
"Hilman? Apa maksudnya membuat status seperti ini? Tapi ini statusnya satu Minggu lalu." Bathin Misela.
"Bukankah pacar dia banyak. Sok baper lagi aku tinggal nikah. Eh tunggu kenapa aku ge-er gini? Siapa tau itu status buat pacarnya kan. Sadar Sela sadar...!" Misela memijat ujung alisnya.
Misela mulai bosan dengan ponselnya lalu membangunkan Rangga yang masih tertidur pulas.
Adzan subuh juga sudah berkumandang.
Misela duduk di bibir tempat tidur tepat di sisi Rangga yang sedang meringkuk.
"Mas, Mas Rangga bangun Mas udah subuh nih. Mas....!" Misela menggoyangkan badan Rangga beberapa kali dengan lembut.
"Iya Nindi aku juga sayang sama kamu."
Misela membulat kan matanya. Lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jantung Misela yang tadinya berdetak dengan sangat teratur kini berubah. Seolah aliran darah yang di pompa oleh jantung pun berhenti seketika.
Rangga mengigau menyebut nama wanita lain selain dirinya. Tentu saja orang mengigau itu karna sebelum tidur dia memikirkan hal tersebut. Artinya sebelum tidur Rangga memikirkan Nindi.
Tak mau memperpanjang masalah Misela mencoba untuk tenang tanpa linangan air mata. Misela menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan lalu membangunkan suaminya kembali.
"Mas Rangga. Mas bangun." Kali ini Misela mengelus lembut sebelah pipi Rangga.
"emmhh udah subuh ya Dek." Jawab Rangga sambil mengatur pandangan matanya.
"Iya Mas udah subuh ayo bangun sholat." Ujar Misela lembut lalu beranjak dari duduknya.
"Kamu udah suci Dek?" Tanya Rangga yang mulai beranjak dari tidurnya.
"Belum Mas masih banyak. Ini juga baru hari ke delapan." Jawab Misela sambil melipat selimut di tempat tidurnya.
"Lama banget sih Dek. Kapan kita malam pertama nya?" Keluh Rangga.
"Sabar Mas. Aku juga udah bosan karna gak bisa ibadah." Misela mencoba memberikan senyum terindah nya pada Rangga walau dia masih terniang akan ucapan Rangga saat mengigau tadi.
"Kamu beneran gak lagi menghindari ku kan Dek?" Rangga sedikit kesal.
"Maksudnya gimana Mas?" Misela terheran dengan pertanyaan Rangga.
"Kamu beneran masih pera*wan kan?" Rangga menekankan kata-katanya.
"Kamu bicara apa sih Mas? Kamu meragukan ku?" Misela mulai menitikkan air mata.
"Entahlah. Mas mau mandi dulu." Rangga pun pergi.
Sedangkan Misela terdiam mematung ditempatnya.
...***...
Waktu sarapan tiba. Bu Wardah dan Pak Karjo sudah selesai dan sudah berangkat ke toko material miliknya. Sedangkan Rangga masih sibuk dengan game online di ruang tamu.
"Mas ayo sarapan dulu." Ajak Misela sambil menepuk bahu suaminya.
"Diem jangan ganggu. Sana jangan pegang tangan ku jadi kaku nih." Rangga mengangkat bahunya agar tangan Misela menjauh.
Misela seketika langsung meninggalkan Rangga dan masuk ke dalam kamarnya.
"Ya Allah suami hamba sudah mulai melihat kan sifat aslinya. Ya Allah jangan sampai hamba menyesali ibadah ini. Luluh kan lah hati suami hamba. Aamiin."
Misela duduk di kursi riasnya. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis terisak-isak.
Setelah tenang Misela membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan membuka layar ponselnya. Misela mendapati sebuah chat dari Erlina sahabatnya.
"Beb lusa pengajuan judul skripsi kamu mau ngajuin bareng gak?"
"Sebaiknya aku masuk kuliah saja dari pada begini aku merasa kesepian."
"Tadinya aku pikir bisa menghabiskan waktuku bersama Mas Rangga namun takdir berkata lain."
"Ya Allah dosa kah hamba yang belum bisa memberikan hak suami hamba atas tubuh hamba mu ini?"
Tak mau larut dalam sebuah kesedihan Misela pun hendak ke luar kamar. Saat yang bersamaan Nindi pun datang dan menghampiri Rangga yang sedang duduk manis di ruang tamu dengan ponselnya.
"Assalamu'alaikum Mas Rangga kok sendirian aja." Sapa Nindi lalu duduk di samping Rangga.
"Wa'alaikumsalam eh kamu Nin udah cantik aja pagi-pagi begini." Rangga meninggalkan game online nya lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Melihat perkataan Rangga yang memuji kecantikan Nindi Misela merasakan kembali rasa sesak di dada nya.
