
"Umi dimana Misela? Bagaimana keadaannya Umi? Apa yang terjadi sebenarnya? Terus Umi gak papa kan?" Dzakir duduk di sisi Umi nya yang masih menangis menyesali apa yang telah terjadi.
"Hiks hiks maafin Umi Nak harusnya Umi tadi bawa ajudan kan hiks hiks sekarang itu sekarang Misela... Misela hiks maafin Umi hiks...!" Dzakir pun memeluk ibunya yang tak henti-hentinya menangis.
"Sudah Umi sudah semuanya sudah terjadi yang terpenting keadaan Misela sekarang."
"Dokter yang menangani Misela belum keluar dari tadi hiks hiks. Dzakir bagaimana kalau terjadi apa-apa sama menantu Umi. Bagaimana Umi bisa menerima semua ini hiksss...!" Umi Dzakir masih terus menangis hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar puskesmas.
"Umi berdoa ya supaya Misela baik-baik saja. Umi jangan berfikir yang macem-macem." Dzakir terus menenangkan Umi nya.
Tak lama kemudian dokter yang menangani Misela keluar dari ruangan. Dzakir pun dengan cepat bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Dzakir dan Umi nya juga berdiri di sebelah Dzakir untuk mendengar kabar Misela.
"Sebaiknya pasien di bawa ke rumah sakit untuk melakukan ronsen Pak. Luka di perut nya tak parah dan tak butuh jaitan untung hanya tergores saja bukan tertusuk. Tapi luka di telapak tangan nya cukup dalam hingga butuh 30 jaitan Pak. Hanya saja tangan kanannya seperti ada masalah takut patah tulang." Jelas dokter itu.
"Istri saya memang pernah patah tulang di tangan kanannya Dok." Jawab Dzakir.
"Untuk itu sebaiknya sekarang juga segera di bawa ke rumah sakit ya Pak, saya akan tulis surat rujukan nya dulu. Silahkan masuk menemui pasien." Kata dokter itu dan berjalan pergi.
Dzakir dan Umi nya pun bergegas masuk ruangan. Misela sudah duduk manis di ranjang rawatnya. Melihat suaminya datang Misela langsung melayangkan senyuman kebahagiaan.
"Mas kamu udah dateng?" Tanya Misela.
Dzakir langsung memeluk erat Misela dan menitikkan air matanya.
"Syukurlah sayang kamu gak terluka parah. Mas khawatir banget. Terima kasih udah jagain Umi ya sayang." Dzakir melepaskan pelukannya dan mencium kening Misela. Misela membalas dengan senyuman.
"Umi juga mau peluk menantu Umi Dzakir. Geser dong." Kata Umi seketika itu Dzakir pun berdiri dan Umi Dzakir langsung memeluk Misela sambil menangis.
"Maaf ya Nak maafin Umi sudah menyusahkan mu. Maafin Umi karna Umi kamu jadi begini. Dan terima kasih banyak udah nyelametin Umi tadi. Pasti Umi akan terluka parah bahkan meninggal kalau kamu gak pegang pisau yang mengarah ke perut Umi hiks hiks...!"
Misela menatap Dzakir dan tersenyum kemudian membalas pelukan Umi dan mengusap-usap punggung nya.
"Umi bicara apa sih sudah seharusnya kita saling melindungi dan menyayangi bukan?"
Pelukan itu pun di lepas oleh Umi.
"Umi sangat menyesal Misela. Umi bener-bener minta maaf atas kejadian ini." Umi menundukkan kepalanya.
"Umi gak ada yang perlu di sesali, toh Misela gak kenapa-kenapa kan? Sudah Umi sudah luka ini nanti juga sembuh sendiri." Misela menggenggam tangan sebelah kirinya.
"Terima kasih ya sayang. Kamu memang wanita yang baik wanita yang Sholehah. Umi harusnya sadar sejak kemarin."
Misela tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Alhamdulillah terima kasih ya Umi sudah mau menerima Misela sepenuhnya. Ada hikmah yang luar biasa dengan kejadian ini terjadi. Dzakir mau ke resepsionis dulu ya Umi." Ucap Dzakir dan pergi dari ruang rawat Misela.
Umi pun melihat dan memegang telapak tangan Misela yang sedang di perban.
"Pasti sakit ya Nak?" Tanya Umi Dzakir.
"Sekarang belum kerasa sakit Umi soalnya masih ada anestesi nya. Mungkin nanti bakal sakit kalau udah abis." Misela malah bercanda.
"Kami santai sekali bicara nya. Umi jadi gemes pengen numpuk nih." Jawab Umi Dzakir sambil tersenyum.
"Timpuk sekarang aja Umi kan belum sakit. Kalau nanti pasti sakit Umi." Misela masih meledeknya.
"Sudah ah kamu malah bercanda."
Mertua dan menantu itu pun saling mengobrol dengan asiknya.
Urusan Dzakir telah selesai. Misela sudah boleh di bawa ke rumah sakit yang di rujukan. Dzakir melihat Umi dan Misela saling bertukar cerita dan tertawa satu sama lain membuat Dzakir kembali menitikkan air mata.
