Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 8 Bertemu Sang Mantan


__ADS_3

"Mas Rangga aku sangat mencintaimu. Apakah kamu juga mencintai ku?" Nindi melirik Misela.


"Tentu saja aku juga mencintaimu mu Nindi."


Rangga seolah tak mau melepaskan bibir manis Nindi dan langsung melahapnya kembali.


Nindi menikmati ciuman Rangga lalu kembali melirik Misela dengan mata jahatnya. Nindi tak ambil pusing dia malah senang Misela melihatnya berciuman dengan Rangga.


Misela tak tahan melihat adegan yang memalukan itu tepat berada di depan matanya dan meneriaki mereka.


"Mas Rangga?"


"Nindi!"


Nindi dan Rangga terperanjat sontak mereka pun berdiri. Kini Rangga jadi salah tingkah namun tangannya di genggam oleh Nindi.


"Mas Rangga...! Kamu bener-bener suami yang tak pantas untuk dimaafkan Mas. Aku pikir perkataan ku tadi akan membuat mu merenungi kesalahan mu. Tapi seperti aku salah besar."


Misela menahan amarahnya. Ingin sekali ia menampar dan memukul suaminya itu apalagi Nindi. Namun beberapa kali Misela mengucapkan istighfar dan memukul dadanya yang begitu sesak beberapa kali.


"Astaghfirullah Ya Allah astaghfirullah hiksss."


"Sudahlah Misela sebaiknya kamu pergi dari rumah ini. Bukankah kamu sudah di talak oleh Mas Rangga." Ujar Nindi lalu tersenyum masam dan melipat kedua tangannya di dada.


Misela mencoba menguatkan tubuhnya yang lemas dan hampir ambruk. Misela menatap kedua orang yang telah menyakiti hatinya.


"Diam kamu dasar pelakor gak tau malu gak punya akhlak. Aku tak kan memberikan mu sumpah serapah tapi aku berharap Allah menghukum kalian. Dan kamu Mas Rangga aku tunggu surat cerai dari mu Mas. Assalamu'alaikum"


Misela keluar dari rumah itu tanpa menoleh kebelakang. Misela terus berjalan sambil menangis tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Hingga akhirnya Misela lupa jika dirinya sudah berada di sisi jalan raya.


Misela tak kuat menahan tangisnya. Ingin sekali dia berteriak sekuat dan sekeras mungkin tapi tak bisa dia lakukan.


Hilman yang kebetulan sedang mengendarai sebuah motor matic menatap seorang yang sangat familiar dimatanya. Hilman pun memutar arah dan menghampiri.


"Kamu? Misela?"


Misela yang tertunduk dengan isak tangisnya perlahan mengangkat kepala dan menatap sumber suara yang memanggil namanya.


Misela sempat terkejut dengan kehadiran Hilman.


"Misela kamu kenapa menangis?"


Tak ada jawaban dari Misela. Hilman yang merasa sangat terpukul melihat air mata Misela hendak memeluknya namun Misela selangkah mundur dari Hilman.


"Jangan sentuh aku!"


"Baiklah tapi Misela apa yang terjadi? Kenapa kamu dipinggir jalan begini dalam keadaan menangis lagi?"


"Bukan urusan mu. Tolong tinggalkan aku sendiri."


"Mana mungkin aku bisa meninggalkan mu sendiri seperti ini Sel?"


"Bukankah dulu kamu dengan suka rela meninggalkan ku. Jadi kenapa kamu keberatan sekarang?"


Misela meninggikan suara nya.


"Maaf. Tapi bolehkan aku nganterin kamu. Kamu mau kemana? Aku anterin aku bener-bener gak bisa ninggalin kamu dalam keadaan begini."


Misela masih belum menjawab. Pikirnya sedang kacau. Mengingat perlakuan suaminya hati Misela sangat hancur belum lagi di tambah hadir nya Hilman di depannya membuat nya teringat akan masa lalu. Dia tak tau harus bagaimana sekarang. Misela sudah mencoba menghubungi adiknya Aldi untuk menjemput namun nomor Aldi tak bisa dihubungi.


