
"Gue di perkosa sama paman gue Sel. Dan Paman gue gak mengakuinya."
Suara itu berat, sangat berat hingga hampir tak terdengar di telinga Misela. Tentu kabar itu sangat mengejutkan Misela. Erlina memang cantik, walau orangnya sembarangan dan blak-blakan tapi Erlina selalu menjaga auratnya. Dia masih terlihat muslimah walau kadang memakai celana bahan, bukan jeans.
"Bagaimana bisa paman mu sekejam itu Er? Lalu bagaimana orang tua mu?" Misela kembali memeluk sahabatnya.
"Papa lebih percaya sama Paman, Lu tau paman gue memang terlihat baik dari luar, apalagi dia sangat ramah pada siapapun dan Paman malah nuduh gue fitnah dia Sel, sekarang gue lagi hamil hiks hiks... Papa ngusir gue Sel karena malu ngakuin anak yang gue kandung ini hiksss..."
"Astaghfirullah. Kamu hamil? Lalu Mama mu?"
"Mama udah mohon-mohon sama Papa untuk maafin gue karna memfitnah Paman, tapi syaratnya gue harus berlutut minta maaf sama Paman, tapi kan gue yang jadi korban disini Sel. Gue bingung Sel gue harus gimana hiks... Gue di minta jujur siapa yang hamilin gue tapi gue tetep bilang kalau laki-laki itu Paman, Papa ngusir gue dan Mama pingsan saat itu juga!"
"Aku harus gimana Er biar bisa bantu kamu?"
"Bagi suami mu Sel?"
Misela mundur menjauh dari Erlina. Misela menatap tajam wajah sahabat nya itu. Dengan wajah terkejut Misela mencoba mencerna apa yang di katakan Erlina. Mungkin dia salah dengar.
"Kamu bilang apa Er?" Misela mencoba memperjelas ucapan Erlina.
"Biarkan suami mu menikahi ku."
Deg.
Misela memang tak salah dengar. Misela menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia benar-benar tak percaya bahwa sahabat terbaiknya akan berbicara seperti itu. Dzakir yang sejak tadi melihat mereka dari kejauhan langsung menghentikan makannya dan menghampiri Misela karna melihat gelagat yang tak beres pada istrinya.
"Kenapa sayang? Apa yang salah?" Dzakir memegang kedua bahu Misela.
Misela menggeleng kepalanya.
"Kamu memang sahabat ku tapi untuk menjadi madu ku? Itu gak mungkin Er. Aku tidak bisa berbagi suami." Misela menunduk dan meremmas tangannya.
"Apa madu? Berbagi suami? Maksudnya apa sayang?" Dzakir terkejut.
"Tolong bantu saya Pak, nikahi saya sampai bayi ini lahir. Hanya sampai saat itu dan setelah itu ceraikan saya." Erlina memelas.
__ADS_1
"Kamu sudah gila? Kamu hamil dan saya yang harus menikahi mu? Kamu tau tak semudah itu menikah dan tak semudah itu untuk cerai." Dzakir marah.
"Hanya sampai bayi ini lahir Pak, biarkan anak ini punya Papa."
"Tidak." Dzakir meninggikan suaranya.
"Sel, lu sahabat gue satu-satunya. Tolong gue Sel. Tolong... Demi bayi yang gue kandung. Pernikahan ini cuma status. Gue juga butuh tempat tinggal sementara aja sampai bayi ini lahir Sel. Gue gak mungkin gugurin dia. Kasih gue tempat tinggal dan setelah anak ini lahir gue bakal pergi. Tolong Sel demi bayi ini. Gue janji." Erlina terus memohon sambil mengelus perutnya.
"Aku juga sedang hamil Er." Jawab Misela lirih.
"Coba Sel kamu pikir kalau bayi lu lahir tanpa Ayah. Bukankah lu juga dulu lahir tanpa Ayah? Lu bayangin perasaan bunda dulu. Dan sekarang posisi gue sama seperti Bunda Sel." Erlina masih terus membujuk Misela.
"Tidak. Misela punya saya, dan saya tidak akan meninggalkan dia. Jangan bandingkan dia atau mengungkit masa lalunya. Kalau kamu sahabat nya, gak mungkin kamu nyakitin perasaan Misela." Dzakir makin marah dan membangunkan Misela dari duduknya untuk membawanya ke kamar.
