
Pagi ini alarmnya Misela sudah berbunyi berkali-kali. Dzakir yang mendengar alarm itu untuk pertama kalinya langsung mematikan alarm tersebut. Setelah itu Dzakir membangunkan istrinya untuk melakukan salat malam bersama.
Masih dengan cara yang sama setiap harinya Dzakir membangunkan istrinya dengan mengecup kening Misela. Jika belum bangun Dzakir melakukan nya lagi sampai istrinya itu bangun.
Dengan manjanya Misela menggeliat, meregangkan otot tubuhnya dan perlahan membuka matanya lalu mendongak menatap suaminya yang sudah berada di depan matanya.
Pria yang tampan nan rupawan walau rambutnya acak-acakan. Pria yang selalu membuat nya bahagia dan berjuang keras untuk dirinya.
"Selamat pagi Mas, eh selamat pagi apa selamat petang ya, atau selamat em selamat mual-mual hehe." Sapa Misela pada suaminya sambil tersenyum.
"Terserah kamu sayang mau selamat pagi mau selamat malam mau selamat siang mau selamat sore yang penting cuma kamu yang terahir aku lihat saat menutup mata ini untuk tidur dan yang pertama ku pandang dari bangun tidur. Tapi yang terahir itu, selamat mual-mual itu, wah kamu ini mau meledek aku ya?" Jawab Zakir sambil mengecup kening Misela lagi.
"Pinter banget sih gombalnya Mas hehe tapi emang kamu gak mual Mas?" Misela mencolek Dzakir di bagian pinggangnya.
"Aw, geli tau. Kamu mau Mas gelitikin?"
"Engga ah."
"Tapi iya nih Mas gak mual kok. Ya udah ayo kita sholat malam. Alarm kamu bunyi terus dari tadi yang punya malah gak denger."
"Jadi malam ini kita enggak males-malesan lagi Mas."
"Tentu saja tidak sayang. Kita Harus banyak bersyukur kepada Allah karena kita telah diberikan amanah yang sangat luar biasa di perut kamu ini ini. " Jawab Dzakir sambil mengelus perut istrinya lalu mengecupnya.
"Kita sholat ya sayang. Kelak jadilah anak yang taat pada Allah. Semoga kamu juga jadi anak yang beruntung di dunia dan di akhirat." Dzakir mendekat kan mulutnya ke perut Misela.
"Kamu memang suami yang luar biasa Mas. Kamu selalu bisa membuatku bangga. Kamu tak tergantikan Mas. Pokoknya aku sangat berterima kamu kasih telah hadir dalam hidupku." Kata Misela dan memeluk tubuh suaminya dengan erat.
"Makanya itu sayang mulai sekarang kita jangan malas-malasan lagi untuk beribadah walaupun dan apapun alasannya ya." Sahut Dzakir.
"Iya Mas, insya Allah mulai saat ini tidak ada lagi rasa malas untuk bangun pagi dan beribadah. Lagian kita hidup untuk ibadah kan?" Kata Misela.
"Iya sayang, kamu memang sholehah ku."
Saat Dzakir mau bangun tiba-tiba kepalanya merasa pusing. Dzakir memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Aduh Sayang kepalaku pusing. Kenapa ya?"
"Jangan-jangan bawaan bayi lagi Mas. Coba aku pijit Mas biar agak mendingan."
Misela memijit bahu Dzakir dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Udah gak papa. Mungkin morning sickness lagi. Ayo kita mandi." Dzakir memaksa bangun dan berjalan menuju kamar mandi bersama dengan Misela.
"Yakin Mas kuat."
"Cuma kayak gini aja kecil sayang."
Dzakir mengambil sikat dan pasta gigi hendak menggosok giginya.
"Huueeekkk..... Uhuk huueeekkk..."
Dzakir muntah-muntah lagi.
"Mas, kamu gak papa." Misela memijat tengkuk Dzakir.
"Kayaknya Mas gak suka deh sama pasta gigi ini sayang. Mas mual banget ini. Rasanya gak enak banget sayang."
"Kalau gitu nanti aku cari pasta gigi merk lain Mas."
"Hueeekk... Uhuk... Hueekkk" Dzakir memaksa menggosok giginya.
"Jangan di paksa Mas nanti kamu tambah mual."