Misela celingukan mencari tukang ojek tapi tentu saja tukang ojek disana masih sangat jarang ditemui tidak seperti di kota-kota besar.


Misela pun menghapus air matanya dan mencoba menguatkan dirinya.


"Misela aku hanya mengantar mu. Kamu ingin kemana?"


Misela pun pasrah selain menerima tawaran Hilman.


"Antar aku pulang ke rumah orang tua ku."


"Baiklah ayo naik. Ini pakai helm nya."

__ADS_1


Hilman pun menghidupkan mesin motornya lalu melaju dengan kecepatan sedang.


Tak ada percakapan disana. Namun Hilman tau Misela masih menangis.


Misela bingung apa yang akan dia katakan pada orang tuanya. Pasti mereka akan sangat malu nantinya. Bagaimana bisa pernikahan yang baru dia jalani delapan hari sudah ada sebuah kata perpisahan.


"Jangan turun di depan rumah. Turun kan aku di depan gang. Gak enak kalau tetangga tau aku boncengan dengan mu."


Hilman mengerti maksud Misela hanya mengangguk mengiyakan.


Hilman bukan sekali ini kerumah Misela. Jadi dia tau kemana jalan menuju rumahnya.


Flashback on


"Tolong...Tolong...!"


Seorang gadis berlari di tengah malam dalam kegelapan. Dua orang bapak-bapak sedang mengejar nya hendak berbuat jahat.


Misela saat itu melarikan diri dari pesantren karna di buly oleh temannya sebagai anak haram. Misela masih duduk di bangku SMA kelas Xa.


Sayang kaki Misela tersandung batu lalu tersungkur dan kedua lututnya berdarah. Kedua bapak itu pun dengan senang gembira mendekati Misela.


"Hai gadis manis kita main-main yuk. Hahaha."


"Tolong jangan sakiti saya. Saya mohon."


"Hahaha siapa yang akan menyakiti mu gadis cantik. Kami akan membuat mu merasakan surga dunia. Hahaha."


"Tidak jangan saya mohon pak jangan sakiti saya hiks."


"Tenang lah cantik. Ayo kita mulai."


Salah satu dari bapak tersebut mengangkat tubuh Misela menuju rerumputan lalu menindih nya.


"Tolong....tolong...!"


"Diam!"


Plak.


"Jangan sakiti saya hikss...!"


Tak ada yang peduli dengan tangisan Misela saat itu.


Mulut dan tubuh Misela harus menerima dengan terpaksa ciuman demi ciuman yang mereka lakukan. Misela hanya pasrah.


Tapi tibalah seorang anak muda yang kebetulan lewat tak terima melihat adegan tak senonoh itu.


Brug


Brug


Sebuah tinju dia layangkan satu demi satu ke tubuh kedua bapak itu.


"Si*alll....! Anak kecil jangan sok jadi jagoan kamu ya?"


Hilman Mahesa yang kebetulan Kaka kelas Misela di sekolah nya datang dengan tepat waktu. Hilman yang saat itu pulang dari kerja kelompok tak sengaja mendengar sebuah teriak minta tolong dan mencari sumber suara tersebut. Untung saja dia mengikuti kata hatinya.


"Maaf Pak tapi dimana hati nurani kalian hingga tega berbuat dosa seperti itu pada gadis polos seperti nya?"


"Jangan banyak bac*ot kamu anak kecil."


"Jangan panggil aku anak kecil Pak. Namanya ku Hilman Mahesa aku sudah kelas XI jadi bukan anak kecil lagi."


"Banyak omong sini kalau lo merasa jagoan."


Mereka pun berkelahi. Untung lah seorang Hilman Mahesa adalah atlit beladiri dengan tingkat sabuk hitam. Jadi dia tak merasa takut sedikitpun menghadapi para hidung belang itu


Misela menjauh dari perkelahian itu dan memeluk kedua lututnya tanpa berani melihat. Misela sangat ketakutan.


