
"Aku akan bicara dengan Ibu. Aku tau kamu kecewa dan marah, maka dari itu sekali lagi maafkan aku Pras. Kamu orang yang sangat baik dan kamu pasti mendapatkan jodoh yang tepat. Aku pergi." Amelia beranjak untuk pergi kemudian membuka pintu ruangan.
Deg!
"Jangan pergi!" Kini tatapan Pras menjadi sendu. Mulutnya menyuruh Amelia pergi, namun hatinya tidak rela.
Amelia berbalik, menatap Pras dengan perasaan bersalah. Buliran air mata jatuh membasahi pipinya, jika bisa egois, ia juga tidak mau kehilangan Pras. Pras yang selalu menjaga dan melindunginya. Tempat berkeluh kesah dan sandaran disetiap sedihnya.
"Inilah yang aku khawatirkan kenapa selama ini aku tidak mau membuka hati. Kenapa aku hanya ingin kita berteman, itu karena pada akhirnya aku harus kembali padanya dan kamu akan terluka. Jika kamu sedih, aku lebih sedih. Suka tidak suka, mau tidak mau, dia pasti akan membawaku." Jelas Amelia.
"Kamu benar-benar akan pergi?" Pras mengulang pertanyaannya, ingin memastikan jika keputusan yang diambil Amelia adalah pilihan yang tepat.
"Ya, karena aku masih istrinya." Amelia mengingatkan statusnya. Memang sulit tapi mereka harus berpisah. Mereka juga tidak bisa menikah karena Amelia masih istri sah Ergan.
"Baiklah." Pras pasrah jika memang Amelia yakin itu yang terbaik.
Dengan berat hati, Amelia melangkah keluar, sebenarnya ia merasa bersalah pada Pras karena sudah memberinya harapan tinggi, dan disaat Pras merasakan kebahagian itu, tiba-tiba ia hempaskan kedasar lautan yang dalam.
Seandainya bisa waktu diputar, Amelia akan memilih Pras sebagai suaminya dan tidak perlu dipertemukan dengan Ergan.
Setelah Amelia menghilang di balik pintu, Pras menghembuskan napas, berusaha menghilangkan gemuruh didalam hatinya. Ia kembali bersandar di sofa, mengingat bagaimana Amelia telah mengisi hari-harinya yang kosong dan hampa. Ia tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya, tapi Allah berkehendak lain.
"Arghh..." Pras mengusap wajahnya dengan kasar. Apa yang selama ini ia perjuangkan ternyata sia-sia. Hatinya hancur berkeping-keping.
Betapa hancurnya hati Pras saat ini.
Haruskah Pras mengikhlaskan Amelia bersama Ergan?
Amelia keluar dari ruang kerja Pras, begitu berbalik menuju kamarnya, ia tidak sengaja bertemu dengan Ibu Juminarti.
"Bu bisa kita bicara sebentar? ada yang mau aku sampaikan." Ujar Amelia.
"Kamu seperti orang lain saja. Pake minta ijin segala. Kalau mau ngomong langsung aja. Ayo, mau ngobrol dimana." Semangat Ibu Juminarti. ia merasa pembahasan kali ini ada kaitannya dengan pernikahan Amelia dan Pras.
"Disana aja Bu." Amelia menunjuk kursi panjang di dekat pantri.
Suasana didalam pesantren mulai sunyi, semua kegiatan para santri sudah selesai. Anak-anak sudah masuk kedalam kamar masing-masing untuk istirahat.
"Mau ngomong apa nak? Jika kamu butuh sesuatu untuk acara pernikahan, bilang aja ke Ibu, jangan sungkan." Ibu Juminarti tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang hampir copot.
__ADS_1
Amelia menggenggam tangan Ibu Juminarti, ditatapnya mata teduh yang selama tiga tahun memberinya kehidupan yang lebih baik. Rasanya sungguh berat berpamitan dengan Ibu Juminarti yang sudah dianggap sebagai ibunya.
Begitu banyak pelajaran hidup yang ia dapat selama di pesantren. Amelia rutin mengikuti kajian bersama anak-anak. Menyimak dengan baik meteri yang diberikan ustadz pengajar membuat dirinya merasa apa yang ia kejar selama ini, tidak ada artinya dihadapan Allah.
Bisa belajar lebih banyak tentang ilmu agama di pesantren Darussalam Al-kharan membuat hatinya terasa damai. Mencoba memaafkan kesalahan Ergan dan ikhlas dalam menghadapi ujian hidup yang telah digariskan oleh Tuhan.
"Bu, Terimakasih karena sudah memberi aku kesempatan untuk tinggal disini. Pesantren ini begitu damai dan menyejukkan hati. Maafkan Amel jika pernah membuat Ibu susah. Maafkan Amel karena kali ini mengecewakan Ibu. Aku dan Pras tidak bisa melanjutkan pernikahan ini... hikks, hikss" Amelia menangis menjeda kata-katanya. Rasanya begitu sesak dan tidak tega membuat hati Ibu Juminarti hancur. Hati Ibu mana yang tidak sakit jika calon istri anaknya membatalkan pernikahan begitu saja setelah semua sudah diatur.
