
Pernikahan dalam Islam merupakan sunnah Rasulullah. Pelaku pernikahan mendapatkan rahmat dan bekal keberkahan dalam akad yang diucapkan dan dijanjikan bersama. Namun di balik itu, esensi pernikahan sejatinya adalah sebuah ketenangan, kenyamanan, dan kecukupan antara satu dengan lainnya.
Dalam sebuah pernikahan kesetiaan itu sangatlah mahal. Mencintai pasangan dan menerima apapun keadaannya memang hal yang tak mudah untuk sebagian orang. Bahkan banyak dari mereka yang meninggal kan pasangnya karna melihat yang di kira lebih baik.
Mudzakir Alfaruq, sosok laki-laki tampan, kaya, berwibawa, cerdas bahkan semua julukan cocok untuk sosok Dzakir. Dia yang tergila-gila pada Misela Metina, wanita yang sudah berstatus janda namun masih perawan. Misela satu-satunya wanita yang berhasil menaklukkan hati Dzakir.
Bagi Dzakir setia itu segalanya. Tak kan ada yang bisa menggantikan posisi Misela di hati Dzakir. Begitu juga dengan Misela. Bagi Misela Dzakir adalah laki-laki yang sangat berharga. Sejak pernikahan nya dengan Dzakir, Misela selalu merasa bahagia. Bahkan saat dirinya sakit, Dzakir tak sedetikpun meninggalkan dirinya. Kebahagiaan dalam rumah tangga selalu ada ujiannya. Tapi Dzakir tetap teguh dengan iman dan pendirian nya.
❤️
"Huueeekkk... Hueeekkkk... Uhuukkk... Hueeekkkk...uhuukk..."
Lagi-lagi Dzakir mual di saat akan menggosok gigi. Bahkan kali ini bau sabun mandi Dzakir juga merasa mual dan muntah. Sepertinya tebakan Misela benar kalau Dzakir bercinta di malam hari dengannya maka dia akan mual di pagi hari. 😂✌️
"Mas... Sabar ya Mas...!" Misela memijat bahu dan leher Dzakir yang sedang duduk terkapar di depan kloset. "Masih mual Mas?" Dzakir hanya mampu mengangguk.
Karna Dzakir masih ingin duduk di dekat kloset Misela meninggalkan dirinya. Dzakir mengurungkan dirinya untuk mandi. Tapi karna harus ibadah malam Dzakir mandi tanpa gosok gigi dan memakai sabun.
Misela lalu turun dan membuatkan teh hangat untuk Dzakir.
"Mas masih mual? Aku buatin teh hangat ini." Misela mengetuk pintu kamar mandi. Dzakir pun keluar dari kamar mandi dengan sangat lemas.
"Sayang, pusing banget. Aduh rasanya gak bisa sholat ini. Kepala rasanya di tarik pake beton." Keluh Dzakir dan berjalan sempoyongan menuju tempat tidur.
Misela mengikuti Dzakir dan hendak memijat kakinya.
"Mas udah wudhu sayang." Dzakir masih terdengar lemas.
"Katanya jangan malas walaupun dan bagaimana pun keadaan kita." Misela meledek.
"Sayang, kamu gak ngerasain sih." Keluh Dzakir lagi.
"Katanya untung aja kamu Mas yang nyidam begini. Kalau sampe aku yang ngerasain..."
"Iya sayang iya maaf ya. Haduh Mas benar-benar lemes."
"Hehe... Ini minum teh hangat dulu Mas. Biar enakan perutnya."
Dzakir pun memaksa bangun walau rasa kepalanya berat untuk diangkat. Pelan dan perlahan di sruput nya teh hangat itu hingga terasa sampai ke dalam perut Dzakir.
"Gimana Mas?"
"Mending ini. Kamu udah wudhu sayang? Ayo kita cepet-cepet aja sholatnya abis itu tidur lagi aja ya lumayan."
"Kalau gitu aku wudhu dulu Mas."
Dzakir pun bersiap-siap dan berganti baju. Setelah Misela wudhu Dzakir mengimami sholat dan berdzikir hanya sebentar saja lalu kembali tidur hingga waktu subuh tiba. Berbeda dengan Misela yang masih melanjutkan dzikir nya dan tadarus Alquran sambil menunggu waktu subuh dan sesekali melirik pada suaminya yang tertidur pulas.
❤️
__ADS_1
Pagi setelah sholat subuh Dzakir kembali melanjutkan tidurnya selama satu jam. Setelah itu Dzakir kembali mandi dan kembali mual saat akan menggosok giginya namun tetap dia paksa.
