
Setelah makan malam dan melanjutkan obrolan Misela dan Dzakir pergi ke kamarnya.
"Sayang kamu tidur duluan ya Mas mau kerja dulu di kamar sebelah." Kata Dzakir sambil membelai rambut lurus Misela yang sedang duduk manis di kasur.
"Jangan tidur malem-malem ya Mas?" Sahut Misela.
"Mungkin akan larut malam sayang kerjaan Mas kebetulan banyak banget. Bisa jadi malah ketiduran di kamar sebelah. Soalnya kebiasaan seperti itu."
"Loh kok gitu aku gak ada temen tidur dong. Sekarang kebiasaan itu harus di rubah." Misela murung.
"Sayang bagus dong suami mu ini sibuk dengan kerjaannya."
"Kok bagus sih Mas kan aku kesepian."
"Kalau suami mu ini terus-menerus melihat istrinya yang begitu cantik dan menggemaskan begini mana mungkin kuat tanpa menyentuh mu sayang."
"Hehehe sabar ya Mas tahan aja beberapa hari lagi."
"Makanya itu lebih baik Mas ketiduran di meja kerja kan dari pada tidur disini. Mas mana kuat nahan wangi badan kamu sayang."
"Iihh Mas kayak gitu ah. Kalau gitu aku liatin Mas kerja aja."
"Kamu harus istirahat. Biar cepet sembuh dan menambah imun serta iman suami mu ini."
"Lagi-lagi imun dan iman maksudnya apa sih Mas."
"Sudah jangan di pikirkan. Kalau belum ngantuk tonton aja drakor kesayangan kamu ya."
"Ya udah deh suami memang maha benar dengan segala ucapannya."
"Tuh kan Mas gak bisa ini nahan pengen itu. Hehe ya udah Mas kerja dulu ya."
Misela hanya mengangguk dengan sedikit cemberut. Dzakir pun berjalan menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar Dzakir membalikkan badan melihat istrinya lagi.
"Sayang Mas udah pernah bilang belum?"
"Bilang apa Mas?"
"Bilang itu loh."
"Apa sih Mas jangan buat aku makin makin sebel nih."
"I love you istri ku. Tidur nyenyak ya. Assalamu'alaikum."
Misela senyum-senyum malu. Pasalnya Dzakir memang belum pernah mengatakan itu sebelum dan setelah mereka menikah beberapa hari yang lalu.
"Kok gak di jawab sih?"
"Wa'alaikumsalam. I love you too hubby."
Dzakir pun keluar dari kamar itu dan Misela memilih untuk tidur.
Alarm di handphone Misela telah bergetar di meja dekat tempat tidur nya. Itu tandanya waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Misela pun terbangun dan hendak melakukan sholat malam. Tapi Misela tak mendapati suaminya tidur di kamar.
"Jadi Mas Dzakir bener-bener ketiduran di meja kerjanya? Biar aku bangunin buat sholat malam berjamaah."
Dengan hati-hati dan pelan-pelan Misela turun dari tempat tidurnya karna perut yang tadinya tak sakit kini terasa sakit bahkan telapak tangan nya juga serasa gatal bahkan nyeri cenut-cenut.
__ADS_1
"Aw luka nya sekarang kerasa banget sakitnya. Berarti anestesi nya udah bener-bener ilang. Hm tapi aku harus kuat. Cuma luka seperti ini gak boleh memutuskan Istiqomah ku untuk sholat malam. Bismillah." Ahirnya Misela memaksa kan diri untuk bangun.
Di ambilnya jilbab instan untuk menutupi rambutnya lalu berjalan menuju ruang kerja Dzakir. Selama disini Misela sama sekali belum pernah masuk ke ruang kerja Dzakir. Dengan pelannya Misela membuka pintu dan benar saja Misela melihat suaminya itu sedang tidur di meja dengan tangan yang jadi bantalnya.
Dilihatnya sekeliling ruangannya itu. Sangat rapi dan banyak buku-buku yang tersusun sempurna di tempatnya. Ruangannya cukup luas bahkan ada sofa yang sangat nyaman juga untuk di tiduri tapi Dzakir malah memilih untuk tidur di atas meja.
Misela melangkah mendekati suaminya. Betapa langsung tersenyum dengan lebarnya Misela saat melihat sebuah foto dengan bingkai kecil yang sedang di pegang oleh Dzakir.
Itu foto dirinya yang memakai jilbab segi empat warna lilac. Disana telihat jelas Misela yang tersenyum dengan gaya candid. Misela bahkan tak ingat sedang apa dan kapan hal itu.
