Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 90 Wanita Pendonor Darah


__ADS_3

"Bagaimana Dok keadaan istri saya?"


"Bu Misela harus di bawa ke rumah sakit sekarang juga Pak. Bu Misela membutuhkan transfusi darah secepatnya."


"Lakukan apapun untuk menyelamatkan istrinya saya Dok."


"Tenang ya Pak, bantu kami dengan doa supaya istri Bapak tidak mengalami hal buruk."


Dengan cepat Dzakir membawa Misela menuju rumah sakit di pusat kota Metro atas saran dari dokter Rani dan langsung menghubungi sahabat dokternya yaitu Dion.


Dzakir juga memberikan kabar ini pada kedua orang tuanya agar membagi tugas menjaga ketiga putranya dan yang menyusulnya untuk putar balik untuk langsung menuju rumah sakit.


Tiba di rumah sakit dokter Dion sudah siap di depan UGD untuk dan langsung membawa Misela ke ruang ICU dan segera melakukan tindakan.


"Istri lu butuh transfusi darah empat kantong, sedangkan di rumah sakit cuma sisa satu kantong. Di bagian PMI juga kehabisan stok."


"Golongan darahnya apa?"


"Hah? Lu gak tau golongan darah istri lu?"


Dzakir hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil cengengesan.


"Golongan darahnya B resus negatif. Setau gue lu O kan?"


"Jadi aku harus cari pendonor?"


"Iya. Setau gue Abi lu golongan darahnya B kan? Tapi kita juga harus cek kondisinya."


"Aku harus cari tiga orang yang mau donor darah?"


"Iya. Lu harus cepet. Coba lu hubungi siapa pun yang tinggal di sekitar sini dan dalam keadaan sehat."


Dzakir terlihat berpikir. Namun tiba-tiba seorang wanita datang menghampiri mereka.


"Ambil darah saya Dok."


Wanita itu berjalan mendekati Dzakir dan Dion dan berhasil membuat Dzakir membulatkan matanya karna terkejut dengan kedatangan wanita yang tak di undang itu.


"Erlina? Kamu? Kenapa?"


Namun Erlina tak menghiraukan keheranan Dzakir dan kini Erlina berhadapan dengan dokter Dion.


"Ambil darah saya Dok. Bila perlu semuanya. Darah saya dengan Misela sama. Kami juga pernah melakukan donor darah bersama. Dan sekarang kondisi saya juga sehat. Ambil berapa pun yang dibutuhkan untuk membantu sahabat saya."


Dion menoleh pada Dzakir. Namun Dzakir masih terlihat heran. Lalu menoleh lagi pada Erlina. Tapi Dion tak punya banyak waktu untuk memperhatikan mereka.

__ADS_1


"Baiklah, ikuti saya. Kita cek dulu kondisi dan kecocokan darahnya."


"Tapi Er." Dzakir berusaha menghentikan Erlina.


"Pak, tidak ada waktu untuk menjelaskan. Sekarang yang terpenting Misela mendapatkan pendonor sesegera mungkin. Saya permisi dulu."


Erlina berlalu dan mengikuti dokter Dion.


Tak berapa lama seorang perawat telah membawa dua kantong darah untuk segera didonorkan pada Misela.


Dzakir terlihat bingung.


"Bukankah cuma Erlina yang donor darah? Kenapa suster itu bawa dua kantong?" Bathin Dzakir.


Dzakir masih duduk di depan ruang rawat Misela untuk menunggu. Kemudian Erlina datang dan duduk di sebelah Dzakir dengan jarak dua kursi kosong.


"Sayang sekali cuma bisa di ambil dua kantong darahnya." Erlina tersenyum menatap Dzakir. "Maafkan saya Pak."


Dzakir yang sejak tadi menundukkan kepalanya langsung saja menegakkan duduknya dan menolah pada wanita yang sedang duduk di sebelah nya.


"Kamu?"


Dzakir masih belum percaya dengan kehadiran Erlina.


"Maafkan atas kesalahan saya di masa lalu. Maafkan saya pernah memaksa bapak menikahi saya. Maafkan saya sudah menyakiti sahabat saya Misela. Mungkin sekarang dia sudah tak menganggap aku sebagai sahabat karna kejadian tempo dulu."


Erlina tersenyum. Lalu menarik nafas.


