
Selalu ada perasaan khawatir, was-was dan berdebar yang dirasakan ibu hamil sebelum melahirkan. Bagaimana tidak? Persalinan merupakan proses yang harus dilalui oleh seorang ibu untuk menghadirkan kehidupan yang baru di dunia, dan merupakan awal perjalanan untuk memulai lembaran baru atau kehidupan yang baru.
Ada ibu yang harus menunggu lama dari pembukaan satu hingga komplet, namun ada juga yang harus menunggu hingga satu minggu lamanya. Ini tentu akan membuat proses persalinan semakin mendebarkan.
Satu hal yang paling penting selama proses persalinan adalah melahirkan dan bertemu dengan anak yang sehat dan tidak kurang sesuatu apapun. Di samping itu, ibu yang melahirkan juga selamat dan cepat kembali bugar setelah melalui proses persalinan, maka dari itu Misela sangat ingin melahirkan dengan normal walau kemungkinan hanya kecil.
Tiba di klinik Dzakir langsung membopong tubuh Misela dan membawa nya ke ruang bersalin sesuai arahan perawat. Tak peduli dengan keadaan Misela yang sudah basah kuyup dari bagian perut ke bawah karna cairan ketuban.
Misela pun di tidurkan di brankar di ruang bersalin dan masih bisa menahan rasa sakitnya namun dirinya khawatir karna air ketuban terus mengalir dengan bau amisnya sangat menyengat. Perawatan pun memanggil dokter Rani.
Dzakir sangat setia di sisi Misela dan menggenggam erat tangan Misela yang sesekali dia ciumi dengan penuh kasih sayang.
"Sayang kamu harus kuat ya. Aku yakin kamu pasti bisa." Dzakir pun mengecup kening istrinya yang sudah mulai berkeringat.
Dokter Rani tiba dan langsung memeriksa kondisi sang ibu dan melihat pembukaan.
"Baru buka empat Pak ini. Harus sampe buka sepuluh. Ada pembukaan yang cepet ada juga yang lambat. Semoga Bu Misela termasuk buka yang cepet ya."
"Apa bisa lahiran secara normal Dok? Dokter tau istri saya ingin sekali melahirkan secara normal."
"Saya akan periksa posisi bayinya terlebih dahulu ya, apakah memungkinkan untuk lahir secara normal." Kata dokter itu.
Dzakir dan Misela hanya mengangguk. Misela di minta untuk ganti baju dan di bantu oleh dua perawat yang stay sejak tadi. Setelah ganti baju Misela melakukan usg. Terlihat wajah dokter Rani yang seperti nya senang dengan hasilnya.
"Anak-anak Bapak dan Ibu semuanya berada di posisi jalan lahir, alhamdulilah. Padahal kasus ini sangat jarang terjadi apalagi kembar tiga. Selama masih bisa berjalan jangan di bawa tiduran ya Bu. Dan juga kalau masih bisa makan minum usaha kan yang banyak supaya punya tenaga yang cukup saat waktunya tiba. Saya permisi dulu, dua perawat ini akan stay disini." Setelah memberikan penjelasan dokter pun pergi untuk melanjutkan praktek nya.
"Sayang, Mas beliin makanan dulu ya, kamu juga belum sarapan loh."
Misela hanya mengangguk dan berusaha untuk turun dari brankar. Dzakir langsung membantu nya. Misela mencoba berdiri dengan berpegang pada brankar tadi.
"Sayang Mas tinggal dulu ya. Mas juga mau hubungi Umi dan Bunda. Semoga segera kesini."
Misela kembali mengangguk. Terlihat wajah pucat di wajahnya. Sebenarnya Dzakir tak tega meninggalkan istrinya, tapi mau bagaimana lagi, Misela belum sarapan bahkan minum seteguk pun.
