Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 35 Peluk aku!


__ADS_3

"Emmhhbb tidakkk jangan...Aaakkk... Tolong...."


Suara jeritan itu membangunkan seisi rumah. Hanan dan Adelia langsung membuka pintu kamar, begitu juga dengan Aldian.


"Kamu dengar juga Al?" Tanya Hanan.


"Iya Pah seperti nya dari kamar Ka Misela." Jawab Aldian.


"Ayo cepat Al." Ajak Hanan sambil berlari.


Ketuk demi ketukan tak di anggap oleh Misela. Dia terus menjerit dan meminta tolong.


"Tidaaaakkkk... Tolong...."


Entah sudah berapa kali pintu itu di ketuk dan Misela tak membukanya.


"Al kita dobrak aja." Kata Hanan.


"Iya Pah ayo. Satu dua tiga...."


Braaakkkk.


Adelia langsung memeluk Misela yang sangat berkeringat dengan rambut yang acak-acakan.


"Misela sadar Nak Misela istighfar ini Bunda Nak." Adelia panik karena Misela tak kunjung sadar.


"Coba Al kamu ambil air satu gelas dan percikan ke wajah Kaka mu." Ucap Hanan kembali.


"Iya Pah." Al langsung ke dapur untuk mengambil air.


"Ka sadar Ka." Aldian berteriak dengan percikan air ke wajah Misela ahirnya Misela pun bangun.


"Bundaaa...!" Misela membuka mata dan memeluk Adelia.


"Istighfar Nak istighfar kamu pasti mimpi buruk?" Kata Adelia sambil mengelus punggung Misela.


"Kaka pasti mikirin hal aneh-aneh. Jadi kebawa-bawa." Tanya Aldian.


"Kamu mikir apa Nak. Gak biasanya kan kamu berteriak histeris begini saat tidur?" Adelia membelai rambut Misela.


"Maaf ya buat kalian khawatir. Aku gak papa kok cuma mimpi aja." Jawab Misela.


"Bun Ka Misela ini sebenarnya memang sering begini. Apalagi saat di pesantren dia selalu di jauhi temen-temennya karna sering ngigau. Cuma Al baru tau sekarang kalau separah ini." Jelas Aldian.


"Kamu tau dari mana Al?" Tanya Misela.


"Ka aku tau kenapa Kaka gak pernah mau tidur dirumah kalau suasana hati Kaka sedang kacau. Inikan alasannya. Aku juga tau kenapa Kaka kemaren menerima tawaran untuk tinggal dirumah Pak Cipto. Ini juga kan alasannya. Kaka selalu hebat untuk menyembunyikan apapun Bun. Bunda tau hal itukan. Al tau Ka Misel masih menyembunyikan hal lain." Aldian terus menerus memberitahu apa yang selama ini Misela sembunyikan.


"Astaghfirullah Misela apa yang di katakan adik mu benarkah?" Tanya Adelia.


"Maafkan Misela Bun. Tapi ini bukan hal yang serius. Kalian tidak perlu membesarkan masalah ini." Jawab Misela sambil menunduk.


"Misela jawab Bunda dengan jujur, apalagi yang gak Bunda tau, apalagi yang kamu sembunyikan sehingga kamu selalu mengigau dan sehisteris itu Misela?" Adelia merasa sangat bersalah atas apa yang di alami anaknya itu.


"Bunda Misela hanya masih sedikit trauma atas kejadian waktu itu. Bunda ingat kejadian waktu Misela masih duduk di bangku SMA kan? Misela juga masih terniang dan itulah pertemuan pertama Misela dengan Pak Dzakir yang dulu adalah ustadz Misela. Misela juga masih takut untuk memulai hidup baru dengan Pak Dzakir." Jelas Misela.

__ADS_1


"Misela..." Hanan bersuara sangat lirih memanggil Misela.


"Iya Pih." Jawab Misela.


"Maafkan Papi jika masa kecil mu sangat sulit. Bahkan Papi juga pernah jahat pada mu Misela. Sungguh Papi minta maaf." Hanan menitikkan air mata.


"Mas kamu ngomong apa sih?" Tanya Adelia.


"Dulu Papi jahat padamu Misela. Bahkan Papi juga menyebut mu anak haram. Papi tau ucapan Papi waktu itu pasti meninggalkan luka di hati mu hingga membuat tidur mu selamanya ini tak tenang. Maafkan Papi Misela." Hanan berlutut di sisi tempat tidur Misela. Sontak membuat Adelia dan Aldian terkejut.


"Apa? Jadi Papah sejahat itu sama Kaka?" Kata Aldian begitu marah.


"Maafkan Papah Al maafkan Papah." Hanan masih berlutut dan menangis.


"Al pikir Papah adalah ayah yang sangat patut untuk Al banggakan karna mampu menyaingi dengan sepenuh hati seorang anak yang bukan darah daging Papah. Al pikir...!" Misela langsung memotong perkataan Aldian.


"Al cukup. Jangan bicara tidak sopan pada orang tua." Kata Misela.


"Kak Papah...!" Al sangat marah.


