
..."Jangan pernah mencintai orang yang tidak mencintai Allah. Jika Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu?" - Imam Syafi’i...
...❤️...
Itulah alasan Dzakir tergila-gila pada Misela. Sejak di angkat menjadi seorang ustadz di sebuah pesantren, Dzakir selalu memperhatikan Misela bahkan sering bertanya pada teman sekamarnya. Saat itu Misela masih di bangku sekolah menengah atas.
Dzakir tau Misela gadis yang selalu taat akan ibadahnya. Bahkan Dzakir juga tau kalau Misela sering mengingau saat tidur hingga Misela seeing di bully oleh teman-temannya. Dari situ Dzakir semakin ingin melindungi dan memiliki Misela.
Bisa dibilang cinta Dzakir saat itu masih cinta monyet karna Dzakir belum pernah merasakan hal apapun ketika bertemu lawan jenis walaupun Dzakir sebelum nya adalah laki-laki yang bar-bar. Namun rasa pada Misela berbeda dengan yang lain.
..."Hargai istrimu sebagaimana engkau menghargai ibumu. Sebab, istrimu juga seorang ibu dari anak-anakmu."...
Misela POV
Istri yang paling beruntung adalah dia yang dikaruniai Allah seorang suami yang penyabar dan penyayang, penuh kehangatan dan kelembutan, suka menolong, dan berhati tulus. Jika dia pergi, istri merindukan. Jika dia ada, istri ingin terus berdekatan.
Benar, itulah yang aku rasakan saat ini. Mendapatkan Suami yang sangat setia seperti Mas Dzakir sungguhlah suatu keberuntungan ku yang paling berharga. Aku tak pernah menyangka perlakuan Mas Dzakir sangatlah sempurna.
Masa kecil yang tak membahagiakan, masa lalu yang begitu suram, menyisakan banyak trauma di pikiranku. Namun sekarang semuanya yang membuat ku takut seakan lenyap begitu saja bagai di telan bumi.
Aku merasa aku adalah satu-satunya wanita yang beruntung karna memiliki suami seperti Mas Dzakir. Saat kecil hanya untuk membeli sebuah permen saja aku harus bersabar dan mengalahkan demi Aldian adik ku karna keadaan ekonomi Papi ku, belum lagi aku hanyalah anak tiri dirumah itu.
Aku masih beruntung karna punya otak yang lumayan encer untuk memahami pelajaran sekolah sehingga aku beberapa kali mendapatkan beasiswa dan mendapatkan uang dari lomba.
Sekarang, kalian pasti tau hidup yang aku jalani. Apakah kekurangan? Tentu tidak. Mas Dzakir memberikan ku sebuah kartu berwarna hitam yang jumlah saldo di dalamnya entah berapa em, mungkin bukan em lagi karna aku tak mempedulikan nominalnya, yang jelas uang itu lebih dari cukup untuk ku bahkan untuk membeli gedung beserta isinya.
Aku tak menyangka jika suami ku sekaya itu, walau aku tau orang tuanya memang sudah kaya tapi suami ku sendiri seorang pebisnis yang sukses juga, jadi aku rasa itu murni uangnya bukan uang warisan.
...❤️...
Dzakir menurunkan tubuh istri nya di kasur. Membuka jilbab lalu mengecup keningnya. Lama Dzakir dan Misela saling memandang.
"Sayang, lusa Mas mau ke Tanggerang, kamu mau ikut?"
"Naik pesawat lagi Mas? Tidur di hotel juga ya?"
Dzakir mengangguk lalu mengecup singkat bibir Misela.
"Mau Mas. Tapi gimana sama kandungan ku?"
"Selepas magrib kita cek up ya, kita tanya dokter apa boleh kamu bepergian jauh. Mas juga takut ninggalin kamu sendiri dirumah."
"Ada hal penting ya Mas di Tanggerang?"
"Iya sayang, dan Mas di sana tugasnya sama gadis, cantik lagi."
"Oh jadi sekarang bisa ya bilang cantik sama wanita lain."
__ADS_1
"Itu kata para dosen di kampus sayang."
"Tapi kan tadi yang bilang dia cantik kamu Mas."
"Kan cuma menyampaikan apa yang mereka katakan. Lagian bagi Mas kamu lebih cantik dari siapapun kok."