Sekitar sepuluh menit Dzakir pun kembali dan mendapati istrinya yang masih berjalan-jalan di sisi jendela dengan sesekali menatap ke luar. Dzakir begitu bangga pada istrinya karna masih bisa menahan rasa sakit yang menyerang dirinya.
"Sayang, ayo duduk sarapan dulu. Umi dan Bunda sudah jalan kemari."
Dzakir membantu Misela duduk dan dengan sabar menyuapi Misela yang sedang menahan rasa mulas di perutnya. Rasa mulas itu kadang muncul kadang hilang. Saat muncul rasa ingin mengejan pun muncul, tapi saat hilang Misela segera melahap makanan nya sesegera mungkin karna memang dia harus makan dan minum yang banyak.
Dzakir membuka botol air mineral dan meniupkan beberapa doa disana barulah Misela meminum nya. Hanya beberapa suap saja Misela bisa makan karna rasa mulas itu kini sering muncul, sekitar tiga menit lalu hilang lalu muncul lagi dan hilang lagi.
Lama semakin lama Misela mulai tak tahan dengan rasa sakit di perutnya itu dan mere**mas rambut Dzakir lalu berteriak.
"Aaacckkk Mas..."
Semakin Misela menahan semakin keras juga jambakan yang Misela berikan pada suaminya. Cairan ketuban juga masih terus mengalir.
"Sus, bagaimana ini?" Dzakir sangat panik.
__ADS_1
Perawatan pun menyarankan untuk mengangkat Misela dan membaringkan tubuhnya di brankar lagi. Dengan sigap Dzakir pun berdiri dan membopong tubuh Misela lalu menggenggam tangannya erat-erat.
“La ilaha illallahul ‘adszimul halim. La ilaha illallahu Rabbul ‘arsyil ‘adzim. La ilaha illallahu Rabbus samawati wal ardu wa Robbul ‘arsyil ‘adzim.” Ucap Dzakir beberapa kali dengan pelan dan mengelus perut Misela.
"Masss....! Sa-sakiittt...!" Misela kembali berteriak saat rasa mulas kembali muncul.
"Sus, bagaimana ini?" Dzakir makin panik bahkan menitikkan air mata.
Suster segera memasang infus di tangan Misela dan menyuntikkan obat di botol infusnya.
"Bu, sudah ingin bab belum?"
Misela diam sejenak lalu menggeleng kan kepalanya.
"Tunggu sampai ingin bab ya Bu baru di periksa kembali pembukaan nya. Dan usahakan jangan sampai teriak dan mengejan ya, tenaga nya harus di simpan." Kedua perawat itu pun pergi.
"Sayang, masih kuat gak? Kita Cesar aja kalau udah gak kuat?"
Misela menggeleng beberapa kali dan rasa mulas itu muncul lagi. Misela mere*mas seprei dan lengan Dzakir.
"Aaacckkk... Maasss...! Kok makin sakit ya."
"Sayang, suster bilang jangan teriak dan ngejan."
"Mas, ini bukan kemauan ku. Kamu gak ngerasain sakitnya. Ini tu tiba-tiba muncul sendiri dan tiba-tiba hilang jadi gak bisa di tahan." Misela bernada tinggi dan kembali mere**mas lengan Dzakir.
"Iya sayang maaf ya. Tapi gimana lagi suster bilang begitu." Dzakir panik sekaligus bingung menghadapi istrinya yang sedang menahan rasa sakitnya.
Secepat kilat Dzakir mengambil air mineral yang ada di meja dan memberikan pada Misela. Beberapa teguk telah melewati tenggorokan Misela, sekian detik kemudian Misela merasakan mulas lagi.
"Aduh Mas gimana ini. Aacchh."
"Sayang, maaf ya kamu harus merasakan rasa sakit ini. Kamu boleh ngapain aja sama tubuh Mas ini. Kamu mau jambak rambut lagi gak? Ini jambak aja. Atau mau nyubit? Atau mau apa?"
