Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 76 Misela Cemburu


__ADS_3

Dzakir dan Misela sudah sampai di tempat tujuan. Kedatangan mereka kali ini tanpa mengantri.


"Hallo selamat malam tuan Dzakir dan nyonya Misela." Sapa dokter Rani.


"Selamat malam dok. Panggil kami nama saja dok, rasanya tak enak hati di panggil tuan hehe." Jawab Dzakir sambil menarik kursi untuk duduk Misela.


"Iya Dok, saya juga gak enak di panggil nyonya sama dokter." Sahut Misela.


"Baiklah saya panggil Pak dan Bu saja ya. Jadi apa ada masalah dengan kandungan Bu Misela?" Tanya dokter Rani.


"Tidak ada dok, saya kesini untuk konsultasi. Jadi saya ingin mengajak istri saya untuk perjalanan ke Tanggerang, apakah aman? Kita ke sana naik pesawat." Jawab Dzakir.


"Baik, kapan perjalanan nya Pak?"


"Lusa Dok, hari Senin."


"Baik, saya periksa dulu ya Bu Misela nya. Mari ikut saya Bu."


Misela pun mengekor pada Dokter Rani. Kemudian Misela di minta berbaring di brankar lalu di cek tensi darahnya dan di minta mengangkat baju yang menutup perutnya. Dengan tangan lembutnya dokter Rani memeriksa keadaan kandungan Misela.


"Sudah ya Bu, bisa bangun."


Misela kembali duduk di kursi sebelah Dzakir.


"Gimana Dok?" Dzakir sangat tak sabaran.


"Kandungan nya bagus, Ibu nya juga sehat. Tensi darah juga normal. Selama ini nyidam gak? Atau merasa pusing atau mual hebat yang buat Bu Misela lemas?"


"Masih saya yang nyidam dan merasa kan itu dok."


"Kalau begitu tidak masalah, jangan sampai kurang cairan dan vitaminnya jangan ya lupa di minum ya, saya berikan obat tambahan supaya kandungan nya kuat."


"Jadi istri saya boleh ikut ke Tanggerang dok?"


"Iya Pak, boleh. Ini resepnya ya Pak, silahkan tebus di apotik."


"Terima kasih banyak Dok."


"Sama-sama. Sehat-sehat ya Bu. Dan hati-hati dijalan."


"Iya Dok terima kasih."


Dokter Rani memberikan selembar pada Dzakir dan di terima nya dengan senang hati oleh Dzakir lalu berpamitan.

__ADS_1


Setelah menebus obat Dzakir pun pulang. Tidak, Misela tidak mau pulang. Misela ingin jalan-jalan sebentar menikmati indahnya malam bersama Dzakir menggunakan sepeda motor.


Dengan erat Misela kembali melingkarkan tangannya di perut dan menempelkan kepalanya pada punggung Dzakir.


"Oppa, aku pengen makan martabak nih. Yang banyak kejunya, pake susu dikit aja, susunya yang coklat ya, terus kasih sedikit ceres tapi yang warna warni ya jangan yang coklat soalnya susunya udah coklat. Terus banyakin krispi di pinggirannya biar pas makan kriuk-kriuk."


"Oke Yeobo."


Perlahan Dzakir mencari mamang jualan martabak dan ahirnya ketemu.


"Kamu tunggu disini ya sayang Mas pesen martabak nya dulu."


Dzakir berjalan cukup jauh dari parkiran motor menuju mamang jualan martabak. Ada dua orang juga yang sedang mengantri disana. Dengan sabar Dzakir menunggu gilirannya.


"Berapa dan rasa apa Pak?" Tanya mamangnya.


"Satu aja banyakin kejunya, pake susu dikit aja, susunya yang coklat ya, terus kasih sedikit ceres tapi yang warna warni ya jangan yang coklat karna susunya udah coklat. Terus banyakin krispi di pinggirannya biar pas makan kriuk-kriuk. Itu pesenan istri saya Mang, tolong buat sesuai pesenan ya soalnya dia lagi hamil muda."


"Beres."


Dengan senang hati sang penjual martabak itu membuatkan pesanan yang di minta Dzakir. Tak butuh waktu lama satu bungkus martabak siap di bawa pulang.


"Baunya harus banget Mas, aku mau makan di sini aja Mas mumpung anget."


"Kan romantis Mas. Udah deh nikmatin aja. Tolong ambilin martabak nya satu Mas."


