Pernikahan Rahasia Tuan Ergan

Pernikahan Rahasia Tuan Ergan
Masih Suami-istri


__ADS_3

Amelia hanya diam, mengeluarkan sesak didadanya. Kenapa Ergan harus datang disaat dia akan memulai hidup barunya. Jika Ergan mengajaknya pulang, lalu bagaimana dengan Rania dan anaknya. Pikirannya mulai sadar kembali dan air matanya kembali berlinang.


"Sampai saat ini aku masih sayang sama kamu. Jangan pergi lagi, aku tidak sanggup hidup tanpamu." Lanjut Ergan.


"Lepaskan Mas, kita bukan muhrim lagi." Amelia mencoba melepaskan diri, namun kekuatannya tidak sebanding dengan Ergan.


Bukannya melepas pelukannya, Ergan malah semakin mengeratkan dekapannya. "Siapa bilang kita bukan muhrim, hem?! aku nggak pernah menceraikanmu, dari dulu sampai sekarang kita masih sah suami-istri. Kamu hanya milikku, cuma kamu istriku." Ungkap Ergan.


"Apa?"


"Iya, kamu masih istriku."


"Lalu Rania?"


"Kami sudah bercerai, anakku ikut denganku. Kamu mau pulang bersamaku dan Azka kan? kita bangun kembali rumah tangga kita." Pinta Ergan kembali. Kali ini Ergan tidak ingin memaksa Amelia. Ergan takut jika memaksa kehendaknya pada Amelia, ia akan semakin menjauh dari mereka.


"Aku butuh waktu, Mas. Lepaskan aku, bagaimana jika ada yang melihat." Ujar Amelia kemudian melepaskan diri dari Ergan. Amelia merapikan kembali jilbabnya. Ia tidak mau mereka jadi bahan tontonan para pekerja di kebun teh.


"Oke, secepatnya batalkan pernikahamu dengan Pras. Ingat! kamu masih istriku. Sekarang aku pulang ke Jakarta, tapi besok aku akan kembali untuk menjemput kalian." Tegas Ergan.


Amelia menghapus air matanya, kemudian melihat Azka yang sedang tertidur dalam gendongan Ergan.


.........................


Setelah satu jam berkeliling di kebun teh, menikmati udara yang bebas dari polusi, serta pemandangan yang memanjakan mata. Akhirnya Ergan dan Tirta berpamitan pada semuanya. Berat sekali rasanya meninggalkan Amelia dan Azka di tempat terpencil seperti itu. Anak dan istrinya hidup sederhana, sedangkan dirinya hidup bergelimang harta.


"Azka, sini sama Abi." Pras mencoba mengambil Azka namun Azka menggelengkan kepalanya. Azka sudah bangun saat mereka menuju mobil.


"Nggak mau." Tolaknya. Aska menyandarkan kepalanya pada dada Ergan. Ia tidak mau berpindah dari gendongan Ergan.


"Sayang...! sama Mommy aja ya?" Bujuk Amelia.


"Nggak mau." Tolak Azka kembali.


"Azka, Azka pergi ke Mommy dulu ya? Daddy mau pergi belikan Azka robot besar." Bisik Ergan membuat mata Azka membulat sambil tersenyum. Anak mungil itu mengangguk kemudian mengulurkan tangannya berpindah ke Amelia.


Ergan bernapas lega, ternyata Azka anak yang penurut jika dijanjikan sesuatu. Persis seperti dirinya saat kecil.


"Pak Pras, terimakasih atas jamuannya. Saya tidak akan melupakan hari ini." Ujar Ergan sambil bersalaman dengan Pras.

__ADS_1


"Sama-sama Pak. Ini ada sedikit cenderamata dari kami." Pras menyerahkan paper bag berisi teh siap seduh.


"Terimakasih, permisi." Pamit Ergan kemudian masuk kedalam mobilnya di bersama dengan Tirta.


Tirta melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju private jetnya yang terparkir disalah satu lapangan besar.


"Bos, perempuan tadi beneran Nyonya Amelia kan?" Tanya Tirta sambil melirik lewat kaca spion atas.


"Ck, sudah tau nanya! Setelah meeting selesai, besok kita jemput mereka disini." Ergan berdecak.


"Kenapa nggak bawa mereka sekarang aja, bos?" Tanya Tirta kembali.


"Gw nggak bisa paksa dia sekarang, dia butuh bicara dengan calon suaminya, siaalan itu! Untung saja gw kesini, jika tidak gw bisa kecolongan." Kesal Ergan.


"Itu namanya takdir bos! mana kita tau jika ternyata Amelia bersembunyi disini. Sudah tiga tahun kita mencarinya jauh-jauh ternyata dia berada disekitar kita."


"Nggak usah bohongin gw, gw tahu apa yang lo sembunyikan."


