Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Bisikan


__ADS_3

Deg!


Amelia tertegun, bisikan Ergan ditelinganya menerpa kulit lehernya yang halus. Tanpa sadar sebuah kartu nama telah berada dalam genggamannya.


Ergan pergi menarik kopernya. Sebelum menghilang, ia berbalik melambaikan tangan dan tersenyum pada Amelia.


Amelia hanya menatapnya dengan datar. "Kenapa dari kejauhan dia sangat menarik?" Gumam Amelia.


"Siapa yang menarik?" Tanya Sindi mengikuti arah pandangan Amelia.


"Kepo." Sindir Amelia kemudian kembali masuk ke dalam pesawat.


"Pasti pria disana kan? dasar cewek murahan! Mentang-mentang melayani penumpang kelas bisnis, selalu aja tebar pesona." Cibir Sindi mengikuti langkah kaki Amelia masuk ke dalam pesawat.


"Siapa yang tebar pesona? kalau mau melayani penumpang di kelas bisnis, silahkan! aku nggak keberatan, malah aku akan menerimanya dengan senang hati." Sungut Amelia.


Mulut Sindi memang kadang tajam, itulah sebabnya Amelia malas bicara terlalu banyak dengan Sindi jika tidak terlalu penting.


Amelia duduk bersandar di kursi, meluruskan kedua kakinya untuk menghilangkan rasa lelahnya. Kedua tangannya saling bertautan diatas perutnya yang rata. Netranya berpusat menatap kabin pesawat, Ia menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Tubuhnya lemas seolah tak bertenaga. Ada sesuatu yang hilang setelah kepergian Ergan tapi dia tidak tahu itu apa. Hatinya terasa hampa dan kosong.


...................


Lima hari telah berlalu semenjak bertemu Ergan. Amelia baru saja turun dari pesawat dan mengaktifkan ponselnya.


Drrtt.. drrtt.. drrtt...!


Suara dring HP menghentikan langkahnya, Amelia mengeluarkan ponsel dari dalam sling bagnya. Ia melihat siapa yang menelponnya kemudian menggeser layar keatas.


"[Halo Mah]" Jawab Amelia sambil berjalan menuju toilet bandara.


"[Halo sayang. Meli, bagaimana keadaan mu nak?]" Tanya Lidya, Mama Amelia.


Meli adalah nama kesayangan Lidya pada Amelia saat masih kecil.

__ADS_1


"[Meli baik kok Mah.]"


"[Kapan kamu pulang nak? Mama kangen.]"


"[Meli juga kangen Mah, Bagaimana keadaan toko Mama? Apa uang yang Meli kirim cukup untuk menambah modal?]" Tanya Amelia mengalihkan pembicaraan. Jika membahas masalah rindu, pasti Lidya akan menangis setelahnya.


"[Cukup sayang. Mama sudah menyewa ruko sebelah. Jadi tokonya tambah ramai.]" Semangat Lidya.


"[Baguslah Mah. Oiya, kalau bisa Mama tawar aja rukonya. Mungkin uang simpanan Meli sudah cukup untuk membelinya.]" Ujar Amelia.


Amelia ingin membahagiakan orang tuanya. Memiliki ruko untuk usaha adalah cita-cita almarhum Papanya dulu. Tapi sayang, ia hanya bisa menyewa pada saat beliau masih hidup, tapi setelah Amelia bekerja, Sebagian gajinya diberikan pada Lidya. Amelia hanya menyimpan untuk makan dan membeli skin care saja.


"Tidak usah nak, pake saja uangmu, Satu ruko milik kita aja sudah cukup untuk kebutuhan Mama. Itu juga masih ada buat disimpan. Oiya, apa kamu sudah bicara dengan Heri dan Dian? kemarin mereka datang kesini menanyakanmu, katanya mereka menghubungimu, tapi handphone kamu nggak aktif. Pesta pernikahan mereka akan di gelar besok, mereka mengundang kita. Menurut kamu, mama datang apa nggak?" Tanya Lidya sedikit ragu takut semakin menyakiti hati anaknya.


Sebagai orang tua tunggal, Lidya sangat tahu apa yang terjadi pada Amelia. Lidya tahu jika Amelia dan Heri pacaran semenjak mereka duduk dibangku SMA. Bahkan Dian sahabat Amelia juga sering bermalam di rumah Amelia untuk tuk menyelesaikan tugas sekolah. Tapi setelah mengetahui jika Heri akan menikahi Dian. Sikap Lidya yang dulunya sangat baik dan lembut pada Heri, kini berubah menjadi pendiam dan ketus. Bagaimana tidak hancur perasaan seorang ibu, jika anak semata wayangnya dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya.