"Kamu jangan bercanda nak! Dengar, apapun masalah yang kalian hadapi pasti bisa dibicarakan baik-baik. Kenapa kalian memutuskan pernikahan begitu saja? Ibu yakin, pasti ada kesalah pahaman disini. Pras gimana sih! seharusnya dia itu lebih banyak mengalah, kenapa dia diam saja disaat kalian ada masalah." Kesal Ibu Juminarti. Dugaannya hanya pada kesalah pahaman.
"Bukan seperti itu Bu. Masalah yang sebenarnya adalah Ayahnya Azka sudah menemukanku. Aku harus pulang bersama Azka." Air mata Amelia terus mengalir tak berujung.
Deg!
"Benarkah?" Bola mata Ibu Juminarti melotot dengan mulut sedikit terbuka. Saking terkejutnya tidak dapat berkata apa-apa kecuali menutup mulutnya.
"Iya Bu, Pak Ergan yang ibu kenal adalah Ayah kandung Azka."
"Masya Allah... jadi orang kemarin datang adalah Ayahnya Azka?" Ibu Juminarti membeo.
"Iya Bu."
"Kenapa nggak bilang?"
"Bukankah lalian sudah bercerai?" Tanya Ibu Juminarti.
"Tidak Bu, dia tidak pernah menceraikan aku, sekalipun aku pernah memintanya." Sergah Amelia.
"Jika seperti itu, Ibu bisa apa. Kalian masih sah suami-istri, tidak mungkin kamu menikah dengan Pras. Apa Pras sudah tahu masalah ini?" Tanya Juminarti.
"Sudah Bu. Kami baru saja membicarakannya."
"Apa yang dia katakan?" Ibu Juminarti menghawatirkan perasaan Pras. Pasti saat ini anaknya kecewa dan sakit hati.
"Sama dengan Ibu." Jawab Amelia.
Ibu Juminarti terdiam memikirkan perasaan Pras. Bagaimana Pras akan melewati hari esok tanpa Amelia dan Azka. Sesibuk apapun Pras setiap hari, ia selalu sempatkan bertemu dengan Amelia dan Azka.
"Aku akan pergi besok Bu. Mas Ergan akan datang menjemputku." Ujar Amelia.
__ADS_1
"Secepat itu? kenapa harus besok, tinggallah seminggu lagi. Biarkan Ibu bermain dengan Azka lebih lama."
"Bu, itu keputusan Mas Ergan. Amel janji akan membawa Azka kesini lagi. Ibu jangan khawatir, kami sayang dengan Ibu dan juga Pras. Tidak mungkin kami melupakan Ibu. Sekarang ibu istirahat, sudah malam." Amelia membantu Ibu Juminarti menuju kamar. Rasanya sangat lega sudah berpamitan dengan tuan rumah, meskipun semua hati terasa sesak tapi itu adalah yang terbaik.
Setelah Ibu memastikan Ibu Juminarti istirahat, Amelia masuk kedalam kamarnya, Azka sudah tidur dengan pulas. Ia menghampiri Azka dan duduk disampingnya. Mengecup kening Azka kemudian membelainya penuh kasih.
"Mommy harap Daddy tidak menyakiti kita lagi. Kita akan pulang bersama, Mommy tidak mau egois, kamu berhak bersama Daddy." Gumam Amelia.
Amelia mengambil ponselnya diatas nakas kemudian menghubungi Lidya.
"Halo," jawab Lidya lewat sambungan telepon.
"Halo Mah, gimana kabar Mama?" tanya Amelia.
"Mama baik, kamu?"
"Alhamdulillah, Amelia juga baik. Mah, Meli nelpon mau beritahu Mama, besok Mas Ergan akan menjemput aku dan Azka di Pesantren," ujar Amelia.
"..."
"Mah, Mama denger aku nggak?"
"Iya denger, Mama cuma kaget aja. Tiba-tiba kamu bilang Ergan akan datang, bagaimana bisa dia menemukanmu?" tanya Lidya.
"Kebetulan di Desa ini ada peresmian jembatan, Ergan datang kesana dan Pras mengajaknya jalan-jalan ke Pesantren. Tanpa sengaja kami bertemu hingga dia mengajak aku pulang. Menurut Mama, Meli harus gimana? Meli bingung karena Ergan bilang belum menceraikan aku, sedangkan aku akan menikah dengan Pras," tanya Amelia.
"Kalau kalian masih suami-istri, kamu harus pulang nak, terlepas di pernah berbohong dan menyakiti kamu. Trus istri pertamanya bagaimana?"
"Mereka sudah cerai Mah," jawab Amelia.
"Bicaralah dengan Pras, berikan pengertian padanya jika kalian tidak bisa menikah karena kamu dan Ergan masih suami-istri. Meskipun ini sangat berat untuknya tapi Mama yakin dia akan menerimanya, dia pria yang sangat baik," nasihat Lidya."
"Iya Mah, sudah dulu ya, jaga kesehatan Mama, aku akan bawa Azka menemui Mama secepatnya. Assalamualaikum..." ujar Amelia.
"Waalaikumsalam.." balas Lidya.
Amelia mengakhiri panggilan teleponnya kemudian Amelia berbaring di samping Azka, matanya masih terbuka menatap langit-langit kamar berwarna putih. Besok dia akan pergi dan memulai kehidupan barunya bersama Ergan dan Azka. Meninggalkan segala kenangan bersama orang-orang di pesantren ini. Ia kembali mengecup kening Azka kemudian memperbaiki selimutnya lalu tidur bersama Azka.
.
__ADS_1
.
Bersambung....