Dzakir sudah bersiap dengan kemeja dan jas kerjanya. Misela lalu memakaikan dasi pada Dzakir.
"Mas yakin mau kerja?"
"Kamu kan tau kalau udah sampe kampus jadi sehat lagi."
"Emh kalau kenapa-kenapa bilang ya Mas. Aku khawatir."
"Iya sayang. Kamu jangan mikir apa-apa ya."
"Kan aku udah bilang Mas jangan nengokin anak kamu dulu, kayaknya dia gak suka di ganggu hehe."
Kata-kata Misela membuat suaminya gemas. Dzakir langsung mencubit kedua pipi Misela.
"Terus Mas harus libur gitu? Makin lemes Mas nanti. Huh kamu meledeknya jangan begitu. Bisa-bisa kamu Mas serang."
"Emang kuat Mas hehe...!"
"Kalau urusan begitu mah pasti kuat sayang."
"Huh... Udah sana berangkat biar kekuatan nya kembali lagi. Jangan lupa bawa jajan."
"Dasar istri bawel. Katanya..."
"Udah jangan ikut bawel sana berangkat."
"Iya... Udah buruan berangkat."
"Tega banget suami sendiri di usir."
"Assalamu'alaikum Mas Dzakir."
"Wa'alaikumsalam istri ku Misela."
"Hati-hati ya Mas, apa gak pakai supir aja?"
"Engga sayang gak papa kok. Sini cium dulu."
"Cium terus."
"Gak mau?"
"Ya mau lah hehe."
"Emuah."
____________
__ADS_1
Hari ini jadi hari sibuk untuk Dzakir. Sebagai ketua rektorat baru Dzakir banyak yang harus Dzakir kerjakan termasuk mengurus masalah pembaharuan akreditasi kampus hijau itu.
Untung nya kondisi Dzakir memang menjadi sehat saat tiba di kampus. Dzakir langsung memesan soto ayam plus nasi dan teh hangat untuk nya sarapan karna perutnya sudah berisik sejak di jalan tadi.
Jika ditanya kok bisa nyidam seperti itu? Silahkan tanya pada rumput yang bergoyang. 😂✌️
"Assalamu'alaikum Pak Dzakir." Sapa Pak Reihan.
"Wa'alaikumsalam Pak Reihan, silahkan masuk."
Kedua pria itu pun berbincang. Karena Dzakir lapar, jadi dia mendengarkan pembahasan Pak Reihan sambil sarapan. Namun kalimat demi kalimat yang di jelas kan pak Reihan membuat Dzakir tersedak.
"Apa?"
"Iya Pak, dan ini gak bisa di wakilkan."
"Bukankah harusnya bisa Pak Reihan?"
Pak Reihan menggeleng kan kepalanya. Dzakir berpikir sejenak dan berdehem karna tenggorokan nya masih sedikit sakit. Setelah minum Dzakir melahap lagi sarapan nya.
"Untuk berapa hari saya disana?"
"Tergantung Pak Dzakir bisa merayu seberapa cepat para petinggi itu hehe."
"Astaghfirullah." Dzakir mengelus dadanya.
"Siapa yang akan menemani saya?"
"Bu Mina Sumitra Pak."
"Hah? Sama Bu Mina? Berdua? Gak bisa sama anda saja Pak?"
"Bu Mina itu lebih berpengalaman Pak dalam urusan ini. Dia orang yang tepat untuk pekerjaan ini."
"Astaghfirullah Pak Reihan, tega banget tegaaa bangeeettty."
"Hehe di luar wewenang itu Pak."
"Baiklah, atur saja. Saya terima beres."
"Siap Pak, sudah saya atur. Nanti saya infokan kembali lewat WhatsApp. Saya permisi dulu Pak assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Dzakir mendapatkan tugas untuk pergi ke Tanggerang. Tugas yang kebetulan tak bisa di wakilkan kepada wakilnya yaitu Pak Reihan. Yang membuat Dzakir kepikiran adalah perginya bersama seorang gadis. Gadis yang terkenal cantik di kalangan dosen. Bukan hanya cantik, tapi kecerdasan nya di atas rata-rata.
Mina Sumitra adalah mantan mahasiswi jebolan akademi ternama di kota Tangerang. Makanya orang yang tepat untuk pergi dengan Dzakir adalah Mina.
"Apa aku harus bawa Misela ya? Tapi sebaiknya aku konsultasi dulu sama dokter karna usia kandungan nya masih menghawatirkan."
__ADS_1
...#############...