Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 27 Jangan Sentuh Aku


__ADS_3

"Misela aku minta maaf karna terlambat menyelamatkan mu. Harusnya aku mengikuti kata hati ku untuk segera menemui sore tadi. Tolong jangan kenapa-kenapa dan cepatlah bangun."


Dzakir tertunduk menatap Misela yang sedang berbaring lemah dengan banyak luka lebam di wajahnya. Pasti di bagian tubuhnya juga demikian. Rasa ingin melindungi pujaan hatinya kini semakin kuat. Kemarin dia mengalah pada Rangga tapi laki-laki itu telah menambah luka pada Misela. Tentu saja sekarang Dzakir akan sangat memperjuangkan Misela.


Tak lama seorang Dokter yang tak lain juga teman Dzakir masuk ke ruang rawat Misela.


"Dia siapa bro? Lu sedih banget liatin dia?" Dion menyapa sambil menepuk pundak Dzakir.


"Calon istri." Jawan Dzakir singkat.


"Hah? Serius lu? Bukankah calon bini lu itu Selyn?" Dion terkejut dengan pernyataan Dzakir.


"Tolong rawat dia dengan baik." Dzakir masih terpaku menatap Misela yang terbaring belum sadarkan diri.


"Lu udah gila cinta ya sampe lemes gitu." Dion berusaha mengejek Dzakir.


"Dia terlalu berharga untuk ku Dokter. Saat ini aku menyesali atas semua yang telah terjadi. Dulu aku terlalu patah hati saat dia menolak ta'aruf ku hingga aku tak berani memperjuangkan dirinya lagi. Apalagi saat tau kabar dia menikah. Hati ku makin hancur. Tapi sekarang aku tidak akan pernah meninggalkan dia lagi."


"Apa? Dia sudah menikah? Jadi lu mau jadi pebinor? Gila lu ya gimana reputasi lundan bapak lu?"


Dzakir memukul lengan Dion dengan sangat keras.


"Aw sakit tau."


"Sadar woy dokter macam apa lu gak punya logika. Masak iya seorang Dzakir bawa kabur istri orang sih. Dia udah jadi janda. Pernikahannya cuma bertahan satu Minggu doang. Makanya mau ku perjuangkan dia sekarang."


"Hehe gue kira lu udah gak punya otak lagi." Dion kembali bercada.


Ditengah obrolan mereka tangan Misela mulai bergerak. Matanya perlahan terbuka. Dilihatnya sekeliling dan tiba-tiba bola mata Misela melotot ketakutan melihat sosok Dion dan Dzakir disana. Bayang-bayang wajah preman yang telah menodainya masih sangat jelas di mata Misela.


"Nona Misela anda sudah bangun. Apa yang anda rasakan sekarang?" Tanya Dion dan hendak memeriksa Misela dengan stetoskop yang sejak tadi melingkar di leher Dion.


Misela gemetar hebat. Matanya kini berkaca-kaca. Diraihnya selimut dan di genggam nya sangat kuat. Misela terus menggelengkan kepalanya nya. *******-***** selimut yang dia pegang.


Dion mundur dan kembali berdiri di dekat Dzakir. Dia curiga melihat kondisi Misela. Ada yang aneh dengan gelagat pasien nya itu.


"Bro coba lu maju deketin dia dan ngomong sesuatu sama cewek itu." Dion berbisik pada Dzakir.


Dzakir pun melangkah mendekati Misela.


"Misela ini saya Mudzakir. Kamu ingat saya dosen kamu di kampus?"

__ADS_1


Misela kembali menggelengkan kepala ketakutan dan kini dirinya mulai tak terkontrol.


"Tidak... Jangan saya mohon jangan sakiti saya." Misela pun mengeluarkan setitik air mata dan masih terus menggelengkan kepalanya. Misela melihat tak tentu arah dengan tangannya yang tak henti-hentinya meremas selimut.


"Misela tenang saya bukan orang jahat. Saya Pak Dzakir." Dzakir terus mencoba untuk lebih dekat dengan Misela.


"Tidak.... Jangan...aacckkkk jangan... Tidakkk..." Misela berteriak dengan sangat kencang.


"Stop. Menjauh darinya. Tunggu disini." Ucap Dion.


Misela terus berteriak dan semakin tak terkendali. Dion berlari keluar memanggil beberapa suster dan memberikan obat penenang pada Misela.


"Lu bisa tunggu di luar." Ucap Dion pada Dzakir.


Dzakir pun gelisah dan sangat terkejut dengan keadaan Misela. Dia hanya bisa menunggu Misela di luar ruangan dan beberapa kali mengintip lewat jendela.


