Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 89 Kebahagiaan Sempurna


__ADS_3

Misela pov


Pagi ini aku merasakan rasa yang aneh dalam diri ku. Pinggang yang begitu sakit, perut yang gak enak buat duduk, dan badan yang rasanya remuk, ditambah dengan kaki yang semakin bengkak.


Ku jalankan ibadah ku seperti biasanya, walau sedikit berat tapi aku tetap harus kuat. Sayangnya saat dzikir kami belum selesai kaki ku sudah kesemutan dan tak kuasa lagi untuk duduk bersilang.


Aku pun pamit pada Mas Dzakir untuk sekedar rebahan di kasur dan meluruskan kaki agar perlahan kesemutan nya hilang.


Pagi-pagi seperti biasa Mas Dzakir membawa ku jalan-jalan, katanya jalan di pagi hari bagus untuk melancarkan proses lahiran. Tapi belum setengah perjalanan aku merasakan mules di perut. Ku pikir cuma karna ingin bab tapi ternyata mulesnya hilang dan datang lagi ahirnya Mas Dzakir membawa ku ke klinik dokter Rani.


Namun sebelum berangkat air ketuban ku sudah pecah sehingga membuat Mas Dzakir makin panik. Dengan kecepatan tinggi Mas melaju menuju klinik dokter Rani.


Sampai di tempat ternyata masih pembukaan 4 dan dokter menyarankan ku untuk makan dan minum yang banyak supaya punya banyak tenaga untuk mengejan. Aku pun menurut, tapi sayangnya rasa mulas itu semakin sering muncul hingga membuat ku tak kuasa lagi menahan nya.


Hingga akhirnya badan ku tak bisa lagi di bawa berdiri. Aku berbaring dengan penuh ketegangan. Aku takut, apalagi ini adalah pengalaman pertama ku. Aku ingin melahirkan secara normal meski kemungkinan nya kecil tapi aku tetap yakin karna Mas Dzakir selalu memberikan doa dan juga support yang kuat pada ku.


Menit demi menit terus berjalan. Sebenarnya aku sangat takut saat ini. Aku takut setengah melahirkan mereka lalu aku tiba-tiba harus meninggalkan mereka. Karna dari artikel online yang aku baca sebelumnya, banyak ibu hamil yang melahirkan dan meninggal. Aku sangat takut itu terjadi pada ku.


Dan benar saja, saat waktunya tiba ketiga anak ku lahir secara normal dan lengkap tanpa satu kekurangan apapun. Tangis Mas Dzakir pecah saat suara bayi ketiga kami terdengar. Rasa lelah saat mengejan dan rasa sakit saat akan pembukaan seolah hilang entah kemana.


Beberapa kali Mas Dzakir mencium ku. Aku sangat bersyukur melahirkan dengan dampingan sang suami yang begitu mencintai ku. Aku jadi berpikir bagaimana Bunda Adelia dulu saat melahirkan ku tanpa seorang suami. Pasti rasanya sangat berat. Tapi untungnya Bunda di kelilingi orang-orang baik saat itu.


"Sayang, terima kasih banyak kamu telah berjuang sejauh ini. Kamu pasti sangat lelah dan kesakitan. Maaf kamu harus merasakannya sendiri."


Ucapan itu terlalu indah untuk ku dengar. Bukan aku saja yang berjuang tapi kami yang telah berjuang bersama. Tapi aku sudah tidak merasakan sakit yang tidak bisa di ungkapkan itu lagi sekarang.


Entah apa yang harus aku ucapkan pada Tuhan ku yang sudah memberikan ku suami sesempurna dia.


"Mudzakir Alfaruq"


Suami yang rela menunggu ku hingga tahunan.


Suami yang terus berjuang padahal godaan wanita terus datang.


Suami yang selalu sabar dengan apapun yang aku lakukan.

__ADS_1


Suami yang selalu mendekatkan ku pada Tuhan.


Sejak kecil aku selalu dikucilkan.


Menginjak remaja aku dile*cehkan.


Saat dewasa aku di duakan.


Sekarang kebahagiaan sempurna telah datang.


Bismillaahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. Hamdayyu-waafii ni’amahuuwayukaafi’u maziidah. Yaa rabbanaa lakalhamdu wa lakasy syukruka-maa yambaghiilijalaaliwajhika wa ‘azhiimisul-thaanik.


“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Pujian yang sebanding dengan nikmat-nikmat-Nya dan menjamin tambahannya. Wahai Tuhan kami, bagi-Mu segala puji, dan bagi-Mu segala syukur, sebagaimana layak bagi keluhuran zat-Mu dan keagungan kekuasaan-Mu.”


______________


Anak-anak Misela di bawa oleh tiga orang perawat untuk di bersihkan terlebih dahulu. Sementara mereka di bersihkan dokter Rani mengeluarkan ari-ari bayi dan menjahit jalan lahirnya.


Tak ada keluhan lagi setelah melahirkan tiga anak sekaligus secara normal. Bahkan lima belas benang jaitan tak Misela rasakan saat itu. Semua rasa sakit sudah benar-benar hilang di timbun oleh kebahagiaan.


Ketiga anak itu di tangkupkan di dada Misela untuk beberapa saat lalu bergantian memberikan asi pertama untuk mereka. Dzakir pun dengan sabar membantu istrinya.


"Mas, aku belum tau jenis kelamin mereka."


"Oh iya sayang, Mas sampe lupa tanya sam dokter Rani. Mana yang duluan dan mana yang terakhir. hehe."


Dzakir juga terlalu bahagia sampai jenis kelamin mereka saja belum tau karna ketiga baby itu datang sudah di bedong dengan sangat rapi oleh perawat.


Dokter Rani pun menghampiri Dzakir dan Misela.


"Selamat ya Bu anaknya semuanya sehat. Yang bedong hijau jenis kelamin nya laki-laki Pak beratnya 2.4 kg, dia yang duluan lahir. Dan yang bedong merah ini putri kedua beratnya 2.3 kg, sedangkan yang bedong kuning ini adalah putri ketiga beratnya 2.3 kg. Walaupun berat badannya mungil dan kurang tapi mereka semua sehat. Nanti saat menyusui bisa di bantu pakai dot ya Pak. Nanti suster akan menjelaskan bagaimana cara menyusui bayi kembar."


"Terima kasih banyak Dok."


"Sama-sama Pak, saya permisi dulu."

__ADS_1


Dokter Rani pun melanjutkan tugasnya. Sedangkan Dzakir dan Misela mendapatkan penjelasan tentang cara menyusui baby mereka nantinya.


"Sayang, pasti akan sangat repot mengurus mereka, nanti Mas carikan baby sitter lagi buat bantu kamu ya."


Dzakir membelai kepala Misela lalu mengecup keningku.


"Terima kasih ya Mas."


"Aku yang harusnya berterima kasih sayang. Kamu ibu yang luar biasa untuk mereka."


"Iya Mas. Bagaimana dengan nama mereka Mas?"


"Em Mas belum memikirkan hal itu."


Misela tiba-tiba merasa pusing. Baby ketiga yang masih menyusu diberikan pada seorang perawat untuk di letakkan di inkubator. Misela memegang kedua kepala lalu pingsan.


"Sayang... Kamu kenapa?"


Dzakir melihat darah bersimbah. Dzakir segera memanggil dokter Rani.


"Sabar ya Pak, seperti nya Bu Misela mengalami pendarahan. Sebaiknya Bapak tunggu di luar."


Dzakir pun berjalan keluar ruang. Pintu ruangan Misela di tutup. Setengah frustasi Dzakir berlutut di depan pintu tersebut.


"Ya Allah, jangan Kau renggut kebahagiaan yang baru saja kami mulai ini."


Tiba-tiba pintu terbuka. Dzakir langsung bangkit dan bertanya.


"Bagaimana Dok keadaan istri saya?"


"Bu Misela harus di bawa ke rumah sakit Pak. Bu Misela membutuhkan transfusi darah secepatnya."


"Lakukan apapun untuk menyelamatkan istrinya saya Dok."


"Tenang ya Pak, bantu kami dengan doa supaya istri Bapak tidak mengalami hal buruk."

__ADS_1


...###############...


__ADS_2