Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 37 Panggilan Sayang?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Dzakir lebih banyak diam dari biasanya. Padahal kalau satu mobil cuma berdua dengan Misela Dzakir akan sibuk bicara apapun itu. Entah menggoda Misela atau bernyanyi merayu Misela. Tapi kali ini ada orang ketiga yaitu Pak Tejo.


"Den saya setel radio boleh? Biar gak sepi." Tanya Pak Tejo.


"Jangan gak asik kalau ada Pak Tejo. Misela juga kayaknya nyenyak tidurnya." Jawab Dzakir masih dengan muka masam.


Ahirnya Pak Tejo hanya fokus menatap ke depan. Sedangkan Misela sudah ketiduran entah dari kapan dan Dzakir pun melipat kedua tangannya lalu bersandar di kursi mobil.


Setelah dua jam lebih perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


"Misela ayo bangun kita sudah sampai." Kata Dzakir dengan lembut untuk membangunkan Misela yang tidur.


"Ahh iya Pak maaf saya ketiduran ya." Jawab Misela sambil mengucek matanya.


Wajah bangun tidur dan tingkah Misela sangat membuat Dzakir gemas melihat calon istrinya itu.


"Hmm awas aja ya kalau udah jadi milik ku sepenuhnya." Gunam Dzakir dalam hati.


Dzakir pun turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Misela.


"Silahkan turun ratu ku." Ucap Dzakir dengan sedikit membungkuk kan badan.


"Ihh Pak Dzakir lebay deh malu kan di lihat orang." Kata Misela lalu turun dari mobil. Dzakir hanya tersenyum.


Mereka pun berjalan bersama dan masuk ke sebuah butik kusus baju pengantin yang lumayan elit tempatnya.


Begitu masuk Dzakir dan Misela langsung di sambut oleh dua gadis cantik berhijab stylish.


"Selama siang selamat datang di toko kami selamat belanja." Kedua gadis itu kompak menyambut Dzakir dan Misela dengan sedikit menundukkan kepala.


Tiba-tiba salah satu dari mereka terkejut melihat dengan seksama sosok laki-laki tampan dan rupawan itu.


"Masyaallah Anda Pak Dzakir kan?" Ucap salah satu gadis tersebut.


"Mbak kenal saya?" Tanya Dzakir.


"Masyaallah ganteng banget kalau lebih dekat gini. Pak saya selalu mengikuti seminar Pak Dzakir dimana pun itu. Tapi Pak Dzakir sudah tiga bulan gak ngadain seminar. Sibuk ya Pak?" Tanya wanita itu kembali.


"Ah iya maaf." Jawab Dzakir singkat.


"Pak boleh minta poto nya sebentar. Saya ngefans banget sama Pak Dzakir. Satu foto aja Pak buat kenangan terindah." Gadis itu memohon dengan menangkup kan kedua tangannya.


Dzakir hendak membuat Misela cemburu namun Dzakir melihat Misela malah tersenyum meledek. Dzakir pun membuang nafas kasar.


"Silahkan ijin dengan calon istri saya." Kata Dzakir dan menunjuk Misela dengan dagunya.


"Hah? Calon istri?" Gadis itu lalu menatap Misela. "Bukankah dia moderator seminar Pak Dzakir tempo hari itu?"


"Betul."

__ADS_1


"Ah maaf Ka saya gak tau. Saya pikir... Emm Maaf ya Ka." Kata gadis itu dengan rasa malu yang mendalam.


"Memang saya kemari mau ngapain kalau dia bukan calon istri saya?" Kata Dzakir sedikit jutek.


"Gak papa kok Ka kalau mau foto silahkan saja." Jawab Misela.


"Hehe gak jadi deh Ka mari-mari silahkan mau pilih baju pengantin yang mana Ka?."


"Yang biasa aja Ka." Jawab Misela.


"Jangan! Berikan calon istri saya baju yang bagus dan mewah." Sahut Dzakir.


"Gak perlu bagus-bagus Pak kan cuma di pake sekali aja dan sebentar juga. Pak Dzakir kan tau saya gak suka barang mewah." Kata Misela mengundang tatapan aneh dua gadis tadi karna Misela memanggil Dzakir dengan sebutan "Pak".


"Wah panggilan sayang nya Pak ya Ka, gak kayak pasangan lainnya yah." Ucap salah satunya.


"Ah itu..." Misela bingung sekaligus malu karna dia memang belum merubah gaya bahasa maupun panggilan pada Dzakir.


"Gak papa kan emang saya calon bapak dari anak-anak kita." Sahut Dzakir.