Dzakir membuka bungkusan martabak yang masih panas itu. Di tiupnya potongan martabak yang akan di makan Misela hingga terasa hangat di tangan.


"Masyaallah enak banget Mas, sesuai banget sama keinginan anak kita."


"Iya abis ini kita pulang ya, kita langsung istirahat nanti setelah sholat isya."


"Beneran istirahat Mas? Gak mau nengokin anak kamu?"


"Aduh sayang semoga Mas bisa tahan dengan godaan itu."


"Gak mungkin."


Setelah Misela menikmati martabak dua potong, Dzakir langsung buru-buru pulang karna memikirkan kesehatan istrinya. Benar saja, Dzakir tak bisa tahan dari godaan untuk menjenguk anaknya. Ahirnya setelah sholat isya Dzakir melakukan aksi panasnya dengan Misela bahkan sebelum melakukan sholat malam Dzakir juga melakukan aksinya kembali.


❤️


Hari minggu adalah hari yang di tunggu oleh kebanyakan orang di luar sana, terutama para pekerja kantoran. Walau Dzakir bukan pegawai kantoran, tentu minggu ini tak ada tugas mengajar walau sebelumnya Dzakir di sibukkan dengan pekerjaan padahal di hari minggu.

__ADS_1


Masih dengan keadaan yang sama seperti pagi sebelum nya, Dzakir kembali muntah saat akan menggosok gigi dan tidur kembali setelah melakukan sholat subuh karna tubuhnya yang benar-benar lemas. Hari minggu itu Dzakir habiskan hanya untuk berbaring di kasur empuknya.


_______________


"Sayang, udah siap berangkat?"


"Udah Mas."


Dzakir dan Misela berangkat menuju bandara di antar oleh supir. Tiba di bandara Dzakir sudah di sambut oleh Pak Reihan disana. Dzakir di beri penjelasan ini dan itu oleh Pak Reihan, dan Misela hanya diam mendengarkan saja dengan tenang.


Tapi raut wajah Misela mulai berubah saat seorang wanita datang menghampiri mereka.


"Maaf Pak saya telat sedikit. Tadi ada kendala di jalan." Kata Mina dengan nafas tersengal-sengal.


"Mas Dzakir benar. Dia memang begitu cantik, pasti jadi primadona di kampus dan kalangan dosen." Bathin Misela sambil memandang Mina dan ujung kepala hingga ujung kaki.


"Untung saja aku ikut, jadi Mas Dzakir bisa aku pantau dua puluh empat jam. Pokoknya aku gak boleh lengah." Misela masih berbicara dengan dirinya sendiri.


"Jaman sekarang pelakor kan gak pandang bulu. Pelakor sekarang pinter banget modusnya. Walau Mas Dzakir imannya kuat tapi gak ada salahnya aku waspada." Lagi-lagi Misela membatin hingga tak sadar kalau Mina mengulurkan tangan pada dirinya.


"Sayang..." Dzakir menyadarkan Misela dari lamunannya.


"Ah maaf, kenapa Mas?" Jawab Misela.


"Itu Mina mau kenalan sama kamu sayang." Kata Dzakir.


"Oh iya, saya Misela Metina istri satu-satunya dari tuan Mudzakir Alfaruq."


Ucapan Misela membuat bingung semua orang. Apa dia cemburu? Tentu saja. Mana ada seorang istri yang tak cemburu jika suaminya di sanding oleh wanita cantik seperti Mina.


"Salam kenal Ka Misel. Panggil saja saya Mina. Seperti nya usia kita gak jauh ya Ka."


"Em iya Mina salam kenal juga."


"Sudah dulu ya kenalannya, saya harus jelaskan sesuatu." Pak Reihan menyela perkenalkan antara Misela dan Mina.


Sekitar sepuluh menit lamanya Pak Reihan menjelaskan apa yang harus Dzakir dan Mina lakukan. Setelah semuanya jelas Dzakir, Misela dan Mina segera melakukan cek in dan menunggu di ruang tunggu penumpang.


"Wahh... Aku seneng banget Mas bisa lihat awan di atas langit lagi." Kata Misela membuat Mina sedikit terkejut.


"Apa? Kampungan sekali sih dia? Bisa-bisanya Pak Dzakir menikahi wanita seperti ini!" Bathin Mina.


...################...

__ADS_1


__ADS_2