
Jam makan malam tiba. Ini adalah malam kedua Misela ada di rumah nya. Masih dengan keadaan yang sama tak ada yang tau jika Misela sudah mendapatkan talak satu dari Rangga. malam ini pun Misela masih mencoba mengurung diri di kamar untuk menghindar bahkan dia tak makan malam bersama keluarga nya.
Aldian tentu saja curiga dengan sikap kakaknya itu. Karna sebelumnya jika Misela mengurung diri di kamar pasti ada sesuatu yang terjadi yang dia sembunyikan.
Aldian sangat sayang pada Kaka nya. Dia selalu peka dengan apa pun yang terjadi pada Misela. Aldian pun memaksa Misela untuk ikut makan bersama.
Tok
Tok
"Ka ayo makan." Ajak Aldian dari balik pintu kamar.
Tok
Tok
"Ka cepet keluar sebelum pintu ini rusak."
Misela pun terpaksa membuka pintu kamarnya karna suara berisik adik laki-lakinya itu.
"Kaka lagi diet De gak makan malam dulu, kalian makan aja tanpa Kaka." Misela pun menutup pintu kamarnya kembali tapi tangan Aldian menahan nya.
"Kaka tuh udah kurus kering tinggal tulang doang mau diet? Ka ada masalah apa?"
Misela sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan Aldian yang selalu tau kalau dia sedang ada masalah.
"Hah? Masalah? Gak ada apa-apa De Kaka beneran gak laper Kaka lagi sibuk ngurus skripsi. Udah ya Kaka tutup pintunya."
"Tunggu Ka. Ka ayo ke meja makan ada yang mau dibicarakan sama Bunda juga."
"Huft baiklah."
"Ayo cepet."
"Iya iya."
Misela menghela nafas dia pun menyerah untuk menghindari keluarga nya.
Aldian dan Misela pun berjalan bersama menuju meja makan tanpa berkata apapun. Namun Aldian tetap mencuri pandang pada Kaka nya itu. Aldian curiga Kaka nya menyembunyikan sesuatu.
"Ahirnya keluar juga anak Bunda dari sarangnya." Kata Adelia.
"Harus di paksa Bun. Gaya nya sih katanya tadi mau diet Bun. Mau jadi busung lapar kali." Jawab Aldian.
"Hustt... Udah jangan ribut makanan nya keburu dingin nanti." Ujar Hanan.
"Tau tuh Pih dia nih bisa aja bikin kesel." Misela menghentak sebelah kakinya lalu duduk di sebelah Adelia.
Misela dan keluarga menikmati makan malam bersama.
"Sayang besok Bunda sama Papi mau ke Jakarta. Sebaiknya kamu pulang saja ke rumah mertua mu nanti kamu gak ada temennya disini." Adelia membuka pembicaraan setelah keheningan beberapa saat.
Misela terkejut dengan pernyataan Adelia.
"Loh kamu juga ikut De?" Tanya Misela sambil menatap Aldian.
"Ikut dong Ka udah lama gak jalan-jalan." Jawab Aldian.
"Gak papa deh Bun Misela dirumah sendiri. Soalnya ribet juga nanti harus bawa laptop dan banyak buku referensi skripsi ke sana." Misela sedikit terbata-bata namun tak ada kecurigaan di mata orang tuanya karna Misela sejak kecil pandai menyembunyikan masalah nya.
"Gak baik Ka pengantin baru udah pisah rumah." Ujar Aldian.
"Ya gak papa Mas Rangga juga lagi sibuk sama kerjaannya suka pulang malem sama aja kan Kaka disana juga sendiri. Jarak ke kampus juga jadi makin jauh kalau kesana." Misela mengelak.
"Tetep aja lah Kaka kan udah punya suami harus sama-sama terus kayak Papah tuh gak mau jauh-jauh dari Bunda. Iya kan Pah?" Aldian mengedipkan sebelah matanya pada Hanan.
"Iya dong kan Papah mu cinta mati sama Bunda." Jawab Adelia.
__ADS_1
"Berarti Ka Rangga gak cinta dong sama Ka Misela." Kata Aldian.