Bukannya Misela menuruti apa yang Dzakir katakan, Misela malah tersenyum.
"Mas, sabar ya. Maaf kalau nanti aku melampaui batasan ku. Sebentar lagi kita akan bertemu anak kita. Tapi jika takdir berkata lain, aku tak bisa merawat mereka, tolong carikan anak-anak kita ibu yang baik ya."
"Sayang, kamu bicara apa? Kita akan merawat anak kita bersama-sama."
"Aww..." Misela sedikit merintih dan menggigit bibir bawahnya. "Mas, melahirkan itu mempertaruhkan nyawa. Kita gak tau apakah nyawa ku akan kembali atau tidak setelah melahirkan nanti."
"Sayang, please jangan bilang begitu. Mas melihat mu kesakitan begini saja sudah gak kuat apalagi kamu meninggalkan Mas dengan anak-anak kita. Tidak, kamu dan anak-anak kita akan selamat dan berumur panjang."
"Aaacckkk..... Panggil dokter aja Mas. Ceepeeettt....!"
Dzakir berlari keluar ruangan dan memanggil dua perawat yang membantunya tadi lalu melaporkan kalau istrinya sudah tidak kuat menahan rasa sakit itu.
Ahirnya kedua perawat dan dokter Rani kembali ke ruangan Misela dan kembali memeriksa keadaan Misela.
__ADS_1
"Sus, cepet siapkan semuanya. Sudah buka sembilan ini. Pak Dzakir tolong dampingi dan beri semangat istri bapak ya."
Dzakir langsung duduk di sisi Misela yang sudah berkeringat dengan derasnya. Dengan pelan Dzakir mengusap keringat itu dan mencium kepala lalu berdoa.
"Sayang, semangat ya. Kamu pasti bisa melewati semua rasa sakit ini. Aku sangat mencintaimu mu."
Misela menoleh dan tersenyum pada Dzakir. Sementara dokter Rani sudah siap dengan semua peralatan medisnya.
Dilipat nya kedua kaki Misela. Dokter Rani memberikan arahan demi arahan pada Misela untuk mengatur nafas. Setelah beberapa menit barulah Misela di minta untuk mengejan.
"Siap ya Bu, satu, dua, tiga, ayo Bu."
"Emmmbbbbb.... hah hah hah." Nafas Misela tersengal-sengal.
"Sekali lagi kita coba ya Bu, tarik nafasnya yang dalam dan keluarkan lewat hidung. Ayok satu, dua, tigaaa..."
"Eeemmmbbbb......"
ooeekkkk....oeeekkkk...
Satu bayi sudah keluar. Dipotong nya tali pusar dan langsung di ambil oleh satu perawatan untuk di bersihkan.
"Gimana Bu? Sudah pengen ngejan lagi?"
Misela masih mengatur nafas dan tidak langsung menjawab pertanyaan sang dokter. Namun dua menit kemudian Misela merasakan mulas kembali.
"Dok, mulas lagi."
"Siap ya Bu. Atur lagi nafasnya, kita ulangi seperti tadi ya, setelah aba-aba saya baru boleh mengejan. Yuk semangat satu, dua, tigaaa..."
"Eeemmmbbbb....."
Satu bayi keluar lagi dengan selamat. Selang tiga menit bayi ketiga juga keluar dengan selamat.
Tangis Dzakir pecah dan tak henti-hentinya memeluk lalu mencium dan kembali memeluk Misela. Setelah puas Dzakir pun sujud syukur.
...#############...
Hai Reader......
Huaaaa ahirnya lahiran nih Misela 😁
Ada yang mau nyumbang nama gak nih?
Jenis kelamin belum di tentukan karna masih bingung juga 😂
Buat yang mau nyumbang nama boleh banget ya dengan inisial "M"
Dan kalau cocok bakal author kasih pulsa 10k.
__ADS_1
Cuss ramaikan kolom komentar nya 😘