Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 71 Salah Paham


__ADS_3

Hari ini cuaca sangat terik. Misela berinisiatif untuk pergi ke kampus dan mengirim kan makan siang untuk Dzakir. Tentu saja Misela masak di temani Bik Sum dan Bik Sri karna mereka sudah di wanti-wanti oleh Dzakir untuk tidak membiarkan Misela kecapekan. Bahkan tidak boleh melakukan pekerjaan apapun mengingat usia kandungan nya yang masih sangat muda dan rawan.


Setelah menyiapkan makanan Misela berganti pakaian lalu pergi ke kampus dengan supir yang memang setia menunggu tuan dan nyonya nya di rumah. Dengan senang hati Misela mengantarkan kotak makan siang untuk Dzakir walaupun cuacanya sangat terik.


Jarak tempuh dari rumah baru Dzakir dengan kampus tak jauh, jadi tak butuh waktu lama untuk Misela sampai di kampus hijau tempat dia kuliah juga. Kemudian Misela berjalan menuju ruangan Dzakir yang ada di ujung bangunan. Dengan tersenyum Misela menenteng bekal makanan untuk suaminya. Ada beberapa dosen dan mahasiswa adik kelasnya dulu yang menyapanya.


Di ambang pintu Misela terkejut dengan apa yang di lihatnya. Ruangan yang seharusnya dirinya di sambut dengan senyuman hangat namun bukan itu yang dia dapatkan.


"Mas Dzakir? Aulia? Kalian sedang apa?" Misela memanggil suaminya dengan nada lemas.


Dzakir sedang bersama seorang wanita yang pernah di lihat oleh Misela. Bukan sedang duduk manis tapi wanita itu sedang berada di pangkuan Dzakir. Dengan cepat Dzakir melepaskan tangannya yang sedang menahan tubuh Aulia. Aulia pun langsung berdiri tegak. Ya wanita itu adalah Aulia, wanita yang pernah membuat Misela histeris.


"Sayang, ini gak seperti yang kamu kira."


Misela menggeleng kepalanya lalu berlari menjauh dari ruangan Dzakir setelah menjatuhkan kotak makan siang untuk Dzakir. Entah apa dan bagaimana perasaan Misela sekarang. Lelaki yang dia banggakan di depan matanya sedang bersama wanita lain.


Dzakir semakin mempercepat larinya untuk mengejar Misela. Tentu dia tak mau terjadi apa-apa pada istrinya yang sedang hamil itu.


"Sayang, hati-hati. Sayang, tunggu."


Dan akhirnya Dzakir berhasil mengejar dan memeluk Misela. Dzakir tak peduli adegan itu di lihat oleh para dosen dan mahasiswa nya. Yang Dzakir pikir kan adalah perasaan istri tersayang nya.


"Sayang. Yang tadi itu salah paham. Aulia tadi mau jatuh dan dengan spontan tangan Mas ingin menolongnya. Secara kebetulan kamu masuk. Sungguh cuma kamu wanita yang ada di hati ku. Tolong jangan berpikir yang macam-macam. Ingatlah kamu harus jaga kesehatan mu dan anak kita sayang."


Misela menangis dalam pelukan Dzakir. Setelah mengetahui Misela merasa tenang Dzakir mengajak Misela ke ruang kerjanya. Disana Aulia sedang duduk menunggu Dzakir.


"Hai Ka Misela. Maaf ya tadi itu cuma salah paham Ka. Saya udah bersuami kok Ka. Dan saya kesini cuma mau minta tanda tangan Pak Dzakir karna di suruh sama Ayah saya." Jelas Aulia.


Misela mendongak menatap Dzakir.


"Mas maaf ya. Padahal aku kesini buat nganterin kamu makan siang. Tapi itu malah tumpah gara-gara salah paham." Misela kembali memeluk Dzakir.


"Iya sayang gak papa."


"Aku terlalu takut kehilanganmu Mas, aku sangat takut. Entah apa yang terjadi kalau kamu menghianati ku Mas. Aku takut kamu meninggalkan ku juga."


"Iya sayang gak papa. Sudah jangan sedih lagi ya."


"Aku selalu terbayang akan masa lalu Mas."