"Al, Kaka tau Papi Hanan orang yang baik. Buktinya Papi membesar kan Kaka dan mencukupi semua kebutuhan Kaka bahkan menyesali perbuatannya yang sudah puluhan tahun di sembunyikan. Kaka memang membutuhkan ucapan Maaf Papi. Misela mohon bangun Pih jangan buat Misela jadi anak yang durhaka. Terima kasih banyak Papi sudah mau minta maaf di depan Bunda dan Al. Misela harap kalian jangan benci Papi. Insyaallah Misela sekarang sudah ikhlas dengan semua takdir ini." Ucap Misela sambil memegang kedua lengan Hanan dan membantunya bangun.


"Sayang maafkan aku. Aku bukan suami yang baik aku juga bukan seorang ayah yang baik." Ucap Hanan sambil memeluk istrinya Adelia.


"Maafkan Papah Al. Maafkan Papah yang tidak bisa jadi contoh untuk mu." Hanan lalu memeluk Aldian.


Malam yang sunyi itu berubah jadi sendu. Setelah semua urusan selesai mereka kembali ke kamar masing-masing. Berbeda dengan Misela dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menjalankan rutinitas ibadahnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 am. Setelah selesai sholat tahajud dan dzikir malam Misela duduk terdiam di tempat sholatnya. Misela menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya seraya membayangkan lafadz Allah SWT.


Misela pun selesai membereskan alat sholat dan mengambil ponsel yang sudah di cars sejak pukul 9.00 pm.


Dibukanya WhatsApp untuk melihat ada beberapa pesan yang masuk. Namun tak berapa lama Misela memegang ponselnya ada panggilan yang masuk.


"Hah? Pak Dzakir telpon malam-malam untuk apa?" Misela malah ketakutan untuk menerima panggilan itu dan panggilan pun berakhir begitu saja.


"Kenapa tak di angkat calon istri ku? Aku sangat merindukanmu."


Begitulah pesan singkat yang masuk di WhatsApp Misela dari Dzakir.


"Astaghfirullah jangan-jangan dia orang yang mesum?" Lagi-lagi Misela hanya bicara sendiri sambil menggigit jari.


Merasa pesannya tak terbalas dan hanya di read Dzakir kembali melakukan panggilan.


"Aduhh nelpon lagi, mau ngomong apa sih orang ini?"


Misela pun mengangkat panggilan masuk itu.


"Assalamu'alaikum Pak."


"Wa'alaikumsalam. Ahirnya kamu mau ngangkat telpon ku Misela."


"Ini masih dini hari Pak untuk apa telpon jam segini?"


"Ya buat bangunin kamu untuk sholat tahajjud lah, emang menurut mu untuk apa?"

__ADS_1


Deg.


"Ya Allah hamba sudah su'udzon sama pak Dzakir." Bathin Misela.


Dzakir malah bingung karna Misela tak menjawab apa-apa.


"Hallo Misela kamu gak tidur kan?"


"Ah iya Pak maaf tadi saya melamun. Saya sudah sholat kok Pak. Baru saja selesai."


"Masyaallah Alhamdulillah calon istriku sangatlah rajin. Terima kasih ya kamu pasti tadi menyelipkan nama ku kan di doa mu?" Begitu pede nya Dzakir berkata hingga membuat Misela tertawa.


"Heee bagaimana Bapak tau?"


"Tuh kan bener."


Misela terkejut karna dia keceplosan bicara."


"Ah Pak Dzakir suka sekali ngejek saya."


"Misela kali ini aku mau bicara serius."


Misela terdiam.


"Misela besok aku akan melamar mu. Aku sudah bicara dengan kedua orang tua ku dan mereka sangat setuju dengan niat baik ini. Tapi aku lupa untuk bertanya akan Ayah kandungan mu Misela. Aku tau Ayah mu tidak bisa menikahkan mu tapi apakah berita ini sudah kamu sampaikan ke Ayah kandung mu Misela?"


"Seperti sebelumnya Pak Dzakir saya menikah memang tanpa seorang Ayah karna memang saya tidak bisa di nikahkan Ayah saya melainkan hanya bisa dinikahkan wali hakim. Tapi Papah saya tinggal di Jakarta Pak, dan Papah sebenarnya tak begitu peduli dengan kehidupan saya."


"Walaupun begitu aku mau setelah kita menikah kita pergi menemui Papah ya. Aku ingin meminta restunya karna dia tetaplah Ayah biologis kamu Misela."


Misela kembali terdiam. Tapi kali ini diamnya dengan tetesan air mata.


"Misela kenapa kamu diam?"


"Pak Dzakir kali ini saya bener-bener ingin dipeluk oleh Bapak." Misela sedikit terisak mengatakan nya hal itu tanpa sadar karna terbawa suasana.


"Apa aku harus kesana sekarang juga?"


"Hah? Untuk apa Pak?"


"Katanya kamu pengen aku peluk?"


"Benarkah saya bilang begitu?"


Misela sangat malu dan begitu saja memutuskan panggilan telpon itu.


"Astaghfirullah Misela kamu sinting ya?" Misela menggelengkan kepalanya beberapa kali.


Ting.


Bunyi handphone Misela bertanda WhatsApp masuk.


"Tunggu aku sayang aku akan segera memeluk mu."


Misela tersenyum lebar membaca pesan itu.

__ADS_1


...################...


__ADS_2