"Saat kalian datang ke rumah paman saya untuk melamar anaknya, saya selalu mengikuti kalian. Saya memperhatikan kalian dari jauh. Saya sangat ingin memeluk Misela namun saya merasa terlalu buruk untuk berada di dekatnya. Pagi tadi saat saya melihat Pak Dzakir berjalan-jalan dengan Misela, saya merasa sangat senang melihat kebahagiaan kalian. Dan ketika kalian pergi ke klinik saya pun mengikuti kalian bahkan sampai rumah sakit ini. Tadinya saya ragu untuk datang, tapi saya harus menyelamatkan sahabat saya satu-satunya."


"Bagaimana dengan anak mu? Bukankah usia kandungan kalian sama? Apa kamu sudah melahirkan duluan?"


Erlina menghela nafas kasar.


"Saya keguguran Pak, saat itu usia kandungan saya sepuluh minggu. Kata dokter saya terlalu capek dan stress hingga janin saya tidak bisa bertahan."


Erlina terdiam sesaat.


"Allah lebih sayang pada anak saya. Pasti Allah tau saya tidak akan sekuat bunda Adelia dulu yang sangat kuat merawat Misela tanpa suami, sedangkan saya mungkin tidak akan sanggup untuk merawat anak saya. Dan bisa saja anak saya juga tidak akan sebaik Misela jika dia tumbuh di tangan saya. Saya merasa sangat bersalah saat itu membawa nama bunda Adelia untuk memaksakan anda menikahi saya. Sekali lagi maafkan saya Pak." Sambung Erlina.


"Kami tidak pernah membenci mu Er. Justru Misela sangat memikirkan keadaan mu. Bahkan saat di perjalanan menuju rumah paman yang kamu maksud itu Misela sangat sedih karna memikirkan mu." Kata Dzakir dan berhasil membuat Erlina menangis.


"Bagaimana bisa Misela masih memikirkan saya yang berusaha meminta suaminya hiks hiks...!"


Dzakir membiarkan Erlina menangis untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Jadian ujian ini sebagai penguat iman mu." Kata Dzakir.


"Terima kasih Pak. Tolong sampaikan maaf saya pada Misela."


"Kenapa tidak kamu lakukan sendiri?"


"Sore ini saya akan pergi Pak."


"Pergi kemana?"


"Saya mau jadi TKW untuk menyambung hidup saya sendiri. Saya sudah tidak punya siapa pun bahkan orang tua saya tidak pernah mencari saya sama sekali. Jadi saya mendaftar untuk jadi TKW agar saya bisa melupakan semua hal buruk di sini."


"Kenapa kamu tidak tinggal bersama kami. Kamu bisa bantu Misela mengurus anaknya?"


Erlina tersenyum.


"Tentu saja saya sangat senang dengan tawaran Pak Dzakir. Tapi saya tidak bisa menerima tawaran itu."


"Kenapa?"


"Saya tidak pantas menerima kebaikan kalian. Saya mau pamit sekarang Pak. Saya harus bersiap untuk keberangkatan saya."


Erlina bangkit dari duduknya. Di susul dengan Dzakir.


"Saya sangat berterima kasih karna kamu telah mendonorkan darah untuk Misela. Apa yang bisa saya bantu sekarang? Katakan lah!"


"Tidak perlu berterima kasih Pak. Darah itu tak seberapa buat saya. Bahkan jika darah saya semuanya di ambil, itu tidak akan bisa menebus kesalahan saya pada Misela."


Erlina berjalan menuju pintu dan mengintip Misela yang sedang terbaring belum sadarkan diri. Erlina mengusap kaca pintu itu lalu berbalik badan.


"Saya permisi dulu Pak."


"Tunggu Er, apa tidak sebaiknya kamu menunggu Misela sadar. Dia pasti akan sangat sedih jika tau kejadian ini."


"Pak Dzakir jangan beri tahu dia."


"Mana mungkin."


"Bilang saja saya tidak akan pernah mengganggu kalian lagi. Saya permisi Pak assalamu'alaikum."


"Tapi Er...." Namun Erlina tak menghentikan langkahnya untuk pergi menjauh dari Dzakir. "Wa'alaikumsalam." Ahirnya Dzakir kembali duduk dengan berat hati.


...################...


...Maaf ya up nya telat terus 🙏...

__ADS_1


...Mampir ya di novel terbaru ku. Bagi yg suka poligami tapi 😂...



__ADS_2