
Siang hari yang terik itu kini menjadi sejuk karna lantunan sholawat di masjid tempat Misela kuliah. Masjid itu di penuhi jama'ah para dosen mahasiswa dan mahasiswi kampus tersebut.
Setelah wiridan selesai Dzakir yang sejak tadi mengimami sholat Dzuhur dan sholawatan kini bersiap untuk memberikan kultum seperti biasanya.
Dzakir pun berdiri di mimbar.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabaraktuh.
Bismillahirrahmanirahim…
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin wassholatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursaliin sayyidina wamaulana Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in, amma ba’du.
Dalam kesempatan ini saya akan menyampaikan ceramah singkat tentang sabar.
Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan sebuah ketaatan kepada-Nya, menahan diri dari suatu perbuatan maksiat kepada-Nya dan menjaga dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah.
Setiap mukmin tentunya harus bersabar dalam menjalankan perintah Allah SWT meskipun terasa berat. Berbagai hal yang menghalangi dan menjadi rintangan setiap mukmin tidak menjadi alasan baginya untuk mengabaikan perintah Allah SWT. Begitu pula dengan perasaan ikhlas dalam menjalani ibadah karena Allah SWT.
Sebagai mana firman Allah SWT dalam QS. Al Baqarah ayat 153 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Tidak hanya itu saja, Allah SWT pun menjelaskan bahwa Ia mencintai hamba-Nya yang senantiasa bersabar sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. Ali Imrah ayat 146 berikut.
وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya, “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
Entah bagaimana pun kita menolak dan mengeluhkan ujian itu, tetap saja ia akan singgah di kehidupan kita semua.
Untuk itu, agar ujian ini bisa berbuah jadi pahala dan mengangkat derajat kita, maka jalan satu-satunya adalah dengan bersabar dan ikhlas menghadapinya.
Karena dengan bersabar maka ujian justru akan kita maknai sebagai anugerah. Dan itulah yang menjadi penyebab kebahagiaan kita hidup di dunia dan di akhirat.
Demikianlah ceramah singkat yang bisa saya sampaikan. Semoga apa yang telah saya sampaikan bisa bermanfaat bagi kita semua.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dan jamaah pun saling bersalaman dengan Dzakir kemudian berlalu.
Setelah mendengarkan kultum dari Dzakir hati Misela seolah menjadi tenang dan damai. Bagaimana pun selama ini dia banyak sekali mendapatkan ujian kesabaran.
Suara Dzakir dan ceramah singkat itu makin menguatkan hati Misela.
Itulah yang Misela butuhkan. Misela membutuhkan sosok penenang dalam hidupnya. Sosok yang selalu membuat nya nyaman di setiap harinya. Namun Misela masih belum menyadari sosok Dzakir. Padahal sudah sejak lama Dzakir mendekati Misela. Misela masih menganggap bahwa perasaan itu hanya kagum belakang.
__ADS_1
Selepas merapikan alat sholat nya Misela dan Erlina bergegas pulang. Tapi Dzakir menahan Misela keluar dari masjid itu.
"Assalamu'alaikum Misela." Sapa Dzakir.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Misela.
"Gue duluan ya Sel." Kata Erlina.
"Iya Er." jawab Misela.
"Kenapa kamu gak menghadap saya. Bukankah skripsi harus segera selesai." Tanya Dzakir.
"Maaf Pak. Saya akan menghadap Bapak jika sudah sampai bab lima. Untuk sementara kita jangan pernah bertemu dulu Pak."
"Kenapa dari kemarin kamu bilang begitu?"
"Saya hanya ingin gosip di kampus ini mereda Pak. Saya gak mau menimbulkan banyak fitnah."
"Maksudnya?"
"Saya permisi dulu Pak. Tidak baik kita bicara seperti ini. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dan tiba-tiba seorang gadis cantik masuk menyapa Dzakir.
Misela yang tadinya hendak pergi kini kakinya tertahan dan tatapannya pada Selyn.
"Selyn jaga ucapan mu. Kamu kok bisa disini? Dan apa maksud ucapan mu barusan?" Dzakir terkejut dengan ucapan Selyn barusan.
"Loh Mas Dzakir gimana sih satu kampus lagi gosipin dia kok Mas gak tau. Katanya nih ya Misela ini anak haram. Anak yang lahir di luar pernikahan. Terus nih katanya juga Misela itu cerai dari suaminya gara-gara suaminya miskin. Iihhh amit-amit deh punya temen kayak dia. Pasti bawa sial kan Mas? Sifat buruk begitu pasti nurun dari ibunya tuh." Jelas Selyn pada Dzakir sambil melirik-lirik ke arah Misela yang masih berdiri di ambang pintu.