Tak berapa lama Dion pun keluar dengan wajah muram.


"Kenapa dengan Misela dokter?" Dzakir memegang kedua lengan Dion tak sabar ingin mendengar keadaan Misela yang histeris tadi.


"Pasien mengalami trauma yang sangat hebat. Seperti nya dalam waktu yang lama dia gak bisa ketemu lu dzak atau pun ketemu seorang laki-laki. Bisa jadi dia juga akan begitu pada Ayahnya."


"Apa? Bagaimana cara mengatasi trauma nya?"


Dzakir sangat terpukul dengan penjelasan dari dokter Dion. Dzakir yang akan jatuh ke lantai di tangkap oleh Dion dan di dudukan di kursi tunggu tepat di depan kamar Misela.


"Harusnya aku datang lebih cepat. Dulu waktu dia masih duduk di bangku SMA aku juga terlambat menyelamatkan nya. Saat itu Misela juga mengalami tindak asusila. Aku yakin Misela saat ini sangat ketakutan karna ini kedua kalinya dia mengalami hal serupa. Kenapa aku tak berguna. Aku berjanji untuk melindungi dirinya. Tapi nyatanya aku bukan apa-apa."


Dzakir menangis dengan tatapan kosong. Dia menyesali semua yang telah terjadi. Namun Dion tetap menghibur Dzakir.


"Jangan khawatir. Dia masih bisa di sembuhkan. Bukankah kita punya Tuhan yang selalu mendengar kan apa yang kita pinta? Sekarang lu harus hubungi keluarga nya. Terutama ibunya. Kita akan melihat perkembangan pasien saat bertemu dengan ibunya."


"Baiklah. Terima kasih banyak Dok."


"Gue bener-bener kehilangan sosok ceria lu Dzakir. Gua bakal bantu lu dapetin kebahagiaan lu lagi. Jangan begini cepat hubungi keluarga pasien dan berdoa lah. Gue pergi dulu."


Setelah menepuk pundak Dzakir dokter Dion pun pergi untuk memeriksa pasien lainnya.


Dzakir menuruti apa yang di katakan Dion. Dzakir pulang ke rumah Pak Cipto untuk memberi kabar pada Erlina dan memintanya untuk menghubungi Adelia dan Hanan.


"Misela hiks hiks... Maafkan gue. Seharusnya gue temenin lu tadi hiks hiks...!" Erlina duduk lemas tak berdaya di lantai karna terkejut dengan kabar yang di berikan Dzakir.

__ADS_1


"Misela.....hiks hiks....!"


"Tak perlu di sesali. Semua ini udah takdir Allah. Kita hanya perlu berdoa supaya Misela segera membalik. Sekarang coba hubungi keluarga Misela." Dzakir berusaha tegar di hadapan Erlina. Padahal sebenarnya hatinya juga sangat hancur saat ini.


"Maaf Pak handphone saya lowbet. Saya ambilkan handphone Misela Pak."


Erlina mengambil kan handphone yang di cars di kamar. Misela tak pernah memakai kode pada ponselnya jadi siapa pun bisa menggunakan ponsel itu.


"Pak tolong bapak saja yang menghubungi bunda Adel. Saya tak sanggup Pak."


Erlina memberikan ponsel milik Misela.


"Baiklah. Kamu tunggu disini saya akan menghubungi keluarga Misela di luar. Nanti kita ke rumah sakit bersama. Siapkan baju-baju dan peralatan yang akan di butuhkan Misela."


"Iya Pak."


Dzakir pun berjalan keluar rumah. Di bukanya layar ponsel yang memang ponsel itu dia yang membelinya untuk Misela setelah kecelakaan tempo hari. Kini ada wallpaper wajah Misela nan cantik yang dia lihat. Tak kuasa menatap wajah itu Dzakir pun meneteskan air matanya.


"Maafkan aku Misela."


Dzakir pun menelusuri info kontak dan menemukan nama Adelia disana.


Tuuuttt


Tuuuttt


Panggilan pun tersambung.


"Assalamu'alaikum anak bunda malam-malam begini kamu belum tidur."


"Wa'alaikumsalam Bu saya Dzakir bukan Misela."


"Loh Pak Dzakir? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Misela?"


"Maafkan saya Bu. Misela saat ini sedang di rawat di rumah sakit Mardi Waluyo. Saya jelaskan nanti saja saat kita bertemu di rumah sakit ya Bu."


"Astaghfirullah."


Adelia pun pingsan.


...#################...

__ADS_1


...Give away pulsa masih tetap berlaku setiap Minggu sampai karya ini tamat 😊 silahkan cek bab pengumuman untuk tau rules nya 😀...


__ADS_2