Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 66 Jajan Terus


__ADS_3

Dzakir telah bersiap untuk pergi ke pusat taman hiburan dan time zone sesuai rencananya. Dzakir hanya memakai celana jeans pendek berwarna hitam dan kaos oblong dengan warna cream. Dzakir juga memakai topi hitam. Sebelum turun Dzakir memakai parfum yang sama dengan yang di gunakan Misela tadi. Tak lupa Dzakir mengambil tas dan handphone Misela sesuai pesanan istrinya.


Dzakir menuruni anak tangga dengan perlahan dan menatap Misela yang sedang duduk manis melihat kartun Tom and Jerry dengan tersenyum karna lucu.


"Aku pikir dia cuma suka nonton drakor tapi ternyata suka kartun juga." Bathin Dzakir.


Langkah demi langkah Dzakir terus mendekati Misela dengan tatapan lurus pada istrinya dan tanpa suara. Dzakir menikmati momen Misela yang sedang tertawa lepas melihat kelucuan kartun Tom and Jerry.


"Sayang…!"


Dzakir memanggil istrinya dan memegang kedua bahu Misela.


"Loh Mas sejak kapan ada di situ?"


"Sejak kamu tertawa begitu cantik dan mempesona."


"Gombal terus aja Mas."


"Ayo kita berangkat!"


"Ayo Mas, tas sama handphone ku?"


"Ini sudah aman sayang."


Dzakir menepuk-nepuk tas selempang yang di pakainya di bahu sebelah kirinya. Misela membalas dengan senyuman dan langsung menggandeng suaminya itu.


Sampai di tempat tujuan.


"Mas yakin mau masuk sini?" Misela celingukan melihat sekeliling.


"Memang kenapa sayang? Mas pengen banget main tembak-tembakan yang itu tuh."


Dzakir menunjuk sebuah permainan dengan dagunya.


"Mas, lihat tuh semuanya pada bawa anak kecil dan yang main disini anak kecil semua loh. Kamu itu aneh-aneh aja deh. Udah ah hayuk pulang."


Misela menarik lengan Dzakir menuju pintu keluar.


"Gak mau, kita main sebentar aja ya."


Dzakir menarik tangan Misela lebih kuat supaya Misela mengikuti dirinya. Kemudian Dzakir memasukan koin ke dalam mesin dan mulai membidik dan menembak hingga waktu habis. Namun Dzakir masih belum puas dan Dzakir memasukkan koin ke dalam mesin kembali.


Merasa belum cukup memainkan game tembak-tembakan Dzakir berjalan menuju balap mobil. Misela dengan terpaksa mengikuti nya. Hampir lima belas menit di permainan game balapan Dzakir hendak menuju permainan lain namun di tahan oleh Misela.


"Aku bener-bener gak nyaman Mas. Aku gak suka ada disini. Kamu mau tetap disini aku pulang aja naik ojek."


Misela memalingkan wajahnya dan mengerutkan bibirnya.


"Iya deh iya kita pulang. Eh gak mau kita jalan-jalan dulu ya. Tunggu-tunggu kita poto dulu ya."


Dzakir mengambil ponselnya dan menyalakan kamera depan untuk mengabadikan momen itu dengan Misela hingga beberapa jepretan.


Kemudian Dzakir menggenggam tangan Misela dan mengayun-ayun ke depan dan ke belakang dengan bahagianya hingga keluar dari taman hiburan kusus anak-anak itu. Dzakir dan Misela berjalan-jalan di sekitar taman hiburan tersebut.


"Mas kamu kenapa sih kok kelihatan bahagia banget. Tapi bahagia yang aneh."


"Mungkin sebentar lagi kita akan punya anak sayang."


"Hah?"


"Udah ayo kesana Mas pengen beli cilok itu."


Saat mendengar kata cilok Misela juga sangat ingin makan makanan yang kenyal-kenyal itu dengan porsi lengkap dan pedas.


"Bang ciloknya ya dua porsi lengkap dan pedes."


Bang cilok hanya mengangguk dan langsung membuatkan pesanan Dzakir.


"Mas, kamu kok tau aku pengen cilok porsi lengkap dan pedes?"


"Kita kan sehati sayang."

__ADS_1


"Malah gombal lagi."


"Kan kita emang sehati hehehe."


Setelah pesanan mereka siap Dzakir dan Misela langsung makan di tempat dengan senangnya.


"Mas, ini pertama kalinya ya kita makan berdua di pinggir jalan begini. Rasanya kayak orang pacaran aja."


"Kamu suka?"


"Iya Mas suka banget. Kapan-kapan kita makan di pinggir jalan berdua begini lagi ya Mas. Kamu jangan sibuk terus."


"Emang kamu belum pernah makan begini?"


"Udah sering sih tapi kan sama Erlina Mas. Sama kamu beda tau."


"Masak? Mas jadi pengen cium deh."


Misela menginjak kaki Dzakir dan mengedipkan matanya pertama Misela tak suka dengan kata-kata Dzakir yang mesum di tempat umum.


"AW AW sayang sakit tau."


"Lagian kamu itu mesumnya kelewatan Mas. Ini kan tempat umum."


"Lebay deh istri ku ini. Kita kan udah nikah jadi apa yang salah?"


"Malu, bukan lebay."


Cilok di piring pun habis. Dzakir dan Misela masih berjalan hingga senja tiba.


"Mas ayo pulang."


"Sayang itu kayaknya kok enak banget sih."


Misela menoleh mencari tujuan mata Dzakir.


"Sempol?"


Dzakir mengangguk dan berjalan menuju sebuah gerobak makanan yang di inginkan Dzakir.


"Bang bungkus ya sepuluh ribu."