"Udah ketahuan belangnya baru istrinya di puji huh."
Misela menjauh dari Dzakir. Tubuh yang tadinya bisa merasakan dengan jelas nafas suaminya itu sekarang membelakangi Dzakir.
"Sayang, gitu aja cemburu loh."
Dzakir berusaha mendekati Misela dan mencium rambutnya lalu melingkarkan satu tangannya di pinggang. Misela menepisnya. Di kembalian lagi tangan Dzakir di pinggang hingga tiga kali hal itu terjadi.
"Sayang, Kamu mau di laknat malaikat karna membelakangi suami mu dan menolaknya saat menyentuh tubuh mu?"
"Astaghfirullah, Mas selalu bilang begitu!"
Misela membalikkan badannya dan kini mereka kembali berhadapan.
"Bukankah memang begitu?"
"Iya maaf Mas."
"Duh istri ku kalau begini bener-bener bikin gemes sih."
Dzakir langsung menindih tubuh Misela namun kedua tangan Dzakir menahan tubuhnya supaya tak menempel pada perut Misela.
"Kamu mau mual-mual lagi Mas?" Misela tersenyum tipis. Wajahnya terlihat jelas sedang meledek suaminya.
"Kan udah di beliin rujak sesuai keinginan dia masak iya mau buat Daddy nya mabok lagi."
"Udah mandi sana. Kamu bau tau Mas."
"Tapi kan kamu suka sama bau tubuh ini."
"Iya sih hehe."
"Ya udah Mas mandi dulu abis sholat magrib kita siap-siap ke dokter ya sayang."
"Oiya Mas, bisa gak kita ke dokternya naik motor aja?"
"Udara malam gak baik sayang buat kamu dan anak kita."
"Kali ini aja Mas, aku pengen banget ngerasain naik motor berdua sama kamu. Kan gak jauh juga."
"Tapi... Oke deh."
__ADS_1
"Makasih ya Mas."
"Iya Sayang."
______________
Selesai beribadah Dzakir menyiapkan sebuah motor yang memang jarang sekali di pakai. Bahkan hampir gak pernah Dzakir berkendara menggunakan sepeda motor karna malas kalau kehujanan. Motor itu biasa di pakai Bik Sum atau Bik Sri ke pasar.
Sebuah motor matic berwarna merah berpadu dengan hitam sudah siap. Dzakir menghidupkan mesin motornya. Misela pun naik ke motor tersebut dan memeluk erat tubuh Dzakir.
"Sayang, pakai helm dulu."
"Kalau pakai helm nanti kepala ku gak bisa nempel punggung kamu Mas, jadi gak romantis deh."
"Pasti kamu lihat adegan ini di drakor kesayangan mu kan?"
"Kamu tau aja Mas."
"Helm itu untuk menjaga keselamatan mu sayang."
"Pokoknya aku gak mau, aku maunya nempel terus sama kamu. Lagian kan cuma deket sih Mas jangan bawel deh, kita jalannya pelan-pelan aja, dan sebelum berangkat baca doa dulu supaya dalam perjalanan selalu di lindungi oleh Allah dan malaikat-Nya."
"Kamu ini pintar juga buat mengelak."
"Karna aku adalah istrinya Mudzakir Alfaruq."
"Masyaallah. Ya Umma Awlaadii semoga engkau selalu di berikan kesehatan dan kebahagiaan."
"Aamiin... Yeobo."
"Hah? Apa itu artinya?"
"Sayang!"
"Pasti bahasa Korea."
"Sekali-kali dong Mas."
"Ya udah deh yang penting artinya bagus."
"Sarangeo Oppa."
"Jadi Yeobo atau Oppa nih?"
"Kamu suka yang Mana Mas?"
"Udah ah berangkat. Bismillah."
__ADS_1
Dzakir mulai melajukan sepeda motor nya perlahan hingga keluar dari gerbang rumahnya dan sedikit cepat setelah sampai di jalan raya yang lumayan sepi. Sesuai keinginan Misela yang maunya nempel pada Dzakir, jadi sepanjang perjalanan menuju dokter kandungan Misela hanya memeluk Dzakir hingga sampai di tempat tujuannya.
...##############...