"Aku istri Mas Rangga tapi tangan ku ditepis saat mengajaknya untuk sarapan dengan alasan mengganggu permainan nya. Tapi Nindi datang ponselnya langsung di letakkan. Jadi sepenting itukah Nindi Mas?" Bathin Misela yang mengintip Rangga dan Nindi di balik tembok.
"Mas kamu udah sarapan belum?" Tanya Nindi pada Rangga.
__ADS_1
"Belum nih kamu bawa apa kok baunya wangi banget aku jadi laper." Jawab Rangga melirik rantang yang di bawa Nindi.
"Nih aku tadi masak makanan kesukaan mu Mas. Aku sendiri yang masak loh. Tadi aku mampir ke toko eh katanya Mas gak disana jadi aku langsung ke rumah." Nindi membuka satu persatu rantang yang di bawanya dan menata nya di atas meja.
"Iya males di toko bosen. Wahh... Ini ayam goreng paha, urab, sambel terasi dan kerupuk bawang ya ampun kamu masih inget aja sih makanan favorit ku ini?" Mata Rangga berbinar melihat semua makanan yang di bawa Nindi.
(Urab itu makanan dari dedaunan yang di rebus seperti daun singkong, bayam, cipir, kenikir terus di beri parutan kelapa yang sudah di bumbui. Kalau orang Jawa pasti tau hehe)
"Ya iyalah Mas. Gak mungkin dong aku melupakan begitu saja apa yang kamu suka dan apa yang gak kamu suka. Nih aku suapin Mas ayo makan yang banyak ya. aaakkk...buka mulutnya...!" Tangan Nindi pun mendekati mulut Rangga.
Rangga menikmati suapan Nindi.
"Emh ini enak banget Nin. Urab nya pas banget." Rangga pun menelan makanan nya. "Lagi dong." Rangga kembali membuka mulutnya dan Nindi juga kembali menyuapi Rangga.
Mereka menikmati sarapan bersama hingga lupa ada sepasang mata yang sedang berlinang carian bening di pipinya.
Misela tak sanggup melihat suaminya sedang bermesraan dengan Nindi. Bagaimana bisa dia begitu mengabaikan dirinya yang jelas-jelas istri sahnya.
Misela berjalan perlahan ke dapur. Menghapus air mata yang masih tersisa dan mengambil sebuah piring untuknya makan. Suap demi suap dia nikmati dengan pikiran yang entah dimana.
Tak lama dari itu Nindi pun berada di dapur untuk mengambil minum dan melihat Misela yang sedang makan sendirian.
"Eh mbak istrinya Mas Rangga ya." Sapa Nindi.
Misela hanya tersenyum masam melihat wajah Nindi yang cantik dengan rambut panjang lurus sedikit pirang terurai.
"Kita belum sempet kenalan mbak aku Nindi." Nindi mengulurkan tangannya pada Misela.
Misela terdiam. Nindi tersenyum dan mengangkat kedua alisnya.
"Maaf tangan ku kotor nih."
"Oh iya. Aku mau ambil minum untuk Mas Rangga mbak. Dimana ya?" Nindi celingukan belum menemukan tempat minum.
"Bukan disini tapi di deket pintu L. Itu gelasnya." Misela menunjuk sebuah rak gelas pada Nindi.
"Oiya makasi mbak."
"Nindi tunggu!" Seru Misela dan berdiri dari duduknya.
"Apa kamu gak punya malu menyuapi suami orang? Apa kamu mau menjadi pelakor?"
"Lucu kamu. Kamu yang jadi orang ketiga disini kenapa kamu menyalakan ku. Lihatlah Mas Rangga begitu senang dengan kedatangan ku. Sudahlah kita lihat saja siapa yang Rangga pilih. hahaha." Nindi berlalu dengan tawanya.
Misela masih menatap pintu yang Nindi lewati tadi. Misela hampir menitikkan air matanya kembali namun ia tepis dan melanjutkan makannya.
Sedangkan di ruang tamu.
"Ini Mas minumnya." Nindi memberikan segelas air minum pada Rangga. Rangga pun meminum nya sampai habis.
"Kok lama banget sih."
"Aku tadi ketemu istri mu Mas. Ya aku sapa dulu dong."
"Oh biarin aja gak perlu di tanggepin."
"Iya Mas. Eh Mas temenin aku ke pasar dong aku pengen beli baju nih." Nindi memeluk lengan Rangga.
"Boleh. Aku mandi dulu ya?" Rangga mengusap punggung tangan Nindi.
"Iya Mas."
Rangga pun pergi menuju kamar mandi. Selesai mandi Rangga masuk ke kamarnya dan mendapati Misela sedang berdiri menunggu nya.
"Mas kamu mau pergi dengan wanita lain?"