"Masyaallah dua wanita kesayangan ku. Semoga Umi dan istri ku terus bahagia seperti ini Ya Allah Aamiin." Bathin Dzakir dan masuk ke ruangan itu.
"Duh asik banget sih pada ngomongin apaan?" Tanya Dzakir sembari merangkul pundak istrinya.
"Mas ini mau tau aja urusan wanita." Jawab Misela.
"Pelit ya kamu!" Dzakir mencubit hidung Misela.
"Udah Umi ayo kita berangkat sekarang." Jawab Dzakir sambil membantu istri nya berdiri.
"Ke rumah sakit mana Nak? Kabarin juga Abi mu suruh urus preman yang udah buat menantu Umi kesakitan begini." Kata Umi nya terlihat kesal.
"Ke rumah sakit Islam Umi. Iya nanti Dzakir bicara sama Abi. Kita ke rumah sakit dulu ya."
Mereka pun pergi menuju rumah sakit yang telah di tentukan.
____________
"Gimana Dok hasil ronsen tangan istri saya?" Tanya Dzakir yang sedang duduk berhadapan dengan sang dokter yang menangani Misela.
"Memang ada sedikit retakan di bagian tangannya Pak. Tapi gak parah ini coba lihat garis putihnya cuma sedikit." Jawab sang dokter sambil menunjukkan hasil ronsen Misela.
"Jadi gak perlu di rawan di rumah sakit ya Dok?" Tanya Dzakir lagi.
"Iya Pak cukup pakai penyangga patah tulang saja dan istirahat di rumah. Jangan sampai kenak benturan atau mengangkat benda berat dulu ya Pak." Jelas sang dokter sambil menulis resep.
"Alhamdulillah." Jawab Dzakir.
__ADS_1
"Ini resep silahkan di tebus di apotik ya Pak dari sini belok ke kiri." Kata dokter itu sambil memberikan selembar kertas.
"Baik terima kasih banyak Dok. Saya permisi dulu." Setelah saling berjabat tangan Dzakir pun pergi menuju apotik dan menebus obat untuk Misela.
Lama Dzakir mengantri ahirnya gilirannya sudah tiba. Apoteker menjelaskan satu demi satu obat tersebut dan memberikan tagihan pada Dzakir. Setelah transaksi selesai Dzakir pulang bersama Umi dan istrinya.
Di rumah.
"Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga." Kata Umi Dzakir sambil membantu Misela duduk di tepi tempat tidur.
"Sayang ini pakai ini ya biar gak kesenggol-senggol tangannya biar cepet sembuh juga. Pokoknya kamu gak boleh ke mana-mana selama sebulan ke depan. Itu pesan dari Dokter lo ya Oiya kamu mau makan sama apa biar di buatin Bik Sum soalnya ini obatnya banyak banget Mas sampe eneg liatnya." Dzakir terus aja mengoceh dan membuat Umi serta istrinya tertawa.
"Iya Mas." Jawab Misela terkekeh.
"Kok kalian senyum-senyum aja sih ada yang salah?" Tanya Dzakir dan melihat tubuhnya di cermin besar yang ada tepat di belakang tubuhnya.
"Gak kok engga Umi mau turun dulu ya. Kamu istirahat ya sayang biar suami kamu yang urus keperluan kamu." Kata Umi Dzakir sambil mengelus ujung kepala Misela.
"Terima kasih banyak Umi." Misela membalas nya dengan senyuman.
Setelah kepergian Umi Dzakir mulai bertingkah lagi.
"Untung aja ya istri ku ini jago bela diri."
"Tapi aku merasa tubuh ku makin kaku Mas karena gak pernah latihan udah lama banget."
"Yang penting bisa buat jaga diri. Tapi sayang cepet sembuh ya kalau kamu sakit begini Mas gimana dong? Bukan Mas aja tapi si tole disini gimana apa bisa bertahan selama itu?" Dzakir melirik bagian bawah dan memanyunkan mulutnya.
Tentu saja gelagat itu membuat Misela tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha apa sih Mas kamu ini suka sekali ngelawak." Jawab Misela.
"Iihh serius ini serius. Kalau darurat gimana?" Tanya Dzakir lagi dan masih dengan mulut yang manyun.
"Adun entah ya hahaha." Misela kembali tertawa.
"Iihh gemes deh gemes." Dzakir mencubit kedua pipi Misela.
"Tapi Mas aku bahagia bangettttttt dapet perlakuan seperti itu dari Umi. Rasanya Mas aku pengen sakit terus aja biar di belai terus sama Umi." Kata Misela sambil menggenggam tangan suaminya.
"Jangan begitu sayang. Musibah ini memang ada hikmahnya tapi Mas gak mau ya kamu sakit terus kamu harus sehat dan melahirkan anak yang soleh dan solehah."
"Aamiin. Makasih ya Mas udah memberikan aku kebahagiaan ini. Aku sangat bersyukur dan beruntung bisa menikah dengan mu Mas."
"Mas lebih beruntung karna memiliki mu sayang."
__ADS_1
...##################...