
"Sayang Mas pulang." Dzakir langsung memeluk istrinya dari belakang padahal sedang sibuk di dapur bersama Bik Sum.
"Assalamu'alaikum Mas. Salam dulu main peluk aja ih nakal banget." Kata Misela membalas pelukan Dzakir.
"Hehe wa'alaikumsalam sayang. Lupa saking rindunya sama istri Solehah ku ini." Dzakir melepaskan pelukannya dan mencubit dagu Misela.
"Gak malu apa Mas sama Bik Sum. Lihat tuh Bik Sum aja malu liat kita." Misela tersenyum melirik Bik Sum yang juga sedang senyum-senyum melihat mereka.
"Bik Sum kan juga pernah muda, ya kan Bik?" Tanya Dzakir pada art nya itu.
"Iya Den hehe." Bik Sum cengengesan.
"Tuh Kan." Dzakir merasa menang.
"Iya terserah kamu Mas kamu kan maha benar." Sahut Misela menjauh dari Dzakir.
"Sayang ke atas yuk mandi bareng." Ucap Dzakir manja mendekati Misela lagi.
"Ih Mas kamu tu bener-bener ya." Misela mencubit pinggang Dzakir.
"Aw geli hehe."
"Aku mau bantuin masak Bik Sum dulu tanggung ini."
"Kalau gitu Mas duduk disini deh liatin pesona masak istri ku tercinta."
"Mas istirahat sana sebentar lagi kok ini."
"Gak mau ah Mas mau liatin kamu masak."
"Ya ya ya terserah Mas aja."
"Biar Bibik yang terusin Non, kasian Den Dzakir nungguin." Kata Bik Sum sambil merebut pisau yang di pegang Misela.
"Tuh Bik Sum aja pengertian banget." Kata Dzakir kembali manja.
"Ya udah maaf ya Bik mau ngurus bayi raksasa dulu." Misela menggandeng lengan Dzakir dan berjalan menaiki anak tangga bersama sambil terus cengengesan.
Di dalam kamar.
Misela membuka jilbabnya karna merasa gerah lalu memperbaiki ikatan rambutnya. Dzakir yang melihat pesona istrinya kembali bersuara manja.
"Sayang bukain baju dong." Suara itu berhasil membuat Misela memutar bola matanya.
Misela pun menghampiri Dzakir dan melepaskan jas lalu kemeja.
"Sayang celananya juga dong."
"Tapi kamu gak lagi mesum kan Mas?"
"Sama istri sendiri ya gak papa kan? Udah halal ini."
Lagi-lagi Misela menuruti perkataan Dzakir untuk melepaskan celananya. Kini Dzakir hanya memakai bokser warna hitam motif pohon kelapa. Bukan Dzakir namanya kalau tak iseng pada istrinya, lagi-lagi Dzakir bertingkah seperti bayi.
"Sayang mau nyusu dong."
"Astaghfirullah Mas kamu ini ya."
Misela langsung menjauh dan meletakkan baju kotor Dzakir di keranjang cucian. Misela merasa merinding Dzakir bertingkah aneh.
"Tadi pas ngelepas celana keliatan sih belahannya jadi pengen ***** deh." Dzakir berjalan gemulai mendekati Misela.
"Ih Mas geli tau liatnya."
"Hehe kan kata kamu aku bayi besar. Ayo dong nenenin bayi besar yang sedang kehausan ini."
Dzakir sudah melingkar kan tangannya di pinggang Misela. Memang Dzakir sangat berbeda seratus persen saat sedang bersama Misela.
Jika di hadapan para mahasiswa nya Dzakir terlihat killer. Jika di hadapan pada pendengaran seminar nya Dzakir terlihat sangat berwibawa dan menyenangkan, apalagi dengan suaranya yang lembut dan merdu.
"Mas ini jam berapa ih buruan mandi sana." Misela memukul dada Dzakir.
"Gak mau pokoknya maunya nyusu dulu titik."
"Astaghfirullah suami ku ini kenak setan apa sih di jalan kok begini amat."
__ADS_1
"Ayo dong bayi nya udah sangat kehausan ini."
Ahirnya Misela kembali menyerah dan memejamkan matanya.
Dzakir tertawa geli melihat wajah Misela dengan mata terpejam seolah sangat pasrah dengan tingkah suaminya.
Misela yang heran Dzakir tak melakukan apapun akhir nya membuka matanya kembali. Sungguh rasa kesal dan malu bercampur aduk di pikiran Misela dan Misela memukul dada Dzakir lagi.
"Ih Mas kamu ngerjain aku ya?"
"Sayang kamu lucu banget sih."
"Lepas ah tangannya."
Misela mencoba melepaskan tangan Dzakir namun tak berhasil.
"Hehe engga engga kali ini Mas serius."
Misela berhenti berontak dan menunduk.
"Sayang lihat sini dong."
"Gak mau."
"Dosa loh gak nurut sama suami. Mau di laknat empat puluh malaikat semalaman?"
"Astaghfirullah Mas kamu ini ya memang maha benar."
Misela pun mendongak dan menutup matanya karna masih malu. Dzakir melepaskan tangannya di pinggang Misela dan hendak berpindah ke bagian bahu. Tapi dengan cepat Misela menggunakan kesempatan itu untuk kabur.
Misela lalu jongkok dan berlari menjauh dari Dzakir.
"Hahaha gak kenak kan gak kenak?"
