
Dengan rasa yang tak karuan Adelia, Hanan dan Aldian berlarian mencari ruang rawat Misela seolah tak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Setibanya di sana mereka di sambut oleh Dzakir dan Erlina. Adelia langsung memeluk Erlina dan menangis sejadi-jadinya.
"Maafin Erlina Bunda hiks hiks... Harusnya Er selalu menemani Misela. Er terlalu egois hingga membiarkan Misela pergi sendiri dan berakhir seperti ini hiks...!" Erlina sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada sahabat nya itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi Er, Pak Dzakir?" Tanya Hanan.
"Maafkan saya Bu, Pak karna telat datang menolong Misela." Dzakir tertunduk.
"Maksudnya gimana? Bagaimana keadaan Misela sekarang? Kami ingin melihat keadaan nya." Adelia menyela.
"Tidak Pak tidak sekarang. Misela tidak bisa bertemu dengan siapa pun selain perawat dan dokter."
"Kenapa seperti itu?"
"Jadi Misela hampir di perk*sa para preman yang ternyata mereka memang sudah meresahkan warga sekitar akhir-akhir ini. Dan sekarang Misela tidak bisa bertemu dengan seorang laki-laki bahkan dokter sekali pun harus seorang perempuan." Jelas Dzakir.
"Ka Misel kan bisa bela diri apa para preman itu sangat hebat? Lalu apakah sangat parah Pak Dzakir?" Aldian sangat terpukul dengan kabar itu.
"Misela mengalami trauma yang sangat hebat. Dan untuk menyembuhkan traumanya itu Misela harus di dampingi psikiater wanita, tapi kemungkinan terburuk Misela bisa di rawat di rumah sakit jiwa."
"Apa? Misela anak ku....hiks hiks....!" Adelia tak kuasa menahan isak tangisnya.
"Sekarang Misela masih tertidur karna efek obat penenang. Sebaiknya kita ikuti saran dokter untuk tidak menjenguk nya. Biarkan dia istirahat. Besok pagi kita akan melihat keadaan selanjutnya. Saya permisi dulu besok saya kemari lagi. Assalamu'alaikum." Dzakir pun pergi dari rumah sakit.
__________
Pagi telah menjelma. Sesuai janji Dzakir kembali ke rumah sakit sebelum matahari terbit.
Semua orang menunggu Misela di depan pintu kamar. Tak ada yang berani masuk karna anjuran dokter hanya perawatan yang boleh masuk ke kamar Misela.
Misela ahirnya sadar tepat setelah matahari memancarkan sinar hangatnya. Misela masih belum sepenuhnya stabil. Bahkan tatapannya hanya sebuah tatapan kosong. Keluarga yang sedari malam menunggunya belum ada yang berani masuk untuk menjenguk.
Setelah Dion datang dengan dokter wanita Adelia dan Erlina di ijinkan ikut masuk kamar tapi jika tak ada respon dari Misela mereka di perkenankan keluar karna untuk menjaga agar mental Misela stabil.
Benar saja perkiraan dari dokter Dion bahwa syok yang di alami Misela bukan sekedar hal biasa tapi bisa berakibat pada gangguan kejiwaan dirinya karna saat Adelia dan Erlina masuk tak ada respon apapun dari Misela.
"Liat lah pasien sangat trauma. Hari ini lu harus cari psikiater yang bisa membantu Misela pulih. Seperti dia butuh sebuah hipnotis di alam bawah sadarnya." Kata dokter Dion pada Dzakir.
__ADS_1
"Pak Bu saya mau pergi dulu cari psikiater. Tolong kalau ada apa-apa segera hubungi saya ya."
Belum Dzakir beranjak Selyn berada di antara mereka dan menawarkan diri.
"Hai semua. Kalian semua pasti senang dengan kedatangan ku disini yang sangat tepat waktu heee....!" Sapa Selyn.
"Loh kamu ngapain disini? Pasti tadi kamu buntutin aku ya?" Tanya Dzakir heran tapi perkataan nya di sela oleh Selyn.
"Kamu kenapa sih Mas disini aku tu mau nawarin jasa loh. Kamu kan lagi butuh psikiater jadi dengan senang hati aku bakal bantu si anak eh maksudnya bakal bantu Misela sembuh. Kamu lupa aku lulusan apa Mas? Awas minggir kasih aku jalan aku mau masuk kesana." Ucapan Selyn membuat Dzakir makin khawatir tapi Selyn sudah masuk ke kamar inap Misela dan Dzakir tak berani untuk masuk.