"Kalau gak gosok gigi nanti bau jigong sayang." Dzakir langsung berkumur-kumur. Udah Mas gak papa kok. Ayo mandi. Keburu subuh nanti."
❤️
Matahari mulai menampakkan cahayanya. Dzakir dan Misela keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangan bersama.
Lagi-lagi saat Dzakir mencium bau masakan dari dapur Dzakir merasa mual lagi. Ahirnya Dzakir berlari menuju kamar mandi.
"Huueeekkk.....!"
Bik Sum dan Bik Sri berlarian menghampiri Misela.
"Muntah lagi Non?" Tanya Bik Sri.
"Iya Bik, kasian banget Mas Dzakir." Jawab Misela.
"Sabar ya Non, biasanya cuma sampe usia kandungan empat bulan." Kata Bik Sum.
"Hah? Selama itu Bik? Masih tiga bulan lagi dong Bik?" Misela terkejut.
__ADS_1
"Iya begitulah Non, namanya juga bawaan bayi. Malah ada yang sampe lahir baru sembuh."
"Ya ampun kasian banget Mas Dzakir."
Dzakir pun keluar dari kamar mandi.
"Mas, kamu gak cuti aja ke kampus nya?" Tanya Misela.
"Hari ini ada rapat dewan sayang. Mas gak bisa ijin untuk beberapa bulan ke depan." Jawab Misela.
"Tapi kondisi kamu kayak gini Mas. Kamu pake supir ya pergi nya."
"Biasanya sampe kampus gak kenapa-kenapa sayang. Jadi kamu jangan khawatir ya. Untung aja Mas yang begini. Lah kalau kamu yang begini Mas bakal sedih setengah mati. Mungkin seperti inilah perjuangan Bunda Adelia dulu waktu mengandung kamu sayang."
"Gak ada yang untung gak ada yang buntung Mas, aku juga sedih liat kamu begini, kan kamu harus kerja."
"Mas gak papa, Mas langsung berangkat aja ya."
"Gak sarapan Mas?"
"Gimana mau sarapan, baunya aja udah bikin mual hehe. Mas berangkat ya assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
_______________
Di kampus.
Semua dosen dan karyawan telah hadir dan berkumpul di satu ruangan yang sama termasuk Pak Surya Abi Dzakir. Hari ini akan di adakan pemilihan ketua rektorat yanga baru karna masa jabatan rektorat sebelumnya telah habis.
Acara demi acara telah di mulai sesuai dengan agenda. Kini tibalah penghitungan pungutan suara. Nama demi nama telah di sebutkan. Salah satunya adalah nama Mudzakir Alfaruq. Kini namanya telah memimpin jauh dari nama yang lain.
Tak bisa di pungkiri kalau Dzakir bakal terpilih sebagai Ketua rektorat di kampus tempatnya mengajar itu karna kampus itu juga milik Abi nya sendiri.
Dan tibalah di penghujung acara. Nama Dzakir terpilih sebagai ketua rektorat yang baru. Dengan jabatan baru itu Dzakir akan makin sibuk dengan pekerjaannya. Satu demi satu ucapan selamat Dzakir terima dari semua dosen dan para staf lainnya.
Benar apa yang di katakan Dzakir pada Misela kalau setelah dirinya sampai di kampus akan baik-baik saja. Nyatanya setelah acara selesai dan di lanjutkan dengan makan bersama Dzakir tak merasa mual sedikit pun. Malah Dzakir terlihat segar.
Setelah selesai Dzakir mengatur ulang jadwal mengajar nya dan juga jadwal untuk mengisi seminar. Dzakir harus mengurangi kesibukan nya karna Misela saat ini sangat membutuhkan kehadiran Dzakir.
Berbeda dengan Abi nya yang terjun ke dunia politik, Dzakir tidak punya minat di bidang itu. Dzakir lebih suka mengajar juga Dzakir lebih suka memotivasi. Makanya Dzakir sempat jadi ustadz di pesantren Misela dan berusaha keras untuk lulus lebih awal di kampusnya.
__ADS_1
Dzakir pun segera pergi mengajar namun hanya di satu kelas saja, setelah itu Dzakir buru-buru pulang karna Dzakir ingin sekali jajan di pinggir jalan lagi.
...#################...