
Setelah melakukan perjalanan cukup lama karna Dzakir sengaja memperlambat laju kendaraannya kini mereka sampai di tempat tujuan.
Berbeda dengan hari sebelumnya entah kenapa ada banyak ibu-ibu yang sedang berkumpul di warung yang tak jauh dari rumah Misela.
Misela mulai gak enak perasaannya karna pasti akan jadi bahan gunjingan ibu-ibu tersebut. Apalagi mobil yang dipakai Dzakir mobil Alphard.
Dzakir sudah parkir di depan rumah namun Misela tak kunjung menegakkan kepalanya karna ragu untuk turun dari mobil tersebut.
"Calon istriku ayo turun. Apa kamu gak mau kasih kabar bahagia ini untuk calon mertua ku." Tentu saja nada bicara Dzakir sengaja di buat manja untuk menggoda Misela.
"Pak itu disana banyak ibu-ibu saling berbisik." Misela menunjuk ke arah warung tempat ibu-ibu yang di maksud berkumpul.
"Misela apa kamu lupa dengan yang aku katakan tadi?" Dzakir mencoba membuat Misela percaya diri kembali.
"Tapi saya masih sangat ragu Pak." Ucap Misela sambil mengepalkan kedua tangannya di pangkuan kakinya.
"Misela apa aku benar-benar harus memelukmu?" Dzakir lagi-lagi iseng.
"Apa? Udah ah ayo turun disini panas." Misela langsung gelagapan dan membuka pintu mobil lalu keluar dan berlari masuk rumah.
Adelia yang mendengar suara mobil hendak keluar melihat hampir bertabrakan dengan Misela.
"Loh kok cemberut dan main masuk aja? Gak salam nih?" Tapi Misela langsung masuk kamarnya karna menahan malu pada Dzakir.
"Assalamu'alaikum Bunda." Sapa Dzakir dan bersalaman.
"Wa'alaikumsalam dia kenapa ya Pak Dzakir?" Adelia keheranan.
"Mungkin kebelet pipis Bunda." Jawab Dzakir sambil senyum-senyum.
"Ah engga dia masuk kamar tidur bukan kamar mandi kok."
"Mungkin..." Dzakir belum selesai bicara Hanan tiba-tiba nongol dan memotong pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Pasti karna malu sayang. Pasti tadi Pak Dzakir godain Misela. Iya kan ?" Tanya Hanan pada Dzakir sambil tersenyum lalu menjabat tangan Dzakir.
"Ah iya sih hmm." Dzakir jadi malu-malu.
"Mari duduk Pak Dzakir. Kalian sudah berbaikan ya?" Tanya Hanan lagi dengan nada mengejek.
"hahaha." Dzakir malah tertawa terbahak-bahak.
"Astaghfirullah kelepasan ini di depan calon mertua harus jaim Dzakir inget lu." Ucap Dzakir dalam hati dan menghentikan tawanya.
"Ehem jadi begini Bunda dan Papi maksud saya kemari selain silahturahmi dan mengantar Misela pulang saya ingin membicarakan hubungan saya dengan Misela. Saya akan segera menikah Misela. Sekita ada hal perlu Bunda dan Papi bicarakan saya siap. Masalah persiapan pernikahan semuanya serahkan pada saya Bunda dan Papi tak perlu menyiapkan apapun."
"Masyaallah Mas anak kita mau menikah." Adelia berkaca-kaca saking bahagianya. "Misela kemari Nak." Adelia berteriak memanggil Misela yang masih mengurung diri di kamar. "Misela...."
"Iya Bunda Misela denger kok." Misela pun keluar dari sarangnya.
"Misela Pak Dzakir mau melamar kamu sayang. Apa kamu menerima nya?" Tanya Adelia sambil menggenggam kedua tangan Misela.
Misela hanya mengangguk menjawab pertanyaan Bunda Adelia.
"Tapi...!" Misela tiba-tiba mengatakan kata yang membuat Dzakir deg-degan.
"Tapi apa Misela?" Tanya Dzakir.
"Tapi bisa kan nikahnya abis wisuda aja Pak?" Jawab Misela masih dengan menundukkan pandangannya.
