
Hari demi hari kian berganti begitu cepat bagi sebagian orang, namun tidak dengan Misela yang semakin hari perutnya semakin besar dan semakin susah untuk melakukan apapun sendiri.
Tendangan baby di dalam perut membuat Misela sering buang air kecil bahkan di malam hari dirinya susah tidur karna harus bulak-balik ke kamar mandi padahal buang air kecilnya tak banyak, anehnya rasanya itu sudah sangat kebelet.
Perubahan bentuk tubuh Misela juga makin terlihat karna naiknya berat badan sudah mencapai tiga belas kilo. Misela sudah seperti angka nol besar saat ini. Bahkan dirinya kadang kesal melihat tubuhnya yang berubah drastis. Tentu saja Dzakir selalu bisa meluluhkan suasana hatinya.
Usia kandungan nya sudah masuk minggu ke tiga puluh tujuh. Tapi masih sama seperti bulan sebelumnya jenis kelamin belum bisa di tentukan karna posisi si baby selalu meringkuk dan menutupi jenis kelamin mereka.
Pagi ini Misela harus ke rumah bunda Adelia karna adiknya Aldian akan melakukan resepsi lamaran. Sebenarnya Misela terkejut karna adiknya tiba-tiba menyuruh nya untuk menghadiri acara lamaran tersebut.
Sialnya tak ada gaun ataupun baju yang muat dan cocok untuk pergi ke acara tersebut, hingga ahirnya Misela berteriak dan membuat seisi rumah berlarian.
"Aaaaacccckkkk......!"
Tak ada melangkah dengan pelan-pelan. Semuanya berlari secepat kilat.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Ada apa non?"
"Apa sudah mulas non?"
Tapi respon Misela membuat mereka bingung. Bahkan Dzakir yang siap membopong tubuhnya Misela dengan posisi yang sudah jongkok kini kembali berdiri tegak dengan kedua tangan di pinggang.
"Sayang, kamu ngeprank ya?"
Misela tersenyum menunjukkan giginya.
"Mas, gak ada baju yang muat." Misela menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Astaghfirullah, cuma karna itu kamu berteriak?"
Bik Sum dan Bik Sri langsung ambruk seketika karna kelelahan berlari. Dan dengan santai Misela cengar-cengir.
"Maaf ya hehe emosi ini emosi karna berat badan yang naik terlalu banyak hehe."
"Pakai daster aja Non." Sahut Bik Sri yang masih lemas menyandarkan kepalanya di tembok.
"Bik, ini tu mau ke acara lamaran loh. Masak pake daster sih." Kata Misela sedikit kesal dan menghentak kakinya.
"Sayang, kamu dandan aja dulu, pakai daster gak papa, kita nanti mampir dulu beli baju ya." Jawab Dzakir sambil membelai rambut Misela yang berantakan.
"Ini gara-gara Aldian yang ngasih taunya mendadak, kan jadi repot begini." Misela masih kesal.
"Gak repot sayang, kan tinggal mampir aja sebentar."
"Tapi milih baju itu gak seperti milih cabe Mas yang tinggal comot aja. Cari baju itu kan susah apalagi dengan ukuran badan ku yang seperti ini."
__ADS_1
"Kemaren Mas aja shopping gak mau?"
"Kan aku gak tau kalau bakal ada acara dadakan begini."
"Kan Mas udah bilang buat jaga-jaga beli bajunya yang besar biar bisa di pake kalau ada acara mendadak.
"Kan pikir ku sayang aja Mas nanti bajunya kebesaran banget kalau aku udah lahiran."
"Ya udah sekarang kita cepet siap-siap biar punya banyak waktu buat milih baju."
"Den Dzakir selalu sabar banget ngadepin Nona." Celetuk Bik Sum.
"Memang aku kenapa Bik?" Misela terlihat sinis.
"Eh engga non, Bibik lupa tadi lagi goreng tempe ya ampun ayo Sri kita turun.
Bik Sum dan Bik Sri langsung keluar dari kamar sambil cengengesan. Dzakir pun tersenyum menanggapi ulah art nya.
"Mas... Senyumin apa sih?" Misela masih terlihat kesal.
"Engga sayang, yuk buruan berangkat."
