umi. Besok Misela dan Mas Dzakir bakal cek up. Umi jangan bilang yang engga-engga ya. Umi bakal berumur panjang dan bermain-main bersama cucu-cucu Umi." Ucap Misela lirih.
Misela ingin memecahkan suasana yang sedih itu menjadi cerita. Ahirnya Misela punya ide.
"Umi ta gak Mi Mas Dzakir pengen punya anak berapa?" Tanya Misela dengan wajah cerianya.
"Berapa emang?" Jawab Umi.
"Pengen anak empat loh Mi. Dan aku gak bayangin aku bakal hamil empat kali dan melahirkan empat kali. Sakit ya Umi melahirkan itu?" Tanya Misela kembali.
"Engga sakit kok. Apalagi ada suami yang menemani kita. Jawab Umi sambil membelai kepala Misela.
"Tuh Mas dengerin. Awas ya kalau kamu gak nemenin aku pas melahirkan." Misela menatap sinis suaminya.
"Tentu saja suami mu ini bakal siap siaga dua puluh empat jam sayang." Sahut Dzakir dengan menepuk dadanya sendiri.
Ahirnya suasana sedih pun berubah jadi gelar tawa di antara mereka.
...#########...
__ADS_1