"Duh sweet juga ya Pak Dzakir." Kata satu gadis lainnya.


Misela hanya tersenyum menanggapi dan ahirnya mengalihkan perhatian untuk berjalan-jalan mencari baju pengantin yang cocok.


"Yang ini saja Ka. Saya suka sekali warnanya. Cream dan syar'i. Maniknya juga gak terlalu rame." Kata Misela menunjuk salah satu kebaya berwarna Cream.


"Yakin yang ini Ka?"


"Kalau kamu suka yang itu gak papa. Tolong bungkus yang ini ya mbak." Ucap Dzakir.


Dua gadis yang sedari tadi mengikuti Dzakir dan Misela kini pergi untuk membungkus baju pilihan Misela. Dzakir pun mendekati Misela dari arah belakang dan berbisik di telinga Misela.


"Sebaiknya kamu harus menyiapkan panggilan sayang untuk ku Misela kalau tidak kejadian ini pasti terulang di hadapan orang tua kita." Dzakir pun tersenyum.


Misela langsung membulat kan matanya dan melangkah maju menjauhi Dzakir.


"Pak saya merinding loh." Kata Misela yang geli dengan hembusan nafas Dzakir yang masuk ke telingan Misela.


"Apa? Kamu pikir calon suami mu ini setan? Bisa-bisanya merinding cuma begitu aja. Ehem gimana kalau kita..." Ucapan Dzakir pun di potong Misela.


"Pak jangan ngadi-ngadi deh. Kalau ada yang denger gimana?" Ucap Misela.


"Makanya jangan panggil calon suami mu ini dengan Pak lagi atau...." Lagi-lagi Dzakir menggoda Misela.


"Iya Pak saya usahakan." Misela sedikit kesal lalu berjalan keluar dari butik. Sedangkan Dzakir menuju kasir untuk membayar gaun pengantin Misela.


"Calon istrinya kenapa Pak kok keluar duluan?" Tanya penjaga kasir.


"Habis saya godain dia malah kabur mbak." Jawab Dzakir.

__ADS_1


"Semoga acaranya lancar ya Pak. Dan semoga langgeng. Terima kasih sudah belanja di butik kami."


"Aamiin. Terima kasih banyak atas doanya mbak. Saya permisi dulu assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Dzakir pun keluar dari butik dan masuk ke dalam mobil.


"Kita mau kemana lagi Pak?" Tanya Misela.


"Ada yang kamu butuhkan lagi gak?" Dzakir malah balik bertanya.


"Saya gak perlu barang apa-apa lagi Pak. Saya gak suka hal yang berlebihan." Jawab Misela.


"Misela kenapa sih kamu masih panggil Pak terus. Tuh Pak Tejo keliatan banget mau ngeledek aku." Dzakir melirik Pak Tejo yang sejak tadi tersenyum mendengarkan percakapan mereka.


"Ma-maaf Pak sa-saya belum terbiasa." Jawab Misela terbata-bata.


"Den jangan galak-galak dong nona jadi takut tuh." Kata Pak Tejo.


"Maaf ya Misela aku gak maksud buat kamu takut."


Misela hanya mengangguk.


"Tuh kan ngambek. Jangan ngambek Misela aku gak tahan lihat raut wajah mu yang menggemaskan itu."


Misela pun menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Awas ya Misela tunggu hari esok pasti aku akan membalas perbuatan mu ini." Dzakir pun kembali memposisikan duduknya menghadap ke depan.


"Loh memang saya salah apa Pak kok ada acara balas dendam gitu?" Misela sedikit terkejut.


"Kamu salah karna kamu... Ah sudahlah ada Pak Tejo. Ayo jalan aja Pak."


Dzakir lalu bersandar di kursi dan memejamkan matanya.


"Pak Tejo Pak Dzakir ini orangnya susah di tebak sih."


"Aden ini orangnya baik kok Non. Setelah menikah Nona Misela pasti akan bahagia." Jawab Pak Tejo.


"Pak Tejo yakin?" Misela menganyunkan gaya bicaranya dan membuat Dzakir bangun dari tidurnya.


"Misela Metina....!" Panggil Dzakir dengan nada lembut namun penuh arti.


"Hehehe Iya Mas Mudzakir Alfaruq." Jawab Misela cengengesan.


Dzakir pun menghadap ke belakang dan menatap Misela beberapa saat.


"Sabar Dzakir sabar belum saatnya."

__ADS_1


Dzakir mengelus dadanya lalu kembali bersandar dan tidur. Sedangkan Misela hanya bisa menahan tawa karna berhasil menggoda Dzakir.


...######################...


__ADS_2