"Hmm Misela kamu lupa lagi ya dengan apa yang kita obrolkan di mobil? Maafkan saya Bunda tapi sungguh saya tidak bisa menunda pernikahan ini sampai tiga bulan ke depan. Saya sungguh tak mau kehilangan dia lagi. Saya sudah menunggu dia yang berpura-pura amnesia selama lebih dari dua bulan saja saya hampir gila ini saya harus nunggu tiga bulan lagi saya bisa benar-benar gila Bunda." Dzakir mengatakan permintaan nya sambil malu-malu.
"Iya Nak. Kasian Pak Dzakir kamu juga gak mau kan orang-orang makin heboh ngomongin kamu Nak." Adelia mengerti dengan permintaan Dzakir.
"Yess mertua yang begitu pengertian deh. Kalau gini bisa cepet kawin asikkk....!" Dzakir malah bersorak gembira dalam hatinya.
"Iya Nak. Ikuti saja apa yang Pak Dzakir rencanakan. Karna Papi sangat yakin Pak Dzakir akan memberikan yang terbaik buat kamu Nak. Papi ingin kamu segera bahagia dengan kehidupan mu sendiri." Sambung Hanan sambil mengelus ujung kepala Misela.
__ADS_1
"Duhh jadi terharu tenang ayah mertua pasti akan saya jaga dengan baik anak anda." Dzakir masih membatin dalam hatinya.
"Baiklah Pak Dzakir saya akan mengikuti kemauan Pak Dzakir." Kata Misela lirih.
"Alhamdulillah. Terima kasih pengertian nya Misela. Besok saya akan jemput kamu untuk menemui Abi dan Umi saya sekaligus fitting baju pengantin. Saya akan menikahi Misela dalam tiga hari ke depan Bunda." Ucap Dzakir dengan tegas dan percaya diri.
"Apa tidak terlalu cepat kalau Pak Dzakir hanya memberi kami waktu tiga hari?" Jawab Adelia sambil saling menatap dengan Hanan.
"Saya sudah bilang sama Bunda dan Papi niat baik ini biar saya semua yang bereskan. Bunda tidak perlu menyiapkan apapun. Karna saya juga tau Bunda dan Papi tidak akan mau gelar resepsi yang mewah jadi ijab qobul akan di lakukan hanya dengan keluarga terdekat saja Bunda. Tapi saya belum tau dengan gelar resepsi yang Abi dan Umi inginkan karna saya hanya anak satu-satunya."
Dzakir menjelaskan rencananya dengan penuh semangat dan sopan santun dan membuat Hanan begitu juga Adelia makin yakin akan pilihan Misela kali ini.
"Baiklah Pak Dzakir kami setuju." Kata Adelia dan mengelus pipi Misela.
"Terima kasih banyak Bunda dan Papi telah menerima saya. Saya sangat bahagia sekali bisa menikahi Misela. Saya berjanji hanya akan membuat nya tersenyum bahagia. Besok saya akan kemari bersama dengan Abi dan Umi untuk melamar Misela lalu saya ijin membawa Misela ke Metro untuk fitting baju sesuai rencana sebelumnya." Ujar Dzakir lagi.
"Iya Pak Dzakir kami sangat berterima kasih juga karna mau mencintai dan menyayangi Misela dengan sepenuh hati. Kami tak tau harus membalasnya dengan apa." Adelia tiba-tiba terlihat akan menangis.
"Bunda tak perlu melakukan apapun. Cukup doakan kami supaya segera di beri momongan." Dzakir malah membuat suasana sedih jadi gelar tawa.
"Hahaha Pak Dzakir bisa saja." Kata Hanan.
Sedangkan Misela dan Adelia hanya tersenyum tipis.
"Bagaimana kalau kita makan bersama dulu Pak Dzakir?" Ajak Adelia.
"Maafkan saya Bunda bukan saya menolak rejeki tapi waktu makin sore saya harus segera dan berdiskusi dengan Abi dan Umi." Tolak Dzakir sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Dan lagi saya mohon jangan panggil saya Pak karna saya akan jadi anak kalian juga." Sambung Dzakir.
"Ahh iya maaf maaf kami harusnya panggil Nak Dzakir." Kata Hanan sambil tersenyum.
"Terima kasih Pih. Saya mau langsung pamit pulang dulu. Nanti saya telpon kamu ya Misela." Dzakir pun bersalaman dengan orang tua Misela lalu masuk mobil dan melaju pergi menjauh dari rumah Misela.
__ADS_1
...###############...