Dua perawat yang sejak tadi menjaga Misela di dalam kini keluar dari ruangan itu. Tentu atas perintah Selyn. Karna Selyn tak mau yang yang mengganggu misi jahatnya itu.
"Gue bakal bikin lu jauh-jauh dari Mas Dzakir Misela. Tapi tenang aja gue gak sejahat itu gue cuma pengen lu lupain calon suami gue." Gunam Selyn dalam hatinya.
Selyn pun mulai mendekati Misela dan berbincang.
Tak ada yang tau apapun yang di katakan dan di lakukan Selyn saat itu. Mereka hanya bergantian melihat Misela dari balik kaca yang lebarnya hanya satu jengkal saja.
Sudah hampir satu jam Selyn dan Misela berduaan di kamar itu. Dzakir mulai gelisah dan tak tentu arah. Hanya mundar-mandir di depan pintu.
Dion yang tadi sibuk menengok para pasien nya kini kembali menghampiri Dzakir.
"Selyn belum keluar. Aku malah takut dia macem-macem." Jawab Dzakir.
"Tunggu saja. Dia kan lulus sarjana dengan predikat cumlaude. Jadi lu harus percaya."
Selyn pun keluar dari kamar Misela dengan senyuman dan menghela nafas kasar.
"Udah beres masuk aja semuanya." Kata Selyn dengan begitu sombongnya.
"Lu serius Sel?" Tanya Dion.
"Cek aja kalau belum yakin." Jawan Selyn.
Ahirnya semua yang ada di luar ruangan itu masuk ke dalam ruang inap Misela.
Dan suatu keajaiban Misela langsung memanggil nama Adelia dan menangis di pelukan Adelia.
__ADS_1
"Bundaaaa......hiks hiks Misela takut Bunda." Ucap Misela dengan tangisan yang hampir terisak-isak.
"Sayang kamu baik-baik saja kan? Ya Allah Alhamdulillah kamu sudah bisa berkomunikasi dengan kami Nak."
Dzakir mendekati Selyn dan sedikit berbisik padanya.
"Kamu hebat Selyn. Apa yang kamu katakan pada Misela?" Tanya Dzakir yang penasaran dengan obrolan mereka.
"Itu rahasia." Jawab Selyn dengan senyuman jahatnya.
"Papi, Al Erlina kalian semua disini?" Tanya Misela yang baru sadar akan kehadiran mereka semua. "Maafin Misela ya Bunda, Misela buat kalian semua khawatir." Sambung nya.
"Iya sayang. Berterima kasihlah pada Pak Dzakir. Beliau yang menyelamatkan mu dari para preman semalam." Kata Adelia sambil membelai kepala Misela.
Ada gelagat tak biasa pada Selyn saat ini namun Dzakir mengabaikan nya.
"Siapa Pak Dzakir Bunda?" Tanya Misela.
Pernyataan itu sontak membuat semuanya terheran-heran. Seperti orang amnesia namun Misela mengingatkan semua nama keluarga nya tapi kenapa tidak dengan Dzakir.
"Sel lu apain pasien gue?" Tanya dokter Dion.
"Gak gue apa-apain lah. Mungkin dia amnesia kali. Udah ah gue mau pergi dulu ada urusan. Bye...!"
"Nak Selyn terima kasih banyak ya."
"Iya Bu sama-sama."
Selyn pun pergi entah kemana. Tapi di dalam ruangan itu masih menyimpan tanda tanya besar. Bagaimana mungkin hanya Dzakir yang tidak Misela ingat saat ini.
"Bro lu jauhin dulu Misela demi kesembuhan nya. Jangan jadi pikiran dulu yang jelas sekarang Misela sudah tidak seperti angan-angan gue sebelumnya." Jelas Dion pada Dzakir dan mereka pun keluar dari ruangan itu.
"Tapi kamu yakin Selyn gak berbuat macam-macam?"
"Ya gak mungkinlah. Nanti gue mau periksa lebih lanjut siapa tau memang terjadi benturan keras sehingga membuat pasien amnesia. Kita juga belum melakukan CT scan yang penting sekarang pasien gak takut lagi. Gue duluan ya lu hati-hati."
"Kalau ada apa-apa jangan lupa..."
__ADS_1
"Iya gue pasti bakal kabarin tenang aja. Bye."
...####################...