"Nanti dong Mas, aku kan belum pake bedak belum pake lipstik, buat alis, pake eye linear juga."
"Iya sayang, Mas tunggu di bawah ya sambil siapin mobilnya sekalian."
Sejak usia kandungan nya menginjak enam bulan Misela jadi sering marah-marah gak jelas bahkan hanya hal kecil. Bahkan Misela sering protes kalau telat pulang.
Beberapa menit kemudian Misela turun dengan raut wajah yang belum berubah. Masih sedikit di tekuk dan cemberut karna dia harus benar-benar memakai daster saat ini padahal sudah pakai make up. Bahkan entah sejak kapan Misela jadi suka memakai make up seperti yang di sebutkan di atas jika akan keluar rumah walau hanya sekedar ke supermarket.
Misela berjalan mendekati mobil yang sudah di siapkan Dzakir lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. Dzakir membantu istrinya masuk dan duduk lalu dirinya berjalan memutar untuk masuk mobil dari pintu sisi sebelah.
"Haduh ada yang ketinggalan ini." Dzakir menghela nafas panjang dan kasar. Dzakir celingukan, ke bawah stir mobil, mengakat wadah tisu, dan menoleh beberapa kali ke belakang, pokoknya sibuk mencari sesuatu.
"Apa yang ketinggalan Mas? Bukannya tadi udah di masukin tas ini semuanya?" Misela terheran melihat raut wajah suaminya.
"Senyuman manis istri ku Misela Metina, pasti tertinggal di kamar. Soalnya disini gak ada."
Misela langsung tertawa mendengar gombalan Dzakir lalu mencubit lengan suaminya yang jahil itu.
"Nah sudah ketemu sekarang, saatnya berangkat."
Suasana hati Misela pun kembali. Dzakir selalu bisa mengembalikan mood Misela.
__________
"Selamat datang." Sapa salah satu pelayan di butik tersebut.
__ADS_1
"Mba, cari baju size extra dong yang cocok buat resepsi lamaran." Kata Misela sambil melihat setiap sudut di butik tersebut.
"Mari ka ikut saya."
Pelayan itu menunjukkan arah baju yang di maksud. Dzakir menggandeng tangan Misela dan mengikuti pelayan tersebut.
"Sebelah sini semuanya size extra ka, mau saya bantu pilihkan?" Pelayan itu menawarkan diri dengan sangat sopan.
"Em aku cari sendiri aja mba."
Misela terlihat sibuk memilih baju dan menempelkan di badannya sambil bercermin. Beberapa kali Misela menggelengkan kepalanya. Merasa banyak sekali baju yang tidak cocok untuk ukuran badannya yang big size seperti sekarang. Merasa frustasi Misela duduk di sofa yang tak jauh dari sana.
"Sayang..." Dzakir membelai ujung kepala Misela.
"Tuh kan Mas, susah cari baju yang cocok. Apa kita gak hadir aja ya Mas."
Tiba-tiba pelayanan tadi membawakan gaun yang cukup simpel dan terlihat pas di badan Misela.
"Maaf Ka, mungkin mau nyoba yang ini?"
Misela terlihat tertarik dengan baju tersebut dan mengangguk menatap Dzakir.
"Mas aku coba dulu ya."
Misela langsung mengganti dasternya dengan baju yang di tawarkan pelayanan tadi.
"Sayang... Bisa pakai baju nya?"
Dzakir mengetuk pintu ruang ganti Misela.
"Engga Mas, ini udah selesai kok."
Misela pun keluar dengan senyuman yang sangat lebar lalu berjalan menuju kaca besar di sisi ruang ganti tersebut. Misela memutar-mutar badannya dan sesekali tersenyum.
Dzakir lalu berdiri di sisi Misela dan menatap cermin yang memantulkan bayangan mereka.
"Perfect Momy" Ucap Dzakir.
"Hah... Apa nya yang perfect Mas, tuh lihat kita udah kayak angka sepuluh aja. Aku nol besar kamu angka satunya." Sahut Misela.
Dzakir tertawa geli.
"Udah, ayo langsung kita bayar."
Dzakir tak mau berdebat dengan istrinya.
...################...
__ADS_1