"Maksudnya?" Tirta mengernyitkan keningnya sambil melirik Ergan.


"Ck, sebenarnya lo sudah lama tau Amelia ada disini kan? karena dia akan menikah makanya lo bawa gw kesini? Brengsek lo!" Geram Ergan.


"Sumpah lo basi! mau bukti?" Tanya Ergan. Sebenarnya sudah lama ia curiga pada Tirta. Kenapa Tirta tidak bisa menemukan Amelia selama itu. Tirta dapat menemukan seseorang hanya dalam beberapa hari. Untuk kasus Amelia, mungkin paling lama sebulan. Tapi Asistennya itu terlalu banyak alasan dan drama hingga dia percaya.


"Oke-oke gw ngaku, waktu itu gw kesini ngecek bahan bangunan yang akan kita gunakan untuk proyek jembatan kembar itu, gw nggak sengaja melihat Amelia memetik teh dalam keadaan hamil. Tadinya gw pengen ngasih tau ke lo, tapi saat itu lo masih proses cerai dengan Rania. Sebagai asisten yang baik hati dan tidak sombong serta ingin melindungi istri dan anak bosnya. Gw memutuskan untuk menyembunyikan Amelia dari lo demi keselamatan calon bayinya." Jelas Tirta.


## Flashback-on ##


Tirta sedang berada di desa Teratai, setelah mengecek semua bahan-bahan yang akan digunakan sudah sesuai dengan kontak, ia memutuskan untuk kembali ke kota. Saat diperjalan pulang, Ia tidak sengaja melihat seorang wanita hamil memakai jilbab dan pakaian tertutup sangat mirip dengan Amelia. Wanita itu sedang serius memetik teh. Karena penasaran, Tirta memarkirkan mobilnya kemudian berjalan kaki mendekat.


"Nyonya Amelia." Panggil Tirta membuat Amelia seketika menoleh, ia tidak percaya Tirta berada di tempat yang sama dengannya.


"Tirta." Pekik Amelia terkejut, "Ka.. kamu disini?" Tanya Amelia sambil mengernyitkan keningnya. Ia bingung dari mana Tirta tahu tempatnya bekerja.


"Apa kabar Nyonya." Sapa Tirta. Ternyata ia tidak salah. Wanita hamil memakai jilbab dihadapannya memang benar Amelia. Wanita yang di suruh Ergan untuk mencarinya beberapa bulan yang lalu tapi belum juga ditemukan oleh anak buahnya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan Amelia disana.


"Husstt..." Amelia menutup mulutnya dengan jari telunjuk.


Bukannya menjawab, Amelia melirik ke kiri dan kekanan kemudian menarik tangan Tirta menuju tempat yang aman untuk bicara. Ia tidak mau seseorang mendengar pembicaraan mereka disana.

__ADS_1


"Jangan memanggilku seperti itu, Tir! aku bukan Nyonya kamu lagi. Panggil Amel aja." Ujar Amelia sambil melepaskan tangan Tirta.


"Siapa bilang Nyonya bukan istri bos saya lagi?"


"Sudah, itu nggak penting! sekarang katakan, kenapa kamu bisa menemukanku."


"Itu hal gampang.,"


"Ck, Apa Ergan yang menyuruhmu datang kesini?"


"Tentu saja."


"Dia tau aku disini?"


"Belum. Saya baru akan menelponnya."


"Tir, aku mohon, jangan beri tahu Ergan aku disini. Setidaknya sampai bayi aku lahir. Please..!" Amelia memelas menangkup kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya mulai mengeluarkan Kristal bening.


Melihat Amelia memelas seperti itu, Tirta terdiam, ia kasihan melihat Amelia mulai menangis.


"Kenapa harus menunggu sampai anak kamu lahir? Kamu takut pada keluarganya? Tenang saja, Ergan dan aku akan melindungi kalian." Bujuk Tirta.


"Tidak Tir, aku merasa lebih tenang disini. Kamu sudah melihat keadaanku baik-baik saja kan? Apa kamu senang jika aku tertekan dalam keadaan hamil?" Amelia tidak menyerah, demi apapun dia tidak mau kembali pada Ergan. Amelia memanfaatkan kehamilannya untuk menutup mulut Tirta saat ini.


"Tapi.. Bos Ergan mencarimu, dia sudah seperti orang gila setelah kamu pergi. Aku jadi serba salah."


"Tir, aku mohon..! jangan katakan apapun pada Ergan termasuk kehamilanku. Aku merasa lebih aman disini. Please...!"


Tirta menghela napas berat, bagaimana harus menghadapi Ergan nantinya. Tadinya Tirta sudah senang karena satu pekerjaan telah selesai yaitu menemukan Amelia. Tapi tak disangka ternyata Amelia memohon untuk menyembunyikan dirinya.


Tirta jadi dilema.


## Flashback-off ##


.


.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2