Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 33 Sebuah Pengakuan


__ADS_3

Setelah skripsi nya selesai ditandatangani Misela buru-buru keluar dari ruangan Dzakir sebelum Dzakir bertingkah lagi.


"Loh main kabur aja sih gak salam gak terima kasih gimana?" Kata Dzakir hendak mengejar Misela yang sudah di ambang pintu untuk keluar.


"Terima kasih banyak atas waktunya Pak Dzakir. Saya permisi dulu mau ke percetakan untuk menjilid skripsi saya. Ass…!" Belum Misela menyelesaikan ucapannya Dzakir lagi-lagi memotong.


"Tunggu dulu dong. Setelah apa yang kamu perbuat kamu mau pergi begitu saja? Saya butuh penjelasan loh ini." Dzakir kembali menggoda Misela.


"Iya Pak Dzakir tapi saya mau…"


"No ada yang janggal lagi kan?"


Misela kembali mendengus dengan kasarnya.


"Astaghfirullah ada apa lagi Pak kasian Erlina pasti udah nungguin lama."


"Kamu harus saya hukum dulu."


"Ya Allah apalagi sih Pak?"


"Kamu harus panggil saya dengan kata sayang."


"Astaghfirullah Pak jangan macem-macem deh. Jangan buat saya menyesal karna udah berkata yang sebenarnya. Tau gitu saya nitip tanda tangan aja."


"Hahaha Misela kenapa sih kamu bikin aku gemes."


"Istighfar Pak kita lagi di kampus ini."


"Jadi kalau di rumah boleh dong?"


"Boleh apa maksudnya Pak?"


"Boleh sayang-sayangan lah."


"Astaghfirullah sejak kapan Pak Dzakir jadi mesum?"


"Hahaha sifat asli saya selalu keluar kalau dekat dengan kamu Misela?"


"Maksudnya apa Pak?"


"Ya sudahlah kali ini saya akan merelakan kamu pergi ke percetakan dengan cuma-cuma. Nanti kalau sudah selesai hubungi saya ya saya antar kamu pulang."


"Ya Allah kenapa dia jadi berubah gitu?"


Ucap Misela lirih namun Dzakir tetap mendengar.


"Apa yang berubah Misela? Cinta ku tetap sama loh."


"Engga Pak saya permisi kalau gitu assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam calon istri ku."

__ADS_1


Misela menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu kabur dari ruangan yang membuat dirinya pengap.


Sedangkan Dzakir tak henti-hentinya tersenyum menikmati masa yang memang dia tunggu-tunggu sejak lama.


"Besok akan ku ajak dia menemui orang tua ku. Aku tak mau menundanya lagi. Aku sudah tak sabar untuk memiliki Misela sepenuhnya." Ucap Dzakir dalam hati.


Sesuai janji setelah semua urusan Misela selesai Dzakir akan mengantar Misela pulang. Demi mengantar Misela pulang Dzakir menunda semua urusannya. Dzakir mundar-mandir sedari tadi di depan ruang dosen. Dengan rasa gelisah dan tak sabar Dzakir terus saja celingukan.


Jarak 100m Dzakir sudah bisa melihat sosok Misela. Dengan senyum merekah Dzakir berlari menghampiri Misela.


"Astaghfirullah gak perlu lari gitu Pak kayak anak kecil aja deh." Misela mundur beberapa langkah karna Dzakir terlalu dekat dengannya.


"Aku udah gak sabar mau ketemu kamu Misela. Eh kamu malah mundur-mundur."


"Pak jaga image dong Pak."


"Saya sudah bilang sifat asli saya selalu tak terkontrol kalau deket-deket kamu. Apalagi kamu sudah menerima lamaran saya hehehe."


Misela tak menjawab. Sebenarnya Misela juga menyukai sikap Dzakir namun Misela masih jaim karna Misela tau Misela belum pantas berlaku berlebihan apalagi mereka belum jadi pasangan halal.


"Kok kamu diem aja? Ayo pulang saya pengen cerita sesuatu sama kamu."


Lagi-lagi Misela tak menjawab. Dzakir pun berjalan menuju parkiran mobilnya dan Misela hanya mengekor pada Dzakir.


Banyak mata yang menatap dari lantai atas mau pun di lantai bawah. Terlihat mereka saling berbisik satu sama lain. Entah mereka mengumpat atau mendoakan yang terbaik Misela hanya menundukkan pandangannya dan masuk mobil bersamaan dengan Dzakir.


"Lihatkan Pak semua mahasiswa disini saling berbisik-bisik karna kita jalan berdua, apalagi sekarang kita satu mobil di hadapan mereka. Itulah kenapa selama ini saya diam mereka pun ikut diam tapi sekarang saya yakin mereka akan jadi heboh lagi."


Pandangan Misela tak tertuju ke depan tapi menatap kosong ke luar jendela sambil bersandar di bangku mobil.


"Kenapa kamu murung Misela? Bukankah kamu selalu cuek dengan gosip yang beredar selama ini?" Dzakir membuka obrolan mereka.


Misela kini memposisikan duduknya dengan benar lalu menarik nafas dan membuangnya dengan kasar. Dia belum menjawab pertanyaan Dzakir. Misela menunduk untuk beberapa menit.