Deg.
Misela pun mematung dan menjatuhkan sendok yang dia pegang.
"Ka kenapa kaget sih?" Tanya Aldian dan mengambil sendoknya yang jatuh.
"Lu tu ya kalau ngomong suka ngasal rasanya pengen deh ngambil lakban buat nutup mulut cewek mu itu. Kalau Mas Rangga gak cinta ngapain ngajak nikah dasar bawel." Misela pun mengambil sendok kembali dan meneruskan makan malamnya.
"Iya deh maaf hehe." Jawab Aldian sambil unjuk gigi.
Sebenarnya Aldian dulu adalah satu-satunya yang sedikit menentang pernikahan Misela dan Rangga. Aldian merasa Rangga tak cocok dengan Misela namun saat meminta izin menikah Misela sangat pandai menyakinkan keluarga nya.
"Kalau gak nanti Rangga aja yang suruh kesini pas pulang kerja." Sambung Hanan.
"Iya Pi nanti Misela coba bilang sama Mas Rangga dulu. Emang Bunda sama Papi mau berapa hari di Jakarta?"
"Sekitar satu minggu sayang."
"Penting banget ya kesana?"
"Iya Papi mau ke toko Bu Dania tempat kerja Papi dulu. Terus mau ngurus orang yang pernah menipu bisnis Papi." Jawab Hanan.
"Hmm nanti ahir pekan aja aku kesananya kalau Mas Rangga gak bisa kesini. Pengen ikut deh Bun tapi dosen pembimbing skripsi ku killer banget apalagi sekarang disuruh jadi asdos." Keluh Misela.
"Bagus dong setelah wisuda kamu udah banyak pengalaman nya nanti." Kata Adelia.
"Iya sih Bun tapi kayak semena-mena gitu."
"Ya itu untuk kebaikanmu juga sayang. Gak mungkin seorang dosen killer kalau mahasiswa nya gak bandel."
"Tapi Misela tu selalu nurut lo Bun."
"Sudahlah ayo cepet abisin makannya."
Adelia dan Hanan pun saling menatap.
"Kamu nanti bisa liburan kesana sama Rangga. Kenalkan suami mu pada Papa Zaki nanti." Kata Adelia mencoba menghibur wajahnya yang berubah murung.
"Sudah-sudah ayo makannya di habiskan." Kata Hanan.
Tak ada percakapan lagi hingga makan malam pun selesai.
...***...
Setelah membereskan piring makanan Misela pun kembali ke kamarnya dan mengecek ponsel miliknya.
Ada beberapa pesan WhatsApp masuk salah satunya dari Dzakir.
"Temui saya besok pukul 9.00 am dengan pengajuan bab pendahuluan."
"What? Ini dosen super aneh banget aku kan baru aja ngajuin judul skripsi ku ini udah minta bab pendahuluan besok? Paling gak kan dikasih waktu dong satu minggu. Gila kali ya dia. Sabar sabar Misela ayo lembur ayo otak mu pasti bisa."
Dan Waktu cepat berlalu kini sudah menunjukkan pukul 11.45 pm tapi Misela masih harus menatap layar laptop nya untuk memenuhi permintaan Dzakir seorang dosen yang di anggap killer baginya.
Jari jemari Misela tak hentinya mengetik. Sesekali dia juga mengucek matanya yang lelah.
"Huftt ahirnya selesai juga dia pikir bisa seenaknya aja mentang-mentang dosen. Hah? jam 2.15 am selama itu aku buat bab pendahuluan doang bagaimana dengan bab seterusnya. Bismillah Misela kamu pasti bisa sekarang saatnya tidur."
Misela pun menutup laptop yang sudah mulai lowbet itu dan beberapa buku referensi yang sudah lecek karna bulak-balik dibuka lalu membaringkan tubuhnya di kasur.
...***...
Pagi pun menjelma. Sialnya pagi ini cuaca buruk. Hujan gerimis tak ada hentinya sejak subuh tadi sedang waktu terus berjalan. Misela harus berangkat sesegera mungkin supaya tak terlambat sampai ke kampus.
