Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 86 Dejavu


__ADS_3

"Perfect Momy" Ucap Dzakir.


"Hah... Apa nya yang perfect Mas, tuh lihat kita udah kayak angka sepuluh aja. Aku nol besar kamu angka satunya." Sahut Misela.


Dzakir tertawa geli.


"Udah, ayo langsung kita bayar."


Dzakir tak mau berdebat dengan istrinya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Adelia, Dzakir dan Misela tak banyak bicara. Suara radio di mobil Dzakir menghilangkan kesunyian saat mereka sedang diam-diam tanpa sepatah kata.


Misela masih kesal perihal masalah baju yang dia pakai. Sebenarnya baju itu tidak buruk, bahkan simpel tapi cukup bagus dan elegan. Apalagi di padukan dengan jilbab segiempat dengan warna senada dan masih tetap syar'i dengan menutup bagian dada Misela. Hanya karna badannya yang begitu melar dan perutnya yang begitu bucit, bahkan Dzakir terdengar mengejek jadi mood Misela hilang seketika.


"Sayang, udah dong jangan di tekuk gitu mukanya, kan jadi gak cantik." Rayu Dzakir.


"Aku yang sekarang kan emang gak cantik." Gerutu Misela sambil mengelus-elus perutnya lalu menatap ke luar jendela kaca.


"Kamu tetap cantik di mata Mas. Kamu adalah wanita tercantik di dunia ini, setelah Umi tentunya." Dzakir menahan tawa.


"Tuh kan...!" Misela mencubit lengan Dzakir.


"Sayang, kamu kan istri Mas yang paling cantik. Memang kamu mau pasang wajah itu setelah sampai di rumah Bunda? Adik kita sedang berbahagia, harusnya kita juga bahagia." Dzakir mengelus ujung kepala Misela sambil tetap fokus menyetir.


"Emang kamu punya istri lagi selain aku seolah-olah...!"


"Sudah jangan marah-marah terus kasian anak-anak kita sayang."


Selepas Dzakir bicara, ada gerakan keras di perut Misela dan mengagetkannya.


"Aw..." Misela lalu mengelus lembut perutnya.


"Tuh kan, anak kita aja setuju dan langsung merespon. Bener-bener anak-anak yang pinter deh." Kata Dzakir masih fokus menyetir.


Misela menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Melebarkan senyumnya yang terpaksa. Lalu menoleh ke arah suaminya. Dzakir pun melirik Misela lalu mencubit sebelah pipinya.


"Aduh duh sakit Mas." Protes Misela dan mengusap pipinya.


"Kamu gemesin, apalagi dengan pipi bakpau itu."


Misela tak menanggapi perkataan suaminya.


Tiba di rumah Adelia Misela dan Dzakir langsung di sambut hangat oleh Adelia.


"Anak Bunda... Kangen banget... Cucu Bunda ya ampun besarnya." Adelia mengelus lembut perut Misela.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum Bunda...!" Misela lalu mencium punggung tangan Adelia di ikuti Dzakir.


"Wa'alaikumsalam, ayo sayang masuk semuanya lagi siap-siap. Mungkin sebentar lagi kita berangkat." Jawab Adelia lalu masuk rumah.


Suasana di rumah itu tak begitu ramai sama seperti sebelumnya. Misela melihat pancaran kebahagiaan di wajah adiknya Aldian lalu di hampiri olehnya.


"Duh yang mau melamar pujaan hati. Kok mendadak banget sih Dek, setau Kaka kamu gak suka pacaran? Jangan bilang...?" Misela menunjuk wajah Aldian.


"Ya engga lah Ka, aku gak akan mengambil sesuatu yang bukan hak ku." Jawab Al.


"Terus tunangan mu orang mana sih. Kamu bener-bener gak cerita sama sekali sama Kaka, jahat banget deh. Semoga wanita baik ya dia."


"Dia wanita baik Ka, aku udah kenal lama sama dia dan... emm nanti juga Kaka tau kok. Hehe gimana calon keponakan aku Ka? Udah ada tanda-tanda belum?"


"Alhamdulillah baik-baik aja. Belum sih kalau tanda-tanda, cuma katanya sekitar dua atau tiga minggu lagi."


"Semoga lancar ya Ka, kayaknya aku gak ada deh saat Kaka lahiran."


"Loh emang kamu mau kemana Dek?"


"Em ada deh."


"Oh jadi gitu, kamu main rahasia sama Kaka."


Aldian pun pergi meninggalkan Misela sendiri duduk di sofa. Sementara Dzakir ikut menyiapkan seserahan yang akan di bawa.