__ADS_1


"Iya Mas ngerti. Jangan sedih lagi ya."


"Iya Mas."


"Maaf ya Aulia."


"Tidak Pak, bukan salah Pak Dzakir juga. Ini masih satu yang belum di tanda tangani Pak. Setelah ini saya mau pulang." Aulia menyodorkan map yang belum selesai Dzakir tanda tangani.


Dzakir segera menandatangani berkas yang di sodorkan Aulia dan Aulia langsung pamit pergi karna tak mau mengganggu Dzakir dan Misela.


Misela menunggu Dzakir hingga pekerjaan nya selesai dan pulang bersama. Sedangkan supir yang bersama Aulia tadi pulang duluan.


❤️


Jam di dinding ruang kerja Dzakir sudah menujuk pukul empat sore, namun Dzakir masih sibuk dengan beberapa berkas karna pekerjaan barunya menuntut dirinya untuk lebih sibuk dari sebelumnya.


Misela yang lelah menunggu Dzakir tertidur sejak tadi di sofa kecil yang tak jauh dari kursi Dzakir. Sofa itu tak muat untuk meluruskan kaki, jadi Misela melipat kakinya agar bisa tertidur.


Dzakir mempercepat pekerjaan nya karna merasa kasihan pada istri nya yang sudah lama menunggu dirinya kerja, bahkan hampir setengah hari.


Tepat pukul lima Dzakir selesai dengan kerjaan nya dan dengan waktu yang sama Misela bangun dari tidurnya.


"Engga kok Mas. Baru kali ini loh aku nungguin kamu kerja tapi malah ketiduran. Kamu pasti tadi gak fokus ya Mas."


"Iya sedikit sih, takut kamu kecapekan dan sakit pinggang."


"Ini juga sedikit sakit Mas hehe."


"Pulang yuk, tapi kita mampir beli jajan dulu ya sayang."


"Jajan lagi Mas?"


"Iya dong sayang. Kan laper. Emang kamu gak pengen gitu makan sesuatu? Atau pengen beli sesuatu? Atau melakukan sesuatu? Sejak hamil kamu belum pernah minta yang aneh-aneh lo."


"Ya kan aku gak pengen Mas. Lagian aku udah punya kamu udah bahagia Mas. Kamu itu segalanya buat ku. Gak akan ada yang bisa gantiin kebahagiaan ku Mas."


"Rasanya Mas pengen terbang nih hehe."


"Tapi aku serius Lo Mas."

__ADS_1


"Iya sayang Mas percaya kok. Ayo kita jajan dulu ahh. Em kira-kira pengen apa ya hari ini hehe."


"Apa aja yang kamu beli aku juga ikut makan Mas, walau sebenarnya aku agak aneh dengan tingkah mu sekarang. Tapi hari ini engga sih."


"Dasar istri ku selalu menggemaskan. Pengen itu deh jadinya."


"Itu apa sih? Pasti mikir mesum kan?"


"Hehe udah ayo jalan ah."


______________


Tiba dirumah.


Dzakir dan Misela masuk rumah. Namun Misela terkejut melihat sosok yang sangat familiar di matanya.


"Erlina?"


Sahabatnya itu sedang duduk di sofa dengan penampilan yang kusam, wajah penuh lembab dan pipi yang basah.


"Misela...."


Erlina langsung memeluk Misela dan menangis terisak-isak.


"Kamu kenapa Er? Kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Tolongin gue Misela. Tolong gue butuh banget bantuan lu."


"Iya Er, kita duduk dulu. Kamu ceritakan pelan-pelan ya. Bik tolong bawain air putih ya."


Bik Sum dengan cepat mengambilkan pesanan nona nya.


"Mas, aku temenin Erlina dulu ya."


Dzakir mengangguk dan meninggalkan mereka di sofa ruang keluarga. Dzakir tak ingin mengganggu pertemuan mereka. Dan menikmati makanan yang di belinya sendiri di meja makan.


(Masih bisa ya Dzakir makan)


Suasana sedih dan haru bercampur aduk di ruang keluarga itu. Erlina masih belum menceritakan apa yang terjadi. Erlina masih menangis di pelukan Misela. Dengan sabar Misela mengusap punggung Erlina.

__ADS_1


...#############...


__ADS_2