"Sel, lu gak kasian sama gue? Gue harus minta tolong siapa lagi Sel?" Erlina berlutut dan memeluk kaki Misela.
Misela menangis. Tentu dia kasian pada Erlina. Bahkan ucapan Erlina benar adanya. Tapi Misela ragu untuk mengambil keputusan.
"Sayang, kamu masuk aja ke kamar." Dzakir memaksa Misela untuk pergi.
"Sayang, jangan terpengaruh. Masa lalu biarlah berlalu, jangan kamu ingat-ingat lagi itu bisa berpengaruh pada kesehatan mu dan anak kita sayang. Sekarang tinggalkan dia." Dzakir terus memaksa untuk masuk kamar.
"Sel, tolongin gue Sel." Erlina masih memeluk kaki Misela bahkan semakin erat hingga Misela tak bisa menggerakkan kakinya.
"Ingat sayang aku tidak akan menikahi wanita manapun, siapapun dan dalam keadaan apapun. Dan kamu, cepat pergi dari sini sebelum saya mengusir mu dengan paksa. Saya tidak akan pernah mau menikahi mu. Saya bisa bantu biaya melahirkan mu tapi tidak untuk menikahi mu. Sekarang terserah kalian." Tegas Dzakir lalu pergi.
"Mas...!" Misela menatap punggung Dzakir yang telah menaiki tangga.
"Sel...!" Erlina bangun dan berdiri di depan Misela.
"Maafkan aku Er, aku gak bisa berbagi suami dengan mu. Tapi aku bisa kasih kamu uang untuk bertahan." Misela mengambil dompetnya dan memberikan uang warna merah beberapa lembar pada Erlina.
"Bagaimana bisa lu setega ini Sel?"
"Bagaimana bisa kamu meminta ku untuk berbagi suami Er? Apa kamu juga gak tega sama aku? Aku sudah bantu kamu sebisa ku."
__ADS_1
"Sel, hidup Lu sangat beruntung. Lu punya suami yang menyayangi Lu, rumah yang bagus, uang yang cukup. Tolong bantu gue sedikit saja Sel, setelah itu gue janji gue bakal pergi dari sini."
"Iya kalau kamu pergi, kalau kamu menggoda suami ku dan menuntut hak mu sebagai istri bagaimana? Membayangkan Mas Dzakir mengucapkan ijab qobul saja aku tak sanggup Er."
"Tapi Sel...!"
"Tolong pergi Er. Uang itu sangat cukup untuk mencari kontrakan dan biaya mu sampai melahirkan. Maafkan aku Er. Tapi aku sudah membantu ku sebisa ku."
Misela langsung pergi dan menaiki tangga. Bik Sum dan Bik Sri yang sejak tadi memperhatikan mereka menghampiri Erlina untuk menuntunnya ke pintu keluar.
_____________
Misela masuk kamarnya. Dia melihat Dzakir yang sedang berdiri melipat kedua tangannya di balkon. Misela tau Dzakir sangat mencintainya. Begitu juga dengan Misela, bagaimana bisa ada wanita lain selain dirinya.
"Massss…!"
Misela memeluk Dzakir dari belakang.
"Maafkan aku ya Mas."
Dzakir memegang kedua tangan Misela yang melingkar di pinggang.
"Sayang… Mas sudah bilang berkali-kali kan, kalau cuma kamu yang Mas mau, Mas gak akan pernah menduakan cinta mu sayang. Tidak akan pernah sama sekali."
Dzakir membalikkan badannya. Memegang kedua pipi Misela dan mendekati bibirnya. Ciuman yang begitu lembut dengan gigitan perlahan membuat Dzakir dan Misela terhanyut lebih dalam.
Setelah lama berciuman Dzakir pun melepaskan bibirnya dan menempel km hidungnya dengan hidung Misela.
"Aku Mudzakir Alfaruq hanya mencintai dan menyayangi satu wanita yaitu Misela Metina. Dalam keadaan apapun wanita yang aku cintai ini, aku bersumpah untuk tidak akan menduakan ataupun menikahi wanita manapun."
Misela menitikkan air matanya.
"Kamu memang suami yang luar biasa Mas."
...##################...
__ADS_1