
............
Selama tiga hari di Singapore, Ergan dan Amelia semakin dekat, apalagi sekarang mereka sudah menikah. Sikap Ergan pada Amelia semakin hari semakin lembut dan perhatian.
Amelia sangat bahagia, meskipun awalnya menikah dengan Ergan karena terpaksa, namun sekarang dia sudah menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada sebagai suaminya. Amelia sudah mulai membuka hati dan mencintai Ergan, sedangkan Ergan semakin jatuh cinta pada Amelia karena diperlakukan seperti layaknya suami yang dihargai dan dihormati oleh istrinya.
Istri idaman, benar-benar sesuai dengan kriteria Ergan.
Hari ini mereka kembali ke tanah air. Semua sudah dipersiapkan oleh Tirta. Mereka pulang dengan menggunakan private jet milik Ergan.
Amelia duduk melamun di kursi pesawat. Setelah beberapa kali dikejutkan oleh Ergan, ia merasa insecure. Terlalu banyak pertanyaan yang ada di kepalanya tapi takut bertanya pada Ergan.
Bagaimana tidak, saat keluar dari hotel, mereka dijemput tiga mobil mewah dan enam anak buah Ergan yang mengawalnya. Itu sama persis dengan apa yang dilihatnya di bandara beberapa waktu lalu. Apalagi sekarang, dirinya sedang duduk manis didalam private jet yang Amelia tidak tahu siapa pemiliknya.
Ergan mengangkat wajah Amelia, mencapit dagunya dengan dua jari kemudian menatapnya dengan lekat.
"Hei, kenapa melamun?" Tanya Ergan.
"Kenapa mesti naik jet? Kamu nggak perlu keluarin uang banyak untuk menyewa jet seperti ini. Nggak usah pamer! aku tahu kamu kaya, tapi menurutku ini sangat berlebihan. Naik pesawat biasanya aja kan bisa." Ungkap Amelia mengeluarkan isi pikirannya.
Ergan tertawa, ucapan Amelia terasa menggelitik perutnya, menurutnya Amelia sangat lucu dan menggemaskan jika sedang dalam bad mood.
"Kenapa tertawa? nggak lucu!" Kesal Amelia sambil memukul lengan Ergan.
Tirta yang duduk di belakang hanya geleng-geleng kepala sambil menahan tawa, ia memasang headset ditelinganya karena tidak mau mencampuri urusan pribadi Bosnya.
"Kamu nggak kenal suamimu ini sayang..? hm..!" Ergan mencubit dengan gemas pipi Amelia membuat Amelia mendelik semakin sebal.
"Kalau kamu bukan Ergan lalu siapa? hantu?"
"Hehehe, sudahlah, nanti kamu juga tau sendiri. Jika kamu lelah dan ingin istirahat, disana ada kamar, kamu bisa tidur disana." Ergan menunjuk salah satu pintu.
Amelia menoleh kemudian berdiri, ia penasaran seperti apa kamar didalam jet itu. Saat membuka pintu kamar, ia tertegun melihat kamar berlantai marmer dengan interior yang mewah dan lengkap. Tempat tidur, washtafel, nakas, kamar mandi, tv, bahkan sofa dan meja juga ada di dalam. Warna gold yang mendominan membuat kamar itu semakin waow... Amelia sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ngapain bengong? sini." Tiba-tiba Ergan datang memeluknya dari belakang. Tak lupa ia mengunci pintu kemudian menarik tubuh Amelia menuju tempat tidur.
Amelia hanya diam mengikuti kemana arah suaminya membawanya.
"Mau coba main disini?" Tanya Ergan dengan suara parau, ia langsung mencium bibir Amelia tanpa mendapatkan ijin darinya.
Sebenarnya bukan Amelia yang menginginkannya tetapi Ergan. Ia ingin bercinta dengan Amelia ditempat yang berbeda apalagi kini mereka berada diatas ketinggian.
Benar-benar omes nih Ergan!
__ADS_1
Pesawat mendarat dengan sempurna di bandara, Ergan dan Amelia baru saja membersihkan diri dan pakaian. Ergan tak henti-hentinya memperhatikan tingkah Amelia yang sedang memanyunkan bibirnya karena kesal. Bagaimana tidak jika Ergan tidak mau berhenti bahkan saat pesawat akan mendarat.
"Apa liat-liat? sana keluar!" kesal Amelia, ia sedang memakai make up tipis di depan cermin.
"Kamu memang sangat cantik! apa lagi kalau diatas tempat tidur, makin.... hot!"
Bukk!
Amelia melempar bantal kewajah Ergan.
Bukannya marah, Ergan malah terkekeh geli, istrinya memang sangat imut dan lucu jika sedang digoda, wajahnya memerah dengan mata melotot, serta rahangnya mengeras seakan ingin memakan Ergan hidup-hidup. Hati Ergan bergetar, ia sangat menikmati momen indah bersama Amelia. Rasanya ia tidakmingin tinggal berpisah dengannya.
