
Pagi ini setelah sarapan, sesuai dengan rencana, Misela pergi bersama ketiga anaknya dan ketiga pengasuhnya untuk mencari sekolah terdekat yang pastinya disukai triple M.
Lama berkeliling kesana kemari, bahkan sudah ke beda desa dan beda kecamatan, Misela tak menemukan sekolah yang pas untuk ketiga anaknya. Ada yang bagus dengan semua fasilitasnya, tapi tak ada satu pun dari anaknya suka dengan sekolahnya itu hanya gara-gara warna cat sekolah tersebut bernuansa kuning cerah.
Malik, Mecca dan Mikka tak pernah suka dengan benda berwarna kuning. Apalagi dengan Malik, baju ada satu garis warna kuning saja gak akan pernah dia pakai sampai kapanpun. Karna pernah satu kejadian saat uti nya membelikan baju salur dengan warna dua garis kuning, Malik langsung membuangnya ke kotak sampah saat uti nya pulang.
Dan lagi saat makan telur, tak ada diantara mereka yang mau dengan kuning telur. Jadi tak ada istilah telur mata sapi di makanan ketiga anak itu. Tapi, kalau telur itu di kocok dan di beri seledri ataupun sayuran lainnya, mereka masih mau makan, hanya terkadang saja Sungguh, lucunya Mikka sangat favorit dengan sayur wortel, padahal warnanya kuning, bukan ya tapi warnanya jingga.
Misela hampir putus asa yang ahirnya mereka singgah di sebuah play grup kecil di kecamatan yang beda dengan tempat tinggalnya. Misela pun memutuskan untuk menelpon Dzakir sang suami dan meminta saran.
"Assalamu'alaikum Mas, aku bener-bener lelah."
"Wa'alaikumsalam, kenapa sayang?"
"Anak-anak gak suka dengan sekolahnya."
"Coba ke Metro aja sayang, disana kan banyak sekolah dengan fasilitas lengkap."
"Tapi terlalu jauh Mas dari rumah kita."
"Biar nanti mereka bisa berangkat sama Daddy. Terus pas jam pulang di jemput supir."
"Apa gak merepotkan kamu Mas?"
"Kamu gimana sih, mana pernah aku merasa kalian itu merepotkan!"
"Baiklah, aku coba ke daerah Metro Mas."
"Hati-hati ya sayang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Telpon pun terputus.
Misela melirik ketiga anaknya yang masih sibuk berlarian dengan para pengasuhnya. Ahirnya Misela membuka google dan mencari referensi sekolah.
Cukup lama dirinya mencari dan mencatat beberapa alamat sekolah yang di tampilkan di google, setelah cukup Misela mengajak ketika anaknya untuk masuk lagi ke dalam mobil.
__ADS_1
"Sayang, anak-anak Mommy, please kali ini kalian harus suka dengan sekolah yang bakal kita datengin ya."
Triple M hanya mengangguk dengan senyuman tipis. Walaupun begitu Misela menghela nafas lega karna waktu sudah hampir tengah hari.
Tibalah di sekolah pertama yang tercatat di buku Misela. Sekolah ini tak jauh dari kampus hijau tempat Dzakir mengajar. Nuansa cek di sekolah itu juga identik dengan warna hijau. Dan lagi tembok-tembok di sekolah itu terlukis pohon dan binatang yang hampir tak ada warna kuning disana.
Misela kembali menghela nafas panjang dan kasar. Cukup ragu dia masuk dan ahirnya mengajak Triple M turun dari mobil untuk melihat situasi di sekolah itu.
Ini adalah minggu terahir pendaftaran untuk masuk tahun ajaran baru. Malik, Mecca dan Mikka akan di daftarkan di sebuah sekolah Paud yang jaraknya dua kilo dari kampus hijau. Kedatangan Misela di sambut oleh guru yang stand by di sekolah.
"Selamat siang Bu. Perkenalkan, saya Firda, salah satu guru di sekolah ini. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa Bu Firda dan menjabat tangan Misela.
"Ah iya selamat siang Bu Firda. Nama saya Misela. Ini saya mau lihat-lihat lingkungan sekolah nya dulu boleh Bu? Soalnya anak-anak saya punya selera yang berbeda." sahut Misela sambil sesekali celingukan melihat area di sekolah tersebut.
"Boleh Bu boleh, silahkan saja kalau mau lihat-lihat dulu. Mari saya antar. Ayo anak-anak kita lihat sekeliling."
Dengan ramahnya Bu Firda menunjukkan satu persatu ruang belajar disana. Lalu berkeliling melihat taman bermain yang bersih dan terlihat sangat aman untuk digunakan. Bu Firda juga mengajak ke sebuah ruangan ekstra kulikuler yang menyediakan banyak alat musik untuk mengasah kemampuan anak. Disana juga ada kolam renang sederhana yang bisa digunakan untuk melatih anak-anak berenang.
