Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
PECAH 2 EXTRA PART Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

"Aduhh Ka Malik jangan belisik dong Ka, Mikka mau menghapal nama dulu di cekolah," Mikka yang sedang di membaca buku dari sekolah barunya merasa terganggu dengan ocehan Malik karena protes pada pengasuhnya.


Malik menoleh pada Mikka.


"Apa sih Dek, nanti juga kamu akan hafal kalau setiap hari bertemu dengan mereka. Gak perlu repot-repot menghafal Dek," cerca Malik.


Sedangkan Mecca tak kalah ribut dengan sang bibik karena tak mau pakai hijab.


"Bibik, Mecca udah bilang kan kalau Mecca gak mau pake itu, pokoknya gak mau itu ya gak mau bik." Mecca terus saja berteriak.


"Tapi non, nanti Mommy sama Daddy marah non, terus nona gak boleh sekolah gimana coba?" bibi Sumi sudah kehabisan kata-kata.


"Ka Mecca, kata mommy kalo ndak mau pake hijab nanti dosa tau," Mikka menimpa.


"Kamu kan tau dek rambut yg Kaka ini bagus, lembut, lurus dan wangi. Kalau kakak pake itu nanti rambut Kaka jadi lepek dan berkeringat, gerah, rusak dan bau juga ih gak ngerti deh," jawab Mecca dengan mengibaskan rambutnya ke belakang.


"Kalo gitu nanti pulang sekolah kelamas Ka," sahut Mikka lagi.


"Ih udah ah diem aja kamu mah Dek,"


Sedangkan Malik juga sedang bertengkar dengan Bik Diah karena tak mau memakai dasi berbentuk kupu-kupu.


"Tapi ini seragam sekolah nya begini Den, kalau gak mau make gak boleh masuk kelas gimana?" rayu Bik Diah.


"Malik tetep gak mau Bik, udah kayak cewek aja dasinya," jawab Malik.


Tak lama dari itu Misela menghampiri kamar anak-anaknya. Misela menyapu pandangan ke semua arah kamar itu.


"Loh ini kok cuma Mikka aja yang udah siap? Malik, Mecca kenapa kalian belum siap? Harusnya kan Kakak menjadi contoh, bukan adik yang di contoh dong," seru Misela menghampiri ketiga anaknya.


"Mommy Ka Mecca ndak mau pake hijab, telus Ka Malik gak mau pake dasi, helan deh sama meleka," jawab Mikka dengan polosnya.


Misela menghampiri Mecca dengan membawa hijab yang harusnya dia pakai.


"Sayang, sudah mommy bilang kan, wanita itu wajib pakai penutup kepala yang kita sebut dengan hijab. Mau apapun alasannya itu sudah wajib sayang, kan Mecca tau kalau Mommy juga pakai hijab terus." rayu Misela pada Mecca.


"Mommy, Mecca pokoknya gak mau pakai hijab, gerah tau. Mommy kan tau Mecca gak suka, masih aja di paksa. Terus nanti rambut Mecca ini rusak gimana? Kan Mecca masih kecil jadi belum wajib kan?" bela Mecca.


"Sayang, menanam sebuah kebaikan itu harus di mulai sejak kecil supaya nanti waktu Mecca sudah besar Mecca jadi terbiasa dengan kebaikan itu sendiri. Gak ada salahnya mulai sesuatu yang baik sejak kita kecil." kata Misela lagi.

__ADS_1


"Mommy, pokoknya Mecca sekolahnya gak mau pake hijab ya. Kemaren Mecca tanya Bu Firda katanya gak pake juga gak papa kok. Jadi gak masalah Mommy..." sahut Mecca dengan nada sedikit kesal.


Misela kehabisan kata-kata lagi. Misela pun menghela nafas.


"Baiklah, dan Malik jangan merengek seperti Mecca, cepat pakai dasinya. Kita sudah hampir telat ini. Sarapan kalian sudah siap, Mommy tunggu di bawah." Misela pun berlalu.