"Pak apakah Bapak nanti tak menyesal karna menyukai saya? Saya selalu jadi bahan pembicaraan orang-orang. Saya sebenarnya takut kalau reputasi Pak Dzakir jadi berantakan karna saya. Sejak kecil saya selalu di bilang anak haram dan pembawa sial Pak. Sebenarnya saya juga ragu akan keputusan saya menerima Pak Dzakir yang begitu sholeh dan begitu banyak penggemar." Misela terlihat sedih. Dzakir pun menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


"Misela aku tak sesholeh yang terlihat. Sebaliknya aku merasa kamu terlalu baik untuk ku Misela. Untuk itu aku selalu berusaha memantaskan diri ku ini supaya bisa bersanding dengan mu."


Dzakir menatap lurus ke depan. Matanya nya seolah menunjukkan banyak penyesalan disana.


"Kenapa Pak Dzakir berkata seperti itu. Bagi saya Bapak itu terlalu baik. Saya merasa saya tak pantas bersanding dengan Pak Dzakir."


"Misela kamu hanya melihat aku yang sekarang bukan aku yang dulu. Maafkan aku Misela dulu aku begitu brengks*ek. Asal kamu tau aku dulu pernah mabuk-mabukan bahkan bermain wanita."


"Astaghfirullah Pak Dzakir pernah berzina?"


"Alhamdulillah engga sampe ke intim Misela. Maafkan aku. Makanya saat pertama kali aku bertemu dengan mu hati ku sudah sangat yakin jodoh ku itu kamu. Aku bertobat dengan sungguh-sungguh saat setelah pertemuan pertama kita di malam kelam mu itu. Aku selalu menyebut nama mu dalam doa ku. Aku yang brengs*k ini selalu meyakinkan diri ku sendiri bahwa aku bisa mendapatkan mu yang begitu solehah."


"Bagaimana Pak Dzakir bisa seyakin itu padahal Pak Dzakir belum mengenal saya sama sekali."


"Mungkin itulah takdir Misela. Takdir cinta ku. Cinta yang tak pernah bisa di tebak siapa dan bagaimana bisa itu terjadi. Bahkan di hari pernikahan mu aku sangat egois dan marah pada Allah karena kamu menikah bukan dengan ku. Aku marah karena aku yang selalu menyebut nama mu aku yang selalu taat pada-Nya tapi…"

__ADS_1


"Maafkan saya Pak Dzakir sudah menyakiti Pak Dzakir selama ini."


"Misela mulai sekarang lihatlah ke depan jangan selalu menoleh kebelakang. Boleh kita menoleh ke belakang hanya untuk di jadikan pelajaran saja. Setiap orang punya masa lalu kan? Kamu dengan masa lalu mu dan begitu juga sebaliknya. Yang terpenting itu kita yang sekarang. Kita yang selalu berusaha untuk lebih baik setiap harinya. Jangan pernah lagi mengatakan bahwa kamu itu anak haram yang membawa sial atau apapun yang orang-orang katakan di luar sana. Mari kita hidup dengan hidup kita yang sekarang. Kamu ngerti?"


Misela tiba-tiba meneteskan air matanya. Ucapan Dzakir sangat membuat dirinya tersentuh.


"Pak Dzakir terima kasih hiks…!"


"Misela kenapa kamu menangis?"


Misela tak menjawab. Wajahnya dia tutup dengan kedua tangannya dan tertunduk.


"Misela jangan menangis atau aku akan memelukmu."


Misela sangat terkejut dengan ucapan Dzakir lalu bergeser dari tempat duduknya semula. Suasana yang tadinya sedih kini menjadi lucu di mata Dzakir karna melihat wajah panik dan terkejut Misela.


"Astaghfirullah Pak jangan ma…"


"Misela makanya jangan bertingkah menggemaskan sebelum kita benar-benar jadi pasangan halal."


Dzakir senyum-senyum menahan tawa karna gelagat Misela yang lucu lalu melajukan mobilnya kembali.


Dalam beberapa saat hanya kesunyian yang mereka lewati.


"Misela kamu mau aku setelin radio?"


"Jangan ah nanti Bapak nyuruh saya nyanyi lagi."


"Hahaha Misela Misela bagaimana aku gak menyukai mu kalau wajah kamu sungguh…"


"Udah deh Pak jangan terus-terusan godain saya. Saya akan tetap jaga image."


"Hahaha Misela tunggu saja saat kita sudah halal nanti. Pokoknya aku akan segera meninang mu Misela. Aku gak bisa nunggu lama-lama. Nanti aku akan bicara sama bunda dan papi pokoknya paling lama Minggu depan kita udah harus menikah."


"Astaghfirullah Pak kok gak sabar banget sih Pak. Wisuda masih tiga bulan lagi loh. Tunggu sampai saat itu ya please."


"No. Itu tidak akan terjadi. Mulai saat ini aku gak akan bicara formal lagi sama kamu aku hanya akan blak-blakan sama kamu."


"Pak jangan egois dong. Saya kan berhak memilih."


"Dari pada aku gak bisa nahan napsu. Kamu tenang aja Misela aku tidak akan membatasi apa pun yang kamu inginkan asalkan kamu senang."


"Pak kenapa sih ucapan Pak Dzakir selalu membuat hati saya ini luluh."


Misela tersipu dan Dzakir tersenyum bahagia.


...####################...


...Gimana bab ini reader?...


...Suka gak suka tinggalin komentar ya 😁✌️...

__ADS_1


...Terima kasih udah setia sampe bab ini 😘🙏...


__ADS_2