Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 41 Malam Syahdu


__ADS_3

Selepas menjalankan ibadah sholat sunah Misela langsung membereskan peralatan sholat dan meletakkan nya di dalam lemari. Dzakir sudah duduk di atas kasur dengan senyuman lebar di bibirnya dan melambai-lambai pada Misela.


Dengan malu-malu Misela pun menghampiri Dzakir dan duduk bersebelahan.


"Emh Mas!" Kata Misela masih malu-malu.


"Iya sayang."


"Mas mau minta itu sekarang ya?"


"Itu apa nih?"


"Ya itu loh maksudnya mau yang itu. Kok Mas pura-pura gitu sih. Ih aku kan malu."


Misela *******-***** kedua tangannya dan menggigit bibirnya. Dzakir paham maksud Misela lalu memeluk Misela dan membelai rambutnya yang terurai.


"Misela istri ku Mas tau kamu pasti belum siap untuk melakukan nya. Mas tau kamu pasti masih punya rasa trauma atas kejadian yang lalu. Mas tidak akan memaksa mu untuk melakukan kewajiban mu sekarang juga. Mas akan sabar menunggu mu sayang. Kamu tau kan suami mu ini pandai dalam hal sabar."


Misela malah menitikkan air matanya.


"Begitu tulusnya rasa cinta mu pada ku Mas? Aku sangat terharu."


"Mas tidak akan memaksa kan apapun pada mu sayang. Kalau kamu tidak mau dan tidak suka katakan lah dengan jujur Mas akan menerima nya asalkan kamu bahagia. Mas tidak akan sedikit pun menyakiti mu sayang. Itu janji Mas pada mu sayang."


Misela melepaskan pelukan Dzakir. Tangannya meraba pipi Dzakir yang mulus tanpa satu jerawat pun. Dzakir pun memejamkan matanya merasakan halusnya telapak tangan Misela. Tapi tiba-tiba bibirnya hangat karna Misela sedang menc*um bibirnya.


Dzakir tak membuka mata dan Misela tak melepaskan c*uman itu. Karna terbawa suasana Dzakir pun membalas c*uman yang Misela berikan.


Misela mengarah kan Dzakir untuk memberikan lebih dari sekedar c*uman. Dzakir mengerti kode dari Misela dan membaringkan tubuh Misela di atas kasur.


"Kamu yakin sayang mau melakukan nya sekarang?" Tanya Dzakir sambil membelai rambut yang menutupi wajah Misela.


Misela tak menjawab dia hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Dzakir.


"Tapi Mas aku boleh tanya sesuatu?"


"Boleh sayang. Apa itu?"


"Apa yang membuat mu begitu sabar menunggu ku Mas. Dan Mas bilang sudah menyukai ku sejak di pesantren?"


"Kamu adalah sebaik-baiknya perhiasan di dunia sayang."


"Aku tak sesholehan itu Mas."


"Bukankah kamu selalu menjaga ibadah mu dengan baik, menutup aurat dan menjaga pandangan mu. Bukankah itu sudah cukup untuk menjadikan dirimu sebaik-baiknya perhiasan di dunia ini?"


"Benarkah seperti itu Mas? Tapi aku selalu merasa kalau aku belum sempurna sebagai seorang wanita."


"Untuk itulah aku menikahi mu Misela. Aku akan menyempurnakan semuanya."


"Terima kasih Mas."


"Boleh Mas mulai sayang?"


Misela mengangguk. Dzakir sangat rakus melahap bibir Misela. Perlahan tangannya mulai menjelajahi dua gundukan yang begitu kenyal dan di remasnya dengan lembut sambil terus melahap bibir Misela.

__ADS_1


Dzakir menelusuri bagian leher Misela dan meninggalkan beberapa jejak merah disana.


Dzakir sungguh melakukannya dengan sangat lembut hingga membuat Misela merasakan rasa yang sangat aneh di tubuhnya dan keluarlah suara manja Misela.


"Aaaaaaa."


"Emmbbbhhh."


Dibalik selimut Dzakir dan Misela sudah tak mengenakan sehelai kain pun. Tibalah saatnya Dzakir membobol tembok Cina yang masih kokoh itu.


"Sayang siap ya? Mungkin akan sakit dan perih tapi cuma sebentar."


Misela mengangguk.


"Eemmbhh."


Dzakir berhasil masuk dari pertahanan tembok Cina yang kokoh itu. Bahkan ada sebuah aliran hangat yang Dzakir rasakan. Dzakir tersenyum dan memulai aksi panasnya.


Skip skip jangan minta lebih dari ini. 😂✌️


__________


Jam dinding di kamar Dzakir sudah menunjukan pukul dua dini hari. Misela terbangun dari tidurnya. Misela mengucek kedua matanya dan menatap sosok laki-laki yang masih tertidur pulas itu.


"Ya Allah terima kasih telah mengirimkan laki-laki yang begitu baik ini. Berikan lah kesehatan dan lindungilah dia dari hal-hal buruk." Ucap Misela lirih.