"Lasain di omelin Mommy hihihi, Makanya jadi anak itu nulut sama olang tua. Yuk Bik kita tulun dulu. Nanti Daddy pasti malah juga hihihi." kata Mikka kemudian berlalu menyusul Misela.


Mecca kemudian memakai sepatu dan ikut turun. Begitu juga dengan Malik, setelah memakai dasi dan sepatu, Malik juga ikut turun.


Dzakir dan Misela sudah menunggu di meja makan. Satu persatu anak-anak duduk di kursinya masing-masing.


Dzakir menatap wajah anak-anaknya. Terlihat raut wajah Mecca dan Malik yang cemberut, berbeda dengan Mikka yang terlihat bahagia.


"Loh, Ka Malik dan Ka Mecca kenapa? Kok mukanya di tekuk begitu? Harusnya hari pertama sekolah kan bahagia bakal ketemu sama teman baru." tanya Dzakir sambil menoleh bergantian pada Malik dan Mecca.


"Biasanya lah Dad, jangan di bahas, nanti gak kelar-kelar, ayo sarapan nya di abisin, takut telat." kata Misela memberikan roti oles selai pada anak-anaknya.


"Mecca gak mau pake hijab lagi?" tanya Dzakir kembali.


Mecca hanya mengangguk sambil makan menu sarapannya.


Sarapan pun selesai, Dzakir mengantar anak-anaknya di hari pertama sekolah, tentu saja Misela juga ikut mengantar, namun hanya Bik Diah saja pengasuh anak-anak yang ikut.


Tiba di sekolah.


Para orang tua saling tegur sapa di halaman sekolah. Dari penampilan mereka, terlihat sekali kalau mereka orang terpandang. Namun Dzakir memilih cuek dan tak turun dari mobil karena harus buru-buru ke kampus hijau.


Malik, Mecca dan Mikka berjalan masuk di ikuti oleh Misela dan juga Bik Diah.


Di depan kelas, triple M sudah di sambut hangat oleh Bu Firda.


"Assalamu'alaikum," sapa Bu Firda.


"Wa'alaikumsalam," jawab triple M kompak lalu bersalaman.


"Cantik dan ganteng, ayo masuk, pilih tempat duduk yang nyaman ya." kata Bu Firda sambil menunjukkan tempat duduk yang masih kosong.


Misela dan Bik Diah hanya mengintip dari jendela.

__ADS_1


Kelas pun di mulai. Satu persatu anak-anak itu mengenalkan dirinya masing-masing di hadapan semua temannya. Ada dua puluh lima siswa siswi di kelas itu. Dan ada tiga guru yang menemani mereka di kelas. Kelas cukup kondusif karena para murid masih malu-malu.


Di luar kelas, Misela duduk di kursi dan sibuk dengan ponselnya. Ada satu wali murid yang menghampiri Misela karena ada kursi kosong di sebelahnya.


"Hai," sapa ibu itu.


Ibu itu berpenampilan hijab stylish di padu kemeja dan celana kulot dengan tas branded.


"Assalamu'alaikum Bu," sapa Misela.


"Wa'alaikumsalam Bu, kenalkan saya Arumi Djoyo Ningrat." jawab ibu itu.


"Saya Misela Bu," Misela tersenyum lebar lalu kembali fokus pada handphonenya.


"Eh anak ibu yang mana? Apa Ibu bukan asli orang sini?"


"Iya Bu, saya tinggal di Punggur, anak saya itu tu yang sedang berdiri memperkenalkan diri." jawab Misela sambil menoleh ke jendela arah kelas anaknya.


"Wah ganteng ya, tapi kayaknya kok jutek gitu wajahnya hihihi,"


Perkataan Arumi tak di anggap.


"Eh Bu, suaminya kerja apa?"


"Dosen Bu,"


"O,"


Bu Arumi hendak bertanya kembali, namun handphone nya berdering. Ahirnya Bu Arumi menjauh dari Misela.


"Kayaknya horang kaya baru ya Bu, songong banget," Bik Diah bersuara pelan.


"Hush, gak boleh gitu."


...###################...


Hai, kembali lagi 😆


Maaf ya lama up nya, author banyak keperluan.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😊


__ADS_2