"Nindi itu temen ku. Dia sudah baik pada ku dan keluarga ku Dek jadi jangan berpikir macam-macam."
"Mas!"
Misela menekankan ucapannya.
"Kamu gak berhak mengatur ku pergi kemana dan dengan siapa. Ingat itu!"
Rangga menunjukkan jarinya telunjuknya ke arah Misela.
"Mas aku ini istri mu."
"Istri macam apa kamu yang gak becus melayani suami. Hah?"
"Mas ini juga bukan kemauan ku. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk mu Mas kecuali berhubungan badan."
__ADS_1
"Kamu pikir selama ini sudah melakukan yang terbaik?"
"Kamu bilang Mas aku harus bagaimana aku akan mencoba melakukan supaya kamu bahagia. Tapi aku mohon jangan bermesraan dengan wanita lain Mas."
"Denger ya kalau kamu ikut campur dengan urusan ku lebih baik kamu pulang ke rumah orang tua mu."
"Astaghfirullah Mas kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?"
"Kamu pikir aku sedang bercanda sekarang?"
"Mas kamu tau hukumnya seorang suami mengatakan hal demikian?"
"Jangan mengajari hukum dengan ku. Aku ini suami mu."
"Suami macam apa kamu yang memilih wanita lain dari pada istrinya?"
"Jangan kurang ajar kamu?"
Rangga mengangkat tangannya hendak menampar Misela namun tangan Misela yang cukup atletis menahannya.
"Mas kamu sudah menjatuhkan talak satu untuk ku. Kamu bermesraan dengan Nindi di depan mata ku. Dan kali ini kamu mencoba memukul ku? Mulai hari ini akan aku pastikan kamu tak kan pernah bisa menyentuh ku apalagi menerima rujuk mu."
Misela melepaskan dengan kasar tangan Rangga lalu bergegas keluar kamar.
Rangga terdiam. Rangga tak menyangka tangan Misela begitu kuat menahan tangannya dengan kumpulan amarah. Belum lagi perkataan yang Misela ucapkan berhasil membuat Rangga mematung cukup lama.
Tok
Tok
"Mas Rangga?" Nindi mengetuk pintu kamar Rangga.
Rangga pun tersadar dari lamunannya dan membuka pintu kamarnya.
"Maaf lama ya. Sebentar aku pakai baju dulu." Rangga menutup pintu kamarnya kembali.
Antara senang dan sedih perasaan Nindi saat mendengar pertengkaran Rangga dan Misela. Namum hati Nindi yang sangat mencintai Rangga menepis perasaan sedih itu.
Nindi kembali duduk di sofa ruang tamu dan menunggu Rangga.
Rangga pun keluar dengan balutan kemeja kotak-kotak biru bercampur hitam dan celana jeans dengan rambut gaya belah pinggir. Nindi terpaku melihat Rangga yang cool dan tampan di matanya.
Rangga pun kembali duduk di samping Nindi
"Kok mukanya jadi sedih gitu Mas?" Tanya Nindi.
"Gimana kalau besok aja kita ke pasarnya?"
"Kenapa Mas?"
"Aku tiba-tiba pusing nih."
Nindi mengerti maksud Rangga. Nindi memegang tengkuk Rangga dan mendekatkan wajahnya.
"Kamu mau obat sakit kepala mu Mas?"
Rangga terdiam menatap bola mata Nindi seolah mengiyakan pertanyaan Nindi.
Nindi pun tak menunda kesempatan itu. Nindi langsung mencium bibir Rangga dan memainkan lidahnya.
Rangga terkejut namun tak ada penolakan darinya. Rangga memejamkan mata dan menikmati permainan Nindi. Ini adalah moment yang selama ini Rangga harapan dari Nindi sejak dahulu. Rangga pun melupakan pertengkaran dengan Misela istrinya.
Namun naas Misela yang hendak keluar rumah malah melihat adegan mesum mereka. Nindi yang melihat Misela sedang berdiri di ambang pintu ruang tengah menatapnya dengan sinis. Nindi merasa menang melihat Misela menitikkan air mata.
Nindi melepaskan ciumannya dan menatap Rangga.
"Mas Rangga aku sangat mencintaimu. Apakah kamu juga mencintai ku?" Nindi melirik Misela.
"Tentu saja aku juga mencintaimu mu Nindi."
Rangga seolah tak mau melepaskan bibir manis Nindi dan langsung melahap kembali.
Nindi menikmati ciuman Rangga lalu kembali melirik Misela dengan mata jahatnya.
Misela tak tahan melihat adegan yang memalukan itu dan meneriaki mereka.
"Mas Rangga?"
...#######################...
...Hayooo Hayooooo tinggalkan komen like dan bungannya ya reader yang budiman 😘...
__ADS_1