Tinju dan tendangan Hilman layangkan pada kedua bapak itu.

__ADS_1


"Tolongggg...!"


Hilman pun berteriak dengan sekuat tenaga agar ada warga yang mendengar dan memberi bantuan.


Tapi tak ada ketakutan dari kedua bapak itu. Mereka terus menyerang Hilman. Tentu saja Hilman tak mau kalah dan membalas serangan mereka.


Hingga mereka pun menyerah dan pergi meninggalkan Hilman dengan terburu-buru.


Hilman mendekati Misela.


"Kamu sudah aman. Dimana kamu tinggal biar aku antar."


Tanpa menyentuh tubuh Misela Hilman berbicara selembut mungkin agar Misela merasa tenang.


Misela pun memberanikan diri menatap Hilman.


"Hiks... Ka Hilman?"


Misela langsung memeluk Hilman. Misela begitu syok dengan kejadian itu hingga akhirnya pingsan di pelukan Hilman.


Hilman yang kebingungan karna tak mengenal dan tau dimana gadis itu tinggal. Namun tak berapa lama ada sebuah rombongan mendekati mereka.


Ustadz dan ustadzah Misela mengajar tengah mencarinya. Termasuk ustadz Mudzakir.


"Tolongg disini!" Teriak Hilman.


"Misela? Apa yang terjadi?" Tanya ustadz Mudzakir yang terkejut mendapati Misela pingsan di pangkuan Hilman.


"Tadi saya kebetulan lewat dan melihatnya sedang di ganggu oleh bapak-bapak. Seperti nya dia begitu syok hingga pingsan."


Ustadz Mudzakir pun membopong tubuh Misela yang terlihat begitu menyedihkan. Kerudungnya berantakan, baju gamisnya kotor dan sobek terutama di bagian lututnya terlihat sekali darah yang segar disana.


"Terimakasih bantuannya. Kami pamit assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam."


Rombongan itu pun pergi menjauh dari Hilman.


Sejak saat itu Hilman dan Misela menjadi sangat dekat. Bahkan Misela belajar beladiri dan satu perguruan dengan Hilman.


Flashback off.


Tibalah mereka di gang menuju rumah Misela. Hilman pun menghentikan laju kendaraannya.


"Terima kasih Ka."


Misela turun dari motor matic yang ia tumpangi dan hendak berjalan kaki menuju rumahnya.


"Tunggu Misela." Cegah Hilman.


"Tolong jangan tanyakan apapun Ka. Aku tak mau orang lain tau akan musibah yang ku alami. Sekali lagi terima kasih Ka Hilman.


Hilman pun tak berkata apa-apa lagi. Hilman hanya bisa menatap punggung wanita cantik yang telah menjadi istri orang lain itu.


...***...


Misela sudah berada tepat di depan rumahnya. Matanya berkaca-kaca. Misela sangat ingin menangis dan berteriak sekuat mungkin. Namun Misela menahan itu semua.


"Assalamu'alaikum Bunda." Misela mulai memasuki rumah yang tak tertutup pintunya.


"Wa'alaikumsalam loh anak Bunda sedang berkunjung. Mana Rangga Nak?" Adelia memeluknya Misela karna rindu yang begitu dalam pada anaknya itu.


"Mas Rangga di rumahnya Bunda Adel cuma sendiri kesini. Adel ke kamar dulu ya bunda capek banget nih."


Misela langsung masuk ke kamar tidurnya dan segera mengunci pintu. Misela sudah tak tahan ingin menangis karna membohongi Bunda nya.


"Ya Allah apa yang harus hamba katakan pada Bunda dan Papi? Hiks...!"


Lutut Misela sudah tak kuat menompang tubuhnya. Kini Misela ambruk di lantai dengan cairan bening membasahi pipinya.


...####################...

__ADS_1


...Terima kasih masih setia membaca karya ku ini. Big hug and love for reader....


...Jangan lupa sumbangkan vote like fav dan tinggalkan komentarnya untuk mendukung author 😁🙏...


__ADS_2