Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 65 Hal Aneh


__ADS_3

Tiga bulan berlalu begitu cepat bagi Dzakir. Karna kepergiannya selama satu tahun lebih, banyak sekali hal yang harus di bereskan. Jadi Dzakir sangat sibuk selama tiga bulan itu dan hanya bisa berdua dengan Misela di malam hari. Itu juga kalau Misela belum tidur. Jika Misela sudah tidur dia melanjutkan pekerjaan nya di ruang kerja dan ketiduran disana.


Berbanding terbalik dengan Dzakir, Misela melewati tiga bulan itu dengan sangat lama. Karna dia hanya melakukan hal kecil dan memainkan ponselnya saja. Dzakir melarang saat Misela akan membantu Bik Sum melakukan pekerjaan art. Jika dia tak menurut maka Bik Sum dan Bik Sri akan di pecat dan membiarkan Misela tinggal sendiri di rumahnya itu.


Tentu saja ancaman Dzakir berhasil membuat Misela menuruti apa yang di dikatakan suaminya itu.


Namun beberapa hari ini Dzakir banyak membeli hewan untuk di pelihara. Pertama kucing Persia lalu karna lucu besoknya dia membeli kucing anggora. Kemudian Dzakir membeli burung yang di gantung di belakang rumah dan kicauan nya selalu membuat Dzakir tersenyum.


Setiap hari Misela hanya sibuk dengan hewan peliharaan Dzakir. Karna bagi dia itu juga termasuk hal yang menyenangkan.


Pagi ini sama seperti pagi biasanya. Selepas menjalankan sholat subuh Dzakir berolahraga bersama Misela di sekeliling kompleks. Berlari-lari kecil dan saling bercanda. Namun hal tersebut tak lebih dari dua puluh menit saja karna Dzakir harus bersiap untuk bekerja.


"Sayang, Mas berangkat dulu ya. Nanti Mas usahakan pulang siang Mas pengen banget ke time zone."


"Hah? Time zone? Kok tiba-tiba pengen kesana Mas? Emang gak malu? Kan kita belum punya anak Mas."


"Kenapa malu? Kan yang penting bayar. Gak tau kenapa tapi rasanya bener-bener pengen banget main-main disana sayang. Pokoknya nanti akan Mas usahakan ya. Kamu tunggu Mas pulang."


"Iya iya tuan maha benar. Setiap hari juga aku hanya bisa menunggu mu pulang dengan santai di rumah yang mewah ini."


"Jangan cemberut dong. Kan jadi tambah cantik tambah gemes hehe. Jangan lupa obatnya ya sayang."


"Iya Mas."


"Ya udah Mas berangkat. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Setelah kepergian mobil Dzakir Misela langsung masuk lagi ke rumah.


Biasanya Misela hanya nonton drakor, baca novel atau lebih banyak tidur tapi kali ini dia memilih berlama-lama di depan akuarium dengan banyak ikan hias yang warnanya tak ada yang sama dan itu juga baru kemaren di beli Dzakir.


Entah kenapa beberapa hari ini Dzakir bertingkah aneh. Ada aja hal yang buat Misela mengerutkan dahinya.


"Makan yang banyak ya ikan-ikan cantik. Mulai sekarang kita berteman ya." Ucap Misela pada ikan-ikan yang sedang berenang dengan cantiknya.


Setelah itu Misela membersihkan dirinya, luluran dan merawat diri lalu berlama-lama berendam air hangat di kamar mandinya. Padahal sebelumnya Misela sangat malas melakukan perawatan diri.


❤️


Tiba saatnya Dzakir pulang. Namun langkahnya terhenti oleh panggilan teman dosennya.


"Assalamu'alaikum Pak."


"Wa'alaikumsalam. Pak Reihan?"


"Kelihatan nya buru-buru sekali Pak, mau kemana?"


"Mau pulang dong mau kemana lagi."


"Hehe biasanya kan pulang telat Pak."


"Iya saya sengaja pulang cepet saya mau ke time zone."


"Loh Pak Dzakir udah punya anak?"

__ADS_1


"Belum. Saya tiba-tiba saja pengen main kesana."


"Istri Bapak hamil ya?"


"Belum juga."


"Emm udah periksa."


"Belum juga. Kenapa Pak Reihan kepo sih."


"Hahaha Pak Dzakir lagi ngidam jangan-jangan."


"Hah? Ngidam?"


"Pak Dzakir akhir-akhir ini selalu pengen apa-apa yang sebelumnya gak pernah terpikirkan buat makan atau buat beli?"