Misela bingung mau bantu apa, karna dia gak boleh angkat barang berat. Dzakir juga hanya memberikan isyarat untuknya duduk manis saja.


Misela pun di sapa oleh dua ibu-ibu tetangga depan rumah Adelia.


"Eh Misela, perut kamu udah besar banget udah waktunya lahiran ya?"


"Iya Bu, Alhamdulillah sebentar lagi."


"Kamu kok lama banget sih gak pernah kesini? Kirain udah lupa sama kampung ini hehe."


"Ya engga Bu, masak iya rumah orang tua sendiri di lupain."


"Nyatanya kan kamu dapet suami anak gubenur sombong banget, kamu tu ya jangan begitu Sel, durhaka loh kamu sama Bunda mu."


"Bu, menurut agama islam, seorang wanita yang sudah menikah atau sudah berstatus istri maka haknya sudah berpindah. Dimana yang mulanya wanita tersebut ditanggung oleh ayahnya pasca menikah ia akan berpindah menjadi tanggung jawab suaminya. Jadi ya saya tinggal di rumah suami saya Bu."


"Ya tapi lo masak iya kamu sama sekali gak kesini hampir dua tahun lamanya. Kamu gak takut jadi anak yang durhaka?"


"Memang kenapa Bu kalau saya gak kesini? Toh Bunda yang kesana. Dan juga Bunda saya gak keberatan. Saya sudah sepenuhnya milik suami saya bukan milik orang tua lagi Bu, jadi tingkat durhaka nya dimana ya?"

__ADS_1


"Kok kamu di bilangin orang tua malah ngelawan."


"Bukan melawan Bu, memang seperti itu. Saya kan gak bisa sesuka hati saya pergi tanpa suami saya Bu."


Dzakir yang melihat istrinya mengobrol dengan wajah tak biasa langsung menghampiri. Dzakir duduk di sebelah Misela.


"Kenapa sayang?" Tanya Dzakir. Misela hanya mengangkut kedua bahunya sambil menikmati buah pear.


"Owalah suami mu bener-bener ganteng ya kalau lebih dekat gini." Kata salah satu ibu-ibu yang sejak tadi mengomel.


"Salam kenal Bu." Dzakir menyapa dengan mengangguk kan kepalanya.


"Salam kenal juga. Kamu bisa kenal Misela dimana lo cah ganteng, walaupun cantik kok mau sih sama janda begitu?"


Misela tercengang dan membulatkan matanya. Biasanya Misela sangat sabar menghadapi omongan ibu-ibu yang sering mengatainya, namun karna sejak hamil Misela sangat labil emosinya.


"Bu, dengar ya...!" Sebelum Misela menyelesaikan bicaranya Dzakir menahan tangan Misela dan menggelengkan kepalanya.


"Dia memang jodoh saya Bu, jadi kami bertemu atas izin Allah. Mari Bu kita berangkat, semuanya sudah siap." Dzakir pun bangkit dari duduknya bersamaan dengan Misela lalu berjalan masuk ke dalam mobil.


Mobil Dzakir kusus untuk seserahan, jadi hanya ada Dzakir dan Misela di mobil tersebut. Sedangkan dua mobil lainnya adalah keluarga Misela dan Pak RT serta beberapa tetangga dekat yang mendampinginya.


Mobil Dzakir melaju paling belakang. Sepanjang perjalanan Misela hanya mengadu yang sebenarnya gak terlalu penting perihal ibu-ibu tadi.


"Sudahlah sayang, gak baik begitu. Nanti sama aja kamu gibah lo. Inget dosa gibah itu sama dengan memakan bangkai saudara nya sendiri."


"Astaghfirullah. Ya Allah ampuni hamba yang sering tak terkendali emosinya." Misela mengusap wajahnya.


"Sayang, Kamu bener-bener belum tau tunangan Al?"


"Dia gak mau cerita Mas. Tapi semoga dia wanita yang baik Mas."


"Kayak kamu ya."


Dzakir mengusap ujung kepala Misela hingga membuatnya tersipu malu.


Misela pun celingukan melihat suasana di jalan. Ada hal aneh yang dia rasakan. Seperti merasa dejavu. Misela pun memperhatikan dengan seksama ke kiri bahkan ke kanan.


"Mas, aku kayak kenal ini jalan."


"Memang kamu pernah ke daerah sini sayang?"


"Iya Mas, ini kayak mau ke rumah.... Emmm....!"


...####################...

__ADS_1


__ADS_2