Misela terlihat mengangguk-angguk melihat bagusnya tempat tersebut. Bukan hanya itu, tapi lingkungan yang rajin dan bersih jadi nilai plus untuk Misela.
"Bu Firda, saya diskusi dulu ya sama anak-anak." Bu Firda mengiyakan, kemudian Misela mengajak Triple M duduk di sebuah bangku di taman bermain yang ada di sekolah tersebut.
"Mikka cuka Mom. Tempat na bagus anget." jawab Mikka sambil membentangkan kedua tangannya tanda suka dengan sekolah itu.
"Malik juga sama Mom. Cuma Malik males jauh perjalanan."jawab Malik yang melihatkan raut wajah yang suntuk.
"Kalau Mecca sih suka banget Mom karna ada pianonya sama kolam renang juga. Mecca gak masalah disini." jawab Mecca dengan nada santai.
"Hm alhamdulilah ahirnya kalian bisa daftar sekolah. Tapi, karna jarak sekolah nya yang jauh, kalian semua harus bangun lebih pagi nanti. Tapi kabar baiknya, kalian bisa berangkat sekolah bareng sama Daddy loh." Misela merayu ketiga anaknya itu agar tak terlihat putus asa karna jarak tempuh yang lumayan jauh.
"Aciikkk cekolah cama Daddy." sorak gembira Mikka membuat Malik dan Mecca hanya memutar bola matanya.
"Nah sekarang karna gak ada masalah, kalian masuk ke mobil dulu ya, Mommy mau urus pendaftarannya dulu." kata Misela sambil mengelus ujung kepala mereka secara bergantian.
"Yes Mommy...!" jawab Triple M serentak.
Misela pun berjalan ke bagian administrasi yang dijaga oleh Bu Firda.
__ADS_1
"Bagaimana Bu? Apakah anak-anak suka dengan sekolah nya?" tanya Bu Firda dengan nada lembut.
"Iya Bu alhamdulilah mereka suka. Saya sudah capek dari pagi keliling cari sekolah. Padahal ini udah Minggu terakhir untuk pendaftaran kan ya?" Misela lagi menghela nafas lega dan menyandarkan punggungnya di kursinya.
"Baiklah Bu, silahkan di isi formulir pendaftarannya."
Misela pun mengambil tiga lembar kertas yang di serahkan oleh Bu Firda.
"Apa mereka semua anak Bu Misela?" Bu Firda sedikit ragu untuk bertanya.
"Iya Bu, mereka kembar." jawab Misela santai sambil terus menulis mengisi formulir pendaftaran.
"Oo begitu, tapi wajahnya gak ada yang mirip ya Bu. Biasanya kalau kembar wajahnya itu sama persis." Bu Firda lagi-lagi bertanya.
"Saya juga kurang tau kalau masalah wajah Bu, tapi bukannya banyak ya Bu kasus anak kembar tapi beda wajahnya. Biasanya di sebut kembarĀ fraternal atau kembar tidak indentik." Misela berusaha menjelaskan.
"Gimana sih guru ini, harusnya kan wawasannya luas. Kalau cuma hal seperti ini harusnya udah tau dong. Tapi kelihatannya dia guru baru dan masih belum menikah." Bathin Misela menggerutu namun masih tetap fokus mengisi formulir.
"Oo begitu ya Bu, saya belum faham soal itu karna belum menikah dan jurusan kuliah saya bukan kebidanan hehe."
Misela hanya diam tak menanggapi candaan garing dari Bu Firda. Bagaimana pun Misela sudah lelah dan mengantuk, jadi Misela terlihat malas untuk mengobrol.
"Ini Bu, sudah selesai, silahkan di cek dulu."
Misela menyerahkan lembaran kertas formulir pendaftaran itu pada Bu Firda. Setelah selesai di periksa Bu Firda pun memberikan tagihan untuk uang seragam dan iuran lainnya.
"Bajunya satu ukuran ya Bu?" Bu Firda sedang sibuk mencarikan Triple M seragam sekolah yang masih menumpuk di lemari.
"Iya Bu." Misela hanya menjawab singkat.
Setelah menunggu cukup lama, ahirnya seragam sekolah dan buku pelajaran untuk ketiga anaknya sudah lengkap dan di masukkan ke kantong plastik.
"Tinggal beli sepatu saja ya Bu. Kaos kaki, tas dan buku tulis semua sudah lengkap disini." Bu Firda menepuk dua tumpukan kantong plastik tersebut.
Setelah itu Misela langsung melunasi biaya pendaftaran tersebut dan pulang.
...################...
__ADS_1
hai, tinggal kan komentar dong biar author semangat terus up nya kalau banyak yang kasih author semangat š