"Iya. Saya banyak koleksi barang yang padahal gak berfaedah buat saya. Tapi saya pengen beli. Saya juga kalau tengah malam sering laper padahal sebelumnya saya gak pernah makan tengah malam. Tapi di pagi hari saya selalu pusing dan mual hanya saja saya tahan karna takut istri saya khawatir. Tapi kalau udah sampe kampus saya gak kenapa-kenapa. Saya jadi punya banyak hewan untuk di pelihara. Kemaren saya juga beli aquarium dengan banyak ikan hias yang harganya cukup mahal. Padahal saya gak suka peliharaan hewan karna takut lupa kasih makan dan mati."


"Sama persis Pak dengan saya. Untung saja Bapak gak sampe muntah-muntah. Saya parah Pak, istri saya yang hamil sayang yang ngidam. Saya sampe cuti selama empat bulan Pak karna gak bisa di bawa kerja. Malah saya sering pingsan kalau kecapekan."


"Hah? Emang ada yang seperti itu."


"Banyak Pak. Saya contohnya dan Pak Dzakir hehe sebaiknya di tes aja Pak pakai tespek."


"Caranya gimana?"


"Beli di apotik tespek nya terus istri Pak Dzakir suruh pipis di pagi hari di masukin ke cawan nah nanti tespek nya di celupin ke pipisnya sesuai ukuran batas. Kalau garisnya dua berarti positif."


"Oo gitu. Terima kasih ya infonya."


"Oiya terima kasih lagi atas infonya."


"Semoga positif ya Pak. Saya permisi assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Dzakir pun masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin. Tak langsung melaju Dzakir malah melamun.


"Apa mungkin ya Misela hamil. Tapi dia memang belum haid. Apa iya aku harus beli tespek. Mungkin sekarang aja aku mampir apotik buat beli tespek."


Dzakir tersadar karna bunyi klakson mobil di sebelah nya yang hendak menyapa. Dzakir pun melaju kan mobilnya dan mampir apotik seperti saran Pak Reihan.


"Permisi mbak saya mau beli tespek."


"Mau yang biasa apa yang akurat Pak?"


"Em berapa harganya?"


"Yang biasa lima ribu yang akurat dua puluh lima Pak."


"Ada yang lebih akurat lagi gak mbak?"


"Ada Pak, harganya empat puluh ribu."


"Yang itu aja mbak yang empat puluh ribu saya ambil emm dua deh dua. Biasanya yang lebih mahal lebih bagus."

__ADS_1


"Ini Pak silakan."


"Oiya terima kasih. ini uangnya."


Dzakir memberikan uang seratus ribu. Dzakir memandang tespek itu berkali-kali dan di baca dengan teliti. Saat Dzakir akan membalikkan badan, penjaga apotek itu memanggil nya hendak memberikan kembalian.


"Pak tunggu, ini kembali dua puluh."


"Ambil aja mbak buat beli bakso. Doakan ya istri saya positif hehe."


"Aamiin Pak. Terima kasih."


Dzakir buru-buru pulang.


"Em sebaiknya besok pagi aja deh. Hari ini aku gak sabar pengen ke time zone."


Layaknya anak kecil, Dzakir merasa benar-benar ingin sekali main permainan anak-anak di time zone.


"Assalamu'alaikum sayang, Mas pulang nih."


Misela yang mendengar suara Dzakir langsung buru-buru turun dari kamarnya.


"Wa'alaikumsalam. Masss!"


Dengan cepatnya Misela menghampiri suaminya yang sedang menunggu di bawah ujung tangga. Namun saat hampir sampai di tujuan Misela terpeleset.


"Sayang....."


Dzakir berteriak dan lari untuk menangkap Misela.


"Astaghfirullah, hampir saja. Kamu hati-hati sayang. Besok lagi kalau turun harus pelan-pelan oke?"


"Iya maaf Mas. Aku janji besok bakal pelan-pelan."


Dzakir menggendong tubuh Misela menuju sofa di ruang keluarga yang tak jauh dari tangga tersebut.


"Istri ku udah cantik, udah wangi juga masyaallah Emuah."


Ciuman singkat mendarat di bibir Misela.


"Kan mau nemenin kamu ke time zone Mas."


"Tapi tumben kamu pake parfum sayang. Biasanya gak mau."


"Iya mas gak tau aku jadi suka bau parfum ini. Seger."


"Ya udah kalau gitu Mas mandi dulu ya."


"Aku tunggu sini aja ya Mas. Nanti tolong bawain tas sama handphone aku."


"Siap."


Sebelum pergi Dzakir terlebih dahulu mencium kedua pipi istrinya.


...##################...

__ADS_1


__ADS_2