"Bunda mantel dimana ya? Kok gak ada di jok motor ku?" Misela sibuk mencari mantel hujan warna hijau miliknya yang biasanya selalu ada di jok motor.
__ADS_1
"Oiya kemaren di pake adik mu. Sebentar Bunda ambil di belakang."
"Dasar tukang pinjem." Misela melirik adiknya yang sudah sibuk dengan game online dan tak mendengarkan kekesalan Kaka nya itu.
Adelia kembali dengan membawa mantel hujan milik Misela.
"Kamu mau nekad Nak?" Tanya Adelia.
"Iya Bun Misela jam sembilan udah harus di kampus. Bunda naik travel biasanya kan ke Jakarta nya?"
"Iya nanti Bunda berangkat abis asar travelnya kesini."
"Bunda hati-hati ya Papi juga. De kamu jagain Bunda sama Papi lo ya." Misela mencolek lengan Aldian yang sibuk dengan gamenya itu.
"Iya Ka udah buruan berangkat sana keburu telat."
"Kok ngusir sih Lu."
"Cuma mengingat Kaka sayang hati-hati ya jangan lupa baca doa." Ledek Aldian.
"Iya bawel. Bunda Misela berangkat ya Misela kayaknya pulang sore banget jadi kemungkinan gak bisa bantuin Bunda nanti."
"Gak papa kamu harus hati-hati juga ya perasaan Bunda berat banget mau ninggalin kamu Nak."
"Bunda kayak baru pertama aja ke Jakarta tanpa aku. Hehe Misela berangkat ya Bunda." Misela pun mencium punggung tangan Adelia lalu berjalan menuju Hanan untuk bersalaman juga.
"Eh kamu udah hubungi Rangga belum Nak?"
"Iya Bunda nanti Misela hubungi jam segini dia pasti belum bangun. Kadang abis sholat subuh dia tidur lagi soalnya."
"Ya udah hati-hati ya Nak jalannya licin." Kata Hanan.
"Iya Pi jangan khawatir." Jawab Misela sambil memakai helm.
"Tenang aja Pah Kaka udah dapet julukan Valentina Rossi lo." Aldian kembali meledek Kaka nya.
"Hah? Siapa?" Hanan dan Adelia kaget.
"Udah Bun jangan di dengerin Misela berangkat ya assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Misela pun melajukan motor matic miliknya dan menuju kampus hijau kebanggaan nya.
Ditengah perjalanan menuju kampus karna jalanan yang licin truk di depan Misela yang hendak menyalip tiba-tiba oleng dan berhenti mendadak. Misela pun gugup dan kedua tangan langsung menekan rem depan belakang.
Sayang nya Misela tak melihat sebuah lubang yang tertutup genangan air hujan di depannya karna Misela mengerem dengan mendadak dan menabrak lubang tubuh Misela pun terpental dari motornya dan menabrak bagian belakang truk di depannya yang berhenti mendadak.
Ricuh warga pun tak terhindar. Banyak yang menghampiri Misela untuk menolong. Dua bapak-bapak sigap mengangkat tubuh Misela dengan hati-hati ke tempat teduh.
"Nak kamu baik-baik saja? Kamu bisa dengar suara saya?" Suara bapak itu sedikit berat bertanya di dekat telinga Misela.
Darah yang entah muncul dari mana mewarnai sebuah teras ruko kosong tempat Misela berbaring.
"Cepat panggil ambulance." Ucap seorang bapak yang sedang jongkok di samping Misela.
"Terlalu lama ayo naikan ke mobil saya saja Pak." Kata salah satu dari kerumunan orang-orang disana.
Misela pun dilarikan ke rumah sakit terdekat.
...########################...
...Hehehe sory ya baru up lagi setelah 10 hari. Banyak banget yang harus di urus.😁...
...Semoga suka dengan bab ini 😀...
...Oiya berhubungan Minggu kemarin give away pulsa gak terkontrol untuk Minggu ini aku bakal ambil 3 dukungan terbanyak ya. Jadi jangan lupa dukungan like komen dan bunga nya ya 😊...
__ADS_1