"Jaga ucapan mu Selyn. Kenapa kamu bisa tau gosip itu?" Dzakir mulai curiga. Karna faktanya Selyn selalu berbuat onar.
Selyn Anastasia ada putri dari seorang Bupati di Lampung. Dia baru saja menyelesaikan gelar sarjana nya di Universitas ternama di Jakarta. Selyn dan Dzakir sebenarnya telah di jodohkan. Namun Dzakir selalu menghindari Selyn dengan alasan supaya saling mengenal satu sama lain. Tapi Selyn adalah gadis egois. Dia selalu berbuat hal tak mengenakan agar memenuhi kemauannya.
"Barusan aku tanya-tanya sama anak-anak sini Mas Dzakir. Karna aku tu ya curiga sama dia soalnya banyak orang yang menatap dia sini gitu. Benerkan sifat buruk ibunya nurun ke anaknya Mas. Iihh amit-amit deh." Selyn agak gugup dengan pertanyaan Dzakir.
Misela yang tak tahan dengan perkataan Selyn pun berlalu dari masjid itu. Misela ingin menangis sekeras mungkin tapi dia tahan sebisa mungkin karna masih di lingkungan kampus. Belum lagi barusan dia mendengarkan kultum Dzakir tentang kesabaran.
"Jadi untuk apa kamu kesini?" Tanya Dzakir kembali.
"Mas Dzakir aku tadi belajar masak nih. Jadi aku bawa makan siang buat Mas. Hehe di coba ya Mas."
"Maaf ya hari ini kan hari Kamis. Saya sedang puasa sunah. Jadi kamu pulang saja gak enak di lihat yang lain karna kamu bukan mahasiswa sini. Saya mau berangkat ngajar dulu. Kamu hati-hati ya di jalan. Assalamu'alaikum."
"Mas kok pergi gitu aja sih." Selyn menggerutu namun Dzakir tak menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Ihh sial banget sih gue. Kenapa lupa kalau ini hari Kamis sih."
Ahirnya Selyn pun pulang dengan menahan amarahnya. Tapi saat mobilnya akan melaju lagi-lagi Selyn melihat Misela sedang mengobrol dengan idola kampus yaitu Hilman.
"Gila ya tu janda bisa aja cari mangsa. Gue sih gak masalah sama siapa pun yang dia deketin tapi awas aja sampai berani dia deketin calon suami ku. Gue gak akan segan-segan buat kasih pelajaran."
Setelah bergunam Selyn pun pergi dari kampus hijau itu.
"Misela tunggu...!" Hilman berteriak menghentikan Misela yang akan keluar dari gerbang.
"Mau apa lagi Ka kan tadi aku udah bilang aku gak kenapa-kenapa." Misela sedikit kesal karna Hilman mengikuti nya sejak keluar masjid.
"Misela gimana tangan kanan kamu udah baikan?"
"Insyaallah udah Ka."
"Buat mukul orang udah kuat belum?"
"Maksud Ka Hilman apa?"
"Misela kamu kan sekarang tinggal di daerah sini kemarin aku denger banyak kejahatan yang terjadi akhir-akhir ini jadi jangan sampe kamu keluar malem sendirian ya."
"Iya Ka makasih udah ngingetin. Tapi aku harus segera pulang sebentar lagi aku ada kuliah."
"Tolong jaga diri ya Misela."
"Iya Ka assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Belum Misela melangkah jauh dari Hilman tibalah dua cewek menyapa Hilman.
"Eh Ka Hilman kok mau-maunya sih deket-deket dia. Ya ampun Ka masih banyak kali cewek yang mau sama Ka Hilman."
"Bener Ka jangan deket-deket dia banyak yang bilang dia itu bawa sial loh."
Hilman hanya tersenyum menanggapi mereka lalu pergi. Walau bagaimanapun Hilman adalah satu-satunya orang yang paling tau manis dan pahitnya kehidupan Misela jadi dia tak peduli dengan gosip yang sedang beredar.
Sedangkan Misela langsung mempercepat langkahnya berpura-pura tak mendengar ucapan kedua gadis tadi.
...#########################...
Hai Reader terima kasih banyak atas dukungan sampai di bab ini. Silahkan masukan dan sarannya kalau ada yang kurang pas ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan bunga plus vote nya ya 😍
..
__ADS_1