Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 67 Garis Dua


__ADS_3

Setelah selesai dengan ibadah mereka Misela mengajak Dzakir untuk turun. Sambil menuntun Dzakir pelan-pelan, Misela dan Dzakir menuruni anak tangga. Bik Sum dan Bik Sri keheranan melihat tuannya yang beberapa hari ini memang memiliki banyak perbedaan dari sebelumnya. Bik Sum dan Bik Sri pun menghampiri Dzakir dan Misela di ujung tangga.


"Den Dzakir, kenapa Non? Sakit ya?" Tanya Bik Sum.


"Mas Dzakir abis muntah-muntah Bik, tolong buatin teh jahe hangat ya buat Mas Dzakir." Jawab Misela lalu kembali menuntun Dzakir menuju sofa dan duduk bersebelahan.


Tak lama kemudian Bik Sum datang membawa secangkir teh jahe dan diletakkan di meja depan Dzakir.


"Ini Den. Gak biasanya Den seperti ini? Apa masuk angin Den? Atau kemaren salah makan?"


Dzakir hanya mampu menggelengkan kepala yang telah menyandar di sofa. Misela lalu membantu Dzakir meminum tehnya. Tapi Dzakir merasa mual kembali dan ahirnya berlari menuju kamar mandi yang tak jauh dari sofa tersebut.


"Mas….."


Misela tampak bingung.


"Jangan-jangan Mas Dzakir keracunan Bik? Tapi aku juga makan semua yang di beli Mas Dzakir aku gak kenapa-kenapa. Tapi kenapa Mas Dzakir seperti itu."


Misela menggigit kuku jarinya berkali-kali dan mondar-mandir di depan pintu karna panik menunggu suaminya yang mengunci pintu kamar mandi.


"Huueeekkk….huueeekkk"


Terdengar suara Dzakir yang sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi.


"Mas… Buka pintunya, Mas gak papa kan?"


Dzakir pun membuka pintu, terlihat raut muka pucat dan tubuh yang lemas. Dengan sempoyongan Dzakir berjalan menuju sofa untuk duduk kembali.


"Den, muntahnya air bening biasa apa makanan? Terus perutnya sakit banget gak kayak kosong isi perutnya?" Tanya Bik Sri.


"Air bening Bik, dari tadi gak ada makanan yang keluar. Perut gak kenapa-kenapa. Gak begitu sakit." Jawab Dzakir.


Bik Sri diam sejenak.


"Den, mungkin Den Dzakir lagi nyidam. Apa Nona sudah positif hamil?" Tanya Bik Sri lagi.


"Hamil?" Jawab mereka kompak.


Dzakir lalu mulai ingat sesuatu kalau kemarin dirinya membeli tespek untuk istrinya agar memeriksa kehamilan nya itu benar atau tidak.


"Sayang, Mas lupa sesuatu." Kata Dzakir sambil memegangi kedua tangan Misela.


"Lupa apa Mas?" Misela sangat tidak tau apa yang di lupakan suaminya itu.


"Kemaren Mas beli tespek buat kamu sayang. Kamu juga udah telat datang bulan kan? Coba kamu inget-inget."

__ADS_1


Misela mengingatkan kembali tanggal terakhir haid dan juga selesai nya. Kemudian jari Misela terlihat bergerak seolah menghitung sesuatu.


"Ah iya Mas, aku telat sepuluh hari Mas."


Misela baru sadar kalau dirinya telat datang bulan.


"Bik Sum tolong ambilkan tespek di tas kerja saya ya. Di ruang kerja." Perintah Dzakir pada art nya.


Bik Sum pun menaiki tangga dan mencari tespek yang di maksud. Sedangkan Dzakir dan Misela duduk di sofa menunggu Bik Sum.


"Tapi Mas kalau hasilnya gak sesuai gimana? Kalau ternyata kamu masuk angin gimana? Bukannya yang hamil aku tapi kenapa yang nyidam kamu Mas?" Misela sedikit merenung.


"Untuk sebagian orang ada Non yang istrinya hamil tapi yang ngidam itu suami. Di desa saya ada Non yang begitu soalnya." Jawab Bik Sri.


"Tapi apa gak aneh Bik, kan aku yang hamil?" Tanya Misela.


"Sayang, bagi Allah gak ada yang aneh ataupun mustahil. Mungkin ini yang di sebut bawaan bayi." Tutur Dzakir.


Misela diam dan menunduk. Dia takut suaminya kecewa. Walau memang mereka tiap bulan kontrol dan berobat karna sedang ikut program hamil, tapi tetap saja Misela masih takut.


Bik Sum ahirnya turun dan menyerahkan tespek tersebut pada Misela. Bukan Misela kalau gak polos, dia tidak tau cara menggunakan tespek tersebut. Dengan telaten Bik Sri mengajarinya.


"Nah nanti Non pipis di wadah ini. Itu yang garis ini batas pipisnya ya Non jangan penuh-penuh. Terus yang ujung ini di celupin ke dalam pipis. Setelah itu kita tinggal tunggu hasilnya. Kalau garisnya satu tandanya negatif hamil kalau garisnya dua berarti Non Misela positif hamil." 