"Nggak usah dateng Mah! ponselku memang nggak aktif karena di pesawat, ini juga baru turun. Kalau mereka datang lagi, bilang aja nggak usah cari Meli lagi, karena Meli sudah punya pacar yang jauh lebih baik dari Heri. Udah dulu ya Mah, Meli kebelet." Pamit Amelia kemudian menuju toilet.


Membahas Heri dan Dian, hati Amelia seketika memanas. Seandainya dia tidak bekerja dan memiliki tanggung jawab pada ibunya, mungkin dia sudah bunuh diri karena tidak sanggup kehilangan Heri.


Amelia menatap wajahnya yang sendu dan berkaca-kaca di depan cermin sambil mengepalkan kedua tangannya diatas washtafel. Sekuat tenaga ia membendung air matanya, namun pada akhirnya tangisan itu pun pecah tak tertahankan.


"Hikss, hikss." Amelia menangis pilu mengeluarkan sakit hatinya, dadanya terasa sesak dan hatinya perih, rasanya tidak sanggup kehilangan Heri yang sangat ia cintai. Seandainya bisa pulang bertemu Heri secara langsung, dia ingin meminta Heri memilihnya bukan sahabatnya.


Kini hubungan yang terjalin selama dua tahun berakhir dengan perselingkuhan.


Amelia membasuh wajahnya, mencoba bersabar dan menjernihkan pikirannya sejernih air yang mengalir. Hatinya tetap sakit meskipun sudah berusaha melupakan kisah cintanya yang indah. Kisah cinta gadis kampung yang masih polos saat duduk di bangku SMA.


Lebih tepatnya jika dibuat novel Kisah Kasih di Sekolah, Eh.. itu kan judul lagu dan sinetron ya? hehehe.


"Amel, Lo baik-baik aja kan?" Tanya Karmen menyusul Amel ke dalam toilet.


"Kenapa susulin gw? gw pengen sendiri."

__ADS_1


"Gw khawatir, sudah setengah jam gw berdiri diluar, tapi nggak keluar juga. Mana tau lo lagi pingsan dan butuh bantuan gw." Kesal Karmen karena Amelia menolak kehadirannya, "Ayo dong Mel, Kalau ada masalah, cerita ke gw, kita kan bestie." Bujuk Karmen.


"Nanti aja, ayo kita pulang." Tolak Amelia kemudian menarik tangan Karmen keluar dari toilet.


Saat diluar, Amelia kembali tersenyum ramah saat melewati lautan manusia di bandara yang menyapanya. Ia berusaha setegar mungkin seolah tidak ada beban dan dalam hidupnya.


Mereka tidak tau aja jika hatinya saat ini sedang hancur dan terluka 😭


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam hari, seperti biasa Amelia tidak bisa tidur.


Karmen sudah mendengkur halus dengan iler membentuk sebuah pulau di bantal.


"Cantik-cantik kok ileran.... Siapa laki-laki yang kurang beruntung yang akan bersamamu? ah, bukan kurang beruntung, tapi lebih tepatnya beruntung karena itu salah satu kelebihan kamu yang tidak dimiliki wanita lain. Hehehe..." Kekeh Amelia mengejek sambil melirik Karmen.


Amelia mengganti pakaiannya, dan berdandan. Mumpung besok lagi off, malam ini dia ingin pergi bersenang-senang dan melupakan Heri si penghianat.


Awalnya ingin mengajak Karmen, tapi besok Karmen harus kerja dan dia juga sudah terlelap.


Amelia berputar melihat tubuhnya di depan cermin. Dress warna hitam dengan neck terbuka hingga dada dan rok sebatas paha memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi. Dilengkapi riasan wajah yang tipis namun terkesan cantik dan fresh, rambut sebahu terurai dengan jepitan kupu-kupu di bagian samping. Tidak lupa mengenakan high heels warna hitam.


Setelah puas dengan hasil karyanya yang serba hitam, sehitam hatinya yang berduka, Amelia mengambil ponselnya lalu memesan taksi online.


Sepuluh menit kemudian, taksi yang di pesan pun datang. Amelia keluar dari rumah dengan sling bag yang menggantung di pundaknya.


Disinilah Amelia duduk seorang diri dengan tiga botol wine dan satu gelas kosong di hadapannya. Disalah satu club elite yang biasanya didatangi pengunjung dari kalangan atas dan harus memiliki member.


Member? tentu saja Amelia memilikinya. Jangan ditanya dari mana dia memilikinya karena Karmen, Citra dan Sindi juga memilikinya. Teman-teman seprofesi dengannya sering mengadakan pesta di sana, itulah sebabnya mereka bekerja sama dengan club dan membuat kartu member atas nama kru maskapai tanpa sepengetahuan kantor pusat.


Jika ketahuan dipecat nggak ya?


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2