Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 61 Rumah Baru


__ADS_3

Sore hari setelah mereka selesai mengobrol dan berdiskusi masalah pindah rumah, Dzakir dan Misela berpamitan untuk pulang ke rumah barunya yang belum sempat di lihat karna di tinggal satu tahun lamanya. Dzakir hanya menyerahkan semua urusan pada asistennya.


Cuaca di sore itu sedang gerimis. Awan hitam bercampur abu-abu menyelimuti keadaan sore hari yang cukup dingin itu. Tapi keadaan itu tak menyurutkan mereka untuk pindah ke rumah barunya walaupun Umi memaksa untuk tinggal.


Tiba di rumah baru.


Bangunan yang tak begitu besar namun terlihat sangat mewah berhasil membuat Misela membulatkan matanya.


"Masyaallah Mas ini beneran rumah kita?" Misela sangat terkagum-kagum melihat bagusnya interior rumah barunya itu.


"Iya sayang semua ini untuk kamu. Sertifikat rumah ini juga atas nama mu sayang." Dzakir memeluk Misela dari belakang dan menyandarkan dagunya di bahu Misela.


"Mas, kamu udah keluarin banyak uang untuk ku, jadi gak perlu sampe kayak gini. Aku gak mau rumah ini atas nama ku. Ini hasil kerja keras mu Mas. Kenapa jadi atas nama ku?" Misela malah bersedih.


"Sayang, aku rela melakukan dan memberikan apapun untukmu dan lagi kamu itu magnet rezeki ku jadi untuk apa uang yang aku dapat jika bukan untuk mu juga?"


Misela meneteskan air mata. Tak ada kata lagi yang bisa di gambarkan untuk mengungkapkan rasa bahagianya itu. Misela pun membalikkan badannya dan memeluk erat tubuh suaminya.


"I love you forever hubby."


"I love you too honey. Kita lihat sekeliling rumah kita yuk. Mas juga penasaran apakah sesuai dengan harapan atau tidak hehehe."


"Kalau tidak gimana Mas?"


"Mas cabut gaji mereka yang membangun rumah ini haha."


"Tega banget kamu Mas."


"Jalan yuk ah gak sabar nih."


Dzakir menggandeng tangan Misela dan mengajaknya berkeliling rumah. Setelah puas berkeliling di lantai satu, Dzakir membawa Misela ke lantai dua.


"Nah yang itu kamar kita sayang dan yang di sebelah sana kamar untuk anak-anak kita nanti."


Dzakir menujuk dua kamar yang tak jauh dari posisi mereka berdiri.


"Iya Mas."


"Kita ke atas dulu ya? Setelah itu baru lihat kamarnya. Pasti kamu suka sekali pemandangan di atas sana."


"Boleh."

__ADS_1


Dzakir dan Misela masih bergandengan tangan menuju lantai tiga. Misela membulatkan matanya karna terpesona dengan suasana di sana. Ada banyak hiasan bunga yang cantik-cantik di sisi dua gazebo yang saling berhadapan. Belum lagi desain nya yang sangat sempurna yang cocok untuk waktu bersantai dan bermain bersama anak-anaknya kelak. Sudah sama persis dengan suasana di hotel-hotel berbintang.


"Mas, ini bagus banget masyaallah. Kamu pinter banget sih Mas desain rumah ini?" Misela berlari menghampiri salah satu gazebo itu dan duduk dan menganyun-ayunkan kedua kakinya.


"Alhamdulillah kalau kamu suka sayang. Berarti Mas gak perlu cabut gaji yang bangun rumah ini ya hehe"


"Kamu itu Mas. Tapi aku bener-bener suka Mas. Suasana sebagus ini mana mungkin sih aku gak suka Mas."


"Udah yuk kita lihat kamar kita sekarang?"


Misela kembali berlari menghampiri Dzakir dan menggandeng tangannya. Mereka pun turun ke lantai dua dan masuk kamar.


"Jrengg jrengg....!" Dzakir melebarkan kedua tangannya dan mempersilahkan Misela masuk.


"Luas biasa Mas, kamar ini lebih besar dari kamar kamu di rumah Umi. Dan ini sepertinya barang mahal semua. Mas kamu itu punya uang berapa banyak sih kok gak abis-abis."


Misela berjalan pelan-pelan sambil terus menatap tiap sudut pandang kamar barunya itu. Dia juga memegang setiap ukiran dan benda yang ada di dalamnya.


"Entahlah ada berapa Mas juga gak tau hehe."


Misela ahirnya terhenti dari langkahnya dan duduk manis di pinggir dipan dengan kasur yang lebar dan sangat empuk sambil memandang wajah suaminya yang masih berdiri dan melihat ke arahnya juga.