Setelah menunggu cukup lama Dzakir menenteng satu bungkus plastik berisi sempol.


Mereka hampir tiba di tempat parkir. Namun lagi-lagi mata Dzakir tertuju pada gerobak yang menarik matanya.


"Sayang itu enak juga deh kayaknya."


Misela kembali menoleh dan celingukan.


"Bakso bakar?"


"Iya, wangi banget."


"Ya udah kita beli dulu."


Kali ini Dzakir membawa dua bungkus kantong plastik dan di tenteng nya sambil sesekali mencium kantong itu. Sungguh Dzakir sangat mirip seperti anak kecil. Melihat itu Misela hanya menggelengkan kepalanya.


"Mas ayo buruan."


"Iya sayang."


Dzakir pun menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melaju perlahan. Dan lagi, Dzakir menghentikan mobilnya di depan gerobak dengan warna cet menarik matanya.


"Sayang, itu seger deh kayaknya. Aku beli dulu ya?"


Misela kembali memutar bola matanya dan mengangguk mengiyakan. Dzakir pun turun dan memesan dua ice Boba rasa green tea. Setelah mendapat kan apa yang di beli Dzakir masuk ke mobilnya dan memamerkan apa yang dia beli pada Misela.


"Es boba rasa green tea sayang."


"Mas, kok kamu jadi suka makan dan minum ini semua sih?"

__ADS_1


"Gak tau juga, Mas suka banget loh. Semoga di jalan gak pengen makanan yang lain lagi hehe."


Dzakir melajukan mobilnya lagi. Namun lagi-lagi Dzakir tergoda dengan penjual martabak mini dengan tabur ceres warna warni. Dzakir berhenti dan membeli martabak itu.


Benar-benar perubahan yang sangat drastis. Dzakir yang sebelumnya tak pernah seperti ini.


Tiba di rumah.


"Sayang, Ayo makan ini dulu keburu dingin nanti gak enak."


"Iya Mas."


Semua yang di beli Dzakir tadi ahirnya habis tanpa sisa.


"Alhamdulillah aku kenyang banget Mas. Asli udah gak kuat ini perut kalau harus makan lagi."


"Tapi kok Mas masih pengen makan sesuatu lagi ya."


"Hah?"


"Hehe ya udah kita mandi bareng yuk. Bentar lagi Magrib. Gak kerasa hehe."


________


Pagi ini cuaca begitu dingin karena guyuran hujan semalaman. Alarm di handphone Misela sudah berbunyi bahkan sudah dua kali tapi sang pemilik tak kunjung bangun.


"Emh sayang alarm kamu berisik banget tuh."


Dzakir menggoyang badan Misela berkali-kali tapi Misela juga sangat malas untuk bangun dan mandi karena cuaca dingin yang menusuk tubuhnya.


Untuk yang pertama kali juga Dzakir sangat malas membuka matanya. Setelah makan jajanan pinggir jalan itu malam harinya Dzakir membeli nasi goreng ati ampela dan juga telor gulung bahkan beli es cincau juga. Dzakir seperti orang kelaparan dan tak makan berhari-hari, lalu setelah itu Dzakir dan Misela pergi melakukan ritual malam hingga tertidur pulas.


Rasanya berbeda bagi Dzakir. Kepalanya kali ini benar-benar pusing untuk di angkat. Walau sebelumnya di beberapa hari yang lalu dia merasakan hal yang sama tapi kali ini pusing itu lebih dari kemarin-kemarin.


Dan kedua pasangan itu pun melanjutkan tidur mereka dengan saling berpelukan mencari kehangatan karna di balik selimut tebal yang menutup tubuh mereka tak ada kain sehelai pun yang menempel di tubuh Dzakir dan Misela.


Rasa kantuk itu terus menempel dan mereka berdua melewatkan ibadah malamnya dan bangun saat adzan subuh tiba.


"Astaghfirullah, sayang kita kok bisa sih ketiduran sampe adzan subuh?" Dzakir bangun dari tidurnya dan langsung duduk karna kaget mendengar suara adzan. "Aw, kepala ku pusing banget." Dzakir menekan kepalanya dengan kedua tangannya.


Misela lalu terbangun mendengar Dzakir Mengeluh sakit kepala.


"Mas, kenapa Mas?" Tanya Misela dan memegang kedua kepala Dzakir.


"Mas pusing banget sayang. Kok tiba-tiba bisa sepusing ini ya."


Dzakir membaringkan tubuhnya kembali di bantal. Namun tiba-tiba Dzakir merasa sangat mual yang luar biasa kemudian berlari menuju kamar mandi.


"Hhuueeekkkk...hueekk…!"


Misela segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan ikut berlari menghampiri Dzakir.


"Huueeekkk… hah,hah,hah."


Dzakir tertiba muntah-muntah tapi hanya air yang di keluarkan. Tak ada makanan atau semacamnya. Cuma air berwarna bening.


"Sayang Mas lemes banget."


Dzakir duduk ambruk di lantai kamar mandi. Tentu saja tanpa busana.


"Mas, kamu kenapa?"


Misela kebingungan. Ahirnya memijat kedua bahu Dzakir, tapi lagi-lagi Dzakir merasakan mual yang luar biasa dan kembali ingin muntah.


"Hhuueeekkkk…!"


"Mas, aku mandi dulu ya. Nanti aku buatin teh hangat."


"Sayang Mas lemes banget. Bantu Mas mandi ya."


"Oiya Mas, ayo aku bantu berdiri dan mandi."

__ADS_1


Dzakir dan Misela lalu mandi bersama dan beribadah subuh bersama seperti biasanya.


...#################...


__ADS_2