Begitulah penjelasan Bik Sri dan Misela mengangguk mengiyakan tanda mengerti dengan apa yang di tuturkan art nya itu.


"Jaman makin canggih Non. Kalau udah positif baru hasil tesnya di bawa ke dokter untuk di periksa lebih lanjut." Jawab Bik Sri.


"Udah sayang buruan pipis. Mas udah gak sabar ini dengan hasilnya hehe." Sahut Dzakir yang terlihat sedikit tegang.


"Tapi Mas kalau garisnya satu gimana? Aku takut kamu marah sama aku Mas." Misela kembali menunduk.


Dzakir pun berdiri dan memeluk Misela. Menarik nafas dan hembusan nya sangat terdengar jelas oleh Misela.


"Bismillah ya sayang. Positif Alhamdulillah dan kalau negatif kita coba lagi dengan gaya lain hehe." Seperti biasanya suara Dzakir selalu lembut untuk di dengar telinga.


Dalam dekapan Dzakir Misela memejamkan mata dan mengangguk. Sesungguhnya Misela sangat ragu dan sangat takut walaupun Dzakir sudah berkali-kali meyakini dirinya.


Misela kemudian melepaskan pelukan Dzakir dan menghela nafas panjang dan berbalik menatap Bik Sum dan Bik Sri, mereka mengangguk dan Misela pun masuk kamar mandi.


Selesai melakukan instruksi sesuai dengan ajaran Bik Sum Misela pun mencelupkan tespek dalam cawan dan menatap dengan tajam menunggu hasilnya.


"Sayang… Udah belum?" Dzakir berteriak dari luar kamar mandi karna tak sabar.


Misela ahirnya keluar menggenggam erat tespek yang digunakan tadi. Dzakir menyambut Misela di depan pintu, tapi tatapan Misela tak menunjukkan mata kebahagiaan. Terlihat titikan air bening di pipi Misela. Dzakir mengerti dan langsung memeluk Misela.

__ADS_1


"Mas…!" Suara Misela begitu pelan memanggil suaminya.


"Sayang, tak apa. Mungkin belum rejeki kita. Kan kita bisa coba lagi terus biar kita bisa pacaran lebih lama." 


Dzakir mengeratkan pelukannya pada Misela dan mengecup keningnya lalu memeluk kembali.


"Tapi Mas…!" Suara lirih Misela terdengar kembali di telinga Dzakir.


"Sudahlah tak apa. Jangan sedih, sebaiknya kerokin Mas ya kayaknya mualnya gak ilang-ilang ini." Dzakir meregangkan pelukannya dan menatap mata Misela. Tetesan air mata masih mengalir di pipinya, diusapnya air mata itu dan di cium kembali kening istrinya.


"Mas… Ini garis dua Mas."


Misela menunjukkan hasil tespeknya dengan dua garis merah dengan jarak yang dekat di mata Dzakir. Seketika Dzakir membulatkan matanya. Mengambil tespek itu dengan tangan gemetar dan memandangi nya dalam waktu cukup lama. Tetesan air mata turun dari mata ke pipi. Dzakir menangis tanpa suara. Bukan air mata kesedihan melainkan sebuah air mata kebahagiaan yang amat sangat mendalam.


Kemudian Dzakir menghadap kiblat dan sujud syukur. Lama Dzakir bersujud dengan genggaman tespek di tangannya.


"Mas… Masih mau di kerokin?" Misela meledek suaminya agar bangun dari sujudnya.


Dzakir pun bangun dan kembali memeluk Misela, bahkan tubuh Misela diangkat dan mereka berputar.


"Mas… Lepas, takut jatuh Mas."


Dzakir menurunkan tubuh Misela dan memegang bahunya.


"Sayang, terima kasih, terima kasih banyak sudah mengandung anak kita. Kerja keras kita tak sia-sia. Bibit ku sudah tumbuh."


Dzakir kembali memeluk Misela.


"Selamat ya Den Dzakir dan Nona Misela. Bibik ikut bahagia."


Misela melepaskan pelukan Dzakir dan memeluk kedua art nya itu. Tentu saja Bik Sum dan Bik Sri malah menangis bahagia.


"Bik, tolong kalian harus jaga Nona dengan sangat baik." Ucap Dzakir pada kedua art nya.


"Iya Den, kami siap dua puluh empat jam untuk Nona." Jawab Bik Sri.


Misela membalikkan badan dan menghampiri Dzakir, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Dzakir.


"Mas, jangan lebay deh kan yang ngidam kamu Mas, jadi kamu yang harusnya di jaga dengan sangat baik." Sahut Misela.


"Mas gak papa sayang. Demi anak kita. Ayo kita ke dokter buat periksa kesehatanmu." Kata Dzakir.


"Kamu juga harus periksa ya Mas." Jawab Misela.


"Iya sayang. Kita berangkat sekarang aja ya."

__ADS_1


...#################...


__ADS_2