"Kapan dia memiliki poto ku ini? Mas Dzakir benar-benar memendam cinta nya pada ku sejak lama. Begitu kamu sangat sabar dan setia sekali suami ku."
Di belainya pipi Dzakir agar Dzakir terbangun. Namun Dzakir masih belum bangun. Ahirnya Misela mencium pipinya.
Dzakir pun membuka mata dan mengucek ya agar retina matanya bisa memandang dengan sempurna.
"Sayang kamu kok disini?" Tanya Dzakir sembari menguap. "Maaf ya Mas bener-bener ketiduran disini. Kamu pasti marah ya?" Dzakir pun berdiri dan mengelus ujung kepala Misela.
Misela yang begitu terharu karna melihat potonya tadi langsung memeluk Dzakir dengan sangat erat.
"Mas aku benar-benar wanita paling beruntung di dunia ini karna mempunyai suami seperti mu."
"Loh kok tiba-tiba bilang begitu?"
Misela lalu mendongak memandang wajah suaminya dan masih tetap memeluk nya.
"Em emang gak boleh?"
"Ya boleh sih."
"Kok pake sih?"
"Jam tiga pagi saatnya sholat tahajud berjamaah."
"Masyaallah istri ku. Oke kita sholat tahajud."
Misela masih tak mau melepaskan pelukannya.
"Sayang jangan gitu dong. Kamu bisa bangunin dedek kecil yang sedang menahan untuk masuk kamar."
"Dedek kecil siapa Mas?"
"Udah ayo ah keburu subuh nanti."
"Gendong."
"Masyaallah istri ku ini benar-benar sedang menggoda iman ku."
Ahirnya Misela di bopong sampai kamar tidur mereka.
"Aku berat gak Mas?"
"Beratan batu bata."
"Hehe ya udah aku wudhu duluan ya."
"Iya sayang."
__ADS_1
_____________
"Sayang sini buka perban yang di perut. Dari kemarin belum di gantikan?" Dzakir membawa kotak p3k dan duduk di sebelah Misela.
Misela pun menurut dan membuka sebagai bajunya.
"Mas pelan-pelan sekarang kerasa banget sakitnya."
"Tuh kan makanya kamu jangan banyak gerak dulu ya. Banyakin tidur aja sampe lukanya bener-bener kering."
"Iya Mas padahal gak lebar tapi kok sakit banget ya."
"Ya udah Mas olesin obatnya ya kamu tahan sebentar."
Dengan telaten Dzakir membuka perban di perut Misela dan mengolesinya dengan obat merah supaya cepat kering.
"Aduh duh Mas perih banget."
"Iya tahan sebentar doang kok perihnya."
"Iya Mas."
Misela hanya bisa menggigit bibirnya menahan rasa sakit dan perih di bagian perut yang sedang di obati Dzakir.
"Nah sudah selesai. Kata dokter tiap pagi harus di ganti perban nya sampai lukanya bener-bener kering. Jadi kamu jangan selangkah pun turun dari tempat tidur ini ya."
"Kalau kebelet pipis gimana Mas?"
"Ya pipislah."
"Kalau mau sholat gimana?"
"Ya tinggal wudhu."
"Nah berarti boleh dong turun dari tempat tidur "
"Dasar kamu ya bener-bener minta di cubit pipinya."
"Hehe."
"Nanti biar Umi atau Bik Sum yang nganter sarapan. Maaf ya harus Mas tinggal. Mas ada jadwal seminar di Metro pagi ini. Siang Mas langsung ngajar dua kelas di kampus jadi Mas bakal pulang sore lagi. Kamu harus jaga diri harus dengerin kalau di suruh istirahat ya diem istirahat ya biar cepet sembuh."
"Iya iya bawel banget sih ustadz Dzakir."
"Misela jangan mancing-mancing deh."
"Mancing apa sih Pak dosen."
Tanpa pikir panjang lagi Dzakir langsung menyambar bibir Misela tanpa ampun. Misela dengan senang hati membalas ciuman Dzakir. Rasa yang dia tahan kini rasanya ingin sekali tersalurkan. Dzakir pun membuka jilbab Misela. Menelusuri setiap jengkal leher Misela yang mulus dan meninggalkan beberapa jejak kiss mark disana.
Dering ponsel Dzakir membuyarkan pikiran mereka yang sudah hampir tiba di angkasa.
"Duh siapa sih pagi-pagi buta begini telpon? Sayang Mas langsung berangkat ya. Inget pesan Mas jangan lupa makan dan minum obatnya dengan semangat ya. Mas pergi dulu ini dari pemilik seminarnya. hehe assalamu'alaikum istri ku i love you emuah."
Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Misela.
"Wa'alaikumsalam hati-hati ya Mas."
__ADS_1
...##############...