Sayangnya suara Misela ternyata malah membangun kan Dzakir.


"Aamiin."


"Loh Mas udah bangun?" Misela menutup mulutnya dengan selimut yang dipakainya.


Misela menggelengkan kepalanya. Dzakir mendekati wajah Misela.


"Jangan Mas." Suara Misela di balik selimut.


"Kenapa sih semalem aja gak malu-malu loh." Dzakir malah meledek Misela.


"Aku masih bau jigong. Gak pede Mas." Jawab Misela.


Ucapan Misela malah membuat Dzakir tertawa.


"Hahaha aku kira kenapa ya ampun Misela kamu benar-benar gemesin."


Seolah tak peduli dengan ucapan Misela Dzakir mendekati Misela dan merayunya kembali.


"Ayo kita lakukan lagi sayang. Suami mu ini kecanduan tubuh mu."


Dan sekali lagi mereka melakukan adegan haredang itu lalu menjalankan solat malam dan membaca Alquran hingga waktu sholat subuh tiba.


____________


Sinar matahari sudah mulai menerangi. Rasa hangatnya sudah bisa di rasakan. Misela merasa badannya begitu pegal-pegal terutama kakinya karna kemaren terlalu lama menggunakan sepatu high heels belum lagi paha dan bagian intimnya masih sangat sakit.


Misela hendak bangun untuk mengambil jilbabnya dan turun kebawah menemui mertua nya.

__ADS_1


"Aduhh... Rasanya kok begini amat ya. Padahal Mas Dzakir gak begitu kasar melakukannya. Tapi kenapa badan ku rasanya tak karuan begini." Keluh Misela dan celingukan bingung apa yang harus dia lakukan.


Dzakir tak ada di kamarnya. Misela benar-benar bingung karna seluruh badannya terasa gak nyaman dan malas untuk bangun dari tempat tidur.


"Mas Dzakir kemana sih kok gak balik-balik."


Misela membuang nafas kasar dan memaksakan diri turun dari ranjangnya untuk keluar kamar. Belum Misela bangkit Dzakir sudah membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Misela yang hampir jatuh. Dengan sigap Dzakir segera menghampiri Misela.


"Kamu kenapa sayang? Gak enak badan ya?" Dzakir memegang kening Misela namun tak demam.


"Iya Mas tubuh ku terasa remuk gini. Hawanya capek banget kaki ku juga Mas pegel banget mungkin terlalu lama pake high heels kemarin."


"Maafin Mas ya semalam padahal Mas bilang mau mijitin kaki kamu sayang malah maksa kamu melayani ku. Maaf ya sayang maaf banget."


"Kamu kenapa sih Mas gitu amat. Aku cuma pegal-pegal Mas gak perlu Mas minta maaf."


"Iya tapi karena salah Mas juga kamu jadi begini."


"Sudahlah Mas tolong bilang Umi sama Abi ya Aku belum bisa turun menemui mereka. Maaf ya aku gak bisa buatin kamu sarapan."


"Gak papa sayang sudah banyak asisten disini jadi kamu gak perlu repot-repot dan capek."


"Tetep aja Mas aku pengen kamu merasakan masakan ku."


"Iya sayang aku turun dulu ya kamu istirahat aja. Kamu mau minum teh anget biar di anter sama Bik Sum nanti."


"Boleh Mas. Makasih ya."


Cup. Dzakir mencium kening Misela dan pergi keluar kamar.


Dzakir menemui Umi nya yang sedang membantu art nya menyiapkan sarapan di meja makan.


"Loh Nak Misela mana?" Tanya Umi.


"Itu Umi Misela gak enak badan katanya, kakinya juga pegel-pegel karna kelamaan pake sepatu tinggi kemarin." Jawab Dzakir.


"Kamu main berapa kali semalem sama dia sampe dia kecapekan?" Tanya Abi.


"Abi apaan sih tanyanya gitu amat kan Dzakir jadi malu." Jawab Dzakir sambil duduk di meja makan.


"Hahaha Abi kan pernah muda juga hahaha." Sahut Abi.


"Bik Sum tolong buatin teh anget ya nanti anterin ke kamar." Kata Dzakir pada Bik Sum salah satu art di rumahnya.


"Biar Umi saja Nak." Jawab Umi.


"Jangan Umi nanti Misela malu." Kata Dzakir.


"Gak papa Umi pengen ngobrol sama menantu Umi kok." Sahut Umi.


"Iya Umi terserah Umi saja tapi Dzakir mohon jangan bicarakan hal yang engga-engga ya." Kata Dzakir.


"Iya Umi jangan buat menantu kita gak betah di rumah ini." Kata Abi.


"Kalian kenapa sih pada curiga gitu sama Umi. Sudah lah Umi mau ke kamar Misela dulu."

__ADS_1


Umi pun menaiki tangga dan pergi ke kamar menemui misela sedangkan Pak Surya dan Dzakir menikmati teh hangat di meja makan.


...####################...


__ADS_2