Perjalanan Cinta Anak Haram

Perjalanan Cinta Anak Haram
Bab 81 Makan Siang Bersama


__ADS_3

Pagi ini Dzakir harus berangkat lebih cepat dari biasanya. Seperti halnya di hotel kemarin, hari ini Dzakir mandi tak memakai sabun, shampoo atau pun gosok gigi menggunakan pasta gigi. Untuk membersihkan gigi Dzakir memakai siwak, untuk menghindari mual muntah tentunya. Setelah meminum teh hangat buatan istrinya, Dzakir buru-buru pergi karena tugas hari sangat padat.


Tiba di kampus, Dzakir sudah di tunggu oleh Reihan dan Mina di ruangannya. Setumpuk berkas sudah menunggu Dzakir di mejanya.


"Pak Reihan, tolong pesenin dulu saya soto ayam ya, banyakin kol nya terus jangan pedes-pedes, sama kopi hitam jangan manis-manis."


Belum Reihan beranjak dari tempat duduknya, secepat kilat Mina berdiri dan menawarkan diri untuk memesan pesanan Dzakir.


"Biar saya saja Pak, sekalian saya juga mau pesen soto, sepertinya seger pagi-pagi makan soto. Pak Reihan mau sekalian?" Tanya Mina menoleh pada Reihan.


"Saya kopinya aja Bu Mina, sama seperti Pak Dzakir jangan manis-manis." Jawab Reihan.


"Tunggu Mina, ini uangnya." Dzakir berdiri hendak mengambil dompet dari saku celananya.


"Tidak usah Pak Dzakir, biar saya yang traktir." Mina langsung bergegas pergi menuju kantin.


"Pak Reihan, Mina belum punya pacar emang?" Tanya Dzakir dan melirihkan suaranya.


"Disini banyak yang suka sama Mina Pak, tapi ditolak. Terakhir dosen bahasa arab kita Pak Rendra Kresna Hariadi, di tolak juga sama dia, padahal kurang apa juga Pak Rendra itu gak kalah ganteng sama kita hahaha." Jawab Reihan lalu terbahak-bahak.


"Pede banget, level ganteng anda tak sejajar dengan saya tau." Dzakir menepuk-nepuk dadanya menyombongkan diri.


"Haha tapi btw Pak kenapa tanya? Pak Dzakir tertarik sama dia? Gak lagi cari madu kan Pak?" Reihan penasaran dengan pertanyaan Dzakir.


"Saya tidak akan pernah poligami Pak. Saya sangat mencintai istrinya saya. Saya menunggu nya hampir enam tahun lamanya dan begitu saja mau di madu? Tidak mungkin Pak Reihan." Jelas Dzakir dengan menyandarkan badan dan kepala nya di kursi.


"Lantas?"


"Saya hanya penasaran. Dia cantik juga cerdas. Bahkan setau saya dia naik jabatan dengan cepat karna kegigihannya. Tapi saya merasa dia mencoba mendekati saya beberapa kali. Tatapan matanya juga berbeda."


"Hahaha Pak Dzakir kepedean."


"Semoga saja hehe."

__ADS_1


"Tapi saat menolak Pak Rendra, dia bilang kalau menyukai laki-laki lain yang sangat sulit untuk di gapai. Begitu kata Rendra. Bisa jadi iya itu Pak."


"Saya takut menyakiti perasaan nya."


Reihan sudah akan menjawab perkataan Dzakir, namun ketukan pintu mengurung kan niatnya untuk bicara. Mina datang dengan nampan berisi dua mangkok soto dan dua gelas kopi hitam. Mina berjalan menghampiri kedua laki-laki yang sedang duduk tegang karna takut pembicaraan mereka di dengar Mina.


Dengan perlahan Mina meletakkan mangkok soto dan segelas kopi di depan Dzakir. Lalu berjalan memutar meja menuju Reihan dan di letakkan nya segera kopi yang sama di meja Reihan.


"Terima kasih Bu Mina." Kata Dzakir dan Reihan serempak.


"Sama-sama Pak." Jawab Mina lalu duduk di mejanya. "Saya sarapan dulu ya Pak, sejak tadi baunya sangat menggoda.


"Iya Bu, silahkan."


Setelah Dzakir dan Mina menghabiskan sarapan nya, mereka ahirnya bergelut dengan berkas yang harus segera selesai pekan ini. Mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Dan sesekali Mina berjalan ke meja Dzakir untuk minta tanda tangan, begitu juga dengan Reihan.


Hingga jam makan siang pun tiba dengan cepat. Suara adzan di mushola kampus sudah bergema. Dzakir, Reihan dan Mina meletakkan berkas masing-masing dan berjalan bersama menuju mushola.


Selepas sholat Dzuhur mereka kembali ke ruangan yang sama untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda tadi. Mereka melupakan makan siang walau Dzakir sudah mengajak beberapa kali.


"Assalamu'alaikum." Sapa Misela.


"Wa'alaikumsalam." Jawab serempak ketiga orang yang ada di ruangan tersebut.


"Mas, aku boleh masuk?" Misela menatap Dzakir yang sejak tadi mematung melihat dirinya.


Misela menggunakan gamis hitam polos dengan jilbab segiempat warna maroon yang menutup dadanya. Misela juga sedikit memakai riasan bedak dan juga lipstik warna peach yang membuat dirinya terlihat sangat cantik dan anggun. Bahkan aura bumil terlihat jelas di mata Dzakir.


"Ah sayang, kamu datang?" Dzakir langsung menghampiri Misela yang berdiri sejak tadi.


"Aku bawa makan siang buat kamu Mas. Ini juga cukup buat rekan kerja mu Mas." Misela mengangkat bawaan yang di jinjing di tangan kanan.


"Sayang, kenapa kamu repot-repot. Ingat jangan terlalu capek loh. Sini Mas bawain, ayo kamu duduk dulu." Dzakir menuntun Misela duduk di sofa yang tak jauh dari pintu tempatnya berdiri.

__ADS_1


"Gak repot kok Mas, kalian belum makan siang kan? Sini Mas aku siapin. Makan siang dulu baru kerja lagi kan enak kalau perutnya kenyang." Misela hendak menyiapkan makan siang namun di tolak Dzakir.


"Jangan sayang, biar Mas aja yang nyiapin. Kamu duduk aja. Kamu sendiri udah makan siang belum?" Tanya Dzakir sembari menoleh pada istrinya.


"Aku mau di suapin Mas hehe, makannya aku kesini." Jawab Misela sambil tersenyum menunjukkan giginya.


Dzakir yang selalu gemas dengan tingkah istrinya, langsung mencubit kedua pipi Misela.


"Duh istri ku bisa aja."


"Ehem... Tolong Pak Dzakir kalau mau uwuw jangan disini." Kata Reihan.


Dzakir dan Misela langsung tertawa menanggapi perkataan Reihan.


"Ayo kita makan siang dulu." Ajak Dzakir dan membuka menu makan siang yang di bawa Misela.


"Widih rendang dan daun singkong. Ini sih mantep banget Pak Dzakir." Tanpa malu Reihan langsung mengambil makan.


Dzakir dan Misela tersenyum.


"Ayo jangan malu-malu Bu Mina. Saya masaknya dari pagi tadi biar dagingnya empuk." Misela menoleh pada Mina yang terlihat tak enak hati.


"Iya Ka, terima kasih sudah repot-repot masak." Jawab Mina dan mengambil nasi juga lauknya.


"Sayang, sini Mas suapin. Kamu harus makan banyak biar anak kita juga tumbuh sehat. aaakkk?" Dzakir menyodorkan satu sendok nasi dan rendang ke mulut Misela. Dengan lahap dan senang hati Misela makan suapan demi suapan yang di berikan Dzakir.


Mina sesekali melirik kedua pasangan yang sedang saling tersenyum bahagia itu hingga tak sengaja menjatuhkan sendok yang di pegang nya.


"Eh..." Mina terkejut.


"Bu Mina makan sambil ngelamun ya?" Tanya Reihan.


"Em maaf hmmm." Mina senyum terpaksa dan mengambil sendok yang baru sambil terus menatap Dzakir dan Misela.

__ADS_1


"Aku cemburu. Sungguh aku benar-benar cemburu, aku juga ingin berada di posisi itu." Bathin Mina.


...#############...


__ADS_2