"Oo jadi gitu ya sekarang makin pandai menggoda suaminya."
Dzakir mengejar Misela hingga berakhir di atas kasur empuk mereka. Dzakir yang berada di atas tubuh Misela langsung mencium singkat b*birnya.
"Sayang kamu udah dapet refrensi tempat untuk kita bulan madu?"
"Oke deh besok kita berangkat ya."
"Hah secepat itu Mas?"
"Semakin cepat semakin baik dong kan mau enak-enak."
"Tuh kan mesum."
"Hm Mas udah booking tiket pesawat jam dua siang untuk kita berangkat."
"Kita naik pesawat Mas. Aduh aku belum pernah sama sekali naik pesawat Mas aku takut."
"Kan ada suami mu yang mesum ini kenapa takut sih?"
"Tapi kalau pesawat nya jatuh kita langsung mati Mas kayak di berita-berita itu."
"Sayang jangan suka mendahului takdir Allah. Naik pesawat itu enak kok, cepet lagi sampainya dan kamu bisa liat pemandangan awan yang sangat indah di atas sana."
"Beneran? Kira-kira aku bakal mabok gak di pesawat?"
"Haha kamu tu lucu banget sih. Di pesawat gak bau kayak kita naik bus."
"Hehe namanya juga belum pernah."
"Ya udah kita mandi dulu yuk sambil enak-enak terus nanti abis sholat kita packing bersama."
"Ujung-ujungnya itu lagi."
"Biar cepet jadi loh kan Abi Umi udah gak sabar nunggu kehadiran cucunya."
"Iya iya ustadz Dzakir."
"Ayo istri ku yang gemes."
Dzakir pun membopong tubuh Misela menuju kamar mandi.
__ADS_1
Selanjutnya tau kan ya? 😂✌️
____________
Tibalah saatnya Dzakir dan Misela naik ke dalam pesawat. Misela terus saja mengandeng lengan Dzakir karna takut. Untuk pertama kalinya Misela duduk di bangku pesawat dengan tipe kelas bisnis.
Kursi yang nyaman bahkan bisa tiduran membuat Misela sedikit lebih tenang dan mengurangi rasa gugupnya.
"Mas kursinya nyaman ya ternyata. Aku pikir kayak di bus gitu." Suara Misela yang sedikit tinggi memancing penumpang lain menoleh dan melihat ke arah Misela termasuk sang pramugari.
"Iya dong ini kan kelas bisnis. Kursi yang di belakang baru kayak kursi di bus. Kamu duduk senyaman mungkin ya sebentar lagi kita bakal naik ke langit." Jawab Dzakir tanpa mempedulikan perhatian orang-orang di sekitarnya.
"Mas aku deg-degan nih." Misela meletakkan kedua tangannya di dada.
"Baca doa dulu ya. Nanti pasti tenang." Dzakir memasang sabuk pengaman di kursi Misela dan membelai ujung kepalanya.
Misela pun memejamkan matanya dan berdoa. Tak lama kemudian sang pilot mengumumkan bahwa pesawat akan lepas landas.
"Mas udah mau terbang ya." Misela menggenggam erat tangan Dzakir.
"Iya siap-siap kamu bakal lihat awan putih yang indah di atas sana."
"Iya Mas." Misela memejamkan matanya.
Misela terlihat sangat gugup. Berkali-kali Dia menarik nafas dan menghembuskan dengan perlahan. Dan pesawat pun melaju perlahan lalu melaju dengan sangat cepat dan terbang.
"Sayang buka mata mu dan lihatlah ke jendela."
"Masyaallah Mas bagus banget ya awannya. Ya ampun bener-bener ciptaan Allah yang sangat luar biasa." Ungkap Misela tiada henti melihat awan di luar jendela.
Lima belas menit pun berlalu dan pesawat mendarat dengan sempurna.
"Turunnya bikin deg-degan banget Mas. Huft ahirnya kita mendarat dengan selamat ya. Jadi kita ini udah di Jakarta Mas?"
"Iya sayang."
Dzakir melepaskan sabuk pengaman dan menggandeng tangan Misela untuk berjalan keluar dari pesawat.
"Terima kasih banyak tuan dan nyonya." Sapa seorang pramugari yang berdiri sangat cantik di dekat pintu.
Misela dan Dzakir hanya menundukkan kepala.
"Wah cantik banget ya Mas pramugari nya ramah lagi."
"Cantikan juga istri ku. Udah cantik, menutup aurat plus sholehah. Sempurna sekali hidup Mudzakir Alfaruq."
"Gombal aja terus."
"Itu fakta sayang."
Dzakir mencium tangan Misela.
"Mas kamu tu gak malu ih."
"Kenapa malu kan kamu udah halal untuk ku sayang."
"Tapi kan ini tempat umum."
"Ya udah nanti kita lanjut di hotel ya."
"Mas bukan waktunya membahas itu kalau di denger orang lain gimana?"
"Ya biarin aja kan kita masih pengantin baru yang sedang memulai pacaran halalnya."
"Astaghfirullah Mas kamu ini sungguh cerdas."
"Iya dong. Em kita langsung ke hotel aja ya kita istirahat dulu besok baru kita cari alamat Papa Zaki."
"Iya Mas."
...############...
Yakin nih istirahat?
Jangan-jangan kehausan lagi dan minta n*n*n? UPS.....! 😂✌️
__ADS_1