"Sayang, apapun pekerjaan nya yang penting kan halal."


Dzakir menghampiri Misela dan duduk di sebelahnya.


"Iya aku cuma pengen tau aja kok Mas kamu itu punya kerja sampingan apa."


"Em sebenernya jadi dosen itu yang kerja sampingan. Mas punya bisnis industri dan bekerja sama dengan ayahnya Selyn sejak dulu. Mas juga nanam saham di beberapa perusahaan milik rekan kerja ayahnya Selyn. Mas juga seorang investor di beberapa bisnis. Jadi walau Mas terlihat santai tapi tiap bulan uang terus masuk tanpa Mas kerja keras sayang."


"Oo jadi gitu ya. Maaf ya Mas kalau aku kepo hehe."


Dzakir mulai gemas melihat wajah istrinya yang tersenyum manis dan langsung saja di hisapannya dengan rakus.


"Sayang, ayo kita mulai ritual pembuatan anak hehe."


Misela menjawab dengan ciuman singkat di bibir Dzakir.


Dzakir merebahkan tubuh Misela di kasur dan menindih tubuh Misela. Dengan lembut tapi pasti suasana yang dingin itu menjadi panas di atas kasur baru mereka.


_______________

__ADS_1


Esok harinya Dzakir sudah menyiapkan syukuran untuk acara pindah rumah. Bahkan untuk memeriahkan acara pindahan itu Dzakir mengundang banyak anak yatim piatu dan beberapa tetangga agar acara mereka semakin berkah dan tak lupa Dzakir juga mengundang kyai tempat Dzakir dan Misela di pesantren dulu untuk mengisi pidato dan dakwah di acara syukur tersebut.


Dzakir juga mengundang keluarga Misela dan tak bisa di pungkiri obrolan kedua ibunya itu sangat terlihat asik dan akrab. Pasti mereka sedang membicarakan masalah cucu.


Tak ada adat istiadat aneh-aneh yang mereka lakukan, karna Dzakir juga tak begitu antusias dengan kebiasaan nenek moyang yang selalu Umi ceritakan dan lagi Dzakir hanya mengadakan syukuran saja atas semua yang sudah mereka lalui bersama selama ini.


Setelah lebih dari dua jam acara syukuran itu pun selesai dan berjalan dengan lancar. Satu persatu para tamu berpamitan untuk pulang. Kecuali orang tua mereka.


"Sayang, Bunda bahagia sekali melihat kalian seperti ini." Adelia menggenggam kedua tangan anaknya. "Nak Dzakir terima kasih banyak telah membuat anak kami begitu bahagia. Wajahnya sangat berbeda sekarang. Misela begitu beruntung punya suami seperti Nak Dzakir." Mata Adelia sudah berkaca-kaca.


"Saya yang beruntung Bunda karna bisa menikahi Misela." Jawab Dzakir.


"Yang penting itu sekarang kalian harus lebih fokus bikin anak ya." Sahut Umi.


"Umi, lagi-lagi itu yang di bahas." Kata Pak Surya.


"Ya Umi sama besan udah udah gak sabar Abi. Iya kan jeng." Ujar Umi dengan melambaikan tangan nya pada Adelia.


"Iya sayang Bunda sama Umi memang gak sabar nunggu Dzakir junior hehe tapi tetep aja kamu harus jaga kesehatan kamu juga ya?" Sahut Adelia.


"Sudah-sudah jangan buat Misela tertekan. Dikira anak itu dari tanah liat di buat dan di ukir terus jadi? Kita pasrahkan semua sama Allah, jangan menanyakan masalah itu lagi sama Misela. Kita tunggu saja kabar baiknya. Bukankah begitu Pak Hanan?" Kata Pak Surya dengan tegasnya.


"Betul Pak Surya, kita doakan saja dan tunggu kabar baiknya." Sahut Hanan.


Ahirnya pembahasan tentang anak di alihkan dengan obrolan yang lainnya hingga larut malam dan para orang tua pun berpamitan.


"Alhamdulillah ya Mas semuanya berjalan dengan lancar. Semoga apa yang di harapkan kedua orang tua kita segera hadir di tengah-tengah mereka." Kata Misela sambil mengusap-usap perutnya.


"Aamiin. Sayang kamu minum obat dulu yuk. Setelah itu baru kita proses pembuatan anak."


"Hayuk berangkaaaattt...."


"Loh kok kamu jadi semangat gitu sih?"


"Memangnya kamu mau aku nolak kamu Mas?"


"Jangan dong hehe."


"Ya udah ayok minum obat."


...#################...

__ADS_1


__ADS_2