Tirta yang sedang menunggu di sofa benar-benar marah dengan pasangan pengantin baru itu. Matanya terus saja melirik pintu yang entah sampai kapan baru terbuka. Semua koper telah turun di bawa kru pesawat. Sementara pemiliknya masih betah berada di dalam pesawat.
Setengah jam kemudian barulah Ergan dan Amelia keluar. Ergan tersenyum melihat wajah Tirta yang ditekuk menggemaskan. Eh, itu versi Ergan ya? Sementara Tirta mendengus kesal.
"Kenapa lo?" Tanya Ergan, pura-pura-pura tidak tahu jika Tirta sudah menunggunya sejak tadi.
"Mobil sudah menunggu tiga puluh menit yang lalu." Tegas Tirta. Ia beranjak dari duduknya kemudian segera turun dari pesawat tanpa menunggu Ergan.
Ergan turun dari pesawat bersama Amelia dan langsung menghampiri Tirta yang sudah membuka pintu mobil untuknya.
"Tir, berikan kunci mobilnya." Pinta Ergan.
"Hah?!"
"Bos mau kemana?" Tanya Tirta dengan wajah dongkol.
"Apartemen, lo mau ikut juga?"
"Ya kali gw ikut, nggak ah! gw nggak mau jadi sethan!" Tolak Tirta.
"Mendingan lo ke kantor deh! cek semua laporan yang masuk." Perintah Ergan.
Tirta hanya mengangguk kemudian berjalan menuju mobil yang lain.
"Ayo!" Ergan memberikan lengannya, tanpa ragu Amelia menyelipkan tangannya pada lengan kokoh itu.
"Kita kemana?" Tanya Amelia tersipu malu.
"Kamu maunya kemana?"
"Terserah kamu saja."
__ADS_1
"Aku maunya kehatimu." Goda Ergan.
"Ergan...!"
Ergan membuka pintu mobil untuk Amelia, setelah itu ia mengitari mobil dan duduk di kursi setir.
Ergan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Suasana menjadi lebih romatis saat Ergan memutar lagu All of me.
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di basement, Ergan kembali menggandeng tangan Amelia setelah turun dari mobil menuju lift. Ergan menggenggam tangan Amelia melewati lorong Apartemen yang menyerupai hotel bintang lima. Beberapa petugas yang mereka lewati memberi hormat pada mereka.
Ergan membuka pintu Apartemen setelah memasukkan pasword pada tombol angka disisi kiri dinding.
Ceklekk!
Pintu terbuka dan mereka segera masuk, Ergan menarik koper masuk kedalam, sedangkan Amelia masih berdiri mematung di depan pintu yang masih terbuka.
Amelia tercengang melihat ruangan yang luas dengan perabot lengkap dan berkualitas terbaik. Barang-barang elektronik canggih dan keluaran terbaru terpajang rapi dalam ruangan yang lebih mendominan warna putih abu-abu. Dua kamar tidur serta kitchen set mini dan meja bar kecil.
"Kenapa nggak masuk?" Tanya Ergan setwlah meletakkan koper didalam kamar. Ia berjalan menghampiri Amelia yang masih bergeming mengedarkan pandangannya.
"Ini Apartemen siapa?" Tanya Amelia heran.
"Apartemen kita sayang..! Mulai hari ini kita akan tinggal disini." Ungkap Ergan.
Bukannya Amelia menolak tapi menurutnya ini sangat berlebihan. Ia juga belum bisa meninggalkan mes secepat ini. Karmen dan teman-temannya akan curiga dari mana Amelia mendapatkan uang untuk menyenangkan Apartemen jika dirinya pindah.
"Mmmm.." Amelia sedang berpikir. Ia ragu untuk bicara dengan Ergan.
"Ada apa? apa kamu nggak suka dengan Apartemen ini? atau kamu mau tinggal di apartemen yang lebih mewah? Ah, aku sampai lupa jika ini adalah Apartemen yang paling mewah dikota ini."
"Mmm.. aku ingin tetap tinggal di mes." Ungka Amelia ragu-ragu.
"Lho kok gitu? kmnggak bisa dong sayang..! kita ini suami-istri. Mana mungkin pisah rumah." Ergan tidak terima dengan keputusan Amelia.
"Aku tidak ingin temen-temen aku curiga. Bagaimana bisa aku tinggal di apartemen yang mewah seperti ini? Mereka pasti bertanya dan berpikir yang tidak-tidak tentangku." Jelas Amelia.
"Kamu tidak mencoba menghindar dari aku kan?" Tanya Ergan, tatapannya tajam penuh intimidasi membuat Amelia segera menggelengkan kepalanya.
Ergan berpikir sejenak, apa yang dikatakan Amelia sedikit masuk akal. Tapi ia juga tidak terima jika Amelia jauh-jauh darinya.
"Baiklah, untuk sementara kamu tinggal di mes, dan aku tinggal dirumahku. Tapi jika aku butuh kamu, kamu harus segera kerumahku, gimana deal?"
.
__ADS_1
.
Bersambung....