
Sepanjang perjalanan pulang Dzakir dan Misela tertidur pulas hingga membuat Pak Tejo geleng-geleng kepala.
"Den Den gitu katanya mau nyetir mobil sendiri taunya malah pada pules." Ucap Pak Tejo lirih sambil tetap fokus menyetir.
Hanya tinggal beberapa menit lagi mobil tiba di rumah dan waktu yang tepat Misela juga terbangun dari tidurnya.
"Udah mau sampe ya Pak Tejo?" Tanya Misela.
"Iya Non sebentar lagi." Jawab Pak Tejo masih fokus menyetir.
"Pak Dzakir tidur juga ya kirain tadi tidur-tiduran. Jangan di bangunin ya Pak kasian nanti langsung pulang aja udah sore juga takut kemaleman di jalan." Kata Misela dengan lirihnya.
"Siap Non."
Misela pun bersiap untuk turun dari mobil. Dengan perlahan dia mengambil barang-barang nya.
"Pak Tejo hati-hati ya. Terima kasih udah nemenin kita hari ini. Assalamu'alaikum." Misela berpamitan dan dengan pelan-pelan lalu membuka dan menutup pintu mobil dengan perlahan agar Dzakir tak terbangun.
"Untung lah Pak Dzakir tidur juga kalau engga pasti bicara yang aneh-aneh mulu." Misela menghela nafas kasar lalu masuk rumah.
"Assalamu'alaikum Bunda Misela pulang."
"Wa'alaikumsalam loh calon mantu Bunda mana kok gak mampir tumben?" Tanya Adelia sambil celingukan ke luar rumah.
"Pak Dzakir tidur Bunda mungkin dia kecapekan dan kurang tidur makanya Misela suruh langsung pulang aja Pak Tejo nya. Misela masuk kamar dulu ya Bun." Misela pun masuk kamar dan langsung membaringkan tubuhnya.
Kringgg
Kringgg
Handphone Misela berbunyi tanda panggilan masuk.
"Ah Erlina. Ehem Assalamu'alaikum Er."
"Wa'alaikumsalam cantik ku yang sombong."
"Maaf ya beberapa hari ini aku sibuk banget."
"Duh sibuk apa sih Lu, kan skripsi lu udah beres terus apa lagi coba."
"Em Er besok jam sembilan pagi tunggu aku ya di masjid Istiqlal deket taman Metro."
"Sepagi itu lu mau ngapain suruh gue tunggu di masjid situ? Besok gue masih bimbingan skripsi nih."
"Maaf ya Er belum kasih kamu kabar kalau sebenarnya besok aku dan Pak Dzakir mau menikah disana."
"What? Bener-bener Lu tega banget Sel. Bisa-bisanya ya lu baru kabarin gue sekarang. Pokoknya gue gak mau dateng titik."
"Jangan gitu Er, semuanya serba mendadak. Setelah Pak Dzakir tau kalau selama ini aku pura-pura amnesia dengan seenak hati Pak Dzakir langsung lamaran dan besok ijab qobul nya Er."
"Wah Pak Dzakir emang the best sih menurut gue Sel. Tapi gue juga dukung Pak Dzakir. Lagian kasian juga Sel lu gantungin dia berbulan-bulan. Semakin cepat juga semakin baik Sel supaya gak timbul fitnah yang engga-engga. Gue yakin 100% kali ini lu pasti bahagia sama Pak Dzakir."
"Aamiin. Kamu beneran gak bisa dateng Er?"
"Ya gila aja kali gue gak dateng ke acara nikahan sahabat terbaik gue. Lu tenang aja gue bakal bangun sepagi mungkin dan nungguin lu di sana."
"Makasih ya Er. Tapi sebenarnya aku masih takut Er."
__ADS_1
"Lu pasti bisa Sel jalanin kehidupan yang baru sama Pak Dzakir. Dia itu udah kelihatan banget tipe laki-laki yang super baik."
"Bismillah ya Er. Dan sekali lagi maaf ya hehe."
"Iya iya gue maafin. Ya udah kalau lu baik-baik aja gue tenang. Gue mau mandi dulu ye."
"Iya Er aku juga belum mandi."
"Tumben amat jam segini belum mandi?"
"Hehe lagi males aja. Ya udah sampai besok ya Er assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Lagi-lagi Misela menghela nafas dengan kasar.
"Ya Allah besok hamba mu ini akan menikah lagi tapi masih ada keraguan dalam hati hamba ya Allah. Bisakah hamba menjalani kehidupan yang baru dengan Pak Dzakir?"
Misela pun bangun dan membuka paper bag yang dia bawa tadi. Dilihatnya baju pengantin yang begitu bagus untuknya. Bahkan bagi Misela baju itu terlalu bagus.
Misela pun melamun. Tiba-tiba teringat akan pernikahan sederhana nya dengan Rangga. Laki-laki yang telah membuat luka di hati Misela. Misela lalu berdiri dan membuka pintu lemarinya. Dilihatnya baju pengantin yang pernah dia pakai untuk ijab qobul bersama Rangga.
"Sangat beda jauh. Aku bahkan gak tau harga baju itu tadi berapa. Kalau yang dari Mas Rangga ini cuma dua ratusan. Aku benar-benar akan jadi nyonya Dzakir nanti. Ya Allah semoga hamba Mu ini tak menjadi manusia yang sombong akan harta yang berlimpah. Bismillah semoga besok lancar. Kamu harus siap Misela kamu pasti bisa."
Misela lalu keluar kamar untuk mandi karna sebentar lagi waktu magrib sudah tiba.
____________
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Handphone Misela terus saja bergerak entah sudah berapa kali. Apa itu alarm? Oh bukan itu adalah getaran cinta Dzakir eh bukan-bukan maksudnya panggilan masuk dari Pak Dzakir.
Dengan cepat Misela langsung mengusap layar ponselnya dan menjawab telepon dari Dzakir.
"Assalamu'alaikum." Lirih dan lembut. Begitulah suara Misela yang di dengar oleh Dzakir.
"Wa'alaikumsalam calon istri ku. Kenapa lama sekali menjawab panggilan ku?"
"Maaf Pak saya baru bangun. Alarm saya biasanya jam tiga."
"Kenapa ada kata Pak dan saya Misela? Besok kamu udah jadi istri ku loh. Mau sampe kapan kamu bicara formal? Padahal tadi aku udah seneng banget kamu panggil Mas sampai aku tertidur pulas di mobil."
"Iya Pak maaf belum terbiasa."
"Sudahkah calon istri ku ini Solat tahajud?"
"Belum Pak kan saya sudah bilang alarm saya jam tiga."
"Misela Metina jangan apa tadi?"
"Eem eh maaf-maaf Mas Dzakir maksudnya."
"Lagi dong!"
"Apa yang lagi?"
"Panggil Mas Dzakir sayang."
"Astaghfirullah apa tidak mengundang syahwat bilang begitu?"
__ADS_1
"Astaghfirullah bener-bener gemes hehe iya maaf ya Misela."
"Mas?"
"Iya sayang."
"Jangan gitu dong jawabnya saya belum siap."
"Gak papa lah besok biar fasih panggil kamu sayang hehe."
"Gak jadi deh."
"Loh kok gak jadi. Ada apa? Apa yang kamu butuhkan Misela?"
"Engga Mas."
"Ayo dong bilang jangan buat penasaran."
"Em itu besok Mas Dzakir baca ijab qobul pake bahasa Indonesia atau bahasa Arab?"
"Kamu maunya?"
"Bahasa Arab Mas."
"Oke perintah di laksanakan ratu ku."
"Makasih ya Mas."
"Untuk apa bilang makasih?"
"Untuk semuanya. Terutama untuk tetap menunggu ku sampai saat ini."
"Iya sama-sama. Makasih juga Misela kamu mau menerima ku. Kalau gitu kita solat tahajud dulu yuk. Kalau terlalu lama begini rasanya aku pengen cari Doraemon Misela."
"Loh kenapa sampe bawa-bawa Doraemon Mas?"
"Iya buat pinjem pintu kemana saja."
"haha emang Mas mau kemana?"
"Ya mau jadi imam solat kamu sekarang hee ya udah ya aku tutup telpon nya."
"Iya Mas assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam sayang."
Tut
Tut
Panggilan terputus namun Misela masih menatap layar ponselnya dengan senyum-senyum.
"Masyaallah rasanya bener-bener beda. Mungkin begini yang namanya jatuh cinta."
Misela lalu beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil air wudhu untuk menjalankan rutinitas